Di Balik Kekuatan Al Quran

quran-tadabur-dalam

Al-Qur’an… Sebuah kata yang sangat populer di dunia sejak ia diturunkan 14.5 abad silam sampai hari ini. Kalau kita tanya sama mbah “Google”, maka ia akan menjawab : Ada sekitar 68.5 juta kata Al-Qur’an tercantum di dalamnya…. Subhanallah… Sebaliknya, jika kita tanya umat Islam yang mencapai 1.6 milyar terkait hakikat Al-Qur’an, pasti jawaban mereka akan beragam… Jika kita fokuskan lagi pertanyaannya terkait Al-Qur’an seperti, sudahkan anda lancar membaca Al-Qur’an? Berapa banyak anda membaca Al-Qur’an perhari? Sudahkan anda memahami dan mentadabburkan semua isi Al-Qur’an? Berapa banyak anda menghafal Al-Qur’an? Sudah berapa anda mengamalkan perintah Al-Qur’an dan meninggalkan larangannya? Yakinkah anda Al-Qur’an itu sebagai solusi bagi kehidupan di dunia dan di akhirat?……. baca selengkapnya.

 

Al-qur’an Audio

01.Alfatihah, 02.Al-Baqarah, 03.Al-Imran, 04.An-Nisa’, 05.Al-Maidah, 06.Al-An’am. 07.Al-A’raf. 08.Al-Anfal, 09.At-Taubah, 10.Yunus. 11.Hud. 12.Yusuf. 13.Ar-Ra’d. 14.Ibrahim. 15.Al-Hijr. 16.An-Nahl. 17.Al-Isra’. 18.Al-Kahfi. 19.Maryam. 20.Thaha. 21.Al-Anbiya’. 22.Al-Hajj. 23.Al-Mu’min. 24.An-Nur. 25.Al-Furqan. 26.Asy-syu’ara. 27.An-Naml. 28.Al-Qashash. 29.Al-Ankabut. 30.Ar-Rum. 31.Lukman. 32.As-Sajada. 33.Al-Ahzab. 34.Saba’. 35.Fathir. 36.Ya-Siin. 37.Ash-Shaafaat. 38.Shaad. 39.Az-Zumar. 40.Ghafir. 41.Fusshilat. 42.Asyura. 43.Az-Zukhruf. 44.Ad-Dukhan. 45.Al-Jaatsiyah. 46.Al-Ahqaaf. 47.Muhammad. 48.Al-Fath. 49.Al-Hujuraat. 50.Qaaf. 51.Adz-Dzaariyaat. 52.Ath-Thuur. 53.An-Najm. 54.Al-Qamar. 55.Ar-Rahman. 56.Al-Waaqi’ah. 57.Al-Hadid. 58.Al-Mujaadalah. 59.Al-Hasyr. 60.Al-Mumtahana. 61.Ash-Shaf. 62.Al-Jum’ah. 63.Al-Munaafiqun. 64.At-Taghabuun. 65.Ath-Thalaq. 66.At-Tariim. 67.Al-Mulk. 68.Al-Qalam. 69.Al-Haaqqah. 70.Al-Ma’aarij. 71.Nuh. 72.Al-Jin. 73.Al-Muzammil. 74.Al-Mudatstsir. 75.Al-Qiyaamah. 76.Al-Insan. 77.Al-Murasalaat. 78.An-Naba’. 79.An-Nazi’aat. 80.Abasa. 81.At-Takwiir. 82.Al-Infithar. 83.Al-Muthafifiin. 84.Al-Insyiqaq. 85.Al-Buruj. 86.Ath-Thaariq. 87.Al-A’la. 88.Al-Ghasyiyah. 89.Al-Fajr. 90.Al-Balad. 91.Asy-Syams. 92.Al-Lail. 93.Adh-Dhuha. 84.Asy-Syarh. 95.Ath-Thiin. 96.Al-Alaq. 97.Al-Qadr. 98.Al-Bayyinah. 99.Al-Zalzalah. 100.Al-Adiyaat. 101.Al-Qaari’ah. 102.At-Takaatsur. 103.Al-Ashr. 104.Al-Humazah. 105.Al-Fil. 106.Al-Quraisy. 107.Al-Maa’uun. 108.Al-Kautsar. 109.Al-Kaafirun. 110.An-Nashr. 111.Al-Masad. 112.Al-Ikhlash. 113.Al-Falaq. 114.An-Nas

Iklan
By arifuddinali Posted in Artikel

Golongan Yang Selamat Hanya Satu

GOLONGAN YANG SELAMAT HANYA SATU

Oleh
Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas حَفِظَهُ الله تَعَالَى

عَنْ عَوْفِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ :(( اِفْتَرَقَتِ الْيَهُوْدُ عَلَى إِحْدَى وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً فَوَاحِدَةٌ فِي الْجَنَّةِ وَسَبْعُوْنَ فِي النَّارِ، وَافْتَرَقَتِ النَّصَارَى عَلَى ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً فَإِحْدَى وَسَبْعُوْنَ فِي النَّارِ وَوَاحِدَةٌ فِي الْجَنَّةِ، وَالَّذِيْ نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَتَفْتَرِقَنَّ أُمَّتِيْ عَلَى ثَلاَثٍ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً، وَاحِدَةٌ فِي الْجَنَّةِ وَثِنْتَانِ وَسَبْعُوْنَ فِيْ النَّارِ )) قِيْلَ يَا رَسُوْلَ اللهِ، مَنْ هُمْ ؟ قَالَ: ( اَلْجَمَاعَةُ ).

Dari Sahabat ‘Auf bin Mâlik Radhiyallahu ‘anhu , ia berkata, “Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Ummat Yahudi berpecah-belah menjadi 71 (tujuh puluh satu) golongan, maka hanya satu golongan yang masuk surga dan 70 (tujuh puluh) golongan masuk neraka. Ummat Nasrani berpecah-belah menjadi 72 (tujuh puluh dua) golongan dan 71 (tujuh puluh satu) golongan masuk neraka dan hanya satu golongan yang masuk surga. Dan demi jiwa Muhammad yang berada di tangan-Nya, sungguh akan berpecah-belah ummatku menjadi 73 (tujuh puluh tiga) golongan, hanya satu (golongan) masuk surga dan 72 (tujuh puluh dua) golongan masuk neraka.’ Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya, ‘Wahai Rasûlullâh, ‘Siapakah mereka (satu golongan yang selamat) itu ?’ Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ‘al-Jamâ’ah.’”

TAKHRIJ HADITS
Hadits ini diriwayatkan oleh:
1. Ibnu Mâjah dan lafazh ini miliknya, dalam Kitâbul Fitan, Bâb Iftirâqul Umam (no. 3992).
2. Ibnu Abi ‘Ashim dalam Kitâbus Sunnah (no. 63).
3. al-Lalika-i dalam Syarah Ushûl I’tiqâd Ahlis Sunnah wal Jamâ’ah (no. 149).
Hadits ini hasan. Lihat Silsilatul Ahâdîts ash-Shahîhah (no. 1492).

Dalam riwayat lain disebutkan tentang golongan yang selamat yaitu orang yang mengikuti Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para shahabatnya Radhiyallahu anhum. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

…كُلُّهُمْ فِي النَّارِ إِلاَّ مِلَّةً وَاحِدَةً: مَا أَنَا عَلَيْهِ وَأَصْحَابِيْ.

“…Semua golongan tersebut tempatnya di neraka, kecuali satu (yaitu) yang aku dan para sahabatku berjalan di atasnya.”[1]

SYARAH HADITS
Islam yang Allâh Azza wa Jalla karuniakan kepada kita, yang harus kita pelajari, fahami, dan amalkan adalah Islam yang bersumber dari al-Qur’ân dan as-Sunnah yang shahih menurut pemahaman para Sahabat (Salafush Shalih). Pemahaman para Sahabat Radhiyallahu anhum yang merupakan aplikasi (penerapan langsung) dari apa yang diajarkan oleh Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah satu-satunya pemahaman yang benar. Aqidah serta manhaj mereka adalah satu-satunya yang benar. Sesungguhnya jalan kebenaran menuju kepada Allâh hanya satu, sebagaimana sabda Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits di atas.

Satu golongan dari ummat Yahudi yang masuk Surga adalah mereka yang beriman kepada Allâh Azza wa Jalla dan kepada Nabi Musa Alaihissallam serta mati dalam keadaan beriman. Dan begitu juga satu golongan Nasrani yang masuk surga adalah mereka yang beriman kepada Allâh dan kepada Nabi ‘Isa Alaihissallam sebagai Nabi, Rasul dan hamba Allâh serta mati dalam keadaan beriman.[2] Adapun setelah diutusnya Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam , maka semua ummat Yahudi dan Nasrani wajib masuk Islam, yaitu agama yang dibawa oleh Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai penutup para Nabi. Prinsip ini berdasarkan hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ، لاَ يَسْمَعُ بِيْ أَحَدٌ مِنْ هَذِهِ الْأُمَّةِ يَهُوْدِيٌّ وَلاَ نَصْرَانِيٌّ، ثُمَّ يَمُوْتُ وَلَمْ يُؤْمِنْ بِالَّذِي أُرْسِلْتُ بِهِ، إِلاَّ كَانَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِ.

Demi (Rabb) yang diri Muhammad ada di tangan-Nya, tidaklah seorang dari ummat Yahudi dan Nasrani yang mendengar tentangku (Muhammad), kemudian ia mati dalam keadaan tidak beriman terhadap ajaran yang aku bawa, niscaya ia termasuk penghuni Neraka.” (HR. Muslim (no. 153), dari Sahabat Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu)

‘Abdullah bin Mas‘ûd Radhiyallahu ‘anhu berkata :

خَطَّ لَنَا رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَطًّا بِيَدِهِ ثُمَّ قَالَ: هَذَا سَبِيْلُ اللهِ مُسْتَقِيْمًـا، وَخَطَّ خُطُوْطًا عَنْ يَمِيْنِهِ وَشِمَـالِهِ، ثُمَّ قَالَ: هَذِهِ سُبُلٌ ]مُتَفَـِرّقَةٌ[ لَيْسَ مِنْهَا سَبِيْلٌ إِلَّا عَلَيْهِ شَيْطَانٌ يَدْعُوْ إِلَيْهِ، ثُمَّ قَرَأَ قَوْلَهُ تَعَالَـى: وَأَنَّ هَٰذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ ۖ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ ۚ ذَٰلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam membuat garis dengan tangannya kemudian bersabda, ‘Ini jalan Allâh yang lurus.’ Lalu beliau membuat garis-garis di kanan kirinya, kemudian bersabda, ‘Ini adalah jalan-jalan yang bercerai-berai (sesat) tak satupun dari jalan-jalan ini kecuali disana ada setan yang menyeru kepadanya.’ Selanjutnya Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca firman Allâh Azza wa Jalla , “Dan sungguh, inilah jalanku yang lurus, maka ikutilah! Jangan kamu ikuti jalan-jalan (yang lain) yang akan mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Demikianlah Dia memerintahkan kepadamu agar kamu bertakwa.” [al-An’âm/6:153] [3]

Dalam hadits ini Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan ayat dalam surat al-An’âm bahwa jalan menuju Allâh Azza wa Jalla hanya satu, sedangkan jalan-jalan menuju kesesatan banyak sekali. Jadi wajib bagi kita mengikuti shiratal mustaqim dan tidak boleh mengikuti jalan, aliran, golongan, dan pemahaman-pemahaman yang sesat, karena dalam semua itu ada setan yang mengajak kepada kesesatan.

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah (wafat tahun 751 H) berkata, “Hal ini disebabkan karena jalan menuju Allâh Subhanahu wa Ta’ala hanya satu. Jalan itu adalah ajaran yang telah Allâh Azza wa Jalla wahyukan kepada para rasul -Nya dan Kitab-kitab yang telah diturunkan kepada mereka. Tidak ada seorang pun yang bisa sampai kepada-Nya tanpa melalui jalan tersebut. Sekiranya ummat manusia mencoba seluruh jalan yang ada dan berusaha mengetuk seluruh pintu yang ada, maka seluruh jalan itu tertutup dan seluruh pintu itu terkunci kecuali dari jalan yang satu itu. Jalan itulah yang berhubungan langsung kepada Allâh dan menyampaikan mereka kepada-Nya.”[4]

Akan tetapi, faktor yang membuat kelompok-kelompok dalam Islam itu menyimpang dari jalan yang lurus adalah kelalaian mereka terhadap rukun ketiga yang sebenarnya telah diisyaratkan dalam al-Qur’ân dan as-Sunnah, yakni memahami al-Qur’ân dan as-Sunnah menurut pemahaman assalafush shalih. Surat al-Fâtihah secara gamblang telah menjelaskan ketiga rukun tersebut, Allâh Azza wa Jalla berfirman :

اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ

Tunjukilah kami jalan yang lurus. [al-Fâtihah/1:6]

Ayat ini mencakup rukun pertama (al-Qur’ân) dan rukun kedua (as-Sunnah), yakni merujuk kepada al-Qur’ân dan As-Sunnah, sebagaimana telah dijelaskan di atas.

Allâh Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ

(Yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepadanya, bukan (jalan) mereka yang dimurkai, dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.” [al-Fâtihah/1:7]

Ayat ini mencakup rukun ketiga, yakni merujuk kepada pemahaman assalafush shalih dalam meniti jalan yang lurus tersebut. Padahal sudah tidak diragukan bahwa siapa saja yang berpegang teguh dengan al-Qur’ân dan as-Sunnah pasti telah mendapat petunjuk kepada jalan yang lurus. Disebabkan metode manusia dalam memahami al-Qur’ân dan as-Sunnah berbeda-beda, ada yang benar dan ada yang salah, maka wajib memenuhi rukun ketiga untuk menghilangkan perbedaan tersebut, yakni merujuk kepada pemahaman assalafush shalih.[5]

Tentang wajibnya mengikuti pemahaman para sahabat, Allâh Azza wa Jalla berfirman :

وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَىٰ وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّىٰ وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ ۖ وَسَاءَتْ مَصِيرًا

Dan barangsiapa menentang Rasul (Muhammad) setelah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang Mukmin, Kami biarkan dia dalam kesesatan yang telah dilakukannya itu dan akan Kami masukkan dia ke dalam neraka Jahanam, dan itu seburuk-buruk tempat kembali.” [an-Nisâ’/4:115]

Uraian di atas merupakan penegasan bahwa generasi yang paling utama yang dikaruniai ilmu dan amal shalih oleh Allâh Azza wa Jalla adalah para Shahabat Rasul n . Hal itu karena mereka telah menyaksikan langsung turunnya al-Qur’ân, menyaksikan sendiri penafsiran yang shahih yang mereka fahami dari petunjuk Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mulia. Karena itu wajib bagi kita mengikuti pemahaman mereka.

Setiap Muslim dan Muslimah dalam sehari semalam minimal 17 (tujuh belas) kali membaca ayat :

اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ﴿٦﴾صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ

Tunjukilah kami jalan yang lurus. (Yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepadanya, bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat. [al-Fâtihah/1:6-7]

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Perhatikanlah hikmah berharga yang terkandung dalam penyebutan sebab dan akibat ketiga kelompok manusia (yang tersebut di akhir surat al-Fâtihah) dengan ungkapan yang sangat ringkas. Nikmat yang dicurahkan kepada kelompok pertama adalah nikmat hidayah, yaitu ilmu yang bermanfaat dan amal shalih.”[6]

Permohonan dan do’a seorang Muslim setiap hari agar diberikan petunjuk ke jalan yang lurus harus direalisasikan dengan menuntut ilmu syar’i, belajar agama Islam yang benar berdasarkan al-Qur’ân dan as-Sunnah yang shahih menurut pemahaman para shahabat (pemahaman assalafush shalih), dan mengamalkannya sesuai dengan pengamalan mereka. Artinya, ummat Islam harus melaksanakan agama yang benar menurut cara beragamanya para shahabat, karena sesungguhnya mereka adalah orang yang mengikuti Sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan benar.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan dalam hadits ‘Irbadh Bin Sariyah Radhiyallahu ‘anhu tentang akan terjadinya perselisihan dan perpecahan di tengah kaum Muslimin. Kemudian Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan jalan keluar yang terbaik yaitu, berpegang kepada sunnah Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan sunnah khulafâ-ur Rasyidin Radhiyallahu anhum serta menjauhkan semua bid’ah dalam agama yang diada-adakan. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

…فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِيْ فَسَيَرَى اخْتِلَافًا كَثِيْرًا، فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِيْ وَسُنَّةِ الْخُلَفَاء الرَّاشِدِيْنَ الْمَهْدِيِّيْنَ، عَضُّوْا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ، وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الْأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ.

“…Sungguh, orang yang masih hidup di antara kalian sepeninggalku, maka ia akan melihat perselisihan yang banyak, karenanya hendaklah kalian berpegang teguh kepada Sunnahku dan Sunnah para Khulafa-ur Rasyidin. Peganglah erat-erat Sunnah tersebut dan gigitlah dengan gigi geraham kalian. Dan jauhilah oleh kalian setiap perkara yang baru (dalam agama), karena sesungguhnya setiap perkara yang baru adalah bid’ah, dan setiap bid’ah adalah sesat.’”[7]

Mu’âdz bin Jabal Radhiyallahu ‘anhu berkata, ‘Tidakkah kalian mendengar apa yang disabdakan Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam ?’ Mereka berkata, ‘Apa yang Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam ucapkan?’ Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّهَا سَتَكُوْنُ فِتْنَةٌ، فَقَالُوْا : فَكَيْفَ لَنَا يَا رَسُوْلَ اللهِ ؟ وَكَيْفَ نَصْنَعُ ؟ قَالَ : تَرْجِعُوْنَ إِلَى أَمْرِكُمُ الْأَوَّل

Sungguh akan terjadi fitnah”, Mereka berkata, ‘Bagaimana dengan kita, wahai Rasûlullâh ? Apa yang kita perbuat?’ Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Hendaknya kalian kembali kepada urusan kalian yang pertama kali.”[8]

Apabila ummat Islam kembali kepada al-Qur’ân dan as-Sunnah dan mereka memahami Islam menurut pemahaman Salaf dan mengamalkannya menurut cara yang dilaksanakan Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya, maka ummat Islam akan mendapatkan hidayah (petunjuk), barakah, ketenangan hati, terhindar dari berbagai macam fitnah, perpecahan, perselisihan, bid’ah-bid’ah, pemahaman-pemahaman dan aliran yang sesat. Bila umat Islam berpegang teguh dengan aqidah, manhaj, pemahaman, dan cara beragama yang dilaksanakan oleh Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para Sahabatnya Radhiyallahu anhum maka Allâh Azza wa Jalla akan memberikan kepada kaum Muslimin keselamatan, kemuliaan, kejayaan dunia dan akhirat serta diberikan pertolongan oleh Allâh Azza wa Jalla untuk mengalahkan musuh-musuh Islam dari kalangan orang-orang kafir dan munafiqin.

Realita kondisi ummat Islam yang kita lihat sekarang ini adalah ummat Islam mengalami kemunduran, terpecah belah dan mendapatkan berbagai musibah dan petaka, dikarenakan mereka tidak berpegang teguh kepada ‘aqidah dan manhaj yang benar dan tidak melaksanakan syari’at Islam sesuai dengan pemahaman Shahabat, serta banyak dari mereka yang masih berbuat syirik dan menyelisihi Sunnah Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam .

Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

… وَجُعِلَ الذِّلَّةُ وَالصَّغَارُ عَلَى مَنْ خَالَفَ أَمْرِيْ وَمَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ.

“… Dijadikan kehinaan dan kerendahan atas orang-orang yang menyelisihi Sunnahku. Dan barang siapa menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk golongan mereka.”[9]

Pertama kali yang harus diluruskan dan diperbaiki adalah ‘aqidah dan manhaj[10] umat Islam dalam meyakini dan melaksanakan agama Islam. Hal ini merupakan upaya untuk mengembalikan jati diri umat Islam untuk mendapatkan ridha Allâh Azza wa Jalla dan kemuliaan di dunia dan di akhirat.

FAWA-ID HADITS
1. Para Sahabat Nabi Radhiyallahu anhum adalah orang-orang mulia yang paling dalam ilmu dan hujjahnya. (lihat Saba’/34:6 ; Muhammad/47:16)
2. Para Sahabat Nabi Radhiyallahu anhum sebagai sumber rujukan saat perselisihan dan sebagai pedoman dalam memahami al-Qur’ân dan As-Sunnah.
3. Mengikuti manhaj Para Sahabat Nabi Radhiyallahu anhum adalah jaminan mendapat keselamatan dunia dan akhirat. (lihat an-Nisâ’/4: 115)
4. Mencintai para Sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berarti iman, sedang membenci mereka berarti kemunafikan.
5. Kesepakatan (ijma’) para Sahabat Nabi Radhiyallahu anhum adalah hujjah yang wajib diikuti setelah al-Qur’ân dan as-Sunnah. (lihat an-Nisâ’/4:115 dan hadits al-‘Irbâdh bin Sariyah Radhiyallahu ‘anhu )
6. Para Sahabat Nabi Radhiyallahu anhum adalah orang-orang yang berpegang teguh kepada agama Islam yang berarti mereka telah mendapat petunjuk, dengan demikian mengikuti mereka adalah wajib.
7. Keridhaan Allâh Azza wa Jalla dapat diperoleh dengan mengikuti para Sahabat Nabi Radhiyallahu anhum , baik secara kelompok maupun individu. (lihat at-Taubah/9:100)
8. Para Shahabat Nabi Radhiyallahu anhum adalah orang-orang yang menyaksikan perbuatan, keadaan, dan perjalanan hidup Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam , mendengar sabda beliau, mengetahui maksudnya, menyaksikan turunnya wahyu, dan menyaksikan penafsiran wahyu dengan perbuatan beliau sehingga mereka memahami apa yang tidak kita pahami.
9. Mengikuti para Shahabat Nabi Radhiyallahu anhum adalah jaminan mendapatkan pertolongan Allâh Azza wa Jalla , kemuliaan, kejayaan dan kemenangan.
10. Mengikuti pemahaman assalaufus shalih adalah pembeda antara manhaj (cara beragama) yang haq dengan yang batil, antara golongan yang selamat dan golongan-golongan yang sesat.
11. Hadits di atas menetapkan bahwa ijma’ para Sahabat sebagai dasar hukum Islam yang ketiga. (an-Nisâ’/4: 115)
12. al-Qur’ân dan as-Sunnah wajib dipahami dengan pemahaman para shahabat, kalau tidak maka pemahaman tersebut akan membawanya pada kesesatan.
13. Kewajiban mengikuti manhaj-nya (cara beragamanya) para shahabat.
14. Golongan-golongan dan aliran-aliran yang sesat itu sangat banyak sedangkan kebenaran hanya satu.
15. Mereka yang menyelisihi manhaj para Sahabat pasti akan tersesat dalam beragama,manhaj dan aqidah mereka.
16. Hakikat persatuan di dalam Islam adalah bersatu dalam ‘aqidah, manhaj, dan pemahaman yang benar.
17. Hadits di atas melarang kita berpecah belah di dalam manhaj dan aqidah.
18. Perselisihan yang dimaksud dalam hadits di atas ialah perselisihan dan perpecahan dalam manhaj dan aqidah. Adapun perselisihan yang disebabkan karena tabi’at manusia dan tingkat keilmuan seseorang yang lebih kurang, maka hal yang seperti ini tidak terlarang secara mutlak asalkan mereka tetap berada di dalam satu manhaj. Seperti perselisihan dalam masalah fiqih dan hukum, hal ini sudah ada sejak zaman Shahabat.
19. Para shahabat Radhiyallahu anhum adalah orang-orang yang telah mengamalkan sunnah-sunnah Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan benar dan mereka tidak berselisih tentang ‘aqidah dan manhaj, meskipun ada perbedaan pendapat dalam masalah hukum dan ijtihad.
20. Orang banyak bukan ukuran kebenaran, karena hadits di atas dan ayat al-Qur’ân menjelaskan kalau kita mengikuti orang banyak niscaya orang banyak akan menyesatkan kita dari jalan kebenaran. (al-An’âm/6:116)
21. Tidak boleh membuat kelompok, golongan, aliran, sekte, dan jama’ah atas nama Islam, yang didasari kepada wala’ (loyalitas) dan bara’ (berlepas diri) atas nama kelompoknya tersebut. Karena hal tersebut dapat membuat perpecahan.
22. Bahwa bid’ah dan ahli bid’ah merusak agama Islam dan membuat perpecahan.
23. Dalam Islam tidak ada bid’ah hasanah, semua bid’ah sesat.
24. Kaum Muslimin, terutama para penuntut ilmu dan para da’i, wajib mengikuti jalan golongan yang selamat, belajar, memahami, mengamalkan, dan mendakwahkan dakwah yang hak ini, yaitu dakwah salaf.[11]
25. Do’a yang kita minta setiap hari memohon petujuk ke jalan yang lurus, maka harus dibuktikan dengan mengikuti jalan golongan yang selamat, yaitu cara beragamanya para sahabat Radhiyallahu anhum.

Maraaji’:
1. al-Qur’ânul Karîm dan terjemahnya.
2. Kutubus sittah.
3. As-Sunnah libni Abi ‘Ashim.
4. Syarh Ushûl I’tiqâd Ahlis Sunnah wal Jamâ’ah, al-Lâlika-i.
5. Madârijus Sâlikîn, Ibnul Qayyim.
6. Silsilah al-Ahâdîts as-Shahîhah.
7. Dirâsât fil Ahwâ’ wal Firaq wal Bida’ wa Mauqifis Salaf minha.
8. Madârikun Nazhar fis Siyâsah.
9. Mâ ana ‘alaihi wa Ash-hâbii.
10. Dar-ul Irtiyâb ‘an Hadîts Mâ Ana ‘alaihi wa Ash-hâbii oleh Syaikh Salim bin ‘Ied al-Hilali, cet. Daarur Rayah/ th. 1410 H.
11. Al-Arba’ûna Hadîtsan an-Nabawiyyah fii Minhâjid Da’wah as-Salafiyyah oleh Sa’id (Muhammad Musa) Husain Idris as-Salafi.
12. Badâ’iut Tafsîr Al-Jami’ Limâ Fassarahul Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah.
13. Dan kitab-kitab lainnya.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 08/Tahun XV/1433H/2012M. Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo-Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196]
_______
Footnote
[1]. Hasan: HR. At-Tirmidzi (no. 2641) dan al-Hakim (I/129) dari Sahabat ‘Abdullah bin ‘Amr Radhiyallahu anhu , dan dihasankan oleh Syaikh al-Albâni dalam Shahîhul Jâmi’ (no. 5343). Lihat Dar-ul Irtiyâb ‘an Hadîts Mâ Ana ‘alaihi wa Ash-hâbii oleh Syaikh Salim bin ‘Ied al-Hilali, cet. Daarur Rayah/ th. 1410 H.
[2]. Lihat Tafsir Ibnu Katsir ketika menafsirkan al-Baqarah/2:62
[3]. Shahih: HR. Ahmad (I/435, 465), ad-Darimy (I/67-68), al-Hakim (II/318), Syarhus Sunnah lil Imâm al-Baghawy (no. 97), dihasankan oleh Syaikh al-Albâni dalam As-Sunnah libni Abi ‘Ashim no. 17. Tafsir an-Nasa-i (no. 194). Adapun tambahan (mutafarriqatun) diriwayatkan oleh Imam Ahmad (I/435).
[4]. Tafsîrul Qayyim libnil Qayyim (hlm. 14-15), Badâ’iut Tafsîr Al-Jâmi’ Limâ Fassarahul Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah (hlm. 88), cet. Daar Ibnu Jauzi.
[5]. Lihat Madârikun Nazhar fis Siyâsah baina Tathbîqâtisy Syar’iyyah wal Infi’âlâtil Hamâsiyyah (hlm. 36-37) karya ‘Abdul Malik bin Ahmad bin al-Mubarak Ramadhani Aljazairi, cet. IX/ th. 1430 H, Darul Furqan.
[6]. Madârijus Sâlikin (I/20, cet. Daarul Hadits, Kairo).
[7]. HR. Abu Dawud (no. 4607), at-Tirmidzi (no. 2676), dan lainnya. At-Tirmidzi berkata: “Hadits ini hasan shahih”. Silahkan baca penjelasan hadits ini dan fawa-idnya dalam buku penulis “Wasiat Perpisahan”, Pustaka at-Taqwa.
[8]. Shahih: HR. Ath-Thabarani dalam al-Mu’jamul Kabîr (no. 3307) dan al-Mu’jamul Ausath (no. 8674). Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Silsilah Al-Ahâdîts Ash-Shahîhah (no. 3165).
[9]. HR. Ahmad (II/50, 92) dan Ibnu Abi Syaibah (V/575 no. 98) Kitâbul Jihâd, cet. Daarul Fikr, Fat-hul Bâri (VI/98) dari Sahabat ‘Abdullah bin ‘Umar Radhiyallahu anhuma , dishahihkan oleh Syaikh Ahmad Syakir rahimahullah dalam Tahqiq Musnad Imam Ahmad (no. 5667).
[10]. Manhaj artinya jalan atau metode. Dan manhaj yang benar adalah jalan hidup yang lurus dan terang dalam beragama menurut pemahaman para Sahabat Radhiyallahu anhhum. Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan al-Fauzan menjelaskan antara ‘aqidah dan manhaj, beliau berkata, “Manhaj lebih umum daripada ‘aqidah. Manhaj diterapkan dalam ‘aqidah, suluk, akhlak, mu’amalah, dan dalam semua kehidupan seorang Muslim. Setiap langkah yang dilakukan seorang Muslim dikatakan manhaj. Adapun ‘aqidah yang dimaksud adalah pokok iman, makna dua kalimat syahadat, dan konsekuensinya, inilah ‘aqidah.” (Al-Ajwibatul Mufîdah ‘an As-ilatil Manâhij al-Jadîdah, hlm. 123. Kumpulan jawaban Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan al-Fauzan atas berbagai pertanyaan seputar manhaj, dikumpulkan oleh Jamal bin Furaihan al-Haritsi, cet. III, Daarul Manhaj/ th. 1424 H.)
[11]. Untuk lebih jelasnya, silahkan baca buku penulis “Mulia dengan Manhaj Salaf”, cet. V, Pustaka At-Taqwa.

Read more https://almanhaj.or.id/3825-golongan-yang-selamat-hanya-satu.html

Pandangan Ustadz Felix Siauw Terkait Istilah Islam Nusantara dan Islam Arab.

20180926-ustaz-felix-siauwISLAM Nusantara belakangan makin banyak menjadi bahan diskusi, obrolan, dan bahkan kajian sejumlah pihak.

Ada pendapat pro dan kontra terhadap gerakan atau istilah Islam Nusantara tersebut.

Sejumlah aktivitas Nahdlatul Ulama (NU) tetap menggelorokan semangat Islam Nusantara ini yang diharapkan bisa menjadikan Islam yang memberi rahmat bagi seisi dunia.

Tetapi, ada juga tokoh atau public  figure yang tidak sependapat dengan istilah Islam Nusantara, salah satunya adalah Ustadz (Ustaz) Felix Siauw.

Melalui akun facebooknya, Ustadz Felix Siauw menulis panjang lebar terkait Islam Nusantara dan Islam Arab.

Dia tidak setuju jika gerakan Islam Nusantara kemudian dibenturkan atau bahkan menjelek-jelekan Islam yang bermula dari tanah Arab.

“Bila yang disyukuri itu Nusantara yang damai dan tenteram, tentu semua menerima. Yang jadi hal, menuding Islam Arab sebagai sumber terjadinya peperangan,” tulis Ustadz Felix Siauw, Selasa (17/7/2018) sekitar 3 jam lalu.

Apalagi, tulis Felix Siauw, tokoh-tokoh gerakan Islam Nusantara sering arogan dan main hakim sendiri.

“Belum lagi tokoh-tokoh pendukung ide ini yang arogan, tak simpatik, dan main hakim sendiri. Pendukungnya juga sama, begitu mudah lisannya melaknat dan mencela,” ujar Felix Siauw.

Felix Siauw mengaku akan terus mengkritik gerakan Islam Nusantara karena Islam Nusantara bukan wahyu.

Simak tulisan lengkap Ustadz Felix Siauw terkait Islam Nusantara

Andai Islam Nusantara

Andai yang dimaksudkan itu adalah ekspresi Nusantara berupa kelembutan dan kerahamahan, tentu takkan masalah. Yang jadi masalah, mengatakan selainnya radikal dan teroris

Bila yang disyukuri itu Nusantara yang damai dan tenteram, tentu semua menerima. Yang jadi hal, menuding Islam Arab sebagai sumber terjadinya peperangan

Jika yang dikata Islam Nusantara itu berbatik, maulid, manaqib, dan shalawat saja, maka takkan ramai. Yang jadi soalan, menuduh Islam Arab itu goblok, abal-abal, dan penjajah

Yang jadi soal itu membeda-bedakannya. Islam Nusantara vs Islam Arab, lalu merasa lebih baik. Bukankah Iblis dilaknat sebab merasa lebih baik dari manusia?

Apalagi bukan hanya merasa lebih baik, tapi juga mengubah pakem Islam yang sudah ada, seolah Islam yang diajarkan Nabi tak cukup komprehensif, tak cukup ramah, tak cukup seimbang

Ditambah lagi, ide “Islam Nusantara” ini dipakai untuk membuat pembenaran terhadap penistaan agama, dengan dalih toleransi, keberagaman, pluralisme, ini yang buat ramai

Belum lagi tokoh-tokoh pendukung ide ini yang arogan, tak simpatik, dan main hakim sendiri. Pendukungnya juga sama, begitu mudah lisannya melaknat dan mencela

Diakui atau tidak, ide “Islam Nusantara” menjadi tempat untuk berlindung para liberalis yang sudah tak laku dengan ide “Islam Liberal” mereka. Setali tiga uang, sama saja

Sebagaimana dalam salah satu ceramah Buya Yahya, “Orang munafik itu bajunya banyak”. Bisa berganti rupa tergantung kepentingan, “Sekarang bajunya Islam Nusantara”. Begitu

Tulisan ini bukan wahyu, bisa dikritik dan dikoreksi. Sama seperti ide “Islam Nusantara” pun bukan wahyu, bisa dikritik dan diberikan saran, agar lebih baik kedepannya

Inilah Islam, indah. Menghargai dalam perbedaan, tidak kasar saat tak sama, santun dan bijak dalam ukhuwah. Bila ada komentar kasar di bawah, abaikan, bisa jadi bukan Muslim

Islam Nusantara atau model Islam Indonesia adalah suatu wujud empiris Islam yang dikembangkan di Nusantara setidaknya sejak abad ke-16.

Islam Nusnatara adalah hasil interaksi, kontekstualisasi, indigenisasi, interpretasi, dan vernakularisasi terhadap ajaran dan nilai-nilai Islam yang universal, yang sesuai dengan realitas sosio-kultural Indonesia, sebagaimana ditulis wikipedia.org.

Istilah ini secara perdana resmi diperkenalkan dan digalakkan oleh organisasi Islam Nahdlatul Ulama pada 2015, sebagai bentuk penafsiran alternatif masyarakat Islam global yang selama ini selalu didominasi perspektif Arab dan Timur Tengah.

Islam Nusantara didefinisikan sebagai penafsiran Islam yang mempertimbangkan budaya dan adat istiadat lokal di Indonesia dalam merumuskan fikihnya.

Pada Juni 2015, Presiden Joko Widodo telah secara terbuka memberikan dukungan kepada Islam Nusantara, yang merupakan bentuk Islam yang moderat dan dianggap cocok dengan nilai budaya Indonesia

https://www.facebook.com/plugins/post.php?href=https://www.facebook.com/UstadzFelixSiauw/posts/10156225290276351&width=500

Sekitar 12 Jam sebelumnya, Ustadz Felix Siauw menuli status di Facebooknya terkait istilah Islam Nusantara yang ia beri judul Tabayyun Dong.

Tabayyun Dong

Artinya cek dan ricek, diverifikasi lagi, dipastikan lagi, diperiksa lagi. Perintah ini Allah berikan saat kita mendapatkan berita dari orang yang fasik, agar kita hati-hati menerima berita

Misalkan, ada yang berkata pada kita, “Eh, temanmu itu penyuka sesama jenis lo”, maka kita tak boleh langsung percaya dan disinilah berlaku perintah tabayyun

Tabayyun artinya mencari bukti (al-bayan) atas berita yang kita terima, hingga berita itu bisa kita pastikan benar. Agar kita memiliki referensi dalam reaksi kita

Pertanyaannya, tabayyun apalagi yang kita perlukan bila semua video-videonya ada, masih bisa diakses, ditambah lagi selalu disuarakan terus-menerus dengan bangga

Ada yang berkata ketika memaknai tentang ide Islam Nusantara, “Islam kita ini Islam Nusantara, Islam kita ini Islam yang sejati, bukan Islam abal-abal model Timur Tengah..”, begitu

Ditambahkan, “Lain dengan yang di Arab dan anak-anak peradabannya, semuanya Islam datang sebagai penakluk, yaa.. kurang lebih sebagai penjajah”. Perlu tabayyun?

Senada dengan tokoh lainnya yang katakan “Islam Nusantara” bukan “Islam Arab”, yang dianggap juga membawa radikalisme dan juga terorisme. Videonya ada, perlu tabayyun?

Mereka yang jernih hatinya akan melihat dengan jelas, kemana arah ide “Islam Nusantara” digelontorkan. Tapi yang sudah menutup hati, akan mencaci-maki

Tapi ya itu, bila untuk mereka “tabayyun dong”, untuk yang lain, tak perlu ada tabayyun. Tak perlu tabayyun saat persekusi, tak perlu tabayyun saat menuduh orang lain “Islam Arab” radikal

Tulisan ini dibuat hanya bagi yang berpikir, dan yang berpikir insyaAllah tetap santun dalam beda apapun, andai Anda menemukan komentar buruk dibawah, tak perlu ladeni

Bagi kita cukup Islam, tak perlu dibatasi Nusantara, apalagi untuk menjelekkan yang lain. Jaga ukhuwah, tugas kita hanya menyampaikan dengan akhlak yang baik

Sumber: wartakota.tribunnews – Selasa, 17 Juli 2018

Status Terakhir Yockie Suryo Prayogo: ‘Kita Semua Akan Berpulang KepadaNya’

Bagus untuk d baca, renungan buat diri kita

Tulisan Yockie Suryo Prayogo (musisi legendaris Indonesia) di FB tgl. 1 November 2017 (sebelum meninggal dunia Senin tgl 5 Februari 2018 )_

Boleh jadi *keterlambatanmu* dari suatu perjalanan adalah *keselamatanmu*

Boleh jadi *tertundanya pernikahanmu* adalah suatu *keberkahan*

Boleh jadi *dipecatnya* engkau dari pekerjaan adalah suatu *maslahat*

Boleh jadi sampai sekarang engkau *belum dikarunia anak* itu adalah *kebaikan dalam hidupmu*.

Boleh jadi engkau *membenci sesuatu* tapi ternyata itu *baik untukmu*, karena *Allah Maha Mengetahui* Sedangkan engkau tidak mengetahui.

Sebab itu, *jangan engkau merasa gundah* terhadap segala sesuatu yang terjadi padamu, karena *semuanya sudah atas izin Allah*

Jangan *banyak mengeluh* karena hanya akan *menambah kegelisahan*.

*Perbanyaklah bersyukur, Alhamdulillah*, itu yang akan *mendatangkan kebahagiaan.*
*Terus ucap alhamdulillah, alhamdulillah, alhamdulillah*, sampai engkau tak mampu lagi mengucapkannya.

*Selama kita masih bisa tidur tanpa obat tidur, kita masih bisa bangun tidur hanya dengan satu bunyi suara, kita terbangun tanpa melihat adanya alat-alat medis yang menempel di tubuh kita, itu pertanda bahwa kita hidup sejahtera.*

*Alhamdulillah,* *Alhamdulillah,* *Alhamdulillah,* ucapkan sampai engkau tak mampu lagi mengucapkannya.

*Jangan selalu melihat ke belakang karena disana ada masa lalu yang menghantuimu.*

*Jangan selalu melihat ke depan karena terkadang ada masa depan yang membuatmu gelisah.*

*Namun lihatlah ke atas karena di sana ada Allah yang membuatmu bahagia.*

Tidak harus banyak teman agar engkau menjadi populer, *singa sang raja hutan lebih sering berjalan sendirian.* Tapi kawanan domba selalu bergerombol.

*Jari-jari juga demikian; kelingking, jari manis, jari tengah, jari telunjuk, semuanya berjajar bersampingan kecuali jari jempol dia yang paling jauh diantara keempat itu.*

Namun perhatikan engkau akan terkejut kalau semua jari-jari itu *tidak akan bisa berfungsi dengan baik tanpa adanya jempol yang sendiri*, yang jauh dari mereka.

Karena itu, sebenarnya yang diperhitungkan *bukanlah jumlah teman yang ada di sekelilingmu* akan tetapi banyaknya *cinta dan manfaat* yang ada di sekitarmu, sekalipun engkau jauh dari mereka.

Menyibukkan diri dalam pekerjaan akan menyelamatkan dirimu dari tiga masalah; yaitu *kebosanan, kehinaan, dan kemiskinan*

Aku tidak pernah mengetahui adanya rumus kesuksesan, tapi aku menyadari bahwa *rumus kegagalan adalah sikap “asal semua orang “*

*Teman itu seperti anak tangga*, boleh jadi ia *membawamu ke atas* atau ternyata sebaliknya *membawamu ke bawah*, maka *hati-hatilah anak tangga mana yang sedang engkau lalui.*

Hidup ini akan terus berlanjut baik itu engkau tertawa ataupun menangis, karena itu jangan jadikan hidupmu penuh kesedihan yang tidak bermanfaat sama sekali.

*Berlapang dadalah*, *maafkanlah*, dan *serahkan urusan manusia kepada Tuhan*, karena engkau, mereka, dan kita semua, semuanya *akan berpulang kepadaNya.*

*Jangan tinggalkan sholatmu sekali pun*. Karena di sana, jutaan manusia yang berada di bawah tanah, sedang berharap sekiranya mereka diperbolehkan kembali hidup mereka akan bersujud kepada Allah SWT walau sekali sujud.

*Jangan selalu bersandar pada cinta, karena itu jarang terjadi.*

*Jangan bersandar kepada manusia karena ia akan pergi*.

*Tapi bersandarlah kepada Allah SWT, Tuhan YME, karena Dialah yang menentukan segala sesuatu.*

*Subhanallah wa bihamdihi subhanallah hiladzim.*

http://m.tribunnews.com/seleb/2018/02/05/status-terakhir-yockie-suryo-prayogo-kita-semua-akan-berpulang-kepadanya?page=2
#

Inilah Dosa yang 1.000 Kali Lebih Besar Dari Berzina

Sikap zina menggambarkan salah satu perbuatan dosa besar yang amat dibenci allah.

begitu banyak ayat dalam al – qur’an menarangkan tentang hukuman yang hendak diterima para pelakunya baik dikala di dunia ataupun kala di akhirat.

bila dicoba oleh orang yang belum menikah, hingga pelakon zina wajib dirajam di hadapan penduduk sebanyak seratus kali.

sedangkan untuk yang sudah menikah tetapi melaksanakan zina dengan yang bukan muhrimnya, hingga hukumannya dirajam hingga mati.

terlebih lagi dalam suatu riwayat dipaparkan kalau nabi musa as tidak memaafkan pelakon zina karna dikira amat hina.

dia mengusir perempuan pelakon zina yang mau bertaubat dan juga memohon petunjuk darinya. perihal ini meyakinkan kalau zina menggambarkan dosa besar yang susah diampuni.

walaupun demikian besar ancaman dosa yang hendak diterima oleh pelakon zina, tetapi nyatanya terdapat dosa yang besarnya 1000 kali lebih besar dari dosa ini.

ancaman untuk pelakon dosa tersebut merupakan hukuman dan juga kemurkaan allah dan memperoleh kehinaan di dunia dan juga akhirat. apakah dosa yang 1000 kali lebih besar dibandingkan zina? berikut ulasannya.

nyatanya dosa yang sedemikian besar tersebut merupakan dosa orang yang terencana meninggalkan salat 5 waktu. salat menggambarkan kewajiban utama umat islam yang jadi pondasi dasar agama allah ini.

meninggalkannya sama dengan meruntuhkan tiang agama dan juga membikin allah swt jadi murka. tidak cuma dikala di dunia, hukuman untuk orang yang meninggalkan salat, di akhirat pula amat pedih.

ibnu qayyim (AL) jauziyah –rahimahullah – berkata, ”kaum muslimin bersepakat kalau meninggalkan shalat 5 waktu dengan terencana merupakan dosa besar yang amat besar dan juga dosanya lebih besar dari dosa menewaskan, merampas harta teman , berzina, mencuri, dan juga minum minuman keras. orang yang meninggalkannya hendak menemukan hukuman dan juga kemurkaan allah dan memperoleh kehinaan di dunia dan juga akhirat. ” (ash – sholah, perihal. 7)

“rasulullah saw, diperlihatkan pada sesuatu kalangan yang membenturkan kepala mereka pada batu, tiap kali benturan itu menimbulkan kepala rusak, setelah itu dia berulang kepada kondisi semula dan juga mereka tidak terus menyudahi melaksanakannya. kemudian rasulullah bertanya: ‘siapakah ini wahai jibril’?

jibril menanggapi: ‘mereka ini orang yang berat kepalanya buat menunaikan sholat fardhu’. ” (riwayat tabrani).

dalam riwayat yang lain pula dipaparkan bagaiamana kejamnya siksaan untuk mereka yang meninggalkan shalat.

ibnu abbas r. a. mengatakan bila langit sudah terbuka, hingga malaikat hendak tiba dengan bawa rantai sejauh 7 hasta.

rantai ini hendak digantungkan kepada orang yang tidak melakukan shalat. setelah itu dimasukkan dalam mulutnya dan juga hendak keluar dari duburnya.

setelah itu malaikat mengumumkan, “ini merupakan balasan orang yang menyepelekan perintah allah. ” (ibnu abbas r. a).

nisbah dosa yang diterima oleh orang yang meninggalkan shalat merupakan antara lain merupakan bagaikan berikut:

bila satu kali meninggalkan shalat subuh, hingga hukumannya merupakan masuk neraka sepanjang 30 tahun, sebaliknya satu hari di neraka sama dengan 60. 000 tahun di dunia. maksudnya satu kali tidak melakukan salat subuh, hingga kita hendak mendekam 60 ribu tahun di neraka.
meninggalkan satu kali salat zuhur, sama dosanya dengan dosa menewaskan 1. 000 umat islam
dosa satu kali meninggalkan shalat ashar sama dengan dosa meruntuhkan ka’bah
dosa satu kali meninggalkan shalat maghrib sama dengan dosa berzina dengan ibunya (bila pria) ataupun berzina dengan bapaknya (bila wanita)
satu kali meninggalkan shalat isya, tidak hendak di – ridhoi oleh allah buat tinggal di bumi dan juga hendak didesak mencari bumi ataupun tempat hidup yang lain.

mudah – mudahan kita jadi orang – orang yang tetap mendirikan salat, melaksanakannya pas waktu, dan sanggup mengajak keluarga yang lain buat salat pas waktu. mudah – mudahan aja tulisan ini berguna dan juga terimakasih sudah membaca.

Inilah Dosa yang 1.000 Kali Lebih Besar Dari Berzina

Sikap zina menggambarkan salah satu perbuatan dosa besar yang amat dibenci allah.

begitu banyak ayat dalam al – qur’an menarangkan tentang hukuman yang hendak diterima para pelakunya baik dikala di dunia ataupun kala di akhirat.

bila dicoba oleh orang yang belum menikah, hingga pelakon zina wajib dirajam di hadapan penduduk sebanyak seratus kali.

sedangkan untuk yang sudah menikah tetapi melaksanakan zina dengan yang bukan muhrimnya, hingga hukumannya dirajam hingga mati.

terlebih lagi dalam suatu riwayat dipaparkan kalau nabi musa as tidak memaafkan pelakon zina karna dikira amat hina.

dia mengusir perempuan pelakon zina yang mau bertaubat dan juga memohon petunjuk darinya. perihal ini meyakinkan kalau zina menggambarkan dosa besar yang susah diampuni.

walaupun demikian besar ancaman dosa yang hendak diterima oleh pelakon zina, tetapi nyatanya terdapat dosa yang besarnya 1000 kali lebih besar dari dosa ini.

ancaman untuk pelakon dosa tersebut merupakan hukuman dan juga kemurkaan allah dan memperoleh kehinaan di dunia dan juga akhirat. apakah dosa yang 1000 kali lebih besar dibandingkan zina? berikut ulasannya.

nyatanya dosa yang sedemikian besar tersebut merupakan dosa orang yang terencana meninggalkan salat 5 waktu. salat menggambarkan kewajiban utama umat islam yang jadi pondasi dasar agama allah ini.

meninggalkannya sama dengan meruntuhkan tiang agama dan juga membikin allah swt jadi murka. tidak cuma dikala di dunia, hukuman untuk orang yang meninggalkan salat, di akhirat pula amat pedih.

ibnu qayyim (AL) jauziyah –rahimahullah – berkata, ”kaum muslimin bersepakat kalau meninggalkan shalat 5 waktu dengan terencana merupakan dosa besar yang amat besar dan juga dosanya lebih besar dari dosa menewaskan, merampas harta teman , berzina, mencuri, dan juga minum minuman keras. orang yang meninggalkannya hendak menemukan hukuman dan juga kemurkaan allah dan memperoleh kehinaan di dunia dan juga akhirat. ” (ash – sholah, perihal. 7)

“rasulullah saw, diperlihatkan pada sesuatu kalangan yang membenturkan kepala mereka pada batu, tiap kali benturan itu menimbulkan kepala rusak, setelah itu dia berulang kepada kondisi semula dan juga mereka tidak terus menyudahi melaksanakannya. kemudian rasulullah bertanya: ‘siapakah ini wahai jibril’?

jibril menanggapi: ‘mereka ini orang yang berat kepalanya buat menunaikan sholat fardhu’. ” (riwayat tabrani).

dalam riwayat yang lain pula dipaparkan bagaiamana kejamnya siksaan untuk mereka yang meninggalkan shalat.

ibnu abbas r. a. mengatakan bila langit sudah terbuka, hingga malaikat hendak tiba dengan bawa rantai sejauh 7 hasta.

rantai ini hendak digantungkan kepada orang yang tidak melakukan shalat. setelah itu dimasukkan dalam mulutnya dan juga hendak keluar dari duburnya.

setelah itu malaikat mengumumkan, “ini merupakan balasan orang yang menyepelekan perintah allah. ” (ibnu abbas r. a).

nisbah dosa yang diterima oleh orang yang meninggalkan shalat merupakan antara lain merupakan bagaikan berikut:

bila satu kali meninggalkan shalat subuh, hingga hukumannya merupakan masuk neraka sepanjang 30 tahun, sebaliknya satu hari di neraka sama dengan 60. 000 tahun di dunia. maksudnya satu kali tidak melakukan salat subuh, hingga kita hendak mendekam 60 ribu tahun di neraka.
meninggalkan satu kali salat zuhur, sama dosanya dengan dosa menewaskan 1. 000 umat islam
dosa satu kali meninggalkan shalat ashar sama dengan dosa meruntuhkan ka’bah
dosa satu kali meninggalkan shalat maghrib sama dengan dosa berzina dengan ibunya (bila pria) ataupun berzina dengan bapaknya (bila wanita)
satu kali meninggalkan shalat isya, tidak hendak di – ridhoi oleh allah buat tinggal di bumi dan juga hendak didesak mencari bumi ataupun tempat hidup yang lain.

mudah – mudahan kita jadi orang – orang yang tetap mendirikan salat, melaksanakannya pas waktu, dan sanggup mengajak keluarga yang lain buat salat pas waktu. mudah – mudahan aja tulisan ini berguna dan juga terimakasih sudah membaca.

Mangaat Baca Al-Qur’an

📖Inilah Manfaat
Membaca Al-Qur’an bagi Kesehatan

🔬Menurut sebuah survey yang dilakukan oleh dr. Al-Qodhi di Klinik Besar Florida, Amerika Serikat,

📣Berhasil membuktikan hanya dengan mendengarkan ayat suci Al-Qur’an, baik mereka yg mengerti bahasa Arab atau tidak, ternyata *memberikan perubahan fisiologis yang sangat besar.* Termasuk salah satunya dapat:
*menangkal berbagai macam penyakit*.

🔭Hal tsb dikuatkan lagi oleh Penemuan Muhammad Salim yang dipublikasikan Universitas Boston.

📚Mengapa di dalam Islam,
ketika kita *mengaji disarankan untuk bersuara?* Minimal untuk diri sendiri alias terdengar oleh telinga kita.

🔍Berikut penjelasanya :

🔖Setiap sel di dalam tubuh kita bergetar di dalam sebuah sistem yang seksama,
dan perubahan sekecil apapun dalam getaran ini akan menimbulkan potensi penyakit di berbagai bagian tubuh…

💡Nah… Sel-sel yang rusak ini harus digetarkan kembali untuk mengembalikan keseimbangannya.

🔊*Hal tersebut artinya harus dengan suara.* Maka munculah:
TERAPI SUARA
yang ditemukan oleh *dr. Alfred Tomatis, seorang dokter di Perancis*.

📡Sementara dr. Al-Qodhi menemukan,
bahwa
☝MEMBACA AL-QUR’AN DENGAN BERSUARA,

📌Memberikan pengaruh yang luar biasa terhadap sel-sel otak untuk mengembalikan keseimbangannya.

✒Penelitian berikutnya membuktikan ;
🔍Sel Kanker dapat hancur dengan menggunakan:
FREKUENSI SUARA saja.

✏Dan kembali terbukti bahwa,
📖Membaca Al-Qur’an
memiliki dampak hebat dalam proses penyembuhan penyakit sekaliber kanker.

🕯 Virus dan kuman berhenti bergetar saat dibacakan ayat suci Al-Qur’an, dan di saat yang sama , sel-sel sehat menjadi aktif.

🎚Mengembalikan keseimbangan program yang terganggu tadi.
Silakan dilihat QS. Al-Isro’ ayat 82

🔬Dan yang lebih menguatkan supaya diri ini semakin rajin dan giat membaca Al-Qur’an adalah karena menurut survei :

🔊SUARA YANG PALING MEMILIKI PENGARUH KUAT TERHADAP SEL-SEL TUBUH, ADALAH SUARA SI PEMILIK TUBUH ITU SENDIRI.
Lihat QS. 7 ayat 55 dan QS. 17 ayat 10.

🕌Mengapa Sholat berjama’ah lebih di anjurkan?.
👐Karena ada do’a yg dilantunkan dengan keras, sehingga terdengar oleh telinga, dan ini bisa mengembalikan sistem yang seharian rusak.*

👉Mengapa dalam Islam mendengarkan lagu hingar bingar tidak dianjurkan?
*Karena survei membuktikan, bahwa getaran suara hingar bingar MEMBUAT TUBUH TIDAK SEIMBANG.*

☝Maka kesimpulannya adalah :

👍1. Bacalah Al-Qur’an di pagi hari dan malam hari sebelum tidur* untuk mengembalikan sistem tubuh kembali normal.

👋2. Kurangi mendengarkan musik hingar bingar,* ganti saja dengan *murotal* yang jelas-jelas memberikan efek menyembuhkan.
Siapa tau kita punya potensi terkena kanker, tapi karena rajin mendengarkan murotal,
penyakit tersebut bisa hancur sebelum terdeteksi.

✌3. Perbaiki baca Al-Qur’an (baca dengan tartil, penuhi Hukum Tajwid),* karena efek suara kita sendirilah yang paling dasyat dalam penyembuhan.

🖎Silakan disebarkan. Semoga menjadi wasilah amal kebaikan.

Setiap Malam Jumat, Ruh Orang Meninggal Selalu Kembali?

20180126-malam-jumatKETIKA seseorang telah kembali kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka ruhnya akan berpisah dengan jasadnya. Dengan begitu, segala urusan dunia akan terhenti. Ia tak bisa lagi memperbanyak amalannya. Ia hanya tinggal menunggu datangnya waktu pertanggungjawaban atas apa yang ia lakukan selama masa hidup di dunia.

Namun ada kalanya ruh-ruh orang meninggal akan kembali ke rumah. Menurut hadis Nabi Muhammad ﷺ, ruh-ruh ini turun ke langit dunia dan berhenti di rumah keluarganya setiap malam Jumat. Di sana ruh meminta belas kasihan keluarga yang masih hidup di dunia agar mengirim doa dan ayat-ayat Al-Quran. Hanya inilah satu-satunya bekal tambahan ruh tersebut untuk menjalani kehidupan di alam barzah.

Dalam hadis Rasulullah yang tercatat dalam kitab Hadiyatul karya Abul Hasan Ali bin Ahmad bin Yusuf bin Ja’far Al-Hakkari menceritakan tentang bagaimana kondisi arwah-arwah ini ketika mendatangi rumahnya dan dan menjenguk keluarganya. Masing-masing mereka memanggil-manggil hingga 1000 kali dengan suara yang memelas dan meminta belas kasihan dari keluarganya yang masih hidup. Meski mereka sudah tiada, ternyata masih membutuhkan kasih sayang kita agar mau mengingat dan mendoakannya.

Rasulullah ﷺ bersabda, “Sesungguhnya ruh-ruh orang mukmin datang setiap malam jumat pada langit dunia. Lalu mereka berdiri di depan pintu-pintu rumah mereka. Masing-masing mereka memanggil-manggil dengan suara yang memelas, ‘Wahai istriku (suamiku), anakku, keluargaku, dan kerabatku! Sayangilah kami dengan sesuatu, maka Allah akan merahmati kalian. Ingatlah kami, jangan kalian lupakan! Sayangilah kami dalam keterasingan kami, minimnya kemampuan kami dan segala apa yang kami berada di dalamnya. Sesungguhnya kami berada dalam tempat yang terpencil, kesusahan yang yang panjang dan duka yang dalam. Sayangilah kami, maka Allah akan menyayangi kalian. Jangan kalian kikir kepada kami dengan memberikan doa, shadaqah dan tasbih. Semoga Allah memberikan rasa nyaman kepada kami, sebelum kalian sama seperti kami. Sungguh rugi! Sungguh menyesal! Wahai hamba Allah! Dengarkanlah ucapan kami, dan jangan lupakan kami. Kalian tahu bahwa keutamaan yang berada di tangan kalian sekarang adalah keutamaan yang sebelumnya milik kami. Sementara kami tidak menafkahkannya untuk taat kepada Allah. Kami tidak mau terhadap kebenaran, hingga ia menjadi musibah bagi kami. Manfaatnya diberikan kepada orang lain, sementara pertanggungjawaban dan siksanya diberikan kepada kami’.”

Rasulullah ketika menyampaikan hadis ini menangis sehingga membuat sahabat-sahabatnya ikut menangis. Dia hanya mengatakan bahwa ruh-ruh tersebut adalah saudara-saudara yang sebelumnya menikmati keindahan dunia. Saat sudah meninggal, mereka hanya menjadi debu padahal semasa hidupnya penuh dengan kenikmatan dan kegembiraan.

Dalam sebuah hadis lain, Nabi ﷺ juga berkata bahwa tidak ada seorang mayit di kuburannya kecuali seperti orang yang tenggelam yang minta pertolongan. Dia menanti kiriman doa dari anaknya, saudaranya atau temannya. Ketika ia mendapatkannya maka ia sungguh bahagia mengalahkan kebahagiaan dunia seisinya. Namun, jika arwah-arwah tersebut tidak memperoleh apa-apa, maka arwah-arwah tersebut memperoleh kerugian dan kembali dengan berduka.

Berdasar hadis tersebut di atas dan berdasar pernyataan dari kalangan Ulama’ di berbagai literatur dari kitab-kitab klasik yang mu’tabar di antaranya Imam Abu Bakar Ibnu Sayyid Muhammad Syata Al-Dimyati di dalam Kitab karyanya I’anah Al-Thalibin, Imam Al-Qurthubi dan Ulama’-Ulama’ yang lain bahwa kepulangan arwah orang-orang mu’min pada hari-hari tertentu seperti yang diyakini oleh kalangan ahlus sunnah wal jama’ah adalah benar dan tidak diragukan lagi. Wallahu a’lam bis shawab. []

Sumber

By arifuddinali Posted in Artikel

Inilah Sumber Dari Segala Dosa

BANYAK di antara kita yang belum mengetahui atau belum menyadari sumber dari segala dosa adalah sifat-sifat yang akrab dengan kita sehari-hari. Tanpa kita sadari, selama ini sifat-sifat tersebut mungkin telah bersemayam dalam hati kita. Sifat apa sajakah itu?

Ibnul Qoyyim –rahimahullah- mengatakan, “Barangsiapa yang terbebas dari tiga sifat ini, maka dia akan terlindung dari segala macam kejelekan. (Ketahuilah), kekafiran itu berasal dari sifat sombong. Maksiat berasal dari sifat tamak. Sikap melampaui batas dan kezholiman berasal dari sifat dengki (hasad).”

Itulah faedah berharga dari dokter hati, Ibnu Qoyyim Al Jauziyah. Sifat sombong inilah yang membuat iblis tetap dalam kekafirannya. Karena yang namanya sombong kata Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia.

Dari ‘Abdullah bin ‘Abbas, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sombong adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia,” (HR. Muslim).

Hadits ini diberi judul oleh An Nawawi dalam Shahih Muslim: “Bab Haramnya Sifat Sombong dan Penjelasannya.”
Sifat sombong inilah yang membuat seseorang sulit masuk surga yang penuh kelezatan. Dari ‘Abdullah bin Mas’ud,

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak akan masuk surga yaitu orang yang dalam hatinya terdapat kesombongan sebesar semut kecil,” (HR. Muslim).

Sifat tamak atau rakus membuat seseorang mudah terjerumus dalam maksiat. Lihatlah bagaimana Nabi Adam ‘alaihis salam bisa keluar dari surga, sebabnya adalah memakan tanaman yang haram untuk dimakan. Maksiat ini berasal dari sifat tamak. Begitu juga orang mudah terjerumus dalam perzinaan, berdua-duaan dengan lawan jenis tanpa mahrom, melihat gambar yang tidak layak untuk dipandang semacam gambar porno; itu semua terjadi karena adanya sifat tamak pada diri seseorang.

Sedangkan sifat dengki atau iri akan membuat seseorang melampau batas dan berbuat zholim pada orang lain. Ketika melihat saudaranya memiliki HP baru atau laptop mewah, dalam hatinya akhirnya muncul sifat dengki, ingin agar nikmat yang ada pada saudaranya tadi lenyap dan musnah. Akhirnya berbagai macam cara dilakukan untuk meraih maksud tadi, entah dengan mencuri bahkan ada juga sebagian orang yang tega membunuh saudaranya sendiri karena latar belakang semacam ini.

Itulah 3 sifat yang harus dijauhi setiap muslim. Niscaya dengan menjaga 3 hal ini, seseorang akan terhindar dari segala macam kejelekan. Sebagaimana dijelaskan oleh Ibnul Qoyyim, tiga sifat buruk inilah sumber segalam macam dosa. []

SUMBER: RUMAYSHO

By arifuddinali Posted in Ahlak

Harta Kita Yang Sesungguhnya

RENUNGAN:

20180120-tangan-jari-meja-kursi-

“Berimanlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan nafkahkanlah sebagian hartamu yang Alla telah menjadikanmu menguasainya. Maka, orang-orang yang beriman di antaramu dan menafkahkan sebagian hartanya memperoleh pahala yang besar.” (QS. Al-Hadid: 7)

IMAM al-Qurthubi menyatakan bahwa ayat ini “merupakan dalil bahwa hakikatnya benda kita adalah milik Allah SWT. hamba tidaklah memiliki apa-apa melainkan apa yang Allah ridhai dan Dia titipkan kepadanya. Siapa saja yang menginfakkan hartanya dijalan Allah maka ia akan mendapatkan pahala yang berlimpah dan amat banyak.”

Beliau melanjutkan, “Ini menunjukkan bahwa pada hakikatnya harta kalian bukanlah milik kalian. Kalian hanyalah bertindak sebagai wakil atau pengganti dari pemilik harta yang sebenarnya. Karena itu, gunakanlah kesempatan yang ada di jalan yang benar, sebelum ia hilang dan berpindah kepada orang-orang setelah kalian.”

Jadi, harta hanyalah titipan Ilahi. Jika harta yang dititipkan kepada kita Allah ambil, itu karena memang ia miliki-Nya. Tidak sepantasnya kita protes, mengeluh, tidak suka, karena pada hakikatnya kita ini fakir yang hanya dipinjami harta. Dan, sebaik-baik harta yang kita nafkahkan di jalan Allah, karena itu akan mendatangkan balasan kebaikan yang berlipat. Bahkan, harta yang kita nafkahkan di jalan Allah-lah yang merupakan harta kita yang sebenarnya. Mari kita simak hadits Rasulullah kepada Aisyah berikut ini.

Ketika Rasulullah SAW bertanya kepada Aisyah tentang seekor kambing yang disembelih, apakah yang tersisa darinya Aisyah, Aisyah menjawab, “Tidak ada yang tersisa kecuali bagian bahunya.” Nabi Muhammad SAW bersabda, “Tersisa seluruhnya kecuali bagian bahunya.” (HR. Muslim)

Ya, hanya bahu kambing saja yang akhirnya habis dimakan. Dikunyah, masuk ke kerongkongan hingga masuk ke lambung. Sedangkan bagian kambilng yang lain disedekahkan, ia kekal di sisi Allah. Bagi Rasulullah, sedekah akan mendatangkan pahala yang banyak dan menjadi amal yang memperberar timbangan kebaikan. []

Referensi: Dream anda Pray/Karya: @Doaindah/Penerbit:QultumMedia (Islam Pos)

By arifuddinali Posted in Ahlak Dengan kaitkata

Ponsel Berdering Ketika Shalat, Boleh Bergerak Untuk Mematikannya?

20180120-shalat-sujud-masjidSHALAT haruslah dilakukan dengan penuh kekhusyuan. Meski cukup sulit, tapi kita harus berusaha semaksimal mungkin agar bisa pokus. Salah satu caranya ialah dengan mematikan ponsel ketika shalat. Sebab, boleh jadi ponsel itu berbunyi ketika shalat dan mengganggu konsentrasi kita.

Hanya saja, satu kelemahan manusia ialah lupa. Ya, seringkali kita lupa untuk mematikan ponsel ketika akan shalat. Sehingga, hal yang tak diinginkan itu bisa saja terjadi. Di mana ponsel berbunyi ketika kita shalat. Jika sudah begini, apa yang harus dilakukan? Bolehkah melakukan gerakan lain –selain gerakan shalat— ketika shalat untuk mematikan ponsel?

Bergerak dalam shalat, tidaklah terlarang secara mutlak. Dan melakukan banyak gerakan yang dibutuhkan, tidaklah membatalkan shalatnya. Terdapat banyak dalil yang menunjukkan bahwa Nabi ﷺ melakukan banyak gerakan dalam shalatnya. Dan itu beliau lakukan ketika dalam shalat. Artinya, gerakan yang banyak ketika shalat dan itu dibutuhkan, tidaklah membatalkan shalat.

Kita sepakat, mematikan ponsel yang berdering ketika shalat, termasuk gerakan yang sangat dibutuhkan. Bahkan melakukan gerakan yang dibutuhkan, bisa menjaga kekhusyuan shalat. Al-Hafidz Ibnu Hajar menjelaskan, “Menghilangkan segala yang mengganggu orang yang shalat dengan cara apapun, dapat menjaga untuk terus khusyuk,” (Fathul Bari, 2/389).

Mengingat suara ponsel sangat mengganggu, para ulama kontemporer memfatwakan, dibolehkan bagi orang yang shalat untuk melakukan gerakan tangan dalam rangka mematikan suara ponselnya yang mengganggu.

Dalam Fatawa Syabakah Islamiyah dinyatakan, “Sementara orang yang lupa mematikan ponselnya, dia tidak dianggap melakukan dosa. Namun, dia harus segera mematikan suara ponselnya, meskipun dia sedang shalat. Karena semacam ini hanya gerakan ringan, yang sama sekali tidak mempengaruhi gerakan keabsahan shalat,” (Fatawa Syabakah Islamiyah, 119943).

Sumber: KonsultasiSyariah.com

By arifuddinali Posted in Shalat