Di Balik Kekuatan Al Quran

quran-tadabur-dalam

Al-Qur’an… Sebuah kata yang sangat populer di dunia sejak ia diturunkan 14.5 abad silam sampai hari ini. Kalau kita tanya sama mbah “Google”, maka ia akan menjawab : Ada sekitar 68.5 juta kata Al-Qur’an tercantum di dalamnya…. Subhanallah… Sebaliknya, jika kita tanya umat Islam yang mencapai 1.6 milyar terkait hakikat Al-Qur’an, pasti jawaban mereka akan beragam… Jika kita fokuskan lagi pertanyaannya terkait Al-Qur’an seperti, sudahkan anda lancar membaca Al-Qur’an? Berapa banyak anda membaca Al-Qur’an perhari? Sudahkan anda memahami dan mentadabburkan semua isi Al-Qur’an? Berapa banyak anda menghafal Al-Qur’an? Sudah berapa anda mengamalkan perintah Al-Qur’an dan meninggalkan larangannya? Yakinkah anda Al-Qur’an itu sebagai solusi bagi kehidupan di dunia dan di akhirat?……. baca selengkapnya.

 

Al-qur’an Audio

01.Alfatihah, 02.Al-Baqarah, 03.Al-Imran, 04.An-Nisa’, 05.Al-Maidah, 06.Al-An’am. 07.Al-A’raf. 08.Al-Anfal, 09.At-Taubah, 10.Yunus. 11.Hud. 12.Yusuf. 13.Ar-Ra’d. 14.Ibrahim. 15.Al-Hijr. 16.An-Nahl. 17.Al-Isra’. 18.Al-Kahfi. 19.Maryam. 20.Thaha. 21.Al-Anbiya’. 22.Al-Hajj. 23.Al-Mu’min. 24.An-Nur. 25.Al-Furqan. 26.Asy-syu’ara. 27.An-Naml. 28.Al-Qashash. 29.Al-Ankabut. 30.Ar-Rum. 31.Lukman. 32.As-Sajada. 33.Al-Ahzab. 34.Saba’. 35.Fathir. 36.Ya-Siin. 37.Ash-Shaafaat. 38.Shaad. 39.Az-Zumar. 40.Ghafir. 41.Fusshilat. 42.Asyura. 43.Az-Zukhruf. 44.Ad-Dukhan. 45.Al-Jaatsiyah. 46.Al-Ahqaaf. 47.Muhammad. 48.Al-Fath. 49.Al-Hujuraat. 50.Qaaf. 51.Adz-Dzaariyaat. 52.Ath-Thuur. 53.An-Najm. 54.Al-Qamar. 55.Ar-Rahman. 56.Al-Waaqi’ah. 57.Al-Hadid. 58.Al-Mujaadalah. 59.Al-Hasyr. 60.Al-Mumtahana. 61.Ash-Shaf. 62.Al-Jum’ah. 63.Al-Munaafiqun. 64.At-Taghabuun. 65.Ath-Thalaq. 66.At-Tariim. 67.Al-Mulk. 68.Al-Qalam. 69.Al-Haaqqah. 70.Al-Ma’aarij. 71.Nuh. 72.Al-Jin. 73.Al-Muzammil. 74.Al-Mudatstsir. 75.Al-Qiyaamah. 76.Al-Insan. 77.Al-Murasalaat. 78.An-Naba’. 79.An-Nazi’aat. 80.Abasa. 81.At-Takwiir. 82.Al-Infithar. 83.Al-Muthafifiin. 84.Al-Insyiqaq. 85.Al-Buruj. 86.Ath-Thaariq. 87.Al-A’la. 88.Al-Ghasyiyah. 89.Al-Fajr. 90.Al-Balad. 91.Asy-Syams. 92.Al-Lail. 93.Adh-Dhuha. 84.Asy-Syarh. 95.Ath-Thiin. 96.Al-Alaq. 97.Al-Qadr. 98.Al-Bayyinah. 99.Al-Zalzalah. 100.Al-Adiyaat. 101.Al-Qaari’ah. 102.At-Takaatsur. 103.Al-Ashr. 104.Al-Humazah. 105.Al-Fil. 106.Al-Quraisy. 107.Al-Maa’uun. 108.Al-Kautsar. 109.Al-Kaafirun. 110.An-Nashr. 111.Al-Masad. 112.Al-Ikhlash. 113.Al-Falaq. 114.An-Nas

Iklan
By arifuddinali Posted in Artikel

Dialoh Syek Umar Pahlawan Libya Dengan Hakim Italia

Pasukan Kafir Menangkap, Memborgol Dan Memamerkan Umar Mukhtar Di Depan Umum Dengan Tujuan Untuk Mempermalukan Ulama. Padahal Sesungguhnya Allah Sedang Memuliakan Umar Mukhtar Dan Menghinakan Para Penangkapnya Tetapi Mereka Tidak Sadar!

DIALOG LUAR BIASA SYEKH UMAR MUKHTAR PAHLAWAN LIBYA DENGAN HAKIM ITALIA

Sepenggal Kisah [Dialog] Umar Mukhtar dengan Hakim Italia. Umar Mukhtar adalah singa padang pasir dari Libya.

Pada tahun 1911, pemerintahan fasis Italia mengumumkan perang terhadap Khilafah Utsmaniah (Ottoman). Tanpa menunggu lama, pada tanggal 19 Oktober 1911, kawanan pasukan Italia memasuki pantai Benghazi, Libya yang saat ini berada di bawah kekuasaan Ottoman.

Tak berselang lama, bersamaan dengan meletusnya perang Balkan, Ottoman akhirnya kalah dan menarik diri dari Libya pada tahun 1912 dan Libya resmi dijajah Italia.

Para pejuang Libya bangkit melawan Italia. Saat itu, tampillah salah seorang pemimpin pejuang yang tegak melawan penjajah Italia, dialah Umar Mukhtar (1861-1931). Kepahlawanannya amat masyhur di tengah Bangsa Arab dan Barat kala itu hingga beliau digelari sebagai The Lion of Desert (Singa Padang Pasir).

Zappelin militer Italia menyerang tentara Ottoman di Libya. Sejarah mencatat bahwa dalam perang Italia-Libya inilah pertama kali digunakan balon Zappelin sebagai
peralatan perang.

Bersama para pejuang dan mujahid yang ada beliau mengobarkan jihad hingga Italia kewalahan menanggulangi. Berbagai perjanjian dibuat oleh Italia guna melunakkan perjuangan para mujahid.

Singkat cerita, pada tanggal 11 September 1931, ketika Umar Mukhtar berziarah ke makam sahabat Rasulullah SAW, Ruwaifi’ Bin Tsabit r.a di kota al-Baidha, Umar Mukhtar berhasil ditangkap oleh pasukan Italia.

Beliau pun langsung ditawan dan digelandang ke pengadilan untuk menjalani hukuman sebagai pemberontak setelah berjuang lebih dari 20 tahun.

Sejarah mencatat, dalam persidangan tersebut, terjadi dialog yang luar biasa antara jaksa serta hakim Italia dengan sang mujahid. Berikut petikannya:

Hakim: “Apakah engkau memberontak terhadap Italia?”.

Umar : “Iya…”.

Hakim : “Apakah engkau juga mengajak dan memotivasi orang-orang untuk memberontak?”.

Umar : “Iya…”.

Hakim : “Apakah engkau tahu akibat perbuatanmu?”.

Umar : “Iya, saya tahu…”.

Hakim : “Apakah engkau sadar dengan semua pengakuanmu?”.

Umar : “Iya, saya sadar”.

Hakim : “Sudah berapa lama engkau mengangkat senjata melawan Italia?”.

Umar : “Lebih dari 20 tahun”.

Hakim : “Apakah engkau menyesal atas perbuatanmu itu?”.

Umar : “Tidak sama sekali”.

Hakim : “Tahukah engkau bahwa engkau akan dihukum gantung?”.

Umar : “Ya, saya tahu…”.

Hakim : “Saya betul-betul sedih… mengapa akhir hayatmu akan berakhir seperti ini…”.

Umar : “Anda salah… justru beginilah cara terbaik mengakhiri kehidupan ini…!!!”.

Sang hakim kemudian terus membujuk agar Umar Mukhtar menyesali perbuatannya supaya dia mendapat keringanan hukuman. Sang hakim juga membujuk Umar agar menulis sepucuk surat penyesalan dan mengajak para mujahidin untuk berhenti melawan Italia.

Hakim : “Maukah engkau menulis surat kepada para pengikutmu agar mereka berhenti melawan pemerintah Italia?”.

Mendengar hal itu, Umar Mukhtar mengucapkan kalimatnya yang historis:

“Sesungguhnya, jari telunjuk yang setiap hari mengacung tasyahud La Ilaha Illallah dalam sholat, tidak akan pernah menuliskan kalimat kebatilan!!!”.

Akhirnya, sang Hakim menjatuhkan vonis hukuman mati terhadap Umar Mukhtar dengan cara digantung. Di akhir persidangan, sang hakim bertanya:

“Bagaimana menurutmu terhadap hukuman ini?”.

Umar menjawab:

“Hukum yang benar hanyalah hukum Allah, bukan hukum kalian ini…”.

***

Eksekusi Umar Mukhtar di tiang gantungan
Italia mengira bahwa dengan digantungnya Umar Mukhtar, para pengikutnya akan ciut nyali mereka dalam berjuang. Tapi dugaan itu salah, kematian Umar justru mengobarkan semangat di seluruh penjuru Libya, hingga akhirnya pada akhirnya Libya berhasil meraih kemerdekaan.

Kisah perjuangan Umar Mukhtar pernah difilmkan pada tahun 1981, dengan disutradarai oleh Moustapha Akkad, dibintangi oleh aktor Hollywood, Anthony Quinn yang berperan sebagai Umar.

Kami umat Islam sangat bangga padamu ya Syekh Umar Mukhtar. Engkau sungguh beruntung syahid membela agama Allah. Semoga Allah menempatkanmu di tempat yang paling mulia. Aamiiin.

Doa dan Dzikir

Do’a & Dzikir

Dzikir Pilihan

1. Subhanallah wa bihamdihi Subhanallahil adzim

Makna Dzikir
Perbanyaklah dzikir membaca “Subhanallah wa bihamdihi subhanallahil adzim”.

Artinya: “Maha Suci Allah dengan segala Puji bagi-Nya, Maha Suci Allah yang Maha Agung”.

Keutamaan Dzikir ini
Dzikir dengan menggunakan lafal “Subhanallah wa bihamdihi Subhanallahil adzim” merupakan salah satu kalimat yang banyak dianjurkan di dalam hadits-hadits Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam, antara lain sebagai berikut :

1. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda : “Dua kalimat yang ringan diucapkan lidah, berat dalam timbangan (timbangan amal hari kiamat) dan disukai oleh (Allah) Yang Maha Pengasih, yaitu kalimat Subhanallah wa bihamdihi subhanallahil adzim (Maha Suci Allah dengan segala Puji bagi-Nya, Maha Suci Allah Yang Maha Agung).” (HR. Bukhari 7/168 dan Muslim 4/2072).

2. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda : “Sesungguhnya sebaik-baik ucapan kepada Allah SWT adalah kalimat Subhanallah wa bihamdihi.” (HR. Muslim dan At-Tirmidzi).

3. Diriwayatkan dari Abu Dzar, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam pernah ditanya “perkataan apa yang paling utama?”, Beliau menjawab, “yang dipilih oleh Allah bagi para Malaikat dan hamba-hamba-Nya, yaitu Subhanallah wa bihamdihi (Maha Suci Allah dengan segala Puji bagi-Nya).” (HR. Muslim).

4. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda : “Barang siapa mengucapkan Subhanallah wa bihamdihi seratus kali dalam sehari, ia akan diampuni segala dosanya sekalipun dosanya itu sebanyak buih di laut” (HR. Muslim dan At-Tirmidzi).

5. Ibnu Umar ra meriwayatkan bahwa suatu ketika Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam berkata kepada para sahabatnya, “Ucapkanlah Subhanallah wa bihamdihisebanyak seratus kali.
Barangsiapa mengucapkannya satu kali maka tertulis baginya sepuluh kebaikan, barang siapa mengucapkannya sepuluh kali maka tertulis baginya seratus kebaikan, barang siapa mengucapkannya seratus kali maka tertulis baginya seribu kebaikan, barang siapa menambahnya maka Allah pun akan menambahnya dan barang siapa memohon ampun, niscaya Allah akan mengampuninya.”

6. Dalam Musnad Imam Ahmad diceritakan bahwa ketika menjelang ajal Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam, Beliau memanggil putrinya dan berkata, “Aku perintahkan engkau agar selalu mengucapkan Subhanallah wa bihamdihi, karena kalimat tersebut merupakan doa seluruh makhluk dan dengan kalimat itulah semua makhluk mendapat limpahan rezeki.”

Waktu Berdzikir

Dari Abu Hurairah ra. berkata, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda, “Barangsiapa yang membaca di waktu pagi dan sore Subhanallah wa bihamdihi 100x (seratus kali) maka tidaklah datang seseorang pada hari kiamat dengan amalan yang lebih utama dari bacaan ini kecuali seseorang yang mengucapkan yang serupa atau lebih banyak lagi. (HR. Muslim dan HR. Abu Dawud)

2. Hasbunallah Wa Ni’mal Wakil

Makna Dzikir
Kalimat ini termasuk dzikir sederhana namun mengandung makna yang luar biasa, dzikir ini menandakan bahwa seorang hamba hanya pasrah pada Allah dan menjadikannya sebagai tempat bersandar.

Allah Ta’ala menceritakan mengenai Rasul dan sahabatnya dalam firman-Nya, (yaitu) orang-orang (yang mentaati Allah dan Rasul) yang kepada mereka ada orang-orang yang mengatakan “sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka“, maka pernyataan itu menambah keimanan mereka dan menjawab “Hasbunallah Wa Ni’mal Wakil”(Cukuplah Allah menjadi penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik pelindung)“
(QS. Ali Imran : 173).

Saat kita di himpit masalah, dirundung duka, dibebani kesulitan hidup juga merasa berada dalam ancaman maka ucapkanlah dan dzikir ini : “Husbanallah Wa Ni’mal Wakil, Ni’mal Mawla Wani’man-Nashir”Artinya : Cukup Allah tempat berserah diri bagi kami sebaik-baiknya pelindung kami, dan sebaik-baik penolong kami”

“Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam datang pada hari perang uhud lalu ada yang berkata “Wahai Rasulullah, sesungguhnya orang-orang (kafir) telah mengumpulkan pasukan untuk menyerangmu, maka takutlah kepada mereka!’

Lalu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam mengucapkan “Hasbunallah Wa Mi’mal Wakil”, kemudian Allah menurunkan ayat-ayat : “173. (Yaitu) orang-orang (yang menta’ati Allah dan Rasul) yang kepada mereka ada orang-orang yang mengatakan: “Sesungguhnya manusia [250] telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka”, maka perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab: “Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung”.” (QS. Ali Imron:173).

“Dan jika mereka berpaling maka ketahuilah bahwasanya Allah pelindungmu. Dia adalah sebaik-baik pelindung sebaik-baik penolong (Ni’mal Mawla Wani’man-Nashir)
(QS. Al-‘Anfal:40)

Hadits Rasulullah: Syahdan, tatkala Nabi Ibrahim AS di lemparkan ke dalam lautan api oleh para pengikut raja Namrud bin Kan’an, ia mengucapkan Hasbunallah Wa Ni’mal Wakil dan apipun tiba-tba menjadi dingin, ini diberikan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam. “Akhir kalimat yang diucapkan oleh Ibrahim ketika dicampakan kedalam api ialah Hasbunallah Wa Ni’mal Wakil (HR.Bukhari).

Keutamaan Dzikir ini
Sejarah telah memberikan kekuatan hasbalah yang di ucapkan oleh para nabi dan orang-orang saleh, ketika mereka menghadapi cobaan besar maupun fitnah yang berat kekuatannya melebihi kekuatan apapun di dunia ini serta menegaskan semangat tauhid pada diri orang yang mengucapkan yaitu bahwa hanya kepada Allah sejalah berserah diri, dan bahwa semua makhluk di sisi-Nya adalah lemah.

3. Astagfirullah

Makna Dzikir
Kata-kata lengkap dzikir ini adalah :“Astagfirullah hal azim Allazi lailaha illa huwal hayul qay’yum, wa a’tubu ilaihi”.Artinya : “Aku mohon kepada Allah yang Maha Agung, tidak ada Tuhan selain Dia, yang hidup dan selalu jaga dan aku bertaubat kepada-Mu”.

Dari Ibnu Abbas meriwayatkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda: “Siapa saja yang selalu beristighfar, niscaya Allah memberikannya jalan keluar dari kesulitan, kelapangan dan kegelisahan, dan rezeki yang tidak terduga” (HR. Ahmad, HR. Abu Dawud dan HR. Al-Nasa’i).

Di dalam Al-Qur’an, Allah SWT mengingatkan kita dengan firman-Nya yang berbunyi “Ketahuilah dengan Zikrullah itu, tenang tentramah hati manusia” (QS. Ar-Rad : 8). Selain itu Allah SWT juga menginginkan kita dalam sepotong ayat Al-Qur’an yang artinya: ”Dan Allah tidak akan menyiksa mereka sedang mereka beristighfar” (QS. Al-Anfal : 33).

Keutamaan Dzikir ini
Dalam sebuah hadits, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda “Barangsiapa mengucapkan istighfar ini pada hari itu dengan penuh keyakinan dan mati sebelum petang, maka dia termasuk menjadi ahli surga. Dan apabila dia mengucapkannya pada waktu malam dengan keyanikan teguh dan mati pada waktu pagi, maka dia termasuk juga di kalangan ahli surga” (HR. Bukhari)

4. La Ilaha Illallah

Makna Dzikir
“Dari Jabir bin Abdillah ia berkata : Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda: dzikir yang paling mulia ialah La Ilaha Illallah dan doa yang paling baik ialah Alhamdulillah” (HR. Ibnu Majah)

Keutamaan Dzikir ini
Disamping itu, dzikir La Ilaha Illallahmempunyai banyak fadhilah dan kelebihan antaranya ialah :

1. Pengamal akan mendapat syafaat dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam, sebagaimana hadits Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam yang maksudnya : “Dari Abu Hurairah ra., ia berkata : Telah bersabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam yang akan mencapai kebahagiaan dan keuntungan melalui syafaatku ialah yang mengucap kalimat (La Ilaha Illallahdengan hati yang ikhlas” HR. Bukhari).

2. Mendapat jaminan masuk surga Dari Zaid bin Argam ra. meriwayatkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda yang maksudnya : barang siapa yang mengucapkan La Ilaha Illallah dengan ikhlas, dia akan dimasukan ke dalam surga lalu ditanya kepada baginda : Bagaimana yang di maksudkan dengan ikhlas itu : Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda: ikhlas itu ialah yang mencegah dari melakukan perbuatan yang haram” (HR. Al-Tabarani)

3. Tidak akan dimasukan ke dalam api neraka Dari Umar ra. meriwayatkan bahwa beliau mendengar Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda yang maksudnya : “Aku mengetahui satu kalimat yang tidaklah seorang hamba pun yang mengucapkan nya dan membenarkannya dengan hati kemudian ia mati dengannya melainkan haramlah ke atasnya neraka jahaman, kalimat ini La Ilaha Illallah” (HR. Hakim).

5. Alhamdulillah

Makna Dzikir
Lafaz ini adalah ungkapan rasa syukur seorang hamba kepada Rabb nya dengan memberikan pujian kepada-Nya.
Lafaz ini juga di sunatkan di baca setelah sholat sebanyak 33 kali dan juga sebelum tidur 33 kali.
Setelah bersin kita juga disunatkan mengucapkan Alhamdulillah (HR. Bukhari).

Keutamaan Dzikir ini
Dari Jabir Bin Abdullah R.A berkata : “ Saya mendengar Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda : “dzikir yang paling utama adalah Laa Ilaaha Illaallah dan doa yang paling utama adalah Alhamdulillah”” (HR. At-Tirmidzi no.3305, HR. Ibnu Majah no.3790).

Doa yang paling utama adalah Alhamdulillah. Doa merupakan ungkapan dzikir dan permohonan kepada Allah SWT untuk memenuhi hajat hamba-Nya. Kalimat Alhamdulillah telah memuat kedua unsur tersebut. Dzikir dan permohonan kepada Allah SWT.

Seorang hamba membaca Alhamdulillahsejatinya tengah memuji Allah diatas limpahan nikmat-Nya. Memuji Allah atas limpahan nikmat-Nya secara tidak langsung berarti meminta tambahan nikmat.

Allah SWT telah menjanjikan “ Jika kalian bersyukur, niscaya Aku akan menambah nikmat-Ku kepada kalian…” (QS. Ibrahim : 7)

Keutamaan shalat Fajar (Shubuh)

Bab: Keutamaan shalat Fajar (Shubuh)

  1. Telah menceritakan kepada kami Musaddad berkata, telah menceritakan kepada kami Yahya  dari  Isma’il  telah  menceritakan  kepada  kami  Qais,  Jarir  bin  ‘Abdullah  berkata kepadaku, “Kami sedang bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam saat beliau melihat rembulan  di  malam  purnama.  Kemudian  beliau  bersabda:  “Sesungguhnya  kalian  akan melihat Rabb kalian sebagaimana kalian melihat bulan purnama ini. Dan kalian tidak akan saling berdesakan dalam melihatnya. Maka jika kalian mampu untuk tidak terlewatkan melaksanakan shalat sebelum terbit matahari dan sebelum terbenamnya, maka lakukanlah, ” Kemudian beliau membaca: ‘(Maka bertasbihlah sambil memuji Rabbmu sebelum terbit matahari dan sebelum terbenamnya) ‘ (Qs. Qaaf: 38).
  1. Telah menceritakan  kepada  kami  Hudbah  bin  Khalid  berkata,  telah  menceritakan kepada kami Hammam telah menceritakan kepadaku Abu Jamrah dari Abu Bakar bin Abu Musa dari Bapaknya, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa mengerjakan shalat pada dua waktu dingin, maka dia akan masuk surga.” Ibnu Raja’ berkata; telah menceritakan kepada kami Hammam dari Abu Jamrah bahwa Abu Bakar bin ‘Abdullah bin Qais telah mengabarkan kepadanya seperti ini.” Dan telah menceritakan kepada kami Ishaq telah menceritakan kepada kami Habban telah menceritakan kepada kami Hammam telah menceritakan kepada kami Abu Jamrah dari Abu Bakar bin ‘Abdullah dari Bapaknya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam seperti ini.”

Waktu shalat ‘Isya sampai pertengahan malam

Bab: Waktu shalat ‘Isya sampai pertengahan malam

  1. Telah menceritakan kepada kami ‘Abdurrahim Al Muharibi berkata, telah menceritakan kepada kami Zaidah dari Humaid Ath Thawil dari Anas bin Malik berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah  mengakhirkan  shalat  ‘Isya  hingga  pertengahan  malam,  setelah melaksanakan shalat beliau bersabda: “Manusia semuanya sudah selesai shalat lalu mereka tidur. Dan kalian akan senantiasa dalam hitungan shalat selama kalian menunggu pelaksanaannya.” Ibnu Abu Maryam menambahkan; telah mengabarkan kepada kami Yahya bin Ayyub telah menceritakan kepadaku Humaid dia mendengar Anas bin Malik berkata, “Pada malam itu aku seolah melihat cahaya cincin Beliau.”

Tidur sebelum shalat ‘Isya’ bagi orang yakin tidak akan ketid

Bab: Tidur sebelum shalat ‘Isya’ bagi orang yakin tidak akan ketiduran

  1. Telah menceritakan kepada kami Ayyub bin Sulaiman -yaitu Ibnu Bilal- ia berkata, telah menceritakan kepadaku Abu Bakar dari Sulaiman -yaitu Ibnu Bilal- berkata, telah menceritakan kepada kami Shalih bin Kaisan telah mengabarkan kepadaku Ibnu Syihab dari ‘Urwahl bahwa ‘Aisyah    berkata,    “Rasulullah    shallallahu    ‘alaihi    wasallam    pernah mengakhirkan  shalat  ‘Isya  hingga  sepertiga  malam  yang  akhir.  Lalu  ‘Umar  pun  berseru kepada  beliau, “(Laksanakanlah) shalat, sebab para wanita dan anak-anak telah terlelap tidur.” Maka keluarlah beliau seraya berkata: “Tidak ada seorangpun dari penduduk bumi yang menunggu shalat Isya ini selain kalian.” Beliau tidaklah melaksanakan shalat seperti ini kecuali di Madinah. Dan mereka melaksnakan shalat antara hilangnya syafaq (cahaya kemerahan di langit) hingga sepertiga awal dari malam.”
  2. Telah menceritakan kepada kami Mahmud -yaitu Ibnu Ghailan- berkata, telah mengabarkan kepada kami Abdurrazaq berkata, telah mengabarkan kepadaku Ibnu Juraij berkata, telah mengabarkan  kepadaku  Nafi’  berkata,  telah  menceritakan  kepada  kami ‘Abdullah  bin  ‘Umar, bahwa  Rasulullah  shallallahu  ‘alaihi  wasallam  pernah  suatu  malam disibukkan dengan urusan sehingga mengakhirkan shalat ‘Isya. Dan karenanya kami tertidur di dalam  masjid. Lalu kami terbangun, lalu tertidur, lalu terbangun lagi hingga akhirnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam keluar menemui kami seraya bersabda: “Tidak ada seorangpun dari penduduk bumi yang menunggu shalat seperti ini selain kalian.” Dan Ibnu ‘Umar tidak mempermasalahkan apakah Beliau memajukannya atau mengakhirkan. Pelaksanakaannya. Dan Ibnu Umar tidur dahulu sebelum shalat Isya. Ibnu Juraij berkata, “Aku bertanya kepada ‘Atha’, lalu dia berkata, “Aku mendengar Ibnu ‘Abbas berkata, “Pernah suatu malam Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengakhirkan shalat ‘Isya hingga banyak orang tertidur, kemudian mereka terbangun, lalu tertidur lagi, kemudian terbangun lagi.” ‘Umar bin Al Khaththab lalu berdiri dan berkata, “Shalat.” ‘Atha’ berkata, Ibnu ‘Abbas, “Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam kemudian keluar dengan meletakkan tangan pada kepala, seakan aku melihat rambut beliau basah meneteskan air. Beliau kemudiaan bersabda: “Seandainya tidak memberatkan ummatku, niscaya aku akan perintahkan mereka melaksanakan shalat ‘Isya seperti waktu sekarang ini.” Aku (Ibnu Juraij) kemudian menanyakan kepada ‘Atha untuk memastikan kenapa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam meletakkan tangannya di kepalanya seabgaimana yang diberitakan oleh Ibnu ‘Abbas. Maka ‘Atha  merenggangkan  sedikit  jari-jarinya  kemudian  meletakkan ujung jarinya  di  atas  sisi kepala,  kemudian  ia  menekannya  sambil  menggerakkan  ke  sekeliling  kepala  hingga  ibu jarinya menyentuh ujung telinga yang dimulai dari pelipis hingga pangkal jenggot. Dia melakukannya tidak pelan juga tidak cepat, kecuali sedang seperti itu. Lalu Beliau bersabda: “Seandainya tidak memberatkan ummatku, niscaya aku akan perintahkan mereka melaksanakan shalat seperti waktu sekarang ini.”

Kitab: Zakat

Kitab: Zakat – 1308-1416

Bab: Kewajiban Berzakat

  1. Telah menceritakan kepada kami Abu ‘Ashim Adh-Dlohhak bin Makhlad dari Zakariya’ bin Ishaq dari Yahya bin ‘Abdullah bin Shayfiy dari Abu Ma’bad dari Ibnu ‘Abbas radliallahu ‘anhuma bahwa ketika Nabi Shallallahu’alaihiwasallam mengutus Mu’adz radliallahu ‘anhu ke negeri Yaman, Beliau berkata,: “Ajaklah mereka kepada syahadah (persaksian) tidak ada ilah yang berhak disembah kecuali Allah dan bahwa aku adalah utusan Allah. Jika mereka telah mentaatinya, maka beritahukanlah bahwa Allah mewajibkan atas mereka shalat lima waktu sehari semalam. Dan jika mereka telah mena’atinya, maka beritahukanlah bahwa Allah telah mewajibkan atas mereka shadaqah (zakat) dari harta mereka yang diambil dari orang-orang kaya mereka dan diberikan kepada orang-orang faqir mereka”.
  2. Telah menceritakan kepada kami Hafsh bin ‘Umar telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Muhammad bin ‘Utsman bin ‘Abdullah bin Mawhab dari Musa bin Thalhah dari Abu Ayyub radliallahu ‘anhu; Bahwa ada seseorang laki-laki berkata, kepada Nabi Shallallahu’alaihiwasallam: “Kabarkan kepadaku suatu amal yang akan memasukkan aku kedalam surga”. Dia berkata,: “Apakah itu, apakah itu?. Dan Nabi Shallallahu’alaihiwasallam bersabda: “Dia membutuhkannya. Yaitu kamu menyembah Allah dengan tidak menyekutukanNya dengan suatu apapun, kamu mendirikan shalat, kamu tunaikan zakat, kamu sambung hubungan kerabat (shilaturrahim) “. Dan berkata, Bahz telah menceritakan kepada kami Syu’bah telah menceritakan kepada kami Muhammad bin ‘Utsman dan bapaknya ‘Utsman bin ‘Abdullah bahwa keduanya mendengar Musa bin Thalhah dari Abu Ayyub dari Nabi Shallallahu’alaihiwasallam dengan lafadz seperti ini. Berkata, Abu ‘Abdullah Al Bukhariy: “Aku ragu bahwa Muhammad bin ‘Utsman yang menghafalnya dari (Syu’bah) akan tetapi yang benar adalah ‘Amru bin ‘Utsman.
  3. Telah menceritakan kepada saya Muhammad bin ‘Abdur Rahim telah menceritakan kepada kami ‘Affan bin Muslim telah menceritakan kepada kami Wuhaib dari Yahya bin Sa’id bin Hayyan dari Abu Zur’ah dari Abu Hurairah radliallahu ‘anhu; Ada seorang Arab Badui menemui Nabi Shallallahu’alaihiwasallam lalu berkata,: “Tunjukkan kepadaku suatu amal yang bila aku  kerjakan  akan  memasukkan  aku  kedalam  surga”. Nabi Shallallahu’alaihiwasallam bersabda: “Kamu menyembah Allah dengan tidak menyekutukanNya dengan suatu apapun, kamu mendirikan shalat yang diwajibkan, kamu tunaikan zakat yang wajib, kamu mengerjakan shaum (puasa) bulan Ramadhan. Kemudian orang Badui itu berkata,: “Demi Dzat yang jiwaku berada di tanganNya, aku tidak akan menambah dari perintah-perintah ini”. Ketika hendak pergi, Nabi Shallallahu’alaihiwasallam bersabda: “Siapa yang berkeinginan melihat laki-laki penghuni surga maka hendaklah dia melihat orang ini”. Telah menceritakan kepada kami Musaddad dari Yahya dari Abu Hayyan berkata, telah mengabarkan kepada saya Abu Zur’ah dari Nabi Shallallahu’alaihiwasallam sepeti hadits ini.
  4. Telah menceritakan kepada kami Hajjaj telah menceritakan kepada kami Hammad bin Zaid telah menceritakan kepada kami Abu Jamrah berkata, aku mendengar Ibnu ‘Abbas radliallahu ‘anhuma berkata; telah datang utusan suku ‘Abdul Qais kepada Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam lalu mereka  berkata,:  “Wahai  Rasulullah,  kami  ini  dari  suku Rabi’ah, dan antara tempat tinggal kami dan Baginda ada suku Mudhar yang kafir dan kami tidak dapat mengunjungi anda kecuali pada bulan haram. Maka perintahlah kami dengan satu perintah yang kami ambil dari Baginda dan kami dapat mengajak kepada perintah itu orang-orang lain di belakang kami. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Aku perintahkan kalian dengan empat perkara dan aku larang dari empat perkara. (Yaitu) Iman kepada Allah dan persaksian (syahadah) tidak ada ilah yang berhak disembah kecuali Allah. Lalu Beliau Shallallahu’alaihiwasallam mengisyaratkan dengan mengepalkan tangannya, mendirikan shalat, menunaikan zakat, shaum Ramadhan dan kalian mengeluarkan seperlima dari harta rampasan perang”. Dan aku melarang kalian dari (meminum sesuatu) dari labu kering, guci hijau, pohon kurma (yang diukir) dan sesuatu yang dilumuri tir”. Dan berkata, Sulaiman dan Abu an-Nu’man dari Hammad: “Iman kepada Allah persaksian (syahadah) tidak ada ilah kecuali Allah”.
  5. Telah menceritakan kepada kami Abu Al Yaman Al Hakam bin Nafi’ telah mengabarkan kepada kami Syu’aib  bin  Abu  Hamzah  dari  Az  Zuhriy  telah  menceritakan  kepada  kami ‘Ubaidullah bin ‘Abdullah bin ‘Utbah bin Mas’ud bahwa Abu Hurairah radliallahu ‘anhu berkata; Setelah Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam wafat yang kemudian Abu Bakar radliallahu ‘anhu menjadi khalifah maka beberapa orang ‘Arab ada yang kembali menjadi kafir (dengan enggan menunaikan zakat). Maka (ketika Abu Bakar radliallahu ‘anhu hendak memerangi mereka), ‘Umar bin Al Khaththab radliallahu ‘anhu bertanya: “Bagaimana anda memerangi orang padahal Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam telah bersabda: “Aku diperintahkan untuk memerangi manusia hingga mereka mgucapkan laa ilaaha illallah. Maka barangsiapa telah mengucapkannya berarti terlindunglah dariku darah dan hartanya kecuali dengan haknya sedangkan perhitungannya ada pada Allah”. Maka Abu Bakar Ash-Shidiq radliallahu ‘anhu berkata: “Demi Allah, aku pasti akan memerangi siapa yang memisahkan antara kewajiban shalat dan zakat, karena zakat adalah hak harta. Demi Allah, seandainya mereka enggan membayarkan anak kambing yang dahulu mereka menyerahkannya kepada Rasulullah  Shallallahu’alaihiwasallam,  pasti  akan  aku  perangi  mereka  disebabkan keengganan itu”. Berkata, ‘Umar bin Al Khaththab radliallahu ‘anhu: “Demi Allah, ketegasan dia ini tidak lain selain Allah telah membukakan hati Abu Bakar Ash-Shidiq radliallahu ‘anhu dan aku menyadari bahwa dia memang benar”.

Bab: Berbai’at (Bersumpah Setia) Untuk Menunaikan Zakat

  1. Telah menceritakan kepada kami Ibnu Numair berkata, telah menceritakan bapakku kepadaku, telah menceritakan kepada kami Isma’il dari Qais berkata; Jarir bin ‘Abdullah berkata,: “Aku berbai’at kepada Nabi Shallallahu’alaihiwasallam untuk mendirikan shalat, menunaikan zakat dan untuk selalu setia (loyal) kepada setiap muslim”.

Bab: Dosa Orang Yang Enggan Mengeluarkan Zakat

  1. Telah menceritakan kepada kami Al Hakam bin Nafi’ telah mengabarkan kepada kami Syu’aib telah menceritakan kepada kami Abu Az Zanad bahwa ‘Adur Rahman bin Hurmuz Al A’raj menceritakan kepadanya  bahwa  dia  mendengar  Abu  Hurairah  radliallahu  ‘anhu berkata; Telah bersabda Nabi Shallallahu’alaihiwasallam: “(Pada hari qiyamat nanti) akan datang seekor unta dalam bentuknya yang paling baik kepada pemiliknya yang ketika di dunia dia tidak menunaikan haknya (zakatnya). Maka unta itu akan menginjak-injaknya dengan kakinya. Begitu juga akan datang seekor kambing dalam bentuknya yang paling baik kepada  pemiliknya  yang ketika  di  dunia dia  tidak  menunaikan  haknya (zakatnya).  Maka kambing itu akan menginjak-injaknya dengan kakinya dan menyeruduknya dengan tanduknya”. Dan Beliau berkata,: “Dan diantara haknya adalah memerah air susunya (lalu diberikan kepada faqir miskin) “. Beliau Shallallahu’alaihiwasallam melanjutkan: “Dan pada hari qiyamat tidak seorangpun dari kalian yang datang membawa seekor kambing di pundaknya kecuali kambing tersebut terus bersuara, lalu orang itu berkata,: “Wahai Muhammad!”. Maka aku menjawab: “Aku sedikitpun tidak punya kekuasaan atasmu karena aku dahulu sudah menyampaikan (masalah zakat ini). Dan tidak seorangpun dari kalian yang datang membawa seekor unta di pundaknya kecuali unta tersebut terus bersuara, lalu orang itu berkata,: “Wahai Muhammad!”. Maka aku berkata: “Aku sedikitpun tidak punya kekuasaan atasmu karena aku dahulu sudah menyampaikan (masalah zakat ini) “.
  2. Telah menceritakan kepada kami ‘Ali bin ‘Abdullah telah menceritakan kepada kami Hasyim bin Aal Qasim telah menceritakan kepada kami ‘Abdurrahman bin ‘Abdullah bin Dinar dari bapaknya dari Abu Shalih As-Saman dari Abu Hurairah radliallahu ‘anhu berkata,: Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam telah bersabda: “Barangsiapa yang Allah berikan harta namun tidak mengeluarkan zakatnya maka pada hari qiyamat hartanya itu akan berubah wujud menjadi seekor ular jantan yang bertanduk dan memiliki dua taring lalu melilit orang itu pada hari qiyamat lalu ular itu memakannya dengan kedua rahangnya, yaitu dengan mulutnya seraya berkata,: ‘Aku inilah hartamu, akulah harta simpananmu”. Kemudian Beliau membaca firman Allah subhanahu wata’ala QS Alu ‘Imran ayat 180 yang artinya “(Sekali-kali janganlah orang-orang yang bakhil dengan harta yang Allah berikan kepada mereka dari karuniaNya menyangka, ……”).

Bab: Harta Yang Sudah Dikeluarkan Zakatnya Tidak Dianggap Sebagai MenimbunHarta

  1. Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Syabib bin Sa’id telah menceritakan bapakku kepadaku dari Yunus dari Ibnu Syihab dari Khalid bin Aslam berkata; Kami keluar bersama ‘Abdullah bin ‘Umar radliallahu ‘anhuma, lalu seorang Badui berkata,: “Kabari aku akan firman Allah: ” walladziina yaknizuunadz dzahaba wal fidhdhata walaa yunfiquunahaa fii sabiilillah” (dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah), ” Ibn ‘Umar radliallahu ‘anhuma berkata,: “Barangsiapa yang menyimpannya dan ia tidak menunaikan zakatnya maka celakalah ia. Namun ayat ini turun sebelum diturunkannya ayat zakat, ketika aturan zakat sudah diturunkan maka Allah subhanahu wata’ala menjadikannya ketentuan ayat ini sebagai perintah pensucian harta”.
  2. Telah menceritakan kepada kami Ishaq bin Yazid telah mengabarkan kepada kami Syu’aib bin Ishaq telah mengabarkan kepada kami Al Awza’iy telah mengabarkan kepada saya Yahya bin Abu Katsir bahwa ‘Amru bin Yahya bin ‘Umarah telah mengabarkannya dari bapaknya Yahya bin ‘Umarah bin Abu Al Hasan bahwa dia mendengar Abu Sa’id radliallahu ‘anhu berkata; Nabi Shallallahu’alaihiwasallam telah bersabda: “Tidak ada zakat harta dibawah lima wasaq, tidak ada zakat pada unta dibawah lima ekor dan tidak ada zakat pada hasil tanaman dibawah lima wasaq”.
  3. Telah menceritakan kepada kami ‘Ali bin Abu Hasyim dia mendengar Husyaim yang telah mengabarkan kepada kami Hushain dari Zaid bin Wahab berkata; “Saat aku melewati Zabdah, aku bertemu dengan Abu Dzar radliallahu ‘anhu, lalu aku bertanya kepadanya; “Apa yang menyebabkanmu sampai menetap di tempat ini?”. Dia menjawab: “Sebelumnya aku tinggal di Syam, namun aku berselisih dengan Mu’awiyah tentang ayat; “walladziina yaknizuunadz dzahaba wal fidhdhata walaa yunfiquunahaa fii sabiilillah”. Muawiyah berkata, ayat ini turun pada Ahli kitab, sedangkan aku berkata, ayat ini turun kepada kita dan mereka. Hal inilah yang  menjadikan  aku  berselisih  dengannya.  Lalu  dia  mengirim  surat  kepada ‘Utsman  radliallahu  ‘anhu  mengeluhkanku. Akhirnya  ‘Utsman  radliallahu  ‘anhu  mengirim surat kepadaku agar aku datang ke Madinah. Lalu aku mendatanginya, kemudian orang- orang mengerumuniku seakan-akan mereka belum pernah melihatku sebelumnya, lalu aku mengabarkan  hal  itu  kepada Utsman. Lalu ia mengatakan kepadaku: “Jika engkau mau, engkau  boleh  meninggalkannya,  dan  engkau  akan  menjadi  lebih  dekat  (denganku)  “. Kejadian itulah yang menjadikan aku tinggal disini. Seandainya seorang budak Habsyi memerintahku, sungguh aku akan mendengar dan mentaatinya”.
  4. Telah menceritakan kepada kami ‘Ayyasy telah menceritakan kepada kami ‘Abdul A’laa telah menceritakan kepada kami Al Jurairiy dari Abu Al ‘Alaa’ dari Al Ahnaf bin Qais berkata; Aku duduk bermajelis. Dan juga diriwayatkan, telah menceritakan kepada saya Ishaq bin Manshur telah mengabarkan kepada kami ‘Abdush Shamad berkata, telah menceritakan kepadaku bapakku telah menceritakan kepada kami Al Jurairiy telah menceritakan kepada kami Abu Al ‘Alaa’ bin Asy-Syikhkhir bahwa Al Ahnaf bin Qais menceritakan kepada mereka, katanya: Aku duduk bersama para pembesar orang-orang Quraisy kemudian datanglah seseorang yang rambut pakaian dan penampilannya berantakan hingga ia berdiri diantara mereka lalu ia mengucapkan salam dan berkata,: “Berilah kabar gembira kepada orang- orang yang menimbun hartanya dengan batu yang diseterikakan kepadanya di neraka Jahannam, lalu diletakkan pada daerah (susu) nya diantara mereka hingga ia keluar dari ujung tulang pundaknya, lalu diletakkan pada ujung tulang pundaknya hingga ia keluar pada bagian (susu) nya hingga ia berguncang. Kemudian orang itu pergi lalu duduk bersandar pada tiang. Aku mengikutinya lalu duduk disampingnya, sedangkan aku tidak mengenali siapa dia. Kemudian aku berkata, kepadanya: “Aku tidak melihat orang-orang itu kecuali mereka membenci apa yang engkau katakan”. Dia menjawab: “Sesungguhnya mereka itu tidak berakal sama sekali, perkataanku tadi itu seperti yang dikatakan kekasihku”. Dia (Al Ahnaf bin Qais) berkata; Aku bertanya: “Siapa kekasihmu itu?”. Dia menjawab: “Nabi Shallallahu’alaihiwasallam, yang Beliau pernah berkata kepadaku: “Wahai Abu Dzar, apakah engkau melihat Uhud?”. Dia (Al Ahnaf bin Qais) berkata,: “Maka aku memandang matahari yang ternyata masih siang hari, dan aku melihat bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam berkehendak mengutusku untuk memenuhi keperluannya. Maka aku menjawab: “Ya, siap”. Lalu Beliau bersabda: “Aku tidak menyukai bila aku memiliki emas sebesar gunung Uhud lalu aku membelanjakannya semua kecuali tiga dinar saja (yang aku suka memilikinya) “. Dan sungguh mereka tidak berakal sama sekali, yang mereka hanya mengumpulkan dunia. Tidak, demi Allah aku tidak akan meminta dunia kepada mereka, dan aku tidak akan memberikan fatwa agama ini untuk mereka hingga aku menemui Allah”.

Bab: Membelanjakan Harta Sesuai Haknya

  1. Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al Mutsanna telah menceritakan kepada kami Yahya dari Isma’il berkata, telah menceritakan kepada saya Qais dari Ibnu Mas’ud radliallahu ‘anhu berkata; Aku mendengar Nabi Shallallahu’alaihiwasallam bersabda: “Tidak boleh iri (dengki) kecuali kepada dua hal. (Yaitu kepada) seorang yang Allah berikan kepadanya harta lalu dia menguasainya dan membelanjakannya di jalan yang haq (benar) dan seorang yang  Allah  berikan hikmah (ilmu) lalu  dia  melaksanakannya  dan mengajarkannya (kepada orang lain) “.

Bab: Sedekah dari Hasil Usaha Yang Baik

  1. Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Munir dia mendengar dari Abu An- Nadhir. Telah menceritakan kepada kami ‘Abdurrahman dia adalah putra dari ‘Abdullah bin Dinar dari bapaknya dari Abu Shalih dari Abu Hurairah radliallahu ‘anhu berkata,: Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam telah bersabda: “Barangsiapa yang bershadaqah dengan sebutir kurma hasil dari usahanya sendiri yang baik (halal), sedangkan Allah tidak menerima kecuali yang baik saja, maka sungguh Allah akan menerimanya dengan tangan kananNya lalu mengasuhnya untuk pemiliknya sebagaimana jika seorang dari kalian mengasuh anak kudanya hingga membesar seperti gunung”. Hadits ini juga dikuatkan oleh Sulaiman dari Ibnu Dinar dan berkata, Warqa’ dari Ibnu Dinar dari Sa’id bin Yasar dari Abu Hurairah radliallahu ‘anhu dari Nabi Shallallahu’alaihiwasallam. Dan diriwayatkanoleh Muslim bin Abu Maryam dan Zaid bin Aslam dan Suhail dari Abu Shalih dari Abu Hurairah radliallahu ‘anhu dari Nabi Shallallahu’alaihiwasallam.

 

Bab: Bersedekah Sebelum Ditolak

  1. Telah menceritakan kepada kami Adam telah menceritakan kepada kami Syu’bah telah menceritakan kepada kami Ma’bad bin Khalid berkata; Aku mendengar Haritsah bin Wahab berkata; Aku mendengar Nabi Shallallahu’alaihiwasallam bersabda: “Bershadaqalah, karena nanti akan datang kepada kalian suatu zaman yang ketika itu seseorang berkeliling dengan membawa shadaqahnya namun dia tidak mendapatkan seorangpun yang menerimanya. Lalu seseorang berkata,: “Seandainya kamu datang membawanya kemarin pasti aku akan terima. Adapun hari ini aku tidak membutuhkannya lagi”.
  2. Telah menceritakan kepada kami Abu Al Yaman telah mengabarkan kepada kami Syu’aib telah menceritakan kepada kami Abu Az Zanad dari ‘Abdurrahman dari Abu Hurairah radliallahu ‘anhu berkata; Nabi Shallallahu’alaihiwasallam bersabda: “Tidak akan terjadi hari qiyamat   hingga   terjadi   pada   kalian   harta   yang   banyak   melimpah   kemudian   timbul kekacauan. Saat itu pemilik harta berharap ada orang yang mau menerima shadaqahnya dan hingga dia menawar-nawarkannya, lalu berkata, orang yang ditawarkan; aku tidak membutuhkannya”.
  3. Telah menceritakan  kepada  kami  ‘Abdullah  bin  Muhammad  telah  menceritakan kepada kami Abu ‘Ashim an-Nabil telah mengabarkan kepada kami Sa’dan bin Bisyir telah menceritakan kepada kami Abu Mujahid telah menceritakan kepada kami Muhilla bin Khalifah ath-Tha’iy berkata; aku mendengar ‘Adiy bin Hatim radliallahu ‘anhu berkata; “Aku pernah bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tiba-tiba datang dua orang yang seorang diantaranya mengeluhkan kefaqiran yang menimpanya dan yang seorang lagi mengadukan tentang para perampok di jalanan. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Adapun para perampok, dia tidak akan datang kepada kalian kecuali sedikit hingga rambongan dagang berangkat menuju Makkah tanpa gangguan. Adapun kefaqiran, tidak akan terjadi hari qiyamat hingga terjadi seseorang dari kalian berkeliling membawa shadaqahnya namun dia tidak mendapatkan orang yang mau menerimanya. Kemudian (pada hari qiyamat) pasti setiap orang dari kalian akan berdiri di hadapan Allah dimana antara dirinya dan Allah tidak ada tabir dan tidak ada penterjemah yang akan menjadi juru bicara baginya. Lalu Allah pasti akan berfirman: “Bukakankah aku sudah memberimu harta?”. Lalu orang itu berkata,: “Benar”. Kemudian Allah berfirman lagi: “Bukankah aku sudah mengutus seeorang rasul kepadamu?”. Orang itu berkata; “Benar”. Maka orang itu memandang ke sebelah kanannya namun dia tidak melihat sesuatu kecuali neraka. Lalu dia melihat ke sebelah kirinya namun dia juga tidak melihat sesuatu kecuali neraka. Karena itu, jagalah kalian dari neraka sekalipun dengan (bershadaqah) sebutir kurma. Jika dia tidak memilikinya maka dengan berkata yang baik”.
  4. Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al ‘Alaa’ telah menceritakan kepada kami Abu Usamah dari Buraid dari Abu Burdah dari Abu Musa radliallahu ‘anhu dari Nabi Shallallahu’alaihiwasallam bersabda: “Pasti akan datang pada manusia suatu zaman yang ketika seseorang berkeliling membawa shadaqah emas, lalu ia tidak mendapati seseorang yang mau menerimanya lagi. Lalu akan terlihat satu orang laki-laki akan diikuti oleh empat puluh orang wanita, yang mereka mencari kepuasan dengannya karena sedikitnya jumlah laki-laki dan banyaknya wanita.”

Bab: Peliharalah Diri Kalian dari Api Neraka Sekalipun Hanya Dengan Sebutir Kurma dan Sedikit Yang Dikeluarkan Sudah Dianggap Sedekah

  1. Telah menceritakan kepada kami ‘Ubaidullah bin Sa’id telah menceritakan kepada kami Abu   An-Nu’man   Al   Hakam   dia   adalah   putra   dari   ‘Abdullah   Al   Bashriy   telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Sulaiman dari Abu Wa’il dari Abu Mas’ud radliallahu ‘anhu berkata; “Ketika ayat shadaqah turun, kami berlomba-lomba, lalu datanglah seseorang dengan membawa shadaqah yang banyak dan orang-orang berkata, ia orang yang pamer. Kemudian datanglah seseorang lalu ia bershadaqah dengan satu sha’. Orang-orang berkata; “Sesungguhnya Allah lebih kaya daripada satu sha’ ini”. Maka turunlah aya QS At-Taubah ayat: “Alladziina yalmizuunal muththawwi’iina minal mu’miniina fishshadaqati walladziina laa  yajiduuna  illa  juhdahum”.  (“Orang-orang  (munafik  itu)  yang  mencela  orang-orang beriman yang memberi sedekah dengan sukarela dan (mencela) orang-orang yang tidak memperoleh (untuk disedekahkan) selain sekedar kesanggupannya”).
  2. Telah menceritakan kepada kami Sa’id bin Yahya telah menceritakan kepada kami bapakku telah menceritakan kepada kami Al A’masy dari Syaqiq dari Abu Mas’ud Al Anshariy radliallahu ‘anhu berkata,: “Adalah Nabi Shallallahu’alaihiwasallam bila memerintahkan kami bershadaqah, maka seseorang dari kami akan berangkat menuju pasar lalu dia bekerja dengan sungguh-sungguh hingga mendapatkan rezeki satu mud. Adapun hari ini sebagian dari mereka bisa mendapatkan seratus ribu kalinya”.
  3. Telah menceritakan kepada kami Sulaiman bin Harb telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Abu  Ishaq  berkata,  aku  mendengar  ‘Abdullah  bin  Ma’qil  berkata,  aku mendengar ‘Adiy bin Hatim radliallahu ‘anhu berkata, aku mendengar Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam bersabda: “Jagalah kalian dari neraka sekalipun dengan (bershadaqah) sebutir kurma”.
  4. Telah menceritakan kepada kami Bisyir bin Muhammad berkata, telah mengabarkan kepada kami ‘Abdullah telah mengabarkan kepada kami Ma’mar dari Az Zuhriy berkata, telah menceritakan kepada saya ‘Abdullah bin Abu Bakar bin Hazm dari ‘Urwah dari ‘Aisyah radliallahu ‘anha berkata; Telah datang seorang wanita bersama dua putrinya menemuiku untuk meminta sesuatu namun aku tidak mempunyai apa-apa selain sebutir kurma lalu aku berikan kepadanya. Lalu   wanita   itu   membagi   kurma   itu   menjadi  dua   bagian   yang diberikannya untuk kedua putrinya sedangkan dia tidak memakan sedikitpun. Lalu wanita itu berdiri untuk segera pergi. Saat itulah Nabi Shallallahu’alaihiwasallam datang kepada kami, lalu aku kabarkan masalah itu, maka Beliau bersabda: “Siapa yang memberikan sesuatu kepada anak-anak ini, maka mereka akan menjadi pelindung dari api neraka baginya”.

Bab: Keutamaan Bersedeah dalam Keadaan Kikir (Memerlukan Harta) lagi Sehat (Sebelum Sakit)

  1. Telah menceritakan kepada kami Musa bin Isma’il telah menceritakan kepada kami ‘Abdul Wahid telah menceritakan kepada kami ‘Umarah banal Qa’qa’ telah menceritakan kepada kami Abu Zur’ah telah menceritakan kepada kami Abu Hurairah radliallahu ‘anhu berkata,: “Seorang laki-laki datang kepada Nabi Shallallahu’alaihiwasallam dan berkata,: “Wahai Rasulullah, shadaqah  apakah  yang  paling  besar  pahalanya?”.  Beliau  menjawab: “Kamu bershadaqah ketika kamu dalam keadaan sehat dan kikir, takut menjadi faqir dan berangan-angan jadi orang kaya. Maka janganlah kamu menunda-nundanya hingga tiba ketika nyawamu berada di tenggorakanmu. Lalu kamu berkata, si fulan begini (punya ini) dan si fulan begini. Padahal harta itu milik si fulan”.
  2. Bab. Telah menceritakan kepada kami Musa bin Isma’il telah menceritakan kepada kami Abu ‘Awanah dari Firas dari As-Sya’biy dari Masruq dari ‘Aisyah radliallahu ‘anha; Sebagian isteri-isteri Nabi Shallallahu’alaihiwasallam berkata kepada Nabi Shallallahu’alaihiwasallam: “Siapakan diantara kami yang segera menyusul anda (setelah kematian)?”. Beliau bersabda: “Siapa yang paling panjang lengannya diantara kalian”. Maka mereka segera mengambil  tongkat  untuk  mengukur  panjang  lengan  mereka.  Ternyata Saudah radliallahu ‘anha yang paling panjang tangannya diantara mereka. Setelah itu kami mengetahui bahwa yang dimaksud dengan panjang lengan adalah yang paling gemar bershadaqah, dan ternyata Saudah radliallahu ‘anha yang lebih dahulu menyusul kematian Beliau, dan dia juga paling gemar bershedeqah”.

Bab:  Jika  Seseorang  Memberikan  Sedekah  Kepada  Orang  Kaya  Karena  Tidak Mengetahuinya

  1. Telah menceritakan kepada kami Abu Al Yaman telah mengabarkan kepada kami Syu’aib telah menceritakan kepada kami Abu Az Zanad dari Al A’raj dari Abu Hurairah radliallahu ‘anhu; Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam berkata,: “Ada seorang laki-laki berkata,: Aku pasti akan bershadaqah. Lalu dia keluar dengan membawa shadaqahnya dan ternyata jatuh ke tangan seorang pencuri. Keesokan paginya orang-orang ramai membicarakan bahwa dia telah memberikan shadaqahnya kepada seorang pencuri. Mendengar hal itu orang itu berkata,: “Ya Allah segala puji bagiMu, aku pasti akan bershadaqah lagi”. Kemudian dia keluar dengan membawa shadaqahnya lalu ternyata jatuh ke tangan seorang pezina. Keesokan paginya orang-orang ramai membicarakan bahwa dia tadi malam memberikan shadaqahnya kepada seorang pezina. Maka orang itu berkata, lagi: Ya Allah segala puji bagiMu, (ternyata shadaqahku jatuh) kepada seorang pezina, aku pasti akan bershadaqah lagi. Kemudian dia keluar lagi dengan membawa shadaqahnya lalu ternyata jatuh ke tangan seorang yang kaya. Keesokan paginya orang-orang kembali ramai membicarakan bahwa dia memberikan shadaqahnya kepada seorang yang kaya. Maka orang itu berkata,: Ya Allah segala puji bagiMu, (ternyata shadaqahku jatuh) kepada seorang pencuri, pezina, dan orang kaya. Setelah itu orang tadi bermimpi dan dikatakan padanya: “Adapun shadaqah kamu kepada pencuri, mudah-mudahan dapat mencegah si pencuri dari perbuatannya, sedangkan shadaqah kamu kepada pezina, mudah-mudahan dapat mencegahnya berbuat zina kembali dan shadaqah kamu kepada orang yang kaya mudah- mudahan dapat memberikan pelajaran baginya agar menginfaqkan harta yang diberikan Allah kepadanya”.

Bab: Jika Seseorang Memberikan Sedekah Kepada Anaknya Secara Tidak Sengaja

  1. Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Yusuf telah menceritakan kepada kami Isra’il telah menceritakan kepada kami Abu Al Juwairiyah bahwa Ma’an bin Yazid radliallahu ‘anhu menceritakan kepadanya, katanya: “Aku, bapakku dan kakekku sudah berbai’at kepada Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam. Aku juga pernah dilamarkan seseorang buatku dan Beliau menikahkanku. Aku juga bersumpah setia (untuk mengembalikan setiap urusanku) kepada Beliau. Suatu hari bapakku, Yazid mengeluarkan dinar untuk dishadaqahkan, lalu dia meletakkannya di samping seseorang yang berada di masjid. Kemudian aku datang, aku ambil dan aku bawa kepadanya, lalu bapakku berkata,: “Demi Allah, bukan kamu yang aku tuju”. Lalu masalah ini aku adukan kepada Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam, maka Beliau berkata,: “Bagimu apa yang sudah kamu niatkan wahai Yazid, sedangkan bagimu apa yang telah kamu ambil wahai Ma’an”.

Bab: Bersedekah dengan Tangan Kanan

  1. Telah menceritakan kepada kami Musaddad telah menceritakan kepada kami Yahya dari ‘Ubaidullah berkata, telah menceritakan kepada saya Khubaib bin ‘Abdurrahman dari Hafsh bin ‘Ashim dari Abu Hurairah radliallahu ‘anhu dari Nabi Shallallahu’alaihiwasallam bersabda: “Ada tujuh   (golongan   orang   beriman)   yang   akan   mendapat   naungan (perlindungan) dari Allah dibawah naunganNya (pada hari qiyamat) yang ketika tidak ada naungan   kecuali   naunganNya.   Yaitu;   Pemimpin   yang   adil,   seorang   pemuda   yang menyibukkan dirinya dengan ‘ibadah kepada Rabnya, seorang laki-laki yang hatinya terpaut dengan masjid, dua orang laki-laki yang saling mencintai karena Allah, keduanya bertemu karena Allah dan berpisah karena Allah, seorang laki-laki yang diajak berbuat maksiat oleh seorang wanita kaya lagi cantik lalu dia berkata, “aku takut kepada Allah”, seorang yang bersedekah dengan menyembunyikannya hingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diinfaqkan oleh tangan kanannya, dan seorang laki-laki yang berdzikir kepada Allah dengan mengasingkan diri sendirian hingga kedua matanya basah karena menangis”.
  2. Telah menceritakan kepada kami ‘Ali bin Al Ja’di telah mengabarkan kepada kami Syu’bah berkata, telah   mengabarkan   kepada   saya   Ma’bad   bin   Khalid   berkata;   Aku mendengar Haritsah bin Wahab Al Khaza’i radliallahu ‘anhu berkata; Aku mendengar Nabi Shallallahu’alaihiwasallam  bersabda:  “Bershadaqalah,  karena  nanti  akan  datang  kepada kalian suatu zaman yang ketika itu seseorang berjalan dengan membawa shadaqahnya lalu seseorang berkata,: “Seandainya kamu datang membawanya kemarin pasti aku akan terima. Adapun hari ini aku tidak membutuhkannya lagi”.

Bab: Orang Yang Menyuruh Pelayannya untuk Bersedekah namun Bukan Untuk Dirinya

  1. Telah menceritakan kepada kami ‘Utsman bin Abu Syaibah telah menceritakan kepada kami Jarir dari  Manshur  dari  Syaqiq  dari Masruq  dari  ‘Aisyah  radliallahu  ‘anha  berkata; Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam bersabda: “Jika seorang wanita bershadaqah dari makanan yang ada di rumah (suami) nya bukan bermaksud menimbulkan kerusakan maka baginya pahala atas apa yang diinfaqkan dan bagi suaminya pahala atas apa yang diusahakannya. Demikian juga bagi seorang penjaga harta/bendahara (akan mendapatkan pahala) dengan tidak dikurangi sedikitpun pahala masing-masing dari mereka”.

Bab: Tidak Ada Kewajiban Bersedekah Melainkan Bagi Orang Yang Kaya

  1. Telah menceritakan kepada kami ‘Abdan telah mengabarkan kepada kami ‘Abdullah dari Yunus dari Az Zuhriy berkata, telah mengabarkan kepada saya Sa’id bin Al Musayyab bahwa dia mendengar Abu Hurairah radliallahu ‘anhu dari Nabi Shallallahu’alaihiwasallam berkata,: “Shadaqah yang paling baik adalah dari orang yang sudah cukup (untuk kebutuhan dirinya). Maka mulailah untuk orang-orang yang menjadi tanggunganmu”.
  2. Telah menceritakan kepada kami Musa bin Isma’il telah menceritakan kepada kami Wuhaib telah menceritakan kepada kami Hisyam dari bapaknya dari Hakim bin Hiram radliallahu ‘anhu dari Nabi Shallallahu’alaihiwasallam berkata,: “Tangan yang diatas lebih baik dari pada tangan yang di bawah, maka mulailah untuk orang-orang yang menjadi tanggunganmu dan shadaqah yang paling baik adalah dari orang yang sudah cukup (untuk kebutuhan dirinya). Maka barangsiapa yang berusaha memelihara dirinya, Allah akan memeliharanya dan barangsiapa yang berusaha mencukupkan dirinya maka Allah akan mencukupkannya”. Dan dari Wuhaib berkata, telah mengabarkan kepada kami Hisyam dari bapaknya dari Abu Hurairah radliallahu ‘anhu dari Nabi Shallallahu’alaihiwasallam seperti ini”.
  3. Telah menceritakan kepada kami Abu An-Nu’man berkata, telah menceritakan kepada kami Hammad bin Zaid dari Ayyub dari Nafi’ dari Ibnu’Umar radliallahu ‘anhuma berkata; Aku mendengar Nabi  Shallallahu’alaihiwasallam.  Dan  telah  menceritakan  kepada  kami ‘Abdullah bin Maslamah dari Malik dari Nafi’ dari ‘Abdullah bin ‘Umar radliallahu ‘anhua bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam bersabda ketika berada di atas mimbar, diantaranya Beliau menyebut tentang shadaqah dan masalah tangan yang diatas lebih baik dari pada tangan yang di bawah. Tangan yang diatas adalah yang memberi (mengeluarkan infaq) sedangkan tangan yang di bawah adalah yang meminta”.

Bab: Orang Yang Suka Menyegerakan Mengeluarkan Sedekah (Zakat) Sebelum Tiba Waktunya

  1. Telah menceritakan kepada kami Abu ‘Ashim dari ‘Umar bin Said dari Ibnu Abu Mulaikah bahwa ‘Uqbah bin Al Harits radliallahu ‘anhu menceritakan kepadanya, katanya: “Nabi Shallallahu’alaihiwasallam shalat ‘Ashar berjama’ah bersama kami. Tiba-tiba Beliau dengan tergesa-gesa memasuki  rumah.  Tidak  lama  kemudian  Beliau  keluar,  dan  aku bertanya atau dikatakan kepada Beliau tentang ketergesaannya itu. Maka Beliau berkata,: “Aku  tinggalkan  dalam  rumah  sebatang  emas  dari  harta  shadaqah.  Aku  tidak  mau  bila sampai bermalam, maka aku bagi-bagikan”.

Bab: Anjuran Gemar Bersedekah dan Janji Syafa’at Yang Ada Padanya

  1. Telah menceritakan kepada kami Muslim telah menceritakan kepada kami Syu’bah telah menceritakan kepada  kami  ‘Adiy  dari  Sa’id  bin  Jubair  dari  Ibnu ‘Abbas  radliallahu ‘anhuma berkata; Nabi Shallallahu’alaihiwasallam keluar pada hari ‘Ied lalu shalat dua raka’at dan Beliau  tidak shalat lain  sebelum maupun sesudahnya, kemudian Beliau mendatangi jama’ah wanita bersama Bilal, lalu Beliau memberikan nasehat dan memerintahkan mereka untuk bershadaqah. Maka diantara mereka ada yang memberikan gelang dan antingnya”.
  2. Telah menceritakan kepada kami Musa bin Isma’il telah menceritakan kepada kami ‘Abdul Wahid telah menceritakan kepada kami Abu Burdah bin ‘Abdullah bin Abu Burdah telah menceritakan kepada kami  Abu  Burdah bin Musa dari  bapaknya  radliallahu  ‘anhu berkata; ‘Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam jika datang kepadanya seorang yang meminta atau memerlukan sesuatu Beliau bersabda: “Penuhilah oleh kalian, nanti kalian akan diberikan pahala, sedangkan Allah pasti akan menetapkan apa yang dikehendaki-Nya melalui lisan NabiNya”.
  3. Telah menceritakan kepada kami Shadaqah bin Al Fadhal telah mengabarkan kepada kami ‘Abdah dari Hisyam dari Fathimah dari Asma’ radliallahu ‘anha berkata; Nabi Shallallahu’alaihiwasallam berkata, kepadaku:   “Janganlah   kamu   tahan   tanganmu   dari berinfaq  karena  takut  miskin,  sebab  nanti  Allah  menyempitkan  reziki  bagimu”.  Telah menceritakan kepada kami ‘Utsman bin Abu Syaibah dari ‘Abdah dan Beliau Shallallahu’alaihiwasallam berkata,: “Janganlah kamu menghitung-hitung untuk bershadaqah karena takut miskin, sebab nanti Allah menyempitkan rezeki bagimu”.

Bab: Bersedekah Sesuai Kemampuan

  1. Telah menceritakan kepada kami Abu ‘Ashim dari Ibnu Juraij. Dan diriwayatkanpula telah menceritakan kepada saya Muhammad bin ‘Abdur Rahim dari Hajjaj bin Muhammad dari Ibnu Juraij berkata, telah mengabarkan kepada saya Ibnu Abu Mulaikah dari ‘Abbad bin ‘Abdullah bin Az Zubair bahwa dia mengabarkannya dari Asma’ binti Abu Bakar radliallahu ‘anhuma bahwa dia menemui Nabi Shallallahu’alaihiwasallam lalu Beliau bersabda: “Janganlah kamu berkarung-karung (kamu kumpulkan harta dalam karung lalu kamu kikir untuk menginfaqkannya) sebab Allah akan menyempitkan reziki bagimu dan berinfaqlah dengan ringan sebatas kemampuanmu “.

Bab: Sedekah Dapat Menghapuskan Dosa

  1. Telah menceritakan kepada kami Qutaibah telah menceritakan kepada kami Jarir dari Al A’masy dari Abu Wa’il dari Hudzaifah radliallahu ‘anhu berkata; “Pada suatu hari ‘Umar radliallahu ‘anhu berkata,: “Siapa diantara kalian yang masih hafal hadits Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam tentang masalah fitnah? Hudzaifah berkata,: “Aku, masih hafal sebagaimana disabdakan Beliau”. ‘Umar berkata,: “Apakah kamu bersama Beliau saat itu atau hanya mendengar sabda Beliau? Dan bagaimana yang disabdakannya?”. Aku berkata,: “Yaitu suatu fitnah seseorang dalam keluarganya, harta, anak dan tetangganya. Fitnah itu akan terhapus oleh shalat, shaum. shadaqah dan berbuat kebaikan (ma’ruf) “. Berkata, Sulaiman; “Dia mengatakan shalat, shaum. shadaqah dan amar ma’ruf dan nahiy munkar”. Lalu ‘Umar berkata,: “Bukan itu yang aku mau. Tapi fitnah yang meluas seperti melubernya air lautan. Hudzaifah berkata,: “Kalau begitu baiklah, tidak masalah buat anda wahai Amirul Mu’minin. Sesungguhnya antara engkau dan fitnah itu ada satu pintu yang tertutup”. ‘Umar bertanya: “Pintu tersebut harus didobrak atau langsung bisa dibuka?. Hudzaifah berkata,: “Tidak, akan tetapi dia pintu yang harus didobrak”. ‘Umar berkata,: “Kalau begitu bila pintu itu harus didobrak berarti tidak  akan  bisa ditutup  selamanya”  Aku berkata;  “Benar  apa katamu.  Maka  persilakanlah  kami  untuk  bertanya  kepadanya  tentang  maksud  pintu tersebut. Maka  kami  berkata,  kepada  (Masruq):  “Tanyakanlah!”.  Dia berkata,: Maka dia berkata, kepadanya. Maka ‘Umar radliallahu ‘anhu pun berkata,. Dia berkata,: Maka kami berkata,: “Apakah ‘Umar mengerti siapa yang dimaksud dengannya”. Hudzaifah berkata,: “Ya, dia mengerti. Sebagaimana mengertinya dia bahwa setelah besok pasti ada malam hari. Dan yang demikian itu karena aku menceritakan kepadanya suatu hadits yang tidak ada kerancuannya.

Bab: Orang Yang Bersedekah Ketika Masih Musyrik lal Masuk Islam

  1. Telah menceritakan  kepada  kami  ‘Abdullah  bin  Muhammad  telah  menceritakan kepada kami Hisyam telah menceritakan kepada kami Ma’mar dari Az Zuhriy dari ‘Urwah dari Hakim bin Hiram radliallahu ‘anhu berkata; Aku berkata,: “Wahai Rasulullah, bagaimana pendapatmu, saat masih di zaman Jahiliyah aku sering ber’ibadah mendekatkan diri dengan cara bershadaqah, membebaskan budak dan juga menyambung silaturrahim, apakah dari itu semuanya aku akan mendapatkan pahala?”. Maka Nabi Shallallahu’alaihiwasallam bersabda: “Kamu akan menerima dari kebaikan yang dahulu kamu lakukan”.

 

Bab:  Pahala  Bagi  Pelayan  Yang  Bersedekah (dari  Harta  Tuannya)  Atas  Anjuran Temannya Bukan Dengan Tujuan Kerusakan

  1. Telah menceritakan kepada kami Qutaibah telah menceritakan kepada kami Jarir dari Al A’masy dari  Abu  Wa’il  dari  Masruq  dari  ‘Aisyah  radliallahu  ‘anha berkata;  Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam bersabda: “Jika seorang wanita bershadaqah dari makanan suaminya dan bukan bermaksud menimbulkan kerusakan  maka baginya pahala atas apa yang diinfaqkan, dan bagi suaminya pahala atas apa yang diusahakannya. Demikian juga bagi seorang penjaga harta/bendahara (akan mendapatkan pahala) “.
  2. Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al ‘Alaa’ telah menceritakan kepada kami Abu Usamah  dari  Buraid  bin  ‘Abdullah  dari  Abu  Burdah dari  Abu  Musa dari  Nabi Shallallahu’alaihiwasallam bersabda: “Seorang bendahara muslim yang amanah adalah orang yang   melaksanakan   tugasnya   (dengan   baik)   “.   Dan   seolah   Beliau   bersabda:   “Dia melaksanakan apa yang diperintahkan kepadanya dengan sempurna dan jujur serta memiliki jiwa yang baik, dia mengeluarkannya (shadaqah) kepada orang yang berhak sebagaimana diperintahkan adalah termasuk salah satu dari Al Mutashaddiqin”.

Bab: Pahala Bagi Istri Yang Bersedekah atau Memberi Makan Orang Lain dari Harta Suaminya Bukan Dengan Tujuan Kerusakan

  1. Telah menceritakan kepada kami Adam telah menceritakan kepada kami Syu’bah telah menceritakan kepada kami Manshur dan Al A’masy dari Abu Wa’il dari Masruq dari ‘Aisyah radliallahu ‘anha dari   Nabi   Shallallahu’alaihiwasallam   yaitu:   “Jika   seorang   wanita bershadaqah dari (harta) rumah suaminya”. Dan telah menceritakan kepada kami ‘Umar bin Hafsh telah menceritakan kepada kami bapakku telah menceritakan kepada kami Al A’masy dari Saqiq dari Masruq dari ‘Aisyah radliallahu ‘anha berkata; Nabi Shallallahu’alaihiwasallam bersabda: “Jika seorang wanita (isteri) memberikan makanan dari makanan rumah suaminya dan bukan bermaksud menimbulkan kerusakan maka baginya pahala atas apa yang diinfaqkan dan bagi suaminya dan juga bagi seorang penjaga harta/bendahara, akan mendapatkan pahala dari apa yang diusahakannya dan bagi isterinya pahala dari apa yang diinfaqkannya”.
  2. Telah menceritakan kepada kami Yanya bin Yahya telah mengabarkan kepada kami Jarir dari Manshur dari Saqiq dari Masruq dari ‘Aisyah radliallahu ‘anha dari Nabi Shallallahu’alaihiwasallam berkata,: “Jika seorang wanita (isteri) berinfaq dari makanan rumahnya dan bukan bermaksud menimbulkan kerusakan maka baginya pahala dan bagi suaminya (pahala) dari yang diusahakannya dan juga bagi seorang penjaga harta/bendahara akan mendapatkan pahala seperti itu”.

Bab: Firmam Allah “Adapun orang yang memberikan (hartanya) dan bertaqwa serta membenarkan balasan yang terbaik (Surga)….”

  1. Telah menceritakan kepada kami Isma’il berkata, telah menceritakan kepada saya saudaraku dari Sulaiman dari Mu’awiyah bin Abu Muzarrid dari Abu Al Hubab dari Abu Hurairah radliallahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallahu’alaihiwasallam bersabda: “Tidak ada suatu hari pun ketika seorang hamba melewati paginya kecuali akan turun (datang) dua malaikat kepadanya lalu salah satunya berkata; “Ya Allah berikanlah pengganti bagi siapa yang menafkahkan hartanya”, sedangkan yang satunya lagi berkata; “Ya Allah berikanlah kehancuran (kebinasaan) kepada orang yang menahan hartanya (bakhil) “.

Bab: Perumpamaan Orang Yang Dermawan dan Orang Yang Bakhil (Pelit)

  1. Telah menceritakan kepada kami Musa telah menceritakan kepada kami Wuhaib telah menceritakan kepada kami Ibnu Thawus dari bapaknya dari Abu Hurairah radliallahu ‘anhu berkata; Nabi Shallallahu’alaihiwasallam  bersabda:  “Perumpamaan  orang  bakhil  dengan orang yang bershadaqah seperti dua orang yang masing-masing mengenakan baju jubah terbuat dari besi”. Dan telah menceritakan kepada kami Abu Al Yaman telah mengabarkan kepada kami Syu’aib telah menceritakan kepada kami Abu Az Zanad bahwa ‘Abdurrahman menceritakan kepadanya bahwa dia mendengar Abu Hurairah radliallahu ‘anhu bahwa dia mendengar Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam bersabda: “Perumpamaan bakhil (orang pelit  bershadaqah)  dengan  munfiq  (orang  yang  suka  berinfaq)  seperti  dua  orang  yang masing-masing mengenakan baju jubah terbuat dari besi yang hanya menutupi buah dada hingga tulang selangka keduanya. Adapun orang yang suka berinfaq, tidaklah dia berinfaq melainkan bajunya akan melonggar atau menjauh dari kulitnya hingga akhirnya menutupi seluruh badannya sampai kepada ujung kakinya. Sedangkan orang yang bakhil, setiap kali dia tidak mau  berinfaq dengan suatu apapun maka baju besinya akan menyempit sehingga menempel ketat pada setiap kulitnya dan ketika dia mencoba untuk melonggarkannya maka dia tidak dapat melonggarkannya”. Hadits ini dikuatkan pula oleh Al Hasan bin Muslim dari Thawus (dengan redaksi): “… pada dua baju”. Dan berkata, Hanzhalah dari Thawus: “…… mengenakan jubah”. Dan berkata, Al Laits telah menceritakan kepada saya Ja’far dari Ibnu Hurmuz;  Aku  mendengar Abu Hurairah  radliallahu ‘anhu dari Nabi Shallallahu’alaihiwasallam: “…… mengenakan jubah”.

Bab: Bagi Setiap Muslim Wajib Bersedekah, Apabila Tidak Memiliki Harta Maka Dengan Berbuat Ma’ruf (Kebaikan)

  1. Telah menceritakan kepada kami Muslim bin Ibrahim telah menceritakan kepada kami Syu’bah telah menceritakan kepada kami Sa’id bin Abu Burdah dari bapaknya dari kakeknya dari Nabi Shallallahu’alaihiwasallam bersabda: “Wajib bagi setiap muslim bershadaqah”. Mereka (para sahabat) bertanya: “Wahai Nabi Allah, bagaimana kalau ada yang tidak sanggup?”. Beliau menjawab:  “Dia bekerja  dengan  tangannya  sehingga  bermanfaat  bagi dirinya lalu dia bershadaqah”. Mereka bertanya lagi: “Bagaimana kalau tidak sanggup juga?”. Beliau menjawab: “Dia membantu orang yang sangat memerlukan bantuan”. Mereka bertanya lagi: “Bagaimana kalau tidak sanggup juga?”. Beliau menjawab: “Hendaklah dia berbuat kebaikan (ma’ruf) dan menahan diri dari keburukan karena yang demikian itu berarti shodaqah baginya”.

Bab: Ukuran Jumlah Harta Yang Wajib Dikeluarkan Zakatnya atau Shadaqah dan Orang Yang Memberikan Seekor Kambing

  1. Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Yunus telah menceritakan kepada kami Abu Syihab dari Khalid Al Hadzdza’ dari Hafshah binti Sirin dari Ummu ‘Athiyah radliallahu ‘anha berkata,: Telah diberikan seekor kambing kepada Nusaibah Al Anshariyyah (seorang wanita Anshar) lalu dia mengirim sebagian dagingnya kepada ‘Aisyah radliallahu ‘anha. Nabi Shallallahu’alaihiwasallam bertanya: “Apakah ada sesuatu yang kalian miliki (untuk dimakan)?”. Aku menjawab: “Tidak ada, kecuali apa yang dikirim oleh Nusaibah dari daging kambing itu”. Maka Beliau berkata,: “Bawalah kemari, karena shadaqah itu telah sampai kepada tempatnya”.

Bab: Zakat Perak

  1. Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Yusuf telah mengabarkan kepada kami Malik dari ‘Amru bin Yaha Al Maziniy dari bapaknya berkata; Aku mendengar Abu Sa’id Al Khudriy berkata; Nabi Shallallahu’alaihiwasallam telah bersabda: “Tidak ada zakat pada unta dibawah lima ekor, tidak ada zakat harta dibawah lima wasaq dan tidak ada zakat pada hasil tanaman dibawah lima wasaq”. Telah menceritakan kepada kami Muhammad Al Mutsanna telah menceritakan kepada kami ‘Abdul Wahhab berkata, telah menceritakan kepada saya Yahya bin Sa’id  berkata,  telah  mengabarkan  kepada  saya  ‘Amru  dia  mendengar  dari bapaknya dari  Abu  Sa’id  radliallahu  ‘anhu  dia  mendengar  dari  Nabi Shallallahu’alaihiwasallam seperti hadits ini.

Bab: Harta Yang Wajib Dizakati (Selain Emas dan Perak)

  1. Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin ‘Abdullah berkata, telah menceritakan kepadaku bapakku berkata, telah menceritakan kepada saya Tsumaamah bahwa Anas radliallahu ‘anhu menceritakan kepadanya bahwa Abu Bakar radliallahu ‘anhu telah menulis surat kepadanya (tentang aturan zakat) sebagaimana apa yang telah diperintahkan Allah dan rasulNya, yaitu; “Barangsiapa yang terkena kewajiban zakat bintu makhadh namun dia tidak memilikinya sedang yang ada dimilikinya bintu labun, maka zakatnya bisa diterima dengan bintu labun dan dia diberi (menerima) dua puluh dirham atau dua ekor kambing. Jadi jika ia tidak memiliki bintu makhadh (yang wajib dizakatkan sesuai ketentuan) sedangkan yang ada padanya bintu labun maka zakatnya bisa diterima dengan bintu labun itu karena dia tidak memiliki yang lain”.
  2. Telah menceritakan kepada kami Mu’ammal telah menceritakan kepada kami Isma’il dari Ayyub dari ‘Atha’ bin Abu Rabah berkata; Ibnu ‘Abbas radliallahu ‘anhu berkata,: “Aku ikut menyaksikan Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam melaksanakan shalat ‘Ied sebelum khuthbah dan Beliau menganggap bahwa khuthbahnya tidak terdengar oleh jama’ah wanita. Akhirnya Beliau mendatangi mereka bersama Bilal yang membentangkan pakainnya lalu Beliau memberi nasehat kepada mereka serta memerintahkan mereka untuk bershadaqah. Maka ada seorang wanita diantara mereka yang memberi shadaqah”. Ayyub menunjuk pada telinga dan tenggorokannya” (maksudnya bersedekah dengan anting dan kalung).

Bab: Tidak Boleh Menggabungkan Harta Yang Terpisah atau Memisahkan Harta Yang  Sudah  Berkumpul  Dengan  Tujuan  Menghindari  Kewajiban  Mengeluarkan Zakat

  1. Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin ‘Abdullah Al Anshariy berkata, telah menceritakan bapakku kepadaku, dia berkata, telah menceritakan kepada saya Tsumamah bahwa Anas radliallahu ‘anhu menceritakan kepadanya bahwa Abu Bakar radliallahu ‘anhu telah menulis surat kepadanya berupa ketentuan zakat sebagaimana telah diwajibkan oleh Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam: “Janganlah   kamu   menggabungkan   ternak   yang terpisah dan jangan pula memisahkan yang sudah berkumpul, karena ingin menghindari atau meminimalisir pengeluaran shadaqah (zakat) “.

Bab: Dua Harta Benda Yang Digabungkan Zakatnya Diambil Dalam Jumlah Yang Sama

  1. Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin ‘Abdullah berkata, telah menceritakan bapakku kepadaku dia berkata, telah menceritakan kepada saya Tsumamah bahwa Anas radliallahu ‘anhu menceritakan kepadanya bahwa Abu Bakar radliallahu ‘anhu telah menulis surat kepadanya berupa ketentuan zakat sebagaimana telah diwajibkan oleh Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam: “Dua orang yang telah bercampur (hewan ternak keduanya) hendaklah keduanya berdamai dengan menanggung beban yang sama”.

Bab: Zakat Unta

  1. Telah menceritakan kepada kami ‘Ali bin ‘Abdullah telah menceritakan kepada kami Al Walid bin Muslim telah menceritakan kepada kami Al Awza’i berkata, telah menceritakan kepada saya Ibnu Syihab dari ‘Atha’ bin Yazid dari Abu Sa’id Al Khudriy radliallahu ‘anhu bahwa ada seorang ‘Arab Badui bertanya kepada Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam tentang (‘amal) hijrah. Maka Beliau menjawab: “Janganlah begitu, sungguh hijrah itu ‘amal yang berat. Apakah kamu memiliki unta yang wajib kamu keluarkan shadaqahnya?”. Orang itu menjawab: “Ya, punya”. Maka Beliau berkata,: “Maka amalkanlah sekalipun dari balik lautan, karena Allah tidak akan menyia-nyiakan amalmu sedikitpun”.

Bab: Orang Yang Memiliki Kewajiban Mengeluarkan Zakat Berupa Anak Unta Yang Memasuki Umur Dua Tahun Namun Dia TidakMemilikinya

  1. Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin ‘Abdullah berkata, telah menceritakan kepadaku bapakku  dia  berkata,  telah  menceritakan  kepada  Tsumaamah bahwa Anas radliallahu ‘anhu menceritakan kepadanya bahwa Abu Bakar radliallahu ‘anhu telah menulis surat kepadanya (tentang aturan zakat) sebagaimana apa yang telah diperintahkan Allah dan rasulNya Shallallahu’alaihiwasallam, yaitu; “Barangsiapa yang memiliki unta dan terkena kewajiban zakat jadza’ah sedangkan dia tidak memiliki jadza’ah dan yang dia miliki hanya hiqqah, maka dibolehkan dia mengeluarkan hiqqah sebagai zakat namun dia harus menyerahkan pula bersamanya dua ekor kambing atau dua puluh dirham, dan barangsiapa yang telah sampai kepadanya kewajiban zakat hiqqah sedangkan dia tidak memiliki hiqqah namun dia memiliki jadza’ah maka diterima zakat darinya berupa jadza’ah dan dia menerima (diberi) dua puluh dirham atau dua ekor kambing, dan barangsiapa telah sampai kepadanya kewajiban zakat hiqqah namun dia tidak memilikinya kecuali bintu labun maka diterima zakat darinya berupa bintu labun namun dia wajib menyerahkan bersamanya dua ekor kambing atau dua puluh dirham, dan barangsiapa telah sampai kepadanya kewajiban zakat bintu labun dan dia hanya memiliki hiqqah maka diterima zakat darinya berupa hiqqah dan dia menerima dua puluh dirham atau dua ekor kambing, dan barangsiapa yang telah sampai kepadanya kewajiban zakat bintu labun sedangkan dia tidak memilikinya kecuali bintu makhadh maka diterima zakat darinya berupa bintu makhadh namun dia wajib menyerahkan bersamanya dua piluh dirham atau dua ekor kambing”.

Bab: Zakat Kambing

  1. Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin ‘Abdullah bin Al Mutsanna Al Anshariy berkata, telah menceritakan kepadaku bapakku dia berkata, telah menceritakan kepada saya Tsumamah bin ‘Abdullah bin Anas bahwa Anas menceritakan kepadanya bahwa Abu Bakar radliallahu ‘anhu telah menulis surat ini kepadanya (tentang aturtan zakat) ketika dia mengutusnya ke negeri Bahrain: “Bismillahir rahmaanir rahiim. Inilah kewajiban zakat yang telah diwajibkan oleh Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam terhadap kaum Muslimin dan seperti yang diperintahklan oleh Allah dan rasulNya tentangnya, maka barangsiapa dari kaum Muslimin diminta tentang zakat sesuai ketentuan maka berikanlah dan bila diminta melebihi ketentuan maka jangan memberinya, yaitu (dalam ketentuan zakat unta) pada setiap dua puluh empat ekor unta dan yang kurang dari itu zakatnya dengan kambing. Setiap lima ekor unta zakatnya adalah seekor kambing. Bila mencapai dua puluh lima hingga tiga puluh lima ekor unta maka zakatnya satu ekor bintu makhadh betina. Bila mencapai tiga puluh enam hingga empat puluh lima ekor unta maka zakatnya 1 ekor bintu labun betina, jika mencapai empat puluh enam hingga enam puluh ekor unta maka zakatnya satu ekor hiqqah yang sudah siap dibuahi oleh unta pejantan. Jika telah mencapai enam puluh satu hingga tujuh puluh lima ekor unta maka zakatnya satu ekor jadza’ah. Jika telah mencapai tujuh puluh enam hingga sembilan puluh ekor unta maka zakatnya dua ekor bintu labun. Jika telah mencapai sembilan puluh satu hingga seratus dua puluh ekor unta maka zakatnya dua ekor hiqqah yang sudah siap dibuahi unta jantan. Bila sudah lebih dari seratus dua puluh maka ketentuannya adalah pada setiap kelipatan empat puluh ekornya, zakatnya satu ekor bintu labun dan setiap kelipatan lima puluh ekornya zakatnya satu ekor hiqqah. Dan barangsiapa yang tidak memiliki unta kecuali hanya empat ekor saja maka tidak ada kewajiban zakat baginya kecuali bila pemiliknya mau mengeluarkan zakatnya karena hanya pada setiap lima  ekor  unta  baru  ada  zakatnya  yaitu  seekor  kambing.  Dan  untuk  zakat kambing yang digembalakan di ea radliallahu ‘anhu bukan dipelihara di kandang, ketentuannya adalah bila telah mencapai jumlah empat puluh hingga seratus dua puluh ekor maka zakatnya adalah satu ekor kambing, bila lebih dari seratus dua puluh hingga dua ratus ekor maka zakatnya dua ekor kambing, bila lebih dari dua ratus hingga tiga ratus ekor maka zakatnya tiga  ekor  kambing, bila  lebih dari tiga  ratus ekor,  maka  pada  setiap  kelipatan seratus ekor zakatnya satu ekor kambing. Dan bila seorang pengembala memiliki kurang satu ekor saja dari empat puluh ekor kambing maka tidak ada kewajiban zakat baginya kecuali bila pemiliknya mau mengeluarkannya. Dan untuk zakat uang perak (dirham) maka ketentuannya seperempat puluh bila (telah mencapai dua ratus dirham) dan bila tidak mencapai jumlah itu namun hanya seratus sembilan puluh maka tidak ada kewajiban zakatnya kecuali bila pemiliknya mau mengeluarkannya”.

Bab:  Tidak  Boleh  Mengeluarkan Sebagai  Zakat  Kambing Yang  Tua,  Cacat  (Buta Sebelah) atau Pejantan Kecuali Bila Dikeendaki Oleh Pemungut Zakat

  1. Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin ‘Abdullah berkata, telah menceritakan bapakku kepadaku dia berkata, telah menceritakan kepada saya Tsumamah bahwa Anas radliallahu ‘anhu menceritakan kepadanya bahwa Abu Bakar radliallahu ‘anhu telah menulis ketepatan tentang zakat sebagaimana yang telah diperintahkan oleh Allah dan rasulNya Shallallahu’alaihiwasallam (yaitu);  “Jangan  mengeluarkan  zakat  kambing  yang sudah berumur tua, yang buta sebelah (cacat) dan jangan pula kambing bibit kecuali bila orang yang berzakat mau mengeluarkannya”.

Bab: Mengambil Anak Kambing Betina Sebagai Zakat

  1. Telah menceritakan kepada kami Abu Al Yaman telah mengabarkan kepada kami Syu’aib dari Az Zuhriy. Dan telah diceritakan pula bahwa Al Laits berkata, telah menceritakan kepada saya ‘Abdurrahman bin Khalid dari Ibnu Syihab dari ‘Ubaidullah bin ‘Abdullah bin ‘Utbah bin Mas’ud bahwa Abu Hurairah radliallahu ‘anhu berkata; Abu Bakar Ash-Shidiq radliallahu ‘anhu berkata,: “Demi Allah, bila mereka tidak mau menyerahkan zakat berupa ‘inaqa sedangkan dahulu mereka menyerahkannya kepada Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam, pasti aku akan perangi mereka disebabkan keengganan mengeluarkan   zakat   tersebut”.   Berkata,   ‘Umar   bin   Al   Khaththab   radliallahu   ‘anhu: “Ketegasan dia ini tidak lain kecuali aku melihat bahwa Allah telah membukakan hati Abu Bakar radliallahu ‘anhu untuk melakukan perang dan aku menyadari bahwa dia memang benar”.

Bab:  Untuk  pembayaran  zakat  tidak  oleh  mengambil  dari  harta  mereka  yang terbaik

  1. Telah menceritakan kepada kami Umayyah bin Bistham telah menceritakan kepada kami Yazid bin Zurai’ telah menceritakan kepada kami Rauh bin Al Qasim dari Isma’il bin Umayyah dari Yahya bin ‘Abdullah bin Shayfiy dari Abu Ma’bad dari Ibnu ‘Abbas radliallahu ‘anhuma bahwa ketika Nabi Shallallahu’alaihiwasallam mengutus Mu’adz radliallahu ‘anhu ke negeri Yaman, Beliau berkata,: “Kamu akan mendatangi Ahlul Kitab, maka hendaklah da’wah yang pertama  kali   lakukan   kepada  mereka  adalah   mengajak  mereka  untuk ber’ibadah kepada Allah. Jika mereka telah mengenal Allah, maka beritahukanlah bahwa Allah mewajibkan atas mereka shalat lima waktu sehari semalam. Dan jika mereka telah melaksanakannya, maka beritahukanlah bahwa Allah telah mewajibkan atas mereka shadaqah (zakat) dari harta mereka yang akan diberikan kepada orang-orang faqir dari mereka. Jika mereka telah menaatinya, maka ambillah dari mereka (sesuai ketentuannya) dan peliharalah kesucian harta manusia”.

Bab: Tidak ada zakat unta yang kurang dari lima dzaud

  1. Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Yusuf telah mengabarkan kepada kami Malik dari Muhammad bin ‘Abdurrahman dari Abu Sha’sha’ah Al Maziniy dari bapaknya dari Abu Sa’id Al Khudriy bahwa Nabi Shallallahu’alaihiwasallam telah bersabda: “Tidak ada zakat pada hasil tanaman kurma dibawah lima wasaq, tidak ada zakat harta dibawah lima wasaq dan tidak ada zakat pada unta dibawah lima ekor”.

Bab: Zakat sapi

  1. Telah menceritakan kepada kami ‘Umar bin Hafsh bin Ghiyats telah menceritakan kepada kami bapakku telah menceritakan kepada kami Al A’masy dari Al Ma’rur bin Suwaid dari Abu Dzar  radliallahu  ‘anhu  berkata,:  “Aku  sampai didekat  Nabi Shallallahu’alaihiwasallam ketika Beliau sedang bersumpah: “Demi Dzat yang jiwaku berada di tanganNya atau demi Dzat yang tidakada ilah selain Dia, atau sebagaimana Beliau bersumpah, tidak ada seorangpun yang memiliki unta atau sapi atau kambing lalu dia tidak mengeluarkan haqnya (zakat) melainkanhewan-hewan itu akan diatangkan kepadanya pada hari qiyamat dalam rupa yang paling besar dan paling gemuk lalu hewan itu akan menginjak- injaknya dengan kakinya dan menyeruduknya dengan tanduknya. Setiap kali hewan lain itu selesai maka hewan yang pertama akan kembali melakukan seperti itu hingga datang keputusan untuk manusia”. Dan diriwayatkan pula oleh Bukair dari Abu Shalih dari Abu Hurairah radliallahu ‘anhu dari Nabi Shallallahu’alaihiwasallam.

Bab: Zakat untuk kerabat

  1. Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Yusuf telah mengabarkan kepada kami Malik dari Ishaq bin ‘Abdullah bin Abu Thalhah bahwa dia mendengar Anas bin Malik radliallahu ‘anhu berkata; Abu Thalhah adalah orang yang paling banyak hartanya dari kalangan Anshar di kota Madinah berupa kebun pohon kurma dan harta benda yang paling dicintainya adalah Bairuha’ (sumur yang ada di kebun itu) yang menghadap ke masjid dan Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam sering mamemasuki kebun itu dan meminum airnya yang baik tersebut. Berkata, Anas; Ketika turun firman Allah Ta’ala (QS Alu ‘Imran: 92 yang artinya): “Kamu sekali-kali tidak akan sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sehahagian harta yang kamu cintai”, Abu Thalhah mendatangi Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam lalu berkata; “Wahai Rasulullah, sesungguhnya Allah Ta’ala telah berfirman: “Kamu sekali-kali tidak akan sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sehahagian  harta  yang  kamu  cintai”,  dan  sesungguhnya  harta  yang paling aku cintai adalah Bairuha’ itu dan aku menshadaqahkannya di jalan Allah dengan berharap kebaikan dan simpanan pahala di sisiNya, maka ambillah wahai Rasulullah sebagaimana petunjuk Allah kepadanu”. Dia (Anas) berkata,: “Maka Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam bersabda: Wah, inilah harta yang menguntungkan, inilah harta yang menguntungkan. Sungguh aku sudah mendengar apa yang kamu niyatkan dan aku berpendapat sebaiknya kamu shadaqahkan buat kerabatmu”. Maka Abu Thalhah berkata,: “Aku akan laksanakan wahai Rasululloloh. Maka Abu Thalhah membagi untuk kerabatnya dan anak-anak pamannya”. Hadits ini juga dikuatkan oleh Rauh dan berkata, Yaha bin Yahya dan Isma’il dari Malik: “Pahalanya mengalir terus”.
  2. Telah menceritakan kepada kami Ibnu Abu Maryam telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin Ja’far berkata, telah mengabarkan kepada saya Zaid dia adalah putra Aslam dari ‘Iyadh bin ‘Abdullah dari Abu Sa’id Al Khurdri radliallahu ‘anhu; Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam keluar menuju lapangan tempat shalat untuk melaksanakan shalat ‘Iedul Adhha atau ‘Iedul Fithri. Setelah selesai Beliau memberi nasehat kepada manusia dan memerintahkan mereka untuk menunaikan zakat seraya bersabda: “Wahai manusia, bershadaqahlah (berzakatlah) “. Kemudian Beliau mendatangi jama’ah wanita lalu bersabda: “Wahai kaum wanita,  bershadaqahlah.  Sungguh  aku  melihat  kalian  adalah  yang  paling banyak akan menjadi penghuni neraka”. Mereka bertanya: “Mengapa begitu, wahai Rasulullah?”.  Beliau  menjawab:  “Kalian  banyak  melaknat  dan  mengingkari  pemberian (suami). Tidaklah aku melihat orang yang lebih kurang akal dan agamanya melebihi seorang dari kalian, wahai para wanita”. Kemudian Beliau mengakhiri khuthbahnya lalu pergi. Sesampainya Beliau di tempat tinggalnya, datanglah Zainab, isteri Ibu Mas’ud meminta izin kepada Beliau, lalu dikatakan kepada Beliau; “Wahai Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam, ini adalah Zainab”. Beliau bertanya: “Zainab siapa?”. Dikatakan: “Zainab isteri dari Ibnu Mas’ud”. Beliau berkata,: “Oh ya, persilakanlah dia”. Maka dia diizinkan kemudian berkata,: “Wahai Nabi Allah, sungguh anda hari ini sudah memerintahkan shadaqah (zakat) sedangkan aku memiliki emas yang aku berkendak menzakatkannya namun Ibnu Mas’ud mengatakan bahwa dia dan anaknya lebih berhak terhadap apa yang akan aku sedekahkan ini dibandingkan mereka (mustahiq). Maka Nabi Shallallahu’alaihiwasallam bersabda: “Ibnu Mas’ud benar, suamimu dan anak-anakmu lebih barhak kamu berikan shadaqah dari pada mereka”.

Bab: Tidak ada zakat kuda atas seorang Muslim

  1. Telah menceritakan kepada kami Adam telah menceritakan kepada kami Syu’bah telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Dinar berkata; Aku mendengar Sulaiman bin Yasar dari ‘Irak bin Malik dari Abu Hurairah radliallahu ‘anhu berkata; Nabi Shallallahu’alaihiwasallam bersabda: “Tidak ada kewajiban zakat bagi seorang muslim pada kuda dan budaknya”.

Bab: Tidak ada zakat budak atas seorang Muslim

  1. Telah menceritakan kepada kami Musaddad telah menceritakan kepada kami Yahya bin Sa’id dari Khutsaim bin ‘Irak berkata, telah menceritakan bapakku kepadaku dari Abu Hurairah radliallahu ‘anhu dari Nabi Shallallahu’alaihiwasallam. Dan diriwayatkan pula, telah menceritakan kepada kami Sulaiman bin Harb telah menceritakan kepada kami Wuhaib bin Khalid telah menceritakan kepada kami Khutsaim bin ‘Irak bin Malik dari bapaknya dari Abu Hurairah radliallahu ‘anhu dari Nabi Shallallahu’alaihiwasallam: “Tidak ada kewajiban zakat bagi seorang muslim pada budak dan kudanya”.

Bab: Sedekan untuk anak yatim

  1. Telah menceritakan kepada kami Mu’adz bin Fadhalah telah menceritakan kepada kami Hisyam dari Yahya dari Hilal bin Abu Maimunah telah menceritakan kepada kami ‘Atha’ bin Yasar bahwa dia mendengar Abu Sa’id Al Khudriy radliallahu ‘anhu menceritakan bahwa Nabi Shallallahu’alaihiwasallam suatu hari duduk diatas mimbar dan kami pun duduk didekatnya lalu Beliau berkata,: “Sesungguhnya diantara yang aku khawatirkan terjadi pada kalian sepeninggalku adalah apabila telah dibuka untuk kalian (keindahan) dunia serta perhiasannya”. Tiba-tiba ada seorang laki-laki berkata,: “Wahai Rasulullah, apakah kebaikan dapat mendatangkan keburukan?”. Maka Nabi Shallallahu’alaihiwasallam terdiam. Dikatakan kepada orang yang bertanya tadi; “Apa yang telah kamu lakukan, kamu mengajak Nabi Shallallahu’alaihiwasallam berbicara yang membuat Beliau tidak berbicara kepadamu”. Maka kami melihat  bahwa  wahyu  sedang  turun  kepada  Beliau.  Abu  Said  berkata,:  “Beliau mengusap keringatnya yang banyak lalu berkata,: “Mana orang yang bertanya tadi?”. Lalu nampak  Beliau  memuji  Allah  seraya  bersabda:  “Kebaikan  tidak  akan  mendatangkan keburukan. Sesungguhnya apa yang ditumbuhkan pada musim semi dapat membinasakan atau dapat mendekatkan kepada kematian kecuali seperti (ternak) pemakan dedaunan hijau yang apabila sudah kenyang dia akan memandang matahari lalu mencret kemudian kencing lalu dia kembali merumput (makan lagi). Dan sungguh harta itu seperti dedaunan hijau yang manis. Maka beruntunglah seorang muslim yang dengan hartanya dia memberi orang-orang miskin, anak yatim dan ibnu sabil (musafir yang kehabisan bekal) “. Atau seperti yang didabdakan oleh Nabi Shallallahu’alaihiwasallam: “Dan sesungguhnya barangsiapa yang mengambil harta dunia tanpa hak ia seperti orang yang memakan namun tidak pernah kenyang dan harta itu akan menjadi saksi yang menuntutnya pada hari qiyamat”.

Bab: Zakat untuk suami dan anak yatim yang beradam dalam pengasuhannya

  1. Telah menceritakan kepada kami ‘Umar bin Hafsh telah menceritakan kepada kami bapakku telah menceritakan kepada kami Al A’masy telah menceritakan kepada saya Syaqiq dari ‘Amru bin Al Harits dari Zainab isteri ‘Abdullah radliallahu ‘anhuma berkata,, lalu dia menceritakannya kepada Ibrahim. Dan diriwayatkan pula, telah menceritakan kepada saya Ibrahim dari Abu ‘Ubaidah dari ‘Amru bin Al Harits dari Zainab isteri ‘Abdullah radliallahu ‘anhua sama seperti ini, berkata,: “Aku pernah berada di masjid lalu aku melihat Nabi Shallallahu’alaihiwasallam. Kemudian Beliau bersabda: “Bershadaqahlah kalian walau dari perhiasan kalian”. Pada saat itu Zainab berinfaq untuk ‘Abdullah dan anak-anak yatim di rumahnya. Dia (‘Amru bin Al Harits) berkata,:; Zainab berkata, kepada ‘Abdullah: “Tanyakanlah kepada Rasulullah  Shallallahu’alaihiwasallam  apakah  aku  akan  mendapat pahala bila aku menginfaqkan shadaqah (zakat) ku kepadamu dan kepada anak-anak yatim dalam rumahku”. Maka ‘Abdullah berkata,: “Tanyakanlah sendiri kepada Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam “. Maka aku berangkat untuk menemui Nabi Shallallahu’alaihiwasallam dan aku mendapatkan seorang wanita Anshar di depan pintu yang sedang menyampaikan keperluannya seperti keperluanku. Kemudian Bilal lewat di hadapan kami maka kami berkata: “Tolong tanyakan kepada Nabi Shallallahu’alaihiwasallam, apakah aku akan mendapat pahala bila aku meninfaqkan shadaqah (zakat) ku kepada suamiku dan kepada anak-anak yatim yang aku tanggung dalam rumahku?”. Dan kami tambahkan agar dia (Bilal) tidak menceritakan siapa kami. Maka Bilal masuk lalu bertanya kepada Beliau. Lalu Beliau bertanya: “Siapa kedua wanita itu?”. Bilal berkata,: “Zainab”. Beliau bertanya lagi: “Zainab yang mana?”. Dikatakan: “Zainab isteri ‘Abdullah”. Maka Beliau bersabda: “Ya benar, baginya dua pahala, yaitu pahala (menyambung) kekerabatan dan pahala zakatnya”.
  2. Telah menceritakan kepada kami ‘Utsman bin Abu Syaibah telah menceritakan kepada kami ‘Abdah dari Hisyam dari bapaknya dari Zainab binti Ummu Salalah dari Ummu Salamah berkata; Aku berkata,: “Wahai Rasulullah, apakah bagiku pahala bila aku menginfaqkan harta untuk anak-anak Abu Salamah padahal mereka itu anak-anakku?”. Maka Beliau bersabda: “Berinfaqlah untuk mereka  dan  kamu  akan  mendapatkan  pahala  dari  apa  yang  kamu infaqkan buat mereka”.

Bab: Firman Allah “…untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah…”

  1. Telah menceritakan kepada kami Abu Al Yaman telah mengabarkan kepada kami Syu’aib telah menceritakan kepada kami Abu Az Zanad dari Al A’raj dari Abu Hurairah radliallahu ‘anhu berkata; Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam memerintahkan untuk menunaikan shadaqah (zakat). Lalu dikatakan kepada Beliau bahwa Ibnu Jamil, Khalid bin Al Walid dan ‘Abbas bin ‘Abdul Muthalib tidak mau mengeluarkan zakat. Maka Nabi Shallallahu’alaihiwasallam bersabda: “Apa yang bisa mengingkari Ibnul jamil tidak mengeluarkan zakatnya sebab dahulunya dia faqir namun kemudian Allah dan RasulNya menjadikannya kaya? Adapun Khalid, sungguh kalian telah menzhalimi Khalid, padahal dia telah menghabiskan baju-baju besi dan peralatan perangnya untuk berjuang di jalan Allah. Adapun ‘Abbas bin ‘Abdul Muthalib dia adalah paman Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam, namun demikian dia tetap wajib berzakat dan juga kewajiban lain serupa zakat (sebagai kemuliaan) “. Dan hadits ini diperkuat oleh Ibnu Abu Az Zinad dari Bapaknya, dan Ibnu Ishaq berkata dari Abu Az Zinad; “Baginya tetap wajib berzakat dan juga kewajiban lain serupa zakat”, dan Ibnu Juraij berkata; “Telah diriwayatkan kepadaku dari Al A’raj dengan hadits yang serupa.

Bab: Manjaga diri dari meminta-minta

  1. Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Yusuf telah mengabarkan kepada kami Malik dari Ibnu Syihab dari ‘Atha’ bin Yazid Al Laitsiy dari Abu Sa’id Al Khudriy radliallahu ‘anhu bahwa ada beberapa orang dari kalangan Anshar meminta (pemberian shodaqah) kepada Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam, maka Beliau memberi. Kemudian mereka meminta kembali, lalu Beliau memberi. Kemudian mereka meminta kembali lalu Beliau memberi lagi hingga habis apa yang ada pada Beliau. Kemudian Beliau bersabda: “Apa-apa yang ada padaku dari kebaikan (harta) sekali-kali tidaklah aku akan meyembunyikannya dari kalian semua. Namun barangsiapa yang menahan (menjaga diri dari meminta-minta), maka Allah akan menjaganya dan barangsiapa yang meminta kecukupan maka Allah akan mencukupkannya dan barangsiapa yang mensabar-sabarkan dirinya maka Allah akan memberinya kesabaran. Dan tidak ada suatu pemberian yang diberikan kepada seseorang yang lebih baik dan lebih luas daripada (diberikan) kesabaran”.
  2. Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Yusuf telah mengabarkan kepada kami Malik dari Abu Az Zanad dari Al A’raj dari Abu Hurairah radliallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam bersabda: “Demi Dzat yang jiwaku berada di tanganNya, sungguh seorang dari kalian yang mengambil talinya lalu dia mencari kayu bakar dan dibawa dengan punggungnya lebih baik baginya daripada dia mendatangi seseorang lalu meminta kepadanya, baik orang itu memberi atau menolak”.
  3. Telah menceritakan kepada kami Musa telah menceritakan kepada kami Wuhaib telah menceritakan kepada kami Hisyam dari bapaknya dari Az Zubair bin Al ‘Awam radliallahu

‘anhu dari Nabi Shallallahu’alaihiwasallam bersabda: “Demi Dzat yang jiwaku berada di tanganNya, sungguh seorang dari kalian yang mengambil talinya lalu dia mencari seikat kayu bakar dan dibawa dengan punggungnya kemudian dia menjualnya lalu Allah mencukupkannya dengan kayu itu lebih baik baginya daripada dia meminta-minta kepada manusia, baik manusia itu memberinya atau menolaknya”.

  1. Dan telah  menceritakan  kepada  kami  ‘Abdan  telah  mengabarkan  kepada  kami ‘Abdullah telah mengabarkan kepada kami Yunus dari Az Zuhriy dari ‘Urwah bin Az Zubair dan Sa’id bin Al Musayyab bahwa Hakim bin Hizam radliallahu ‘anhu berkata,: “Aku pernah meminta sesuatu kepada Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam lalu Beliau memberiku. Kemudian aku meminta lagi, maka Beliau pun memberiku kembali. Kemudian aku meminta lagi, maka Beliu pun masih memberiku lag seraya Beliau bersabda: “Wahai Hakim, sesungguhnya harta itu hijau lagi manis, maka barangsiapa yang mencarinya untuk kedermawanan dirinya maka harta itu akan memberkahinya. Namun barangsiapa yang mencarinya untuk keserakahan maka harta itu tidak akan memberkahinya, seperti orang yang makan namun tidak kenyang. Tangan yang di atas lebih baik daripada tangan yang di bawah”. Hakim berkata; “Lalu aku berkata, (kepada Beliau); “Wahai Rasulullah, demi Dzat yang telah mengutusmu dengan benar, aku tidak akan mengurangi hak seorangpun (yang meminta) setelah engkau hingga aku meninggalkan dunia ini”. Suatu kali Abu Bakar pernah memanggil Hakim untuk diberikan sesuatu agar dia datang dan menerima pemberiannya. Kemudian ‘Umar radliallahu ‘anhu juga pernah memanggil Hakim untuk memberikan sesuatu namun Hakim tidak memenuhinya. Maka ‘Umar radliallahu ‘anhu berkata,: “Aku bersaksi kepada kalian, wahai kaum Muslimin, tentang Hakim. Sungguh aku pernah menawarkan kepadanya haknya dari harta fa’iy (harta musuh tanpa peperangan) ini agar dia datang dan mengambilnya. Sungguh Hakim tidak pernah mengurangi hak seorangpun setelah Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam hingga dia wafat”.

Bab: Seseorang yang Allah beri sesuatu tanpa meminta dan tanpa berlebihan

  1. Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Bukair telah menceritakan kepada kami Al Laits dari Yunus dari Az Zuhriy dari Salim bahwa ‘Abdullah bin ‘Umar radliallahu ‘anhuma berkata; Aku mendengar ‘Umar berkata,: “Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam pernah memberiku suatu pemberian lalu aku berkata kepada Beliau: “Berikanlah kepada orang yang lebih faqir dariku”. Maka Beliau bersabda: “Ambillah. Jika telah datang kepadamu dari harta ini sedangkan kamu bukan orang yang akan menghambur-hamburkannya dan tidak pula meminta-mintanya, maka ambillah. Selain dari itu maka janganlah kamu menuruti nafsumu”.

Bab: Meminta kepada manusia untuk berlebih-lebihan

  1. Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Bukair telah menceritakan kepada kami Al Laits dari ‘Ubaidullah bin Abu Ja’far berkata; Aku mendengar Hamzah bin ‘Abdullah bin ‘Umar berkata; Aku mendengar: ‘Abdullah bin ‘Umar radliallahu ‘anhu berkata; Nabi Shallallahu’alaihiwasallam bersabda: “Senantiasa ada seorang yang suka meminta-minta kepada orang lain hingga pada hari qiyamat dia datang dalam keadaan wajahnya terpotong (bagian)  dagingnya”.  Dan  Beliau  juga  bersabda:  “Matahari  akan  didekatkan  pada  hari qiyamat hingga keringat akan mencapai ketinggian setengah telinga. Karena kondisi mereka seperti itu, maka orang-orang memohon bantuan (do’a) kepada nabi Adam, Musa, kemudian Muhammad Shallallahu’alaihiwasallam”. ‘Abdullah bin Shalih menambahkan telah menceritakan kepada saya Al Laits telah menceritakan kepada saya Ibnu Abu Ja’far: “Maka Beliau  memberi  syafa’at  untuk  memutuskan  perkara  diantara  manusia  hingga  akhirnya Beliau mengambil tali pintu (surga). Dan pada hari itulah Allah menempatkan Beliau pada kedudukan yang terpuji yang dipuji oleh seluruh makhluq yang berkumpul”. Dan berkata, Mu’allaa telah menceritakan kepada kami Wuhaib dari An-Nu’man bin Rasyid dari ‘Abdullah bin Muslim saudara dari Az Zuhriy dari Hamzah bahwa dia mendengar Ibnu ‘Umar radliallahu ‘anhuma dari Nabi Shallallahu’alaihiwasallam tentang masalah ini”.

Bab: Firman Allah “…mereka tidak meminta kepada orang secara mendesak…”

  1. Telah menceritakan kepada kami Hajjaj bin Minhal telah menceritakan kepada kami Syu’bah telah mengabarkan kepada saya Muhammad bin Ziad berkata; Aku mendengar Abu Hurairah radliallahu ‘anhu dari Nabi Shallallahu’alaihiwasallam: “Bukanlah disebut miskin orang yang bisa diatasi dengan satu atau dua suap makanan. Akan tetapi yang disebut miskin adalah orang yang tidak memiliki kecukupan namun dia menahan diri (malu) atau orang yang tidak meminta-minta secara mendesak”.
  2. Telah menceritakan kepada kami Ya’qub bin Ibrahim telah menceritakan kepada kami Isma’il bin ‘Ulayyah telah menceritakan kepada kami Khalid Al Hadzdza’ dari Ibnu Asywa’ dari Asy-Sya’biy telah menceritakan kepada saya Penulis Al Mughirah bin Syu’bah berkata; Mu’awiyah menulis surat kepada Al Mughirah bin Syu’bah (yang isinya); “Tuliskanlah untuk aku sesuatu yang kamu dengar dari Nabi Shallallahu’alaihiwasallam “. Maka dia menulis untuknya: “Aku mendengar Nabi Shallallahu’alaihiwasallam bersabda: ” Allah membenci untuk kalian tiga hal: “Orang yang menyampaikan setiap hal yang didengarnya, menyia- nyiakan harta dan banyak bertanya”.
  3. Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ghurair Az Zuhri telah menceritakan kepada kami Ya’qub  bin  Ibrahim  dari  bapaknya  dari  Shalih  bin  Kaisan  dari  Ibnu  Syihab berkata, telah mengabarkan kepada saya ‘Amir bin Sa’ad dari bapaknya berkata; “Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam memberikan suatu harta dari shadaqah sedangkan saat itu aku sedang duduk di tengah-tengah mereka. Saat itu Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam membiarkan dan tidak memberi seorang pun dari mereka, padahal orang itu adalah yang paling menakjubkan aku diantara mereka yang hadir. Maka aku menemui Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam dan aku mendekati beliau seraya aku bertanya: “Wahai Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam, bagaimana dengan si fulan?. Demi Allah sungguh aku memandangnya dia sebagai seorang mu’min. Nabi Shallallahu’alaihiwasallam membalas: “atau dia muslim?”. Kemudian aku terdiam sejenak lalu aku terdorang untuk lebih mengetahui   apa   yang   dimaksud   Beliau   Shallallahu’alaihiwasallam,   maka   aku   ulangi ucapanku: “Wahai Rasululloh Shallallahu’alaihiwasallam bagaimana dengan si fulan?”. Demi Allah, sungguh aku memandangnya sebagai seorang mu’min. Nabi Shallallahu’alaihiwasallam membalas: atau dia muslim? Aku masih terdiam sejenak lalu aku terdorang lagi untuk lebih memastikan apa yang dimaksudnya hingga aku ulangi lagi pertanyaanku: “Wahai Rasululloh Shallallahu’alaihiwasallam bagaimana dengan si fulan?”. Demi Allah, sungguh aku memandangnya sebagai seorang mu’min. Lalu Nabi Shallallahu’alaihiwasallam menjelaskan: “Sungguh aku memberikan kepada seseorang atau selain dia lebih aku sukai dari pada memberi kepada dia karena aku takut kalau dia akan dicampakkan mukanya ke neraka”. Dan dari bapaknya dari Shalih dari Isma’il bin Muhammad bahwa dari berkata; Aku mendengar bapakku menceritakan sepereti ini yang dia ceritakan dalam hadits yang diceritakannya: Maka Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam memukulkan kedua tangannya lalu mengumpulkannya diantara leher dan pundaknya kemudian bersabda: “Dengarlah Sa’ad, sungguh aku memberikan kepada seseorang ….”. Berkata, Abu ‘Abdullah Al Bukhariy: (QS. Asy-Syu’ara ayat 94) artinya: “Dibalik (wajah mereka) lalu dibenamkan”. Sedangkan (Al Mulk ayat 22) artinya: “Seseorang dikatakan terjungkal bila perbuatannya tidak realistis dan jika dia benar berbuat kamu akan mengatakannya Allah menjungkalkan wajah orang itu begitu juga aku”.
  4. Telah menceritakan kepada kami Isma’il bin ‘Abdullah berkata, telah menceritakan kepada saya Malik dari Abu Az Zanad dari Al A’raj dari Abu Hurairah radliallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam bersabda: “Bukanlah disebut miskin orang berkeliling meminta-minta kepada manusia dan bisa diatasi dengan satu atau dua suap makanan atau satu dua butir kurma. Akan tetapi yang disebut miskin adalah orang yang tidak mendapatkan seseorang yang bisa memenuhi kecukupannya, atau yang kondisinya tidak diketahui orang sehingga siapa tahu ada yang memberinya shedaqah atau orang yang tidak meminta-minta kepada manusia”.
  5. Telah menceritakan kepada kami ‘Umar bin Hafsh bin Ghiats telah menceritakan kepada kami bapakku telah menceritakan kepada kami Al A’masy telah menceritakan kepada kami Abu Shalih dari Abu Hurairah radliallahu ‘anhu dari Nabi Shallallahu’alaihiwasallam bersabda: “Sungguh seorang dari kalian yang mengambil talinya lalu pergi. Kata Beliau; ke gunung lalu dia mencari kayu bakar kemudian dia menjualnya lalu dari dia dapat makan dan bershadaqah lebih baik baginya daripada meminta manusia”. Berkata, Abu ‘Abdullah Al Bukhariy: Shalih bin Kaisan lebih tua dari pada Az Zuhriy dan dia semasa hidupnya bertemu dengan Ibnu’Umar radliallahu ‘anhuma.

Bab: Mentaksir buah

  1. Telah menceritakan kepada kami Sahal bin Bakkar telah menceritakan kepada kami Wuhaib dari ‘Amru bin Yahya dari ‘Abbas As Sa’adiy dari Abu Humaid As Sa’adiy berkata; Kami mengikuti perang Tabuk bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Ketika sampai di lembah perkampungan suatu kaum, disana ada seorang wanita yang sedang berada di kebunnya. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata, kepada para sahabatnya: “Taksirlah buah pohon kurma ini?”. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menaksir pohon kurma itu sekitar sepuluh wasaq. Lalu Beliau berkata, kepada wanita itu: “Hitunglah berapa kira-kira yang harus kamu keluarkan zakat dari kebun kurmamu itu”. Ketika kami sampai di Tabuk, Beliau bersabda: “Malam ini akan berhembus angin yang sangat kencang. Oleh karena itu jangan ada yang keluar seorangpun dari kalian yang berdiri dan bagi yang membawa unta agar mengikatnya”. Kamipun mengikat unta-unta kami dan kemudian angin berhembus. Tiba-tiba ada seseorang berdiri hingga angin menerbangkanya ke gunung Thoy’i. Kemudian raja negeri Ailah menghadiahkan seekor baghol putih kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan memberi Beliau pakaian burdah (pakaian selimut untuk melindungi Beliau dari udara dingin) dan Beliau menulis surat untuknya di negeri mereka. Ketika Beliau kembali ke perkampungan kaum, Beliau berkata, kepada wanita tadi: “Berapa banyak kurma kebunmu?”. Wanita itu menjawab: “Sepuluh wasaq sesuai taksiran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Aku ingin segera kembali ke Madinah. Siapa yang mau segera kembalike Madinah bersamaku, maka berkemaslah”. Ketika Ibnu Bakkar mengucapkan sesuatu kalimat yang maknanya memuji Madinah, Beliau berkata: “Ini adalah Thabah” (sebutan untuk kota Madinah). Ketika melihat gunung Uhud, Beliau berkata: “Ini adalah sebuah gunung yang kita mencintainya dan diapun mencintai kita. Maukah kalian aku beritahu tentang rumah orang Anshar yang paling baik?”. Mereka menjawab: “Mau”. Maka  Beliau  berkata:  “Rumah  Bani  An-Najjar,  kemudian  Bani  ‘Abdul Ashal kemudian Bani Sa’adah atau Bani Al Harits bin Al Khazraj dan untuk setiap rumah Anshar  ada  kebaikan  padanya”.  Dan  berkata  Sulaiman  bin  Bilal;  dari  ‘Amru;  “kemudian rumah Bani Al Harits, kemudian Bani Sa’idah.” Dan berkata Sulaiman; dari Sa’ad bin Sa’id dari ‘Umarah bin Ghoziyah dari ‘Abbas dari bapaknya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata: “Uhud adalah gunung yang mencintai kami dan kamipun mencintainya”. Berkata, Abu ‘Abdullah Al Bukhariy: “Setiap kebun yang ada pagar pembatasnya disebut hadiqah. Sedang yang tidak memiliki pagar pembatas tidak disebut hadiqah”.

Bab: Sepersepuluh untuk tanaman yang penyiramamannya dengan air hujan

  1. Telah menceritakan kepada kami Sa’id bin Abu Maram telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Wahb berkata, telah mengabarkan kepada saya Yunus bin Zaid dari Az Zuhriy dari Salim bin ‘Abdullah dari bapaknya radliallahu ‘anhu dari Nabi Shallallahu’alaihiwasallam bersabda: “Pada tanaman yang diairi dengan air hujan, mata air, atau air tanah  maka  zakatnya  sepersepuluh,  adapun  yang  diairi  dengan  menggunakan tenaga maka zakatnya seperduapuluh”. Abu Abdullah Al Bukhari berkata; “Ini adalah tafsiran pertama  karena  Beliau  tidak  menentukannya  saat  waktu  pertama  kali,  yakni  hadits  Ibn Umar; “Pada setiap tanaman yang diairi dengan hujan adalah sepersepuluh”. Lalu Beliau menjelaskan  hal  ini;  “Dan  menentukan  waktu  dan  tambahan  ini  bisa  diterima,  dan penafsiran adalah suatu tuntutan suatu hal yang belum jelas, jika diriwayatkan oleh orang- orang terpercaya. Seperti Fadhal bin ‘Abbas pernah meriwayatkan bahwa Nabi Shallallahu’alaihiwasallam tidak shalat di dalam Ka’bah namun Bilal berkata, bahwa Beliau shalat disana. Maka perkataan Bilal diambil, sedangkan perkataan Fadhl ditinggal.

Bab: Tidak ada zakat yang kurang dari lima wasaq

  1. Telah menceritakan kepada kami Musaddad telah menceritakan kepada kami Yahya telah menceritakan kepada   kami   Malik   berkata,   telah   menceritakan   kepada   saya Muhammad bin ‘Abdullah bin ‘Abdurrahman bin Abu Sha’sha’ah dari bapaknya dari Abu Sa’id Al Khudriy dari Nabi Shallallahu’alaihiwasallam bersabda: “Tidak ada zakat pada hasil

tanaman kurang dari lima wasaq, tidak ada zakat unta yang kurang dari lima ekor dan tidak ada zakat pada harta (uang) kurang dari lima waaq “. Berkata, Abu ‘Abdullah Al Bukhari: “Ini tafsiran awal ketika Beliau bersabda: “”Tidak ada zakat pada hasil tanaman kurang dari lima wasaq”. Kemudian yang dijadikan pegangan dalam masalah ilmu selamanya adalah apa yang ditambahkan oleh perawi yang dikenal kuat atau ang mereka jelaskan”.

Bab: Mengambil zakat kurma ketika telah masak

  1. Telah menceritakan kepada kami ‘Umar bin Muhammad bin Al Hasan Al Asadi telah menceritakan kepada kami bapakku telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Thahman dari Muhammad bin  Ziyad  dari  Abu  Hurairah  radliallahu  ‘anhu  berkata;  “Suatu  hari Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam pernah diberikan (menerima) zakat kurma ketika masa panen yang ketika itu seseorang membawa zakat kurmanya dan yang lain juga membawa zakat kurmanya sehingga kurma-kurma itu menumpuk karena sangat banyaknya. Tumpukan itu menjadi tempat bermainnya Hasan dan Husein radliallahu ‘anhuma. Satu diantara kedua anak itu lantas mengambil sebutir kurma tersebut lalu memasukkannya ke dalam mulutnya. Lalu Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam melihatnya kemudian mengeluarkannya dari mulutnya seraya bersabda: “Tidak tahukah kamu bahwa keluarga Muhammad Shallallahu’alaihiwasallam tidak boleh memakan shadaqah (zakat)?”.

Bab: Menjual buahnya, atau pohon kurmanya, atau tanahnya, atau tanamannya yang telah tiba waktu zakat

  1. Telah menceritakan kepada kami Hajjaj telah menceritakan kepada kami Syu’bah telah mengabarkan kepada saya  ‘Abdullah  bin  Dinar;  Aku  mendengar  Ibnu’Umar  radliallahu ‘anhuma   (berkata,):   Nabi   Shallallahu’alaihiwasallam   melarang   menjual   kurma   sampai nampak kebaikannya (matang) dan bila ditanya tentang kebaikannya Beliau menjawab bila hama (suatu yang nampak sebagai resiko) sudah hilang”.
  2. Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Yusuf telah menceritakan kepada saya Al Laits telah menceritakan kepada saya Khalid bin Yazid dari ‘Atha’ bin Abu Rabah dari Jabir bin ‘Abdullah radliallahu ‘anhua; Bahwa Nabi Shallallahu’alaihiwasallam melarang menjual kurma hingga nampak kebagusannya”.
  3. Telah menceritakan kepada kami Qutaibah dari Malik dari Humaid dari Anas bin Malik radliallahu ‘anhu bahwa  Rasulullah  Shallallahu’alaihiwasallam  melarang  menjual  kurma hingga kurma itu berkembang baik”. Dia (Anas bin Malik radliallahu ‘anhu) berkata,: “Hingga memerah”.

Bab: Bolehkan seseorang membeli kembali sesuatu yang ia zakatkan

  1. Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Bukair telah menceritakan kepada kami Al Laits dari ‘Uqail dari Ibnu Syihab dari Salim bahwa ‘Abdullah bin ‘Umar radliallahu ‘anhua menceritakan bahwa ‘Umar bin Al Khaththab radliallahu ‘anhu menshadaqahkan kudanya yang digunakannya untuk berperang di jalan Allah, lalu dia mendapatkan shadaqah kudanya itu dijual. Kemudian dia berkendak membelinya kembali. Maka dia menemui Nabi Shallallahu’alaihiwasallam dengan tujuan meminta saran. Maka Beliau Shallallahu’alaihiwasallam bersabda: “Jangan kamu mengambil kembali shadaqahmu”. Oleh karena itu ‘Abdullah bin ‘Umar radliallahu ‘anhuma tidak pernah membeli kembali apa yang telah dishadaqahkannya karena sudah dijadikannya sebagai shadaqah”.
  2. Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Yusuf telah mengabarkan kepada kami Malik bin Anas dari Zaid bin Aslam dari bapaknya berkata; Aku mendengar ‘Umar bin Al Khaththab radliallahu ‘anhu berkata,: “Aku memberi (sesorang) kuda yang aku biasa gunakan untuk berperang di jalan Allah lalu orang itu tidak memanfaatkan sebagaimana mestinya. Kemudian aku berniat membelinya kembali karena aku menganggap membelinya lagi adalah suatu hal yang (diringankan) dibolehkan. Lalu aku tanyakan hal ini kepada Nabi Shallallahu’alaihiwasallam, maka Beliau bersabda: “Jangan kamu membelinya dan jangan kamu mengambil kembali  shadaqah  (zakat)  mu  sekalipun  orang  itu  menjualnya  dengan harga satu dirham, karena orang yang mengambil kembali shadaqahnya seperti orang yang menjilat kembali ludahnya”.

Bab: Penjelasan tentang zakat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam

  1. Telah menceritakan kepada kami Adam telah menceritakan kepada kami Syu’bah telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ziyad berkata; Aku mendengar Abu Hurairah radliallahu ‘anhu berkata;  “Suatu  hari  Al  Hasan  bin  ‘Ali  radliallahu  ‘anhuma  mengambil kurma dari kurma-kurma shadaqah (zakat) lalu memasukkannya ke dalam mulutnya, maka Nabi Shallallahu’alaihiwasallam bersabda: “Hei, hei”. Maksudnya supaya ia membuangnya dari mulutnya. Selanjutnya Beliau bersabda: “Tidakkah kamu menyadari bahwa kita tidak boleh memakan zakat”.

Bab: Sedekah untuk budak-budak isteri Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam

  1. Telah menceritakan kepada kami Sa’id bin ‘Uqair telah menceritakan kepada kami Ibnu Wahb dari Yunus dari Ibnu Syihab telah menceritakan kepada saya ‘Ubaidullah bin ‘Abdullah dari Ibnu ‘Abbas radliallahu ‘anhuma berkata,: Nabi Shallallahu’alaihiwasallam mendapatkan seekor kambing yang diberikan oleh seorang sahaya wanita Maimunah sebagai zakatnya dalam keadaan mati. Maka Nabi Shallallahu’alaihiwasallam bersabda: “Kenapa kalian tidak memanfaatkan kulitnya? ‘. Orang-orang berkata,: “Kambing itu sudah jadi bangkai”. Beliau SHAlLAlLAHU’AlAIHIWASAlLAM menjawab: “Yang diharamkan itu memakannya”.
  2. Telah menceritakan kepada kami Adam telah menceritakan kepada kami Syu’bah telah menceritakan kepada kami Al Hakam dari Ibrahim dari Al Aswad dari ‘Aisyah radliallahu ‘anha bahwa dia berkehendak membeli Barirah untuk dimerdekakan namun tuannya mengajukan syarat agar dia (‘Aisyah radliallahu ‘anha) menjad tuan dari sahaya yang dibebaskannya itu. Maka (‘Aisyah radliallahu ‘anha) menceritaklan hal itu kepada Nabi Shallallahu’alaihiwasallam, maka Nabi Shallallahu’alaihiwasallam berkata, kepadanya: “Belilah, dan wala’ dari sahaya adalah siapa yang membebaskannya”. (‘Aisyah radliallahu ‘anha) berkata,: Kepada Nabi Shallallahu’alaihiwasallam pernah diberikan sepotong daging lalu aku katakan bahwa daging ini dari zakat yang diterima Barirah. Maka Beliau Shallallahu’alaihiwasallam bersabda: “Baginya ini zakat tapi bagi kita ini hadiah”.

Bab: Jika sedekah beralih (kepada orang lain)

  1. Telah menceritakan kepada kami ‘Ali bin ‘Abdullah telah menceritakan kepada kami Yazid bin Zurai’ telah menceritakan kepada kami Khalid dari Hafshah binti Sirin dari Ummu ‘Athiyah Al Anshariyyah radliallahu ‘anhuma berkata,: Nabi Shallallahu’alaihiwasallam menemui ‘Aisyah radliallahu ‘anha lalu berkata,: “Apakah ada sesuatu yang kalian miliki (untuk dimakan)?”. Dia  ‘Aisyah  radliallahu  ‘anha  berkata,:  “Tidak  ada,  kecuali  apa  yang dikirim buat kita oleh Nusaibah dari daging kambing yang diperuntukkan untuknya sebagai zakat”. Maka Beliau berkata,: “Shadaqah itu telah sampai kepada tempatnya”.
  2. Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Musa telah menceritakan kepada kami Waki’ telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Qatadah dari Anas radliallahu ‘anhu bahwa kepada Nabi Shallallahu’alaihiwasallam diberikan sepotong daging dari zakat yang diberikan kepada Barirah. Maka Beliau bersabda: “Daging ini baginya shadaqah (zakat) dan bagi kita ini sebagai hadiah”. Dan berkata, Abu Daud: Syu’bah menceritakan kepada kami dari Qatadah bahwa dia mendengar Anas dari Nabi Shallallahu’alaihiwasallam.

Bab: Mengambil sedekah dari orang kaya dan memberikannya kepada orang miskin

  1. Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Muqatil telah mengabarkan kepada kami ‘Abdullah telah mengabarkan kepada kami Zakariya’ bin Ishaq dari Yahya bin ‘Abdullah bin Shayfiy dari Abu Ma’bad sahayanya Ibnu ‘Abbas radliallahu ‘anhuma berkata; Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam berkata, kepada Mu’adz bin Jabal Radhiyalahu’anhu ketika Beliau mengutusnya ke negeri Yaman: “Sesungguhnya kamu akan mendatangi kaum Ahlul Kitab, jika kamu sudah mendatangi mereka maka ajaklah mereka untuk bersaksi tidak ada ilah yang berhak disembah kecuali Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah. Jika mereka telah mentaati kamu tentang hal itu, maka beritahukanlah mereka bahwa Allah mewajibkan bagi mereka shalat lima waktu pada setiap hari dan malamnya. Jika mereka telah mena’ati kamu tentang hal itu maka beritahukanlah mereka bahwa Allah mewajibkan bagi mereka zakat yang diambil dari kalangan orang mampu dari mereka dan dibagikan kepada kalangan yang faqir dari mereka. Jika mereka mena’ati kamu dalam hal itu maka janganlah kamu mengambil harta-harta terhormat mereka dan takutlah terhadap do’anya orang yang terzholimi karena antara dia dan Allah tidak ada hijab (pembatas yang menghalangi) nya”.

Bab: Shalawat dan doa imam untuk orang yang sedekah

  1. Telah menceritakan kepada kami Hafsh bin ‘Umar telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari ‘Amru dari ‘Abdullah bin Abu Awfaa berkata; Adalah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bila suatu kaum datang kepadanya dengan membawa shadaqah mereka, Beliau mendo’akannya: “Allahumma shalli ‘alaa aali fulan” (Ya Allah berilah shalawat kepada keluarga fulan”). Maka  bapakku  mendatangi  Beliau  dengan  membawa  zakatnya.,  maka Beliau mendo’akanya: “Allahumma shalli ‘alaa aalii abu awfaa”. (Ya Allah, berilah shalawat kepada keluarga Abu Awfaa”).

Bab: Pada harta yang terpendam zakatnya seperlima

  1. Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Yusuf telah mengabarkan kepada kami Malik dari Ibnu Syihab dari Sa’id bin Al Musayab dan dari Abu Salamah bin ‘Abdurrahman dari Abu Hurairah radliallahu ‘anhu; bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Binatang gembalaan yang mencelakai tidaklah dapat dituntut belanya (dendanya), begitu juga menggali sumur dan mencelakai, tidaklah dapat dituntut belanya (dendanya) dan menggali barang tanbang dan mencelakai, tidaklah dapat dituntut belanya (dendanya). Sedangkan harta terpendam (bila ditemukan seseorang) zakatnya seperlima”.

Bab: Firman Allah “…pengurus-pengurus zakat…”

  1. Telah menceritakan kepada kami Yusuf bin Musa telah menceritakan kepada kami Abu Usamah telah mengabarkan kepada kami Hisyam bin ‘Urwah dari bapaknya dari Abu Humaid As-Sa’adiy radliallahu ‘anhu  berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi  wasallam memperkerjakan seorang laki-laki untuk mengurus zakat Bani Sulaim yang dikenal dengan sebutan Ibnu Al Latbiyah. Ketika orang itu kembali, Beliau memberinya (upah dari bagian zakat) “.

Bab: Memanfaatkan hewan sedekah dan susunya untuk orang-orang yang dalam perjalanan

  1. Telah menceritakan kepada kami Musaddad telah menceritakan kepada kami Yahya dari Syu’bah telah menceritakan kepada kami Qatadah dari Anas radliallahu ‘anhu bahwa ada sekelompok orang dari ‘Urainah yang sakit terkena udara dingin kota Madinah. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengobati mereka dengan memberi bagian dari zakat unta, yang mereka meminum susu-susunya dan air kencingnya. Namun kemudian orang- orang itu membunuh pengembala unta tersebut dan mencuri unta-untanya sejumlah antara tiga hingga sepuluh. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengutus seseorang. Akhirnya mereka dibawa ke hadapan Beliau, lalu kemudian Beliau memotong tangan dan kaki mereka serta mencongkel mata-mata mereka dengan besi panas lalu menjemur mereka dibawah panas dan ditindih dengan bebatuan”. Hadits ini dikuatkan juga oleh Abu Qalabah dan Humaid dari Tsabit dari Anas.

Bab: Imam memberi tanda pada unta sedekah dengan tangannya

  1. Telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Al Mundzir telah menceritakan kepada kami Al Walid telah menceritakan kepada kami Abu ‘Amru Al Awza’iy telah menceritakan kepada saya Ishaq bin ‘Abdullah bin Abu Tholhah telah menceritakan kepada saya Anas bin Malik radliallahu ‘anhu berkata: “Aku berangkat di pagi hari bersama ‘Abdullah bin Abu Tholhah menemui Rasulullah  shallallahu  ‘alaihi  wasallam  untuk  mentahniknya  dan  aku dapati di tangan Beliau ada stempel besi yang biasanya untuk memberikan tanda pada unta (dari hasil zakat).

Bab: Kewajiban sedekah (zakat) fitri

  1. Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Muhammad bin As-Sakkan telah menceritakan kepada kami  Muhammad  bin  Jahdham  telah  menceritakan  kepada  kami Isma’il bin Ja’far dari ‘Umar bin Nafi’ dari bapaknya dari ‘Abdullah bin ‘Umar radliallahu ‘anhua berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mewajibkan zakat fithri satu sha’ dari kurma atau sha’ dari gandum bagi setiap hamba sahaya (budak) maupun yang merdeka, laki- laki   maupun   perempuan,   kecil   maupun   besar   dari   kaum   Muslimin.   Dan   Beliau memerintahkan agar menunaikannya sebelum orang-orang berangkat untuk shalat (‘Ied) “.

Bab: Zakat fitri bagi budak dan selainnya dari kaum muslimin

  1. Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Yusuf telah mengabarkan kepada kami Malik dari Nafi’ dari Ibnu ‘Umar radliallahu ‘anhuma bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mewajibkan zakat fithri satu sha’ dari kurma atau sha’ dari gandum bagi setiap orang yang merdeka maupun hamba sahaya (budak), laki-laki maupun perempuan dari kaum Muslimin.

Bab: Zakat fitri dengan satu sha’ gandum

  1. Telah menceritakan kepada kami Qabishah bin ‘Uqbah telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Zaid bin Aslam dari ‘Iyadh bin ‘Abdullah dari Abu Sa’id radliallahu ‘anhu berkata: “Kami memberi makan (orang miskin) dari zakat dengan satu sha’ dari gandum”.

Bab: Zakat fitri dengan satu sha’ makanan

  1. Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Yusuf telah mengabarkan kepada kami Malik dari Zaid bin Aslam dari ‘Iyadh bin ‘Abdullah bin Sa’ad bin Abu Sarhi Al ‘Amiriy bahwa dia mendengar Abu Sa’id Al Khudriy radliallahu ‘anhu berkata: “Kami mengeluarkan zakat fithri satu sha’ dari makanan atau satu sha’ dari gandum atau satu sha’ dari kurma atau satu sha’ dari keju (mentega) atau satu sha’dari kismis (anggur kering) “.

Bab: Zakat fitri dengan satu sha’ kurma

  1. Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Yunus telah menceritakan kepada kami Al Laits dari Nafi’ bahwa ‘Abdullah bin ‘Umar radliallahu ‘anhua berkata: Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan kami tentang zakat fithri berupa satu sha’ dari kurma atau satu sha’ dari gandum”. Berkata, ‘Abdullah radliallahu ‘anhu: “Kemudian orang-orang menyamakannya dengan dua mud untuk biji gandum”.

Bab: Satu sha’ anggur

  1. Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Munir dia mendengar Yazid bin Abu Hakim Al ‘Adaniy telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Zaid bin Aslam berkata, telah menceritakan kepada saya ‘Iyadh bin ‘Abdullah bin Abu Sarhi dari Abu Sa’id Al Khudriy radliallahu ‘anhu berkata: “Pada zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam kami memberi makan (mengeluarkan zakat fithri) satu sha’ dari makanan atau satu sha’ dari kurma atau satu sha’ dari gandum atau satu sha’ dari sha’dari kismis (anggur kering). Ketika Mu’awiyah datang (untuk melaksanakanhajji) dan gandum dari negeri Syam, dia berkata: “Aku menganggap satu mud ini (kurna) sama dengan dua mud (gandum negeri Syam) “.

Bab: Mengeluarkan zakat sebelum shalat Id

  1. Telah menceritakan kepada kami Adam telah menceritakan kepada kami Hafsh bin Maisarah telah menceritakan kepada kami Musa bin ‘Uqbah dari Nafi’ dari Ibnu ‘Umar radliallahu ‘anhuma bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan (untuk menunaikan) zakat fithri sebelum orang-orang keluar untuk shalat (‘Ied) “.
  2. Telah menceritakan kepada kami Mu’adz bin Fadhalah telah menceritakan kepada kami Abu ‘Umar Hafsh bin Maisarah dari Zaid bin Aslam dari ‘Iyadh bin ‘Abdullah bin Sa’ad dari Abu Sa’id Al Khudriy radliallahu ‘anhu berkata: “Pada zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam kami mengeluarkan  (zakat  fithri)  pada  hari  Raya  ‘Iedul  fithri  satu  sha’  dari makanan”. Dan berkata, Abu Sa’id: “Dan saat itu makanan kami adalah gandum, kismis, biji- bijian atau kurma”.

Bab: Zakat fitri atas orang yang merdeka dan budak

  1. Telah menceritakan kepada kami Abu An-Nu’man telah menceritakan kepada kami Hammad bin Zaid telah menceritakan kepada kami Ayyub dari Nafi’ dari Ibnu ‘Umar radliallahu ‘anhuma berkata: Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mewajibkan zakat fithri, atau katanya zakat Ramadhan bagi setiap laki-laki maupun perempuan, orang merdeka maupun budak satu sha’ dari kurma atau satu sha’ dari gandum”. Kemudian orang-orang menyamakannya dengan setengah sha’ untuk biji gandum. Adalah Ibnu ‘Umar radliallahu ‘anhuma bila berzakat dia memberikannya dengan kurma. Kemudian penduduk Madinah kesulitan mendapatkan kurma akhirnya mereka mengeluarkan gandum. Ibnu ‘Umar radliallahu ‘anhuma memberikan zakatnya atas nama anak kecil maupun dewasa hingga atas nama bayi sekalipun dan Ibnu ‘Umar radliallahu ‘anhuma memberikannya kepada orang- orang yang berhak menerimanya dan dia mengeluarkan zakatnya itu sehari atau dua hari sebelum hari Raya ‘Iedul Fithri.

Bab: Zakat fitri atas anak kecil dan orang dewasa

  1. Telah menceritakan kepada kami Musaddad telah menceritakan kepada kami Yahya dari ‘Ubaidullah berkata, telah menceritakan kepada saya Nafi’ dari Ibnu ‘Umar radliallahu ‘anhu berkata; “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mewajibkan zakat fithri satu sha’ dari gandum atau sha’ dari kurma bagi setiap anak kecil maupun dewasa, orang yang merdeka maupun hamba sahaya (budak) “.

-Shahih Bukhari-

By arifuddinali Posted in Hadits Dengan kaitkata

Kitab: Jenazah

Kitab: Jenazah – 1161-1307

Bab: Tentang Jenazah dan Orang Yang Sebelum Meninggal Dunia Akhir Ucapannya “Laa Ilaaha illallah”

  1. Telah menceritakan kepada kami Musa bin Isma’il telah menceritakan kepada kami Mahdiy bin Maymun telah menceritakan kepada kami Washil Al Ahdab dari Al Ma’rur bin Suaid dari Abu Dzar radliallahu ‘anhu berkata; Telah bersabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam: “Baru saja datang kepadaku utusan dari Rabbku lalu mengabarkan kepadaku” atau Beliau bersabda: “Telah datang mengabarkan kepadaku bahwa barangsiapa yang mati dari ummatku sedang dia tidak menyekutukan Allah dengan suatu apapun maka dia pasti masuk surga”. Aku tanyakan: “Sekalipun dia berzina atau mencuri?” Beliau menjawab: “Ya, sekalipun dia berzina atau mencuri”.
  2. Telah menceritakan kepada kami ‘Umar bin Hafsh telah menceritakan kepada kami bapakku telah menceritakan kepada kami Al A’masy telah menceritakan kepada kami Syaqiq dari ‘Abdullah radliallahu ‘anhu berkata; Telah bersabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam: “Barangsiapa yang mati dengan menyekutukan Allah dengan sesuatu maka dia pasti masuk neraka”. Dan aku (‘Abdullah) berkata, dariku sendiri: “Dan barangsiapa yang mati tidak menyekutukan Allah dengan suatu apapun maka dia pasti masuk surga”.

Bab: Perintah Mengantar Jenazah

  1. Telah menceritakan kepada kami Abu Al Walid telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Al Asy’ats berkata, aku mendengar Mu’awiyyah bin Suwaid bin Muqarrin dari Al Bara’ bin ‘Azib radliallahu ‘anhu berkata: “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan kami tentang tujuh perkara dan melarang kami dari tujuh perkara pula. Beliau memerintahkan kami untuk; mengiringi jenazah, menjenguk orang yang sakit, memenuhi undangan, menolong orang yang dizhalimi, berbuat adil dalam pembagian, menjawab salam dan mendoakan orang yang bersin. Dan Beliau melarang kami dari menggunakan bejana terbuat dari perak, memakai cincin emas, memakai kain sutera kasar, sutera halus, baju berbordir sutera dan sutera tebal”.
  2. Telah menceritakan kepada kami Muhammad telah menceritakan kepada kami ‘Amru bin Abu Salamah dari Al Awza’iy berkata, telah mengabarkan kepada saya Ibnu Syihab berkata, telah mengabarkan kepada saya Sa’id bin Al Musayyab bahwa Abu Hurairah radliallahu ‘anhu berkata; Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Hak muslim atas muslim lainnya ada lima, yaitu; menjawab salam, menjenguk yang sakit, mengiringi jenazah, memenuhi undangan dan mendoakan orang yang bersin”. Hadits ini diriwayatkan pula oleh ‘Abdur Razaq berkata, telah mengabarkan kepada kami Ma’mar dan meriwayatkan kepadanya Salamah bin Rauh dari ‘Uqail.

Bab: Masuk Melihat Mayat Setelah Dikafani

  1. Telah menceritakan kepada kami Bisyir bin Muhammad telah mengabarkan kepada kami ‘Abdullah berkata, telah mengabarkan kepada saya Ma’mar dan Yunus dari Az Zuhriy berkata, telah mengabarkan kepada saya Abu Salamah bahwa ‘Aisyah radliallahu ‘anha isteri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengabarkan kepadanya, katanya; Abu Bakar radliallahu ‘anhu menunggang kudanya dari suatu tempat bernama Sunih hingga sampai dan masuk ke dalam masjid dan dia tidak berbicara dengan orang-orang, lalu dia menemui ‘Aisyah radliallahu ‘anha dan  langsung mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang sudah ditutupi (jasadnya) dengan kain terbuat dari katun. Kemudian dia membuka tutup wajah Beliau lalu Abu Bakar bersimpuh didepan jasad Nabi, lalu menutupnya kembali. Kemudian Abu Bakar menangis dan berkata: “Demi bapak dan ibuku, wahai Nabi Allah, Allah tidak akan menjadikan kematian dua kali kepadamu. Adapun kematian pertama yang telah ditetapkan buatmu itu sudah terjadi”. Berkata, Abu Salamah; telah mengabarkan kepada saya Ibnu ‘Abbas radliallahu ‘anhuma bahwa; Kemudian Abu Bakar radliallahu ‘anhu keluar bertepatan ‘Umar radliallahu ‘anhu sedang berbicara dengan orang banyak. Maka (Abu Bakar radliallahu ‘anhu) berkata, kepada (“Umar radliallahu ‘anhu): “Duduklah!”. Namun ‘Umar tidak mempedulikannya. Lalu Abu Bakar berkata, lagi: “Duduklah!”. Namun ‘Umar tetap tidak mempedulikannya. Akhirnya Abu Bakar bersaksi (tentang kewafatan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam) sehingga orang-orang berkumpul kepadanya dan meninggalkan ‘Umar, lalu Abu Bakar berkata: “Kemudian, barangsiapa dari kalian yang menyembah Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, sungguh Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam sekarang sudah wafat dan barangsiapa dari kalian yang menyembah Allah, sungguh Allah Maha Hidup yang tidak akan pernah mati. Allah Ta’ala telah berfirman: (yang artinya): “Dan Muhammad itu tidak lain kecuali hanyalah seorang rasul sebagaimana telah berlalu (mati) rasul-rasul sebelum dia”..seterusnya hingga akhir ayat … Allah akan memberi balasan pahala bagi orang-orang yang bersyukur” (QS. Ali’Imran 165). Demi Allah, seakan-akan orang-orang belum pernah mengetahui bahwa Allah sudah menurunkan ayat tersebut sampai Abu Bakar radliallahu ‘anhu membacakannya. Akhirnya orang-orang memahaminya dan tidak ada satupun orang yang mendengarnya (wafatnya Nabi) kecuali pasti membacakannya”.
  2. Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Bukair telah menceritakan kepada kami Al Laits dari ‘Uqail dari Ibnu Syihab berkata, telah mengabarkan kepada saya Kharijah bin Zaid bin Tsabit bahwa Ummu Al ‘Ala’ seorang wanita Kaum Anshar yang pernah berbai’at kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengabarkannya bahwa; Ketika Beliau sedang mengundi pembagian sahabat Muhajirin (untuk tinggal di rumah-rumah sahabat Anshar sesampainya mereka di Madinah), maka ‘Utsman bin Mazh’un mendapatkan bagiannya untuk tinggal bersama kami. Akhirnya dia kami bawa ke rumah-rumah kami. Namun kemudian dia menderita sakit   yang   membawa   kepada   kematianya.   Setelah   dia   wafat,   maka   dia dimandikan dan dikafani dengan baju yang dikenakannya. Tak lama kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam datang lalu aku berkata, kepada Beliau: “Semoga rahmat Allah tercurah  atasmu  wahai  Abu  As-Sa’ib  (‘Utsman  bin  Mazh’un).  Dan  persaksianku  atasmu bahwa Allah telah memuliakanmu”. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata: “Dari mana kamu tahu bahwa Allah telah memuliakannya?” Aku jawab: “Demi bapakku, wahai Rasulullah,  siapakah  seharusnya  orang  yang  dimuliakan  Allah  itu?”  Beliau  menjawab: “Adapun dia, telah datang kepadanya Al Yaqin (kematian) dan aku berharap dia berada diatas kebaikan. Demi Allah meskipun aku ini Rasulullah, aku tidak tahu apa yang akan dilakukan-Nya terhadapku”. Dia (Ummu Al ‘Ala’) berkata: “Demi Allah, tidak seorangpun yang aku anggap suci setelah peristiwa itu selamanya”. Telah menceritakan kepada kami Sa’id bin ‘Uqair telah menceritakan kepada kami Al Laits seperti ini. Dan berkata, Nafi’ bin Yazid dari ‘Uqail: “Apa yang akan dilakukan-Nya terhadapnya”. Dan dikuatkan oleh Syu’aib dan ‘Amru bin Dinar dan Ma’mar.
  3. Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Basysyar telah menceritakan kepada kami Ghundar telah   menceritakan   kepada   kami   Syu’bah   berkata;   Aku   mendengar Muhammad bin Al Munkadir berkata; Aku mendengar Jabir bin ‘Abdullah radliallahu ‘anha berkata: Ketika bapakku meninggal dunia aku menyingkap kain penutup wajahnya, maka aku menangis namun orang-orang melarangku menangis sedangkan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak melarangku. Hal ini membuat bibiku Fathimah ikut menangis. Maka Nabi shallallahu   ‘alaihi   wasallam   bersabda:   “Dia  menangis  atau   tidak  menangis,  malaikat senantiaa akan tetap menaunginya sampai kalian mengangkatnya”. Hadits ini dperkuat pula oleh Ibnu Juraij telah mengabarkan kepada saya Muhammad bin Al Munkadir bahwa dia mendengar Jabir radliallahu ‘anha.

Bab:  Orang  Yang  Memberitahukan  Kematian  Seseorang  Kepada  Keluarganya Sendiri

  1. Telah menceritakan kepada kami Isma’il berkata, telah menceritakan kepada saya Malik dari Ibnu Syihab dari Sa’id bin Al Musayyab dari Abu Hurairah radliallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengumumkan kematian An-Najasyi pada hari kematiannya kemudian Beliau keluar menuju tempat shalat lalu Beliau membariskan shaf kemudian takbir empat kali.
  2. Telah menceritakan kepada kami Abu Ma’mar telah menceritakan kepada kami ‘Abdul Warits telah menceritakan kepada kami Ayyub dari Humaid bin Hilal dari Anas bin Malik radliallahu ‘anhu berkata: Telah bersabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam: “Bendera perang dipegang oleh Zaid lalu dia terbunuh kemudian dipegang oleh Ja’far lalu dia terbunuh kemudian dipegang oleh  ‘Abdullah  bin  Rawahah  namun  diapun  terbunuh,  Dan  nampak kedua mata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berlinang. Akhirnya bendera dipegang oleh Khalid bin Al Walid tanpa menunggu perintah, namun akhirnya kemenangan diraihnya”.

Bab: Meminta Idzin Untuk Mengurus Jenazah

  1. Telah menceritakan kepada kami Muhammad telah mengabarkan kepada kami Abu Mu’awiyah dari Abu  Ishaq  Asy-Syaibaniy  dari  Asy-Sya’biy  dari  Ibnu  ‘Abbas  radliallahu ‘anhuma  berkata:  “Bila  ada  orang  yang  meninggal  dunia  biasanya  Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wasallam melayatnya. Suatu hari ada seorang yang meninggal dunia di malam hari kemudian dikuburkan malam itu juga. Keesokan paginya orang-orang memberitahu Beliau. Maka  Beliau  bersabda:  “Mengapa  kalian  tidak  memberi  tahu  aku?”  Mereka  menjawab: “Kejadiannya  malam  hari,  kami  khawatir  memberatkan  anda”.  Maka  kemudian  Beliau mendatangi kuburan orang itu lalu mengerjakan shalat untuknya”.

Bab: Keutamaan Shabar Atas Kematian Anak

  1. Telah menceritakan kepada kami Abu Ma’mar telah menceritakan kepada kami ‘Abdul Warits telah menceritakan kepada kami ‘Abdul ‘Aziz dari Anas radliallahu ‘anhu berkata; Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda: “Tidak seorang muslim pun yang ditinggal wafat oleh tiga orang anaknya yang belum baligh kecuali akan Allah masukkan dia ke dalam surga karena limpahan rahmatNya kepada mereka”.
  2. Telah menceritakan kepada kami Muslim telah menceritakan kepada kami Syu’bah telah menceritakan kepada kami ‘Abdurrahman bin Al Ashbahaaniy dari Dzakwan dari Abu Sa’id radliallahu ‘anhu bahwa para wanita pernah berkata, kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam; “Sediakanlah satu  hari  untuk  kami!”.  Maka  kemudian  Beliau  memberikan pelajaran untuk mereka dan diantaranya bersabda: “Siapa saja dari wanita yang ditinggal mati oleh tiga orang anaknya melainkan mereka akan menjadi hijab (pembatas) dari api neraka”. Seorang wanita berkata: “Bagaimana kalau ditinggal mati oleh dua orang anak? Beliau menjawab: “Dan juga oleh dua orang”. Dan berkata, Syarik dari Al Ashbahaaniy telah menceritakan kepada saya Abu Shalih dari Abu Sa’id dan Abu Hurairah radliallahu ‘anhu dari Nabi  shallallahu  ‘alaihi  wasallam.  Berkata,  Abu  Hurairah  radliallahu  ‘anhu:  “Bila  mereka belum baligh.”
  3. Telah menceritakan kepada kami ‘Ali telah menceritakan kepada kami Sufyan berkata; aku mendengar Az Zuhriy dari Sa’id bin Al Musayyab dari Abu Hurairah radliallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Seorang muslim yang ditinggal wafat oleh tiga orang anaknya, tidak bakalan masuki neraka selain sebatas melakukan sumpah Allah”. Berkata, Abu ‘Abdullah: Maksudnya melakukan sumpah Allah yang tersebut dalam Firman- Nya yang artinya; “Tidaklah dari kalian melainkan pasti akan melewatinya (neraka) (QS. Maryam 71) “.

Bab: Ucapan Seseorang Kepada Wanita Yang Berada di Qubur; “Bershabarlah”

  1. Telah menceritakan kepada kami Adam telah menceritakan kepada kami Syu’bah telah menceritakan kepada kami Tsabit dari Anas bin Malik radliallahu ‘anhu berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam  berjalan  melewati  seorang  wanita  yang  sedang  berada  di kuburan dalam keadaan menangis. Maka Beliau berkata;: “Bertakwalah kamu kepada Allah dan bersabarlah”.

Bab: Mamandikan Mayat dan Mewudlukannya dengan Air Yang Dicampur dengan Daun Bidara

  1. Telah menceritakan kepada kami Isma’il bin ‘Abdullah berkata, telah menceritakan kepada saya Malik dari Ayyub As-Sakhtiyaniy dari Muhammad bin Sirin dari Ummu ‘Athiyyah seorang wanita Anshar radliallahu ‘anha berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menemui kami saat kematian puteri kami, lalu bersabda: “Mandikanlah dengan mengguyurkan air yang dicampur dengan daun bidara tiga kali, lima kali atau lebih dari itu jika kalian anggap perlu dan jadikanlah yang terakhirnya dengan kafur barus (wewangian) atau yang sejenis. Dan bila kalian telah selesai beritahu aku”. Ketika kami telah selesai kami memberi tahu Beliau. Maka kemudian Beliau memberikan kain Beliau kepada kami seraya berkata: “Pakaikanlah ini kepadanya”. Maksudnya pakaian Beliau”.

Bab: Disunnahkan Ketika Memandikan Mayat Menguyurnya dengan Bilangan Ganjil

  1. Telah menceritakan kepada kami Muhammad telah menceritakan kepada saya ‘Abdul Wahhab Ats-Tsaqafiy dari Ayyub dari Muhammad dari Ummu ‘Athiyyah radliallahu ‘anha berkata: Rasulullah shallallahu   ‘alaihi   wasallam   menemui   kami   ketika   kami   akan memandikan puteri. Beliau lalu bersabda: “Mandikanlah dengan mengguyurkan air yang dicampur dengan daun bidara tiga kali, lima kali atau lebih dari itu jika kalian anggap perlu dan  jadikanlah  yang  terakhirnya  dengan  kafur barus  (wewangian).  Dan  bila  kalian  telah selesai beritahu aku”. Ketika kami telah selesai kami memberi tahu Beliau. Maka kemudian Beliau memberikan kain Beliau kepada kami seraya berkata: “Pakaikanlah ini kepadanya”. Berkata, Ayyub telah menceritakan kepada saya Hafshah seperti hadits Muhammad ini dimana pada hadits Hadshah berbunyi: “Mandikanlah dengan siraman air berjumlah ganjil”. Pada  hadits  itu  juga  ada  disebutkan:  “Tiga,  lima  atau  tujuh  kali  siraman”.  Dan  juga didalamnya ada berbunyi: “Mulailah dengan anggota badan yang kanan dan badan anggota wudhu'”. Pada hadits itu juga ada disebutkan bahwa Ummu ‘Athiyyah berkata: “Kami menyisir rambut puteri Beliau dengan tiga kepang”.

Bab: Dalam Memandikan Mayat, Hendaknya Memulainya dari Anggota Badan Yang Kanan

  1. Telah menceritakan kepada kami ‘Ali bin ‘Abdullah telah menceritakan kepada kami Isma’il bin Ibrahim  telah  menceritakan  kepada kami  Khalid  dari  Hafshah  binti  Sirin  dari Ummu ‘Athiyyah radliallahu ‘anhu berkata; Telah bersabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ketika pemandian puteri Beliau yang meninggal dunia: “Mulailah dengan anggota badan yang kanan dan anggota wudhu’ dari badan”.

Bab: Mendahulukan Anngota Badan Wudlu’

  1. Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Musa telah menceritakan kepada kami Waki’ dari Sufyan dari Khalid Al Hadza`i dari Hafshah binti Sirin dari Ummu ‘Athiyyah radliallahu ‘anhu berkata; Telah bersabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkenaan pemandian puteri Beliau  yang  meninggal  dunia:  “Mulailah  dengan  anggota  badan  yang kanan dan anggota wudhu’ dari badan”.

Bab: Bolehkan Mayat Wanita Dikafani Dengan Kain Sarung Laki-laki

  1. Telah menceritakan kepada kami ‘Abdurrahman bin Hammad telah mengabarkan kepada kami Ibnu ‘Aun dari Muhammad dari Ummu ‘Athiyyah radliallahu ‘anhu berkata: Ketika puteri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam wafat Beliau berkata, kepada kami: “Mandikanlah ia (dengan mengguyurkan air) tiga kali, lima kali atau lebih dari itu jika kalian anggap perlu dan bila kalian telah selesai beritahu aku”. Ketika kami telah selesai kami memberi tahu Beliau. Maka kemudian Beliau memberikan kain Beliau kepada kami seraya berkata: “Pakaikanlah ini kepadanya”.

Bab: Menjadikan Air Yang Dicampur Kapur Barus Sebagai Air Guyuran Terakhir

  1. Telah menceritakan kepada kami Hamid bin ‘Umar telah menceritakan kepada saya Hammad bin Zaid  dari  Ayyub  dari  Muhammad  dari  Ummu  ‘Athiyyah  radliallahu  ‘anha berkata: Ketika salah satu puteri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam wafat, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam keluar seraya berkata: “Mandikanlah dengan mengguyurkan air yang dicampur dengan daun bidara tiga kali, lima kali atau lebih dari itu jika kalian anggap perlu dan jadikanlah yang terakhirnya dengan kafur barus (wewangian) atau yang sejenis dari kapur barus (kamper). Dan bila kalian telah selesai beritahu aku”. Berkata, Ummu ‘Athiyyah radliallahu ‘anha: “Ketika kami telah selesai, kami memberi tahu Beliau, kemudian Beliau memberikan kain, Beliau kepada kami seraya berkata: “Pakaikanlah ini kepadanya”. Dan dari Ayyub dari Hafshah dari Ummu ‘Athiyyah radliallahu ‘anha dan dia berkata, bahwa Beliau bersabda: “Mandikanlah ia tiga kali, lima kali, tujuh kali atau lebih dari itu jika kalian anggap perlu “. Berkata, Hafshah telah berkata, Ummu ‘Athiyyah radliallahu ‘anha: “Kami kepang rambut kepala puteri Beliau dengan tiga kepang”.

Bab: Menyisir Rambut Mayat Wanita

  1. Telah menceritakan kepada kami Ahmad telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Wahb telah mengabarkan kepada kami Ibnu Juraij berkata, Ayyub; Aku mendengar Hafshah binti Sirin berkata, telah menceritakan kepada kami Ummu ‘Athiyyah radliallahu ‘anha; Bahwa mereka menjadikan (rambut) puteri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tiga ikatan kemudian mereka melepaskannya lalu aku membasuhnya kemudian mereka jadikan kembali menjadi tiga ikatan (kepang) “.

Bab: Bagaimana Cara Membungkus (mengkafani) Mayat

  1. Telah menceritakan kepada kami Ahmad telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Wahb telah mengabarkan kepada kami Ibnu Juraij bahwa Ayyub yang mengabarkan kepadanya berkata; Aku mendengar Ibnu Sirin berkata: Telah datang Ummu ‘Athiyyah radliallahu ‘anha seorang diantara wanita Anshar yang pernah berbai’at kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sekembalinya dari Bashrah untuk menemui anaknya disana, namun dia tidak menemukannya lalu dia menceritakan kepada kami, katanya: “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menemui kami saat kami sedang memandikan putri Beliau yang wafat lalu berkata: “Mandikanlah ia dengan mengguyurkan air yang dicampur dengan daun bidara tiga kali, lima kali atau lebih dari itu jika kalian anggap perlu dan jadikanlah yang terakhirnya dengan kafur barus dan bila kalian telah selesai beritahu aku”. Berkata, Ummu ‘Athiyyah radliallahu ‘anha: “Ketika kami telah selesai, Beliau kemudian memberikan kain Beliau kepada kami seraya berkata: “Pakaikanlah ini kepadanya”. Dan Beliau tidak memerintahkan lebih dari itu dan aku sendiri sudah tidak ingat puteri Beliau mana yang meninggal saat itu”. Ayyub berpendapat memakaikan kain maksudnya adalah menutupi seluruh badan mayat perempuan. Dan begitu juga bahwa Ibnu Sirin memerintahkan agar untuk jenazah perempuan   ditutupi   selluruh   bagian   badannya   bukan   hanya   bagian bawahnya.

Bab: Apakah Rambut Mayat Wanita Harus Dikepang Tiga?

  1. Telah menceritakan kepada kami Qabishah telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Hisyam dari Ummu Al Hudzail dari Ummu ‘Athiyyah radliallahu ‘anha berkata: “Kami menjalin (rambut) keala putri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjadi tiga ikatan (kepang) “. Berkata, Waki’ berkata, Sufyan: “Diikat kepang dan diketakkan di belakangnya”.

Bab: Meletakkan Kepangan Rambut Mayat Wanita Ke Belakang

  1. Telah menceritakan kepada kami Musaddad telah menceritakan kepada saya Yahya bin Sa’id dari Hisyam bin Hassan berkata, telah menceritakan kepada kami Hafshah dari Ummu ‘Athiyyah radliallahu ‘anha berkata: Ketika salah satu puteri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam wafat, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mendatangi kami seraya berkata: “Mandikanlah menggunakan daun bidara dengan ganjil, tiga kali, lima kali atau lebih dari itu jika kalian anggap perlu dan jadikanlah yang terakhirnya dengan kafur barus (wewangian) atau yang sejenis dari kapur barus (kamper). Dan bila kalian telah selesai beritahu aku”. Ketika kami telah selesai, kami memberi tahu Beliau, kemudian Beliau memberikan kain Beliau kepada kami. Maka kami menyisir (dan menguraikan lalu mengepangnya) rambut kepalanya menjadi tiga kepang dan kami letakkan di belakangnya”.

Bab: Kain Berwarna Putih Untuk Kain Kafan

  1. Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Muqatil telah mengabarkan kepada kami ‘Abdullah bin Al Mubarak telah mengabarkan kepada kami Hisyam bin ‘Urwah dari bapaknya dari ‘Aisyah radliallahu ‘anha bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam (ketika wafat) dikafani jasadnya dengan tiga helai kain yang sangat putih terbuat dari katun dari negeri Yaman dan tidak dikenakan padanya baju dan serban (tutup kepala).

Bab: Mengkafani Dengan Dua Potong Kain

  1. Telah menceritakan kepada kami Abu An-Nu’man telah menceritakan kepada kami Hammad bin Zaid  dari  Ayyub  dari  Sa’id  bin  Jubair  dari  Ibnu  ‘Abbas  radliallahu  ‘anhum berkata; “Ada seorang laki-laki ketika sedang wukuf di ‘Arafah terjatuh dari hewan tunggangannya sehingga ia terinjak” atau dia Ibnu ‘Abbas radliallahu ‘anhuma berkata: “Hingga orang itu mati seketika”. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata: “Mandikanlah dia dengan air yang dicampur daun bidara dan kafanilah dengan dua helai kain dan janganlah diberi wewangian dan jangan pula diberi tutup kepala (serban) karena dia nanti akan dibangkitkan pada hari qiyamat dalam keadaan bertalbiyyah”.

Bab: Memberi Wangi-Wangian Pada Mayat

  1. Telah menceritakan kepada kami Qutaibah telah menceritakan kepada kami Hammad dari Ayyub dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu ‘Abbas radliallahu ‘anhuma berkata; “Ada seorang laki-laki yang sedang wukuf di ‘Arafah bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam lalu dia terjatuh dari hewan tunggangannya sehingga ia terinjak” atau dia Ibnu ‘Abbas radliallahu ‘anhuma berkata: “Hingga orang itu mati seketika”. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata: “Mandikanlah dia dengan air yang dicampur daun bidara dan kafanilah dengan dua helai kain dan janganlah diberi wewangian dan jangan pula diberi tutup kepalanya (serban) karena dia nanti akan dibangkitkan pada hari qiyamat dalam keadaan bertalbiyyah”.

Bab: Bagaimana Cara Mengkafani Orang Yang Meninggal Dunia Dalam Keadaan Sedang Ihram?

  1. Telah menceritakan kepada kami Abu An-Nu’man telah mengabarkan kepada kami Abu ‘Awanah dari Abu Bisyir dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu ‘Abbas Ram; Bahwa ada seorang laki-laki yang sedang berihram dijatuhkan oleh untanya yang saat itu kami sedang bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata: “Mandikanlah dia dengan air yang dicampur daun bidara dan kafanilah dengan dua helai kain dan janganlah diberi wewangian dan jangan pula diberi tutup kepala (serban) karena dia nanti akan dibangkitkan pada hari qiyamat dalam keadaan bertalbiyyah”.
  2. Telah menceritakan  kepada  kami  Musaddad  telah  menceritakan  kepada  kami Hammad bin Zaid dari ‘Amru dan Ayyub dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu ‘Abbas radliallahu ‘anhu berkata; “Ada seorang laki-laki ketika sedang wukuf bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam di ‘Arafah terjatuh dari hewan tunggangannya”. Berkata, Ayyub: “Maka hewannya itu mematahkan lehernya”. Dan berkata, ‘Amru: “Maka hewannya itu menginjaknya”. Lalu orang itu meninggal. Sehingga ia terinjak” atau dia Ibnu ‘Abbas radliallahu ‘anhuma berkata: “Hingga orang itu mati seketika”. Maka Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam berkata: “Mandikanlah dia dengan air yang dicampur daun bidara dan kafanilah dengan dua helai kain dan janganlah diberi wewangian dan jangan pula diberi tutup kepala (serban) karena dia nanti  akan  dibangkitkan  pada hari qiyamat…Menurut Ayyub berkata: “sedang  membaca talbiyyah”. Dan menurut ‘Amru: “sebagai orang yang bertalbiyyah”.

Bab: Mengkafani Dengan Baju Gamis Yang Dijahit atau Tidak

  1. Telah menceritakan kepada kami Musaddad berkata, telah menceritakan kepada kami Yahya bin Sa’id  dari  ‘Ubaidullah  berkata,  telah  menceritakan  kepada  saya  Nafi’  dari Ibnu’Umar radliallahu ‘anhuma bahwa ketika ‘Abdullah bin Ubay wafat, anaknya datang menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam lalu berkata: “Wahai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam: “Berikanlah kepadaku baju anda untuk aku gunakan mengafani (ayahku) dan shalatlah untuknya serta mohonkanlah ampunan baginya”. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memberikan bajunya kepadanya lalu berkata: “izinkanlah aku untuk menshalatkannya”. Ketika Beliau hendak menshalatkannya tiba-tiba ‘Umar bin Al Khaththab radliallahu ‘anhu datang menarik Beliau seraya berkata: “Bukankah Allah telah melarang anda untuk menshalatkan orang munafiq?” Maka Beliau bersabda: “Aku berada pada dua pilihan dari firman Allah Ta’ala (QS. At-Taubah ayat 80, yang artinya): “Kamu mohonkan ampun buat mereka atau kamu tidak mohonkan ampun buat mereka (sama saja bagi mereka). Sekalipun kamu memohonkan ampun buat mereka sebanyak tujuh puluh kali, Allah sekali-kali tidak akan mengampuni mereka”. Maka Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam menshalatkannya.  Lalu  turunlah  ayat:  (QS.  At-Taubah  ayat  84  yang  artinya):  “Janganlah kamu shalatkan seorangpun yang mati dari mereka selamanya dan janganlah kamu berdiri di atas kuburannya”.
  2. Telah menceritakan kepada kami Malik bin Isma’il telah menceritakan kepada kami Ibnu ‘Uyainah dari ‘Amru bahwa dia mendengar Jabir radliallahu ‘anhu berkata: “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mendatangi (jenazah) ‘Abdullah bin Ubay setelah dimasukkan dalam kubur lalu Beliau mengeluarkannya, memberkahi dengan ludahnya dan memakaikan dengan baju Beliau kepadanya”.

Bab: Kain Kafan Tanpa Baju

  1. Telah menceritakan kepada kami Abu Nu’aim telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Hisyam dari ‘Urwah dari ‘Aisyah radliallahu ‘anha berkata: Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam (ketika wafat) dikafani jasadnya dengan tiga helai kain yang sangat putih terbuat dari katun dari dan tidak dikenakan padanya baju dan serban (tutup kepala).
  2. Telah menceritakan kepada kami Musaddad telah menceritakan kepada kami Yahya dari Hisyam telah menceritakan kepadaku bapaknya dari ‘Aisyah radliallahu ‘anha bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam (ketika wafat) dikafani jasadnya dengan tiga helai kain dan tidak dikenakan padanya baju dan serban (tutup kepala).

Bab: Kain Kafan Tanpa Sorban

  1. Telah menceritakan kepada kami Isma’il berkata, telah menceritakan kepada saya Malik dari Hisyam bin ‘Urwah dari Bapaknya dari ‘Aisyah radliallahu ‘anha bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam (ketika wafat) dikafani jasadnya dengan tiga helai kain yang sangat putih terbuat dari katun dan tidak dikenakan padanya baju dan serban (tutup kepala).

Bab: Membeli Kain Kafan dengan Harta Peninggalan Mayat

  1. Telah menceritakan   kepada   kami   Ahmad   bin   Muhammad   Al   Makkiy   telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Sa’ad dari Saad dari bapaknya ia berkata; Pada suatu hari ‘Abdurrahman bin ‘Auf dihidangkan makanan kepadanya, lalu ia berkata, Mus’ab bin Umair telah terbunuh. Ia adalah orang yang lebih baik dariku, namun saat (hendak dikafani) tidak ada kain kafan yang bisa membungkusnya kecuali hanyalah burdah (kain bergaris). Dan Hamzah  terbunuh  atau  orang  lain  yang  lebih  baik  dariku  lalu  tidak  ada  kain  yang  bisa dijadikan kafan untuknya kecuali burdah. Aku khawatir jika kebaikan-kebakan kita disegerakan didunia ini. Lalu ia mulai menangis.

Bab: Jika Tidak Ada Kain Kafan Kecuali Sehelai Kain

  1. Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Muqatil telah mengabarkan kepada kami ‘Abdullah telah  mengabarkan  kepada  kami  Syu’nah  dari  Sa’ad  bin  Ibrahim  dari bapaknya Ibrahim bahwa; “Pada suatu hari ‘Abdurrahman bin ‘Auf dihidangkan makanan kepadanya saat itu ia sedang berpuasa. Lalu ia berkata, Mus’ab bin Umair telah terbunuh. Ia adalah orang yang lebih baik dariku, namun saat (hendak dikafani) tidak ada kain kafan yang bisa membungkusnya kecuali hanyalah burdah (kain bergaris) yang apabila kepalanya akan ditutup, kakinya terbuka (karena kain yang pendek) dan bila kakinya yang hendak ditutup kepalanyalah yang terbuka. Dan aku melihat dia berkata, pula; “Hamzah pun atau orang lain yang lebih baik dariku telah terbunuh. Kemudian setelah itu dunia telah dibukakan buat kami atau katanya kami telah diberi kenikmatan dunia dan sungguh kami khawatir bila kebaikan- kebaikan kami disegerakan balasannya buat kami (berupa kenikmatan dunia). Lalu ia pun mulai menangis.

Bab: Jika Tidak Ada Kain Kafan Kecuali Sehelai Kain Yang Hanya Dapat Menutupi Kepala atau Kaki Mayat, Maka Yang Ditutup Adalah Kepalanya

  1. Telah menceritakan kepada kami ‘Umar bin Hafsh bin Ghiyats telah menceritakan kepada kami bapakku telah menceritakan kepada kami Al A’masy telah menceritakan kepada kami Syaqiq telah menceritakan kepada kami Khabab radliallahu ‘anhu berkata; Kami berhijrah bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dengan hanya mengharapkan ridha Allah dan kami telah mendapatkan pahala di sisi Allah. Lalu diantara kami ada yang meninggal lebih dahulu sebelum menikmati pahalanya sedikitpun (di dunia ini), diantaranya adalah Mus’ab bin Umair. Dan diantara kami ada yang buah (perjuangannya) sudah masak lalu dia memetiknya dengan terbunuh sebagai syahid di medan Perang Uhud namun kami tidak mendapatkan kain untuk mengafaninya kecuali burdah (kain bergaris) yang kain tersebut bila kami gunakan untuk menutup kepalanya, kakinya terbuka dan bila kakinya yang hendak kami tutup kepalanyalah yang terbuka. Maka kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan kami untuk menutup kepalanya dengan kain tersebut sedangkan kakinya kami tutup dengan dedaunan”.

Bab:  Orang  Yang  Mempersiapkan Kain  Untuk  Kafan  di  Zaman  Nabi  Shallallahu ‘alaihi wa salam dan Beliau Tidak Mengingkarinya

  1. Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Maslamah telah menceritakan kepada kami Ibnu Abu Hazim dari bapaknya dari Sahal radliallahu ‘anhu bahwa ada seorang wanita mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam  dengan membawa  burdah  yang pinggirnya berjahit. (Sahal) berkata; “Tahukah kamu apa yang dimaksud dengan burdah?” Mereka menjawab: “Bukankah itu kain selimut?” Dia berkata: “Ya benar”. Wanita itu berkata: “Aku menjahitnya dengan tanganku sendiri, dan aku datang untuk memakaikannya kepada anda”. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengambilnya karena Beliau memerlukannya. Kemudian Beliau menemui kami dengan mengenakan kain tersebut. Diantara kami ada seseorang yang tertarik dengan kain tersebut lalu berkata: “Alangkah bagusnya kain ini”. Orang-orang berkata, kepada orang itu: “Mengapa kamu memuji apa yang dipakai oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam lalu kamu memintanya padahal kamu tahu bahwa Beliau tidak akan menolak (permintaan orang). Orang itu menjawab: “Demi Allah, sungguh aku tidak memintanya untuk aku pakai. Sesungguhnya aku memintanya untuk aku jadikan sebagai kain kafanku”. Sahal berkata: “Akhirnya memang kain itu yang jadi kain kafannya”.

Bab: Larangan Mengantar Jenazah Bagi Wanita

  1. Telah menceritakan kepada kami Qabishah bin ‘Uqbah telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Khalid Al Hadza’ dari Ummu AL Hudzail dari Ummu ‘Athiyyah radliallahu ‘anha berkata: “Kami  dilarang  mengantar  jenazah  namun  Beliau  tidak  menekankan  hal tersebut kepada kami”.

Bab: Berkabungnya Wanita Atas Kematian Selain Suaminya

  1. Telah menceritakan kepada kami Musaddad telah menceritakan kepada kami Bisyir bin Al Mufadhdhal telah menceritakan kepada kami Salamah bin ‘Alqamah dari Muhammad bin Sirin berkata: Telah wafat anak Ummu ‘Athiyyah radliallahu ‘anha. Pada hari ketiga (dari kematian anaknya) dia meminta wewangian, lalu memakainya kemudian berkata: “Kami dilarang berkabung melebihi tiga hari kecuali bila ditinggal mati suaminya”.
  2. Telah menceritakan kepada kami Al Humaidiy telah menceritakan kepada kami Sufyan telah menceritakan kepada kami Ayyub bin Musa berkata, telah mengabarkan kepada saya Humaid bin Nafi’ dari Zainab binti Abu Salamah berkata; Ketika kabar kematian Abu Sufyan sampai dari negeri Syam, Ummu Habibah radliallahu ‘anha meminta wewangian pada hari ketiga lalu memakainya untuk bagian sisi badannya dan lengannya dan berkata; Sungguh bagiku ini sudah cukup seandainya aku tidak mendengar Nabi Shallallahu’alaihiwasallam bersabda: “Tidak halal bagi wanita yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir untuk berkabung melebihi tiga hari kecuali bila ditinggal mati suaminya yang saat itu dia boleh berkabung sampai empat bulan sepuluh hari”.
  3. Telah menceritakan kepada kami Isma’il telah menceritakan kepada saya Malik dari ‘Abdullah bin Abu Bakar bin Muhammad bin ‘Amru bin Hazm dari Humaid bin Nafi’ dari Zainab binti Abu  Salamah  bahwa  dia  mengabarkannya,  katanya;  Aku  pernah  menemui Ummu Habibah radliallahu ‘anha, isteri Nabi Shallallahu’alaihiwasallam. Lalu dia berkata; Aku mendengar Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam bersabda: “Tidak halal bagi wanita yang beriman  kepada  Allah  dan  Hari  Akhir  untuk  berkabung  melebihi  tiga  hari  kecuali  bila ditinggal mati suaminya yang saat itu dia boleh berkabung sampai empat bulan sepuluh hari”. Lalu aku menemui Zainab binti Jahsy ketika saudara laki-lakinya meninggal dunia. Saat itu dia meminta minyak wangi lalu memakainya kemudian berkata, “Aku sebenarnya tidak memerlukan minyak wangi seandainya aku tidak mendengar Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam bersabda dari atas mimbar: tidak halal bagi seorang wanita yang beriman kepada Allah dan hari akhir berkabung atas mayit melebihi tiga hari selain karena kematian suaminya, boleh hingga empat bulan sepuluh hari.

Bab: Ziarah Qubur

  1. Telah menceritakan kepada kami Adam telah menceritakan kepada kami Syu’bah telah menceritakan kepada kami Tsabit dari Anas bin Malik radliallahu ‘anhu berkata,: Nabi Shallallahu’alaihiwasallam pernah berjalan melewati seorang wanita yang sedang menangis di sisi kubur. Maka Beliau berkata,: “Bertakwalah kepada Allah dan bersabarlah”. Wanita itu berkata,: “Kamu tidak  mengerti  keadaan  saya, karena  kamu  tidak  mengalami  mushibah seperti yang aku alami”. Wanita itu tidak mengetahui jika yang menasehati itu Nabi Shallallahu’alaihiwasallam. Lalu diberi tahu: “Sesungguhnya orang tadi adalah Nabi Shallallahu’alaihiwasallam. Spontan wanita tersebut mendatangi rumah Nabi Shallallahu’alaihiwasallam namun dia tidak menemukannya. Setelah bertemu dia berkata; “Maaf, tadi aku tidak mengetahui anda”. Maka Beliau bersabda: “Sesungguhnya sabar itu pada kesempatan pertama (saat datang mushibah) “.

Bab:  Sabda  Nabi  Shallallahu  ‘alaihi  wa   salam  tentang  Mayat  Akan  Disiksa Disebabkan Tangisan Keluarganya

  1. Telah menceritakan kepada kami ‘Abdan dan Muhammad keduanya berkata, telah mengabarkan kepada kami ‘Abdullah telah mengabarkan kepada kami ‘Ashim bin Sulaiman dari Abu ‘Utsman berkata, telah menceritakan kepada saya Usamah bin Zaid radliallahu ‘anhuma berkata; Putri Nabi Shallallahu’alaihiwasallam datang untuk menemui Beliau dan mengabarkan bahwa; “Anakku telah meninggal, maka datanglah kepada kami”. Maka Nabi Shallallahu’alaihiwasallam memerintahkannya untuk menyampaikan salam lalu bersabda: “Sesungguhnya milik Allah apa yang diambilNya dan apa yang diberiNya. Dan segala sesuatu disisiNya sesudah ditentukan  ajalnya,  maka  bersabarlah  engkau  karenanya  dan mohonkanlah pahala darinya.” Kemudian dia datang lagi kepada Beliau dan meminta dengan sangat agar Beliau bisa datang. Maka Beliau berangkat, bersamanya ada Sa’ad bin ‘Ubadah, Mu’adz bin Jabal, Ubay bin Ka’ab, Zaid bin Tsabit dan beberapa orang lain. Kemudian bayi tersebut diserahkan kepada Nabi Shallallahu’alaihiwasallam dan hati Beliau nampak berguncang (karena bersedih). Aku menduga dia berkata,: Seakan dia seperti geriba yang kosong. Maka mengalirlah air mata Beliau. Sa’ad berkata,: “Wahai Rasulullah, mengapakah engkau menangis? Beliau berkata,: “Inilah rahmat yang Allah berikan kepada hati hamba- hambaNya  dan  sesungguhnya Allah  akan  merahmati diantara hamba-hambaNya  mereka yang saling berkasih sayang”.
  2. Telah menceritakan  kepada  kami  ‘Abdullah  bin  Muhammad  telah  menceritakan kepada kami Abu ‘Amir telah menceritakan kepada kami Fulaih bin Sulaiman dari Hilal bin ‘Ali dari Anas bin Malik radliallahu ‘anhu berkata,: “Kami menyaksikan pemakaman puteri Nabi Shallallahu’alaihiwasallam.” Dia (Anas bin Malik radliallahu ‘anhu) berkata,: “Dan saat itu Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam duduk disisi liang lahad. Dia (Anas bin Malik radliallahu ‘anhu) berkata,: Lalu aku melihat kedua mata Beliau mengucurkan air mata”. Dia (Anas bin Malik radliallahu ‘anhu) berkata,: Maka Beliau bertanya: “Siapakah diantara kalian yang  malam  tadi  tidak  berhubungan  (dengan  isterinya)?”.  Berkata  Abu  Tholhah:  “Aku”. Beliau berkata,: “Turunlah engkau ke lahad!”. Dia (Anas bin Malik radliallahu ‘anhu) berkata,: “Maka Beliaupun ikut turun kedalam kuburnya”.
  3. Telah menceritakan kepada kami ‘Abdan telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah telah mengabarkan kepada  kami  Ibnu  Juraij  berkata,  telah  mengabarkan  kepada  saya ‘Abdullah bin ‘ubaidullah bin Abu Mulaikah berkata; “Telah wafat isteri ‘Utsman radliallahu ‘anha di Makkah lalu kami datang menyaksikan (pemakamannya). Hadir pula Ibnu ‘Umar dan Ibnu ‘Abbas radliallahu ‘anhum dan saat itu aku duduk diantara keduanya”. Atau katanya: “Aku duduk dekat salah satu dari keduanya”. Kemudian datang orang lain lalu duduk di sampingku. Berkata, Ibnu ‘Umar radliallahu ‘anhuma kepada ‘Amru bin ‘Utsman: “Bukankan dilarang menangis dan sungguh Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam telah bersabda: “Sesungguhnya mayat pasti akan disiksa disebabkan tangisan keluarganya kepadanya?”. Maka Ibnu ‘Abbas radliallahu ‘anhuma berkata,: “Sungguh ‘Umar radliallahu ‘anhu pernah mengatakan sebagiannya dari hal tadi”. Kemudian dia menceritakan, katanya: “Aku pernah bersama ‘Umar radliallahu ‘anhu dari kota Makkah hingga kami sampai di Al Baida, di tempat itu dia melihat ada orang yang menunggang hewan tunggangannya di bawah pohon. Lalu dia berkata,: “Pergi dan lihatlah siapa mereka yang menunggang hewan tunggangannya itu!”. Maka  aku  datang  melihatnya  yang  ternyata  dia  adalah  Shuhaib.  Lalu  aku  kabarkan kepadanya. Dia (“Umar) berkata,: “Panggillah dia kemari!”. Aku kembali menemui Shuhaib lalu aku berkata: “Pergi dan temuilah Amirul Mu’minin”. Kemudian hari ‘Umar mendapat musibah dibunuh orang, Shuhaib mendatanginya sambil menangis sambil terisak berkata,: Wahai saudaraku, wahai sahabat”. Maka ‘Umar berkata,: “Wahai Shuhaib, mengapa kamu menangis untukku padahal Nabi Shallallahu’alaihiwasallam telah bersabda: “Sesungguhnya mayat pasti akan disiksa disebabkan sebagian tangisan keluarganya “. Berkata, Ibnu ‘Abbas radliallahu ‘anhuma: “Ketika ‘Umar sudah wafat aku tanyakan masalah ini kepada ‘Aisyah radliallahu ‘anha, maka dia berkata,: “Semoga Allah merahmati ‘Umar. Demi Allah, tidaklah Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam pernah berkata seperti itu, bahwa Allah pasti akan menyiksa  orang  beriman  disebabkan  tangisan  keluarganya  kepadanya,  akan  tetapi  yang benar Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam bersabda: “Sesungguhnya Allah pasti akan menambah siksaan buat orang kafir disebabkan tangisan keluarganya kepadanya”. Dan cukuplah buat kalian firman Allah) dalam AL Qur’an (QS. An-Najm: 38) yang artinya: “Dan tidaklah seseorang memikul dosa orang lain”. Ibnu ‘Abbas radliallahu ‘anhu berkata seketika itu pula: Dan Allahlah yang menjadikan seseorang tertawa dan menangis” (QS. Annajm 43). Berkata  Ibnu  Abu  Mulaikah: “Demi Allah, setelah itu Ibnu ‘Umar radliallahu ‘anhu tidak mengucapkan sepatah kata pun”.
  4. Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Yusuf telah mengabarkan kepada kami Malik dari ‘Abdullah bin Abu Bakar dari bapaknya dari ‘Amrah binti ‘Abdurrahman ia mengabarkannya bahwasanya ia mendengar ‘Aisyah radliallahu ‘anha isteri Nabi Shallallahu’alaihiwasallam berkata, Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam pernah melewati (kubur) seorang wanita yahudi yang suaminya menangisinya, lalu Beliau bersabda: “Mereka sungguh menangisinya padahal ia sedang diadzab dikuburnya”.
  5. Telah menceritakan kepada kami Isma’il bin Khalil telah menceritakan kepada kami ‘Ali bin Mushir telah menceritakan kepada kami Abu Ishaq dia adalah dari suku Asy-Syaibaniy dari Abu Burdah dari bapaknya berkata; Ketika ‘Umar radliallahu ‘anhu terbunuh Shuhaib berkata, sambil menangis: “Wahai saudaraku”. Maka ‘Umar radliallahu ‘anhu berkata,: Bukankah kamu mengetahui bahwa Nabi Shallallahu’alaihiwasallam telah bersabda “Sesungguhnya mayat pasti akan disiksa disebabkan tangisan orang yang masih hidup”.

Bab: Larangan Meratapi Mayat

  1. Telah menceritakan kepada kami Abu Nu’aim telah menceritakan kepada kami Sa’id bin ‘Ubaid dari ‘Ali bin Rabi’ah dari Al Mughirah radliallahu ‘anhu berkata; Aku mendengar Nabi Shallallahu’alaihiwasallam bersabda: “Sesungguhnya berdusta kepadaku tidak sama dengan orang yang berdusta kepada orang lain. Barangsiapa yang berdusta atas namaku dengan sengaja maka hendaklah dia bersiap-siap (mendapat) tempat duduknya di neraka. Aku juga mendengar Nabi Shallallahu’alaihiwasallam bersabda: “Barangsiapa yang meratapi mayat maka mayat itu akan disiksa disebabkan ratapan kepadanya”.
  2. Telah menceritakan kepada kami ‘Abdan berkata, telah mengabarkan bapakku kepadaku dari Syu’bah dari Qatadah dari Sa’id AL Musayyab dari Ibnu ‘Umar dari bapaknya radliallahu ‘anhuma dari Nabi Shallallahu’alaihiwasallam bersabda: “Mayat akan disiksa didalam kuburnya disebabkan ratapan kepadanya”. Hadits ini dikuatkan oleh ‘Abdu Al A’laa telah menceritakan kepada kami Yazid bin Zurai’ telah menceritakan kepada kami Sa’id telah menceritakan kepada kami Qatadah dan berkata, Adam dari Syu’bah: “Sesungguhnya mayat pasti akan disiksa disebabkan tangisan orang yang masih hidup kepadanya”.
  3. Telah menceritakan kepada kami ‘Ali bin ‘Abdullah telah menceritakan kepada kami Sufyan telah menceritakan kepada kami Ibnu Al Munkadir berkata; Aku mendengar Jabir bin ‘Abdullah radliallahu ‘anhu berkata,: “Pada hari Perang Uhud, bapakku didatangkan dalam kondisi sudah terbunuh dengan bagian anggota badannya ada yang terpotong hingga diletakkan di hadapan Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam, sedangkan jasadnya sudah ditutup dengan kain.   Maka   aku   menghampiri   untuk   membukanya   namun   kaumku mencegahku. Aku coba sekali lagi untuk membukanya namun kaumku tetap mencegahku hingga akhirnya Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam memerintahkan untuk diangkat (dibawa). Saat itu Beliau mendengar ada suara teriakan. Maka Beliau bertanya: “(Suara) siapakah itu?”. Orang-orang menjawab: “Putri dari ‘Amru” atau “saudara perempuan ‘Amru. Kemudian Beliau berkata,: “Mengapa kamu menangis?” atau “Janganlah kamu menangis, karena malaikat senantiasa akan menaunginya dengan sayap-sayapnya hingga (jenazah) ini diangkat”.

Bab: Bukan dari Golongan Kami Siapa Yang Merobek-Robek Baju Karena Maratapi Musibah Kamatian

  1. Telah menceritakan kepada kami Abu Nu’aim telah menceritakan kepada kami Sufyan telah menceritakan kepada kami Zubaid Al Yamiy dari Ibrahim dari Masruq dari ‘Abdullah radliallahu ‘anhu berkata; Nabi Shallallahu’alaihiwasallam telah bersabda: “Bukan dari golongan kami siapa  yang  menampar-nampar  pipi,  merobek-robek  baju  dan  menyeru dengan seruan jahiliyyah (meratap) “.

Bab:  Kesedihan  Nabi  Shallallahu  ‘alaihi  wa  salam  Ketika  Sa’ad  bin  Khaulah Meninggal Dunia

  1. Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Yusuf telah mengabarkan kepada kami Malik dari Ibnu Syihab dari ‘Amir bin Sa’ad bin Abu Waqash dari bapaknya radliallahu ‘anhu berkata; Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam pernah mengunjungiku pada hari Haji Wada’ (perpisahan) saat sakitku sudah sangat parah, lalu aku berkata: ” Sakitku sudah sangat parah (menjelang kematianku) dan aku banyak memiliki harta sedangkan tidak ada yang akan mewarisinya kecuali anak perempuanku. Bolehkah aku menyedekahkan sepertiga dari hartaku ini?. Beliau menjawab: “Tidak boleh”. Aku katakan lagi: “Bagaimana kalau setengahnya?”. Beliau menjawab: “Tidak boleh”. Kemudian Beliau melanjutkan: “Sepertiga dan sepertiga itu  sudah  besar atau banyak.  Sesungguhnya  kamu  bila meninggalkan  ahli warismu dalam keadaan berkecukupan (kaya) itu lebih baik dari pada kamu meninggalkan mereka serba kekurangan sehingga nantinya mereka meminta-minta kepada manusia. Dan kamu tidaklah menginfaqkan suatu nafaqah yang hanya kamu hanya niatkan mencari ridha Allah kecuali kamu pasti diberi balasan pahala atasnya bahkan sekalipun nafkah yang kamu berikan untuk mulut isterimu”. Lalu aku bertanya: “Wahai Rasulullah, apakah aku diberi umur  panjang  setelah  sahabat-sahabatku?.  Beliau  berkata,:  “Tidaklah  sekali-kali  engkau diberi umur panjang lalu kamu beramal shalih melainkan akan bertambah derajat dan kemuliaanmu. Dan semoga kamu diberi umur panjang sehingga orang-orang dapat mengambil  manfaat  dari  dirimu  dan  juga  mungkin  dapat  mendatangkan  madharat  bagi kaum yang lain. Ya Allah sempurnakanlah pahala hijrah sahabat-sahabatku dan janganlah Engkau kembalikan mereka ke belakang”. Namun Sa’ad bin Khaulah membuat Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam bersedih karena dia akhirnya meningal dunia di Makkah.

Bab:  Bukan  dari  Golongan  Kami  Siapa  Yang  Manampar-nampar  Pipi  Karena Maratapi Musibah Kamatian

  1. Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Basysyar telah menceritakan kepada kami ‘Abdurrahman telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Al A’masy dari ‘Abdullah bin Murrah dari Masruq dari ‘Abdullah radliallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Bukan dari golongan kami siapa yang memukul-mukul pipi, merobek-robek baju dan menyeru dengan seruan jahiliyyah (meratap) “.

Bab: Larangan Mengucapkan Kata “Celaka” atau Seruan-Seruan Jahiliyah Lainnya Ketika Ditimpa Musibah

  1. Telah menceritakan kepada kami ‘Umar bin Hafsh telah menceritakan kepada kami bapakku telah menceritakan kepada kami Al A’masy dari ‘Abdullah bin Murrah dari Masruq dari ‘Abdullah radliallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Bukan dari golongan kami siapa yang memukul-mukul pipi, merobek-robek baju dan menyeru dengan seruan jahiliyyah (meratap) “.

Bab:  Orang  Yang  Duduk  Termenung  Ketika  Ditimpa  Musibah  Hingga  Tampak Kesedihannya

  1. Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al Mutsanna telah menceritakan kepada kami ‘Abdul Wahhab berkata, aku mendengar Yahya berkata, telah mengabarkan kepada saya ‘Amrah berkata; Aku mendengar ‘Aisyah radliallahu ‘anha berkata,: “Ketika telah tiba di hadapan Nabi Shallallahu’alaihiwasallam jenazah Ibnu Haritsah, Ja’far dan Ibnu Rawahah, Beliau duduk dengan nampak kesedihannya sedangkan aku melihat dari lobang pintu. Lalu datang seorang laki-laki seraya berkata,: “Sesungguhnya isteri-isterinya Ja’far”, lalu orang itu menceritakan tentang tangisan mereka. Maka Beliau memerintahkan laki-laki itu agar melarang mereka. Orang itu pergi namun kemudian datang untuk kedua kalinya dan belum berhasil melaksanakan perintah Beliau. Lalu Beliau berkata,: “Laranglah mereka?”. Orang itu datang untuk ketiga kalinya seraya berkata,: “Demi Allah, mereka mengalahkan kami wahai Rasulullah!”. ‘Aisyah radliallahu ‘anha menduga Beliau kemudian berkata,: “Sumpallah mulut-mulut nereka dengan tanah”. Aku berkata kepada laki-laki itu: “Semoga Allah menyumpal hidungmu karena belum melaksanakan apa yang Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam perintahkan, serta kamu (membiarkan) tidak meninggalkan Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam dari kondisinya yang lelah dan kesusahan”.
  2. Telah menceritakan kepada  kami ‘Amru bin  “Ali  telah menceritakan  kepada  kami Muhammad bin Fudhail telah menceritakan kepada kami ‘Ashim Al Ahwal dari Anas radliallahu ‘anhu berkata,: “Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam melaksanakan do’a qunut selama sebulan pada waktu terbunuhnya para Qurra’ (penghafal AL Qur’an). Dan belum pernah aku melihat Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam sedemikian sedih yang melebihi kesedihannya pada waktu itu”.

Bab: OrangYang Tidak Menampakkan Kesedihanhya Ketika Ditimpa Musibah

  1. Telah menceritakan kepada kami Bisyir bin Al Hakam telah menceritakan kepada kami Sufyan bin ‘Uyainah telah mengabarkan kepada kami Ishaq bin ‘Abdullah bin Abu Tholhah bahwasanya dia mendengar Anas bin Malik radliallahu ‘anhu berkata; Anak dari Abu Tholhah dalam kondisi sakit yang parah. Katanya: “Dan akhirnya dia meninggal dunia”. Saat itu Abu Tholhah sedang bepergian. Ketika isterinya melihat bahwa dia (anaknya) sudah meninggal, maka dia mengerjakan sesuatu dan meletakkannya di samping rumah. Ketika Abu Tholhah sudah datang, dia bertanya: “Bagaimana keadaan anak (kita)?. Isterinya menjawab: “Dia sudah tenang dan aku berharap dia sudah beristirahat”.. Abu Tholhah menganggap bahwa isterinya berkata, benar  adanya.  Anas  bin  Malik  radliallahu  ‘anhu;  Maka  dia  tidur  pada malam  itu. Pada  keesokan harinya, dia mandi. Ketika dia hendak pergi keluar, isterinya memberitahu bahwa anaknya sudah meninggal dunia. Kemudian dia shalat bersama Nabi Shallallahu’alaihiwasallam lalu dia menceritakan apa yang sudah terjadi antara dia berdua (dengan isterinya). Maka Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam berkata,: “Semoga Allah memberkahi kalian berdua pada malam kalian itu”. Sufyan berkata; Ada seorang dari kalangan Anshar berkata,: “Kemudian setelah itu aku melihat keduanya memiliki sembilan anak yang semuanya telah hafal Al Qur’an”.

Bab: Kesabaran Terletak Pada Kesempatan Awal Dalam Menghadapi Musibah

  1. Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Basysyar telah menceritakan kepada kami Ghundar telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Tsabit berkata; Aku mendengar Anas radliallahu ‘anhu dari Nabi Shallallahu’alaihiwasallam bersabda: “Sesungguhnya shabar itu pada kesempatan pertama (saat datang mushibah) “.

Bab: Sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa salam: “Sesungguhnya Kami Bersedih Karena Berpisah Denganmu”

  1. Telah menceritakan kepada kami Al Hasan bin ‘Abdul ‘Aziz telah menceritakan kepada kami Yahya bin Hassan telah menceritakan kepada kami Quraisy dia adalah Ibnu Hayyan dari Tsabit dari Anas bin Malik radliallahu ‘anhu berkata; Kami bersama Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam mendatangi Abu Saif Al Qaiyn yang (isterinya) telah mengasuh dan menyusui Ibrahim ‘alaihissalam (putra Nabi Shallallahu’alaihiwasallam. Lalu Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam mengambil Ibrahim dan menciumnya. Kemudian setelah itu pada kesempatan yang lain kami mengunjunginya sedangkan Ibrahim telah meninggal. Hal ini menyebabkan kedua mata Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam berlinang air mata. Lalu berkatalah ‘Abdurrahman bin   ‘Auf  radliallahu   ‘anhu   kepada  Beliau:   “Mengapa  anda menangis, wahai Rasulullah?”. Beliau menjawab: “Wahai Ibnu ‘Auf, sesungguhnya ini adalah rahmat (tangisan kasih sayang) “. Beliau lalu melanjutkan dengan kalimat yang lain dan bersabda:  “Kedua  mata  boleh  mencucurkan  air  mata,  hati  boleh  bersedih,  hanya  kita tidaklah mengatakan kecuali apa yang diridhai oleh Rabb kita. Dan kami dengan perpisahan ini  wahai  Ibrahim  pastilah  bersedih”.  Dan  diriwayatkan  oleh  Musa  dari  Sulaiman bin  Al Mughirah dari Tsabit dari Anas bin Malik radliallahu ‘anhu dari Nabi Shallallahu’alaihiwasallam.

Bab: Menangis di Samping Orang Yang Sakit

  1. Telah menceritakan   kepada   kami   Ashbagh   dari   Ibnu   Wahb   berkata,   telah mengabarkan kepada saya ‘Amru dari Sa’id bin Al Harits Al Anshariy dari ‘Abdullah bin Umar radliallahu ‘anhuma berkata; Ketika Saad bin Ubadah sedang sakit, Nabi Shallallahu’alaihiwasallam menjenguknya bersama ‘Abdurrahman bin ‘Auf, Saad bin Abu Waqqash dan ‘Abdullah bin Mas’ud radliallahu ‘anhum. Ketika Beliau menemuinya, Beliau mendapatinya sedang dikerumuni keluarganya, Beliau bertanya: “Apakah ia sudah meninggal?”. Mereka menjawab: “Belum, wahai Rasulullah”. Lalu Nabi Shallallahu’alaihiwasallam menangis. Ketika orang-orang melihat Nabi Shallallahu’alaihiwasallam menangis, mereka pun turut menangis, maka Beliau bersabda: “Tidakkah kalian mendengar bahwa Allah tidak mengadzab dengan tangisan air mata, tidak dengan hati yang bersedih, namun Dia mengadzab dengan ini, ” lalu Beliau menunjuk lidahnya, atau dirahmati (karena lisan itu) dan sesungguhnya mayat itu diadzab disebabkan tangisan keluarganya kepadanya” Sambil ‘Umar radliallahu ‘anhu memukul tanah dengan tongkat, melempar batu dan menumpahkan tanah.

Bab: Laragan Meratap dan Menangis dan Perintah Meninggalkannya

  1. Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin ‘Abdullah bin Hawsyab telah menceritakan kepada kami ‘Abdul Wahhab telah menceritakan kepada kami Yahya bin Sa’id berkata, telah mengabarkan kepada saya ‘Amrah berkata; Aku mendengar ‘Aisyah radliallahu ‘anha berkata,: “Ketika tiba di hadapan  Nabi  Shallallahu’alaihiwasallam  jenazah  Zaid bin Haritsah, Ja’far dan ‘Abdullah bin Rawahah, Beliau duduk yang nampak kesedihannya sedangkan aku memandang dari lobang pintu. Lalu datang seorang laki-laki seraya berkata,: “Sesungguhnya isteri-isterinya Ja’far”, lalu orang itu menceritakan tentang tangisan mereka. Maka  Beliau  memerintahkan  laki-laki  itu  agar  melarang  mereka.  Maka  orang  itu  pergi kemudian datang dan berkata,: “Aku telah melarang mereka”. Dan laki-laki itu menyebutkan bahwa  mereka  tidak  menaatinya.  Maka  Beliau memerintahkan  laki-laki  itu  untuk  kedua kalinya agar melarang mereka. Maka laki-laki itu pun pergi kemudian datang dan berkata,: “Demi Allah, mereka mengalahkan aku” atau “mereka mengalahkan kami!”. Keraguan perkataan ini datang dari Muhammad bin ‘Abdullah bin Hawsyab. ‘Aisyah radliallahu ‘anha menduga Beliau kemudian berkata,: “Bungkamlah mulut-mulut nereka dengan tanah”. Aku berkata   kepada   laki-laki   itu:   “Semoga   Allah   menghinakanmu   karena   kamu   tidak melaksanakan yang Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam perintahkan, serta kamu tidak meninggalkan Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam dari kondisinya yang lelah dan kesedihannya (membiarkan Beliau dalam kesedihan) “.
  2. Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin ‘Abdul Wahhab telah menceritakan kepada kami Hammad bin Zaid telah menceritakan kepada kami Ayyub dari Muhammad dari Ummu ‘Athiyyah radliallahu ‘anha berkata,: “Nabi Shallallahu’alaihiwasallam mengambil sumpah setia dari kami ketika kami berbai’at yaitu kami dilarang meratap.

Bab: Berdiri untuk Menghormati Jenazah

  1. Telah menceritakan kepada kami ‘Ali bin ‘Abdullah telah menceritakan kepada kami Sufyan telah menceritakan kepada kami Az Zuhriy dari Salim dari bapaknya dari ‘Amir bin Rabi’ah dari Nabi Shallallahu’alaihiwasallam bersabda: “Jika kalian melihat jenazah maka berdirilah hingga dia meninggalkan (berlalu dari) kalian. Berkata, Sufyan berkata, Az Zuhriy telah mengabarkan kepada saya Salim dari bapaknya berkata, telah mengabarkan kepada kami ‘Amir bin Rabi’ah dari Nabi Shallallahu’alaihiwasallam. Al Humaidiy menambahkan: “Hingga meninggalkan kalian atau diletakkan”.

Bab: Kapan Duduk Setelah Berdiri Menghormati Jenazah

  1. Telah menceritakan kepada kami Qutaibah bin Sa’id telah menceritakan kepada kami Al Laits dari Nafi’ dari Ibnu’Umar radliallahu ‘anhuma dari ‘Amir bin Rabi’ah radliallahu ‘anhu dari Nabi Shallallahu’alaihiwasallam bersabda: “”Jika seorang dari kalian melihat jenazah dan dia tidak sedang berjalan bersamanya maka hendaklah dia berdiri hingga dia meninggalkan jenazah tersebut, atau jenazah sudah berlalu atau diletakkan sebelum dibawa pergi”.
  2. Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Yunus telah menceritakan kepada kami Ibnu Abu Dza’bi dari Sa’id Al Maqbariy dari bapaknya berkata,: Kami pernah berada dekat jenazah, ketika itu Abu Hurairah radliallahu ‘anhu memegang tangan Marwan lalu keduanya duduk sebelum diletakkan. Kemudian datang Abu Sa’id radliallahu ‘anhu lalu memegang tangan Marwan seraya berkata,: “Berdirilah!. Demi Allah, sungguh kamu telah tahu bahwa Nabi Shallallahu’alaihiwasallam melarang   kita   tentang   hal   ini”.   Maka   Abu   Hurairah radliallahu ‘anhu berkata,: “Dia benar”.

Bab: Orang Yang Mengantar Jenazah Tidak Duduk Hingga Jenazah Tersebut Diturunkan dari Pundak-pundak Orang Yang Menggotongnya. Jika Ia Duduk, Maka Diperintahkan Agar Bergdiri.

  1. Telah menceritakan  kepada  kami  Muslim  yakni  putra  Ibrahim telah menceritakan kepada kami Hisyam telah menceritakan kepada kami Yahya dari Abu Salamah dari Abu Sa’id Al Khudriy radliallahu ‘anhu dari Nabi Shallallahu’alaihiwasallam bersabda: “”Jika kalian melihat jenazah maka berdirilah dan barangsiapa mengiringinya janganlah dia duduk hingga jenazah itu diletakkan “.

Bab: Orang Yang Berdiri untuk Meghormati Jenazah Orang Yahudi

  1. Telah menceritakan kepada kami Mu’adz bin Fadhalah telah menceritakan kepada kami Hisyam dari Yahya dari ‘Ubaidullah bin Muqsim dari Jabir bin ‘Abdullah radliallahu ‘anhua berkata,: “Suatu hari jenazah pernah lewat di hadapan kami maka Nabi Shallallahu’alaihiwasallam berdiri menghormatinya dan kami pun ikut berdiri. Lalu kami tanyakan: “Wahai Rasulullah, jenazah itu adalah seorang Yahudi”. Maka Beliau berkata,: “”Jika kalian melihat jenazah maka berdirilah”.
  2. Telah menceritakan kepada kami Adam telah menceritakan kepada kami Syu’bah telah menceritakan kepada kami ‘Amru bin Murrah berkata; Aku mendengar ‘Abdurrahman bin Abu Laila berkata,:  “Suatu  hari  Sahal  bin  Hunaif  dan  Qais  bin  Sa’ad  sedang  duduk  di Qadisiyah, lalu lewatlah jenazah di hadapan keduanya, maka keduanya berdiri. Kemudian dikatakan kepada keduanya bahwa jenazah itu adalah dari penduduk asli, atau dari Ahlu dzimmah. Maka keduanya berkata,: “Nabi Shallallahu’alaihiwasallam pernah jenazah lewat di hadapan Beliau lalu Beliau berdiri. Kemudian dikatakan kepada Beliau bahwa itu adalah jenazah  orang  Yahudi.  Maka  Beliau  bersabda: “Bukankah  ia  juga  memiliki  nyawa?”  Dan berkata Abu Hamzah dari Al A’masy dari ‘Amru dari Ibnu Abu Laila berkata,: “Aku pernah bersama Qais dan Sahl Radliallahu ‘anhu, lalu keduanya berkata; Kami pernah bersama Nabi Shallallahu’alaihiwasallam. Dan berkata, Zakariya dari Sya’biy dari Ibnu Abi Laila, dulu Abu Mas’ud dan Qais berdiri untuk jenazah.

Bab: Yang Menggotong Jenazah adalah Laki-laki. Wanita Tidak Diperkenankan

  1. Telah menceritakan kepada kami ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdullah telah menceritakan kepada kami Al Laits dari Sa’id AL Maqbariy dari bapaknya bahwa dia mendengar dari Abu Sa’id AL Khudriy radliallahu ‘anhu  bahwa  Rasulullah  Shallallahu’alaihiwasallam   bersabda:   “Jika jenazah diletakkan lalu dibawa oleh para laki-laki di atas pundak mereka, maka jika jenazah tersebut termasuk orang shalih (semasa hidupnya) maka dia (jenazah tersebut) berkata; “Bersegeralah kalian (membawa aku). Dan jika ia bukan dari orang shalih, maka dia akan berkata; “Celaka, kemana mereka akan membawanya?. Suara jenazah itu akan didengar oleh setiap makhluq kecuali manusia dan seandainya manusia mendengarnya, tentu dia jatuh pingsan”.

Bab: Membawa Jenazah dengan Cepat

  1. Telah menceritakan kepada kami ‘Ali bin ‘Abdullah telah menceritakan kepada kami Sufyan berkata, kami  menghafalnya dari Az  Zuhriy dari Sa’id bin Al Musayyab dari Abu Hurairah radliallahu ‘anhu dari Nabi Shallallahu’alaihiwasallam bersabda: “Bercepat-cepatlah membawa   jenazah,   karena   bila   jenazah   itu   dari   orang   shalih   berarti   kalian   telah mempercepat kebaikan untuknya dan jika tidak, berarti kalian telah menyingkirkan kejelekan dari pundak kalian”.

Bab: Ucapan Mayit Ketika Berada di Pundak-pundak Orang Yang Membawanya; “Segeralah Kalian Membawa Aku..”

  1. Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Yusuf telah menceritakan kepada kami Al Laits dari Sa’id dari Bapaknya bahwa dia mendengar dari Abu Sa’id AL Khudriy radliallahu ‘anhu berkata, bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam telah bersabda: “Jika jenazah diletakkan lalu dibawa oleh para orang-orang di atas pundak mereka, jika jenazah tersebut termasuk orang shalih (semasa hidupnya) maka (jenazah tersebut) akan berkata; “Bersegeralah kalian (membawa aku). Dan jika ia bukan dari orang shalih, maka dia akan berkata kepada keluarganya; “Celaka, kemana mereka akan membawanya?. Suara jenazah itu akan didengar oleh setiap makhluq kecuali manusia dan seandainya ada manusia yang mendengarnya tentu dia akan jatuh pingsan”.

Bab: Membuat Dua atau Tiga Shaf di Belakang Imam dalam Shalat Jenazah

  1. Telah menceritakan kepada kami Musaddad dari Abu ‘Awanah dari Qatadah dari ‘Atha’ dari Jabir bin ‘Abdullah radliallahu ‘anhua bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam melaksanakan shalat jenazah sedang aku ikut shalat berdiri pada shaf kedua atau ketiga.

Bab: Barisan Shaf Ketika Shalat Jenazah

  1. Telah menceritakan kepada kami Musaddad telah menceritakan kepada kami Yazid bin Zurai’ telah menceritakan kepada kami Ma’mar dari Az Zuhriy dari Sa’id dari Abu Hurairah radliallahu ‘anhu berkata,: Nabi Shallallahu’alaihiwasallam mengumumkan kematian An- Najasyi, kemudian Beliau maju dan membuat barisan shaf di belakang, Beliau lalu takbir empat kali.
  2. Telah menceritakan kepada kami Muslim telah menceritakan kepada kami Syu’bah telah menceritakan kepada kami Asy-Syaibaniy dari Asy-Sya’biy berkata, telah mengabarkan kepada saya seorang yang menyaksikan bahwa Nabi Shallallahu’alaihiwasallam pernah mendatangi kuburan yang terpisah (dari kuburan lain). Maka Beliau membariskan mereka lalu bertakbir empat kali. Aku bertanya kepadanya: “Siapakah yang menceritakan ini kepadamu?”. Dia menjawab: ” Ibnu ‘Abbas radliallahu ‘anhu”.
  3. Telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Musa telah mengabarkan kepada kami Hisyam bin Yusuf bahwa Ibnu Juraij telah mengabarkan mereka, katanya telah mengabarkan kepada saya ‘Atha’ bahwa dia mendengar Jabir bin ‘Abdullah radliallahu ‘anha berkata,: “Hari ini telah wafat seorang laki-laki shalih, untuk itu marilah laksanakan shalat untuknya”. Dia (Jabir) berkata,: Maka kami dibariskan lalu Nabi Shallallahu’alaihiwasallam melaksanakan shalat dan kami bersama Beliau shalat dalam barisan (shaf-shaf di belakang). Berkata, Abu Az Zubair dari Jabir: “Dan aku berada pada shaf kedua”.

Bab: Barisan Shaf Anak-Anak Bergabug Bersama Laki-laki Dewasa dalam Shalat Jenazah

  1. Telah menceritakan kepada kami Musa bin Isma’il telah menceritakan kepada kami ‘Abdul Wahid telah menceritakan kepada kami Asy-Syaibaniy dari ‘Amir dari Ibnu ‘Abbas radliallahu ‘anhuma berkata,: “Bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam melewati kubur yang telah dimakamkan malam hari. Maka Beliau bertanya: “Kapan dimakamkan jenazah ini?. Mereka menjawab:  “Tadi  malam”.  Beliau bertanya  kembali:  “Mengapa  kalian  tidak memberi tahu aku?”. Mereka menjawab: “Kami memakamkannya pada malam yang gelap gulita dan kami sungkan untuk membangunkan anda”. Maka Beliau berdiri dan membariskan kami di belakang Beliau. Ibnu ‘Abbas radliallahu ‘anhu berkata,: “Dan aku hadir bersama mereka, maka kemudian Beliau melaksanakan shalat untuknya (jenazah) “.

 

Bab: Tuntunan Shalat Jenazah

  1. Telah menceritakan kepada kami Sulaiman bin Harb telah menceritakan kepada kami Syu’bah telah menceritakan kepada kami Asy-Syaibaniy dari Asy-Sya’biy berkata, telah mengabarkan kepada saya seorang yang bersama Nabi kalian Shallallahu’alaihiwasallam, ia berjalan melewati kuburan yang terpisah (dari kuburan lain). Lalu Beliau membariskan kami di belakang Beliau. Kami bertanya: “Wahai Abu “Amru, siapakah yang menceritakan ini kepadamu?”. Dia menjawab: ” Ibnu ‘Abbas radliallahu ‘anhu “.

Bab: Keutamaan Mengantarkan Jenazah

  1. Telah menceritakan kepada kami Abu An-Nu’man telah menceritakan kepada kami Jarir bin Hazim berkata; Aku mendengar Nafi’ berkata; disampaikan kepada Ibnu ‘Umar bahwa Abu Hurairah radliallahu ‘anhu berkata,: “Barangsiapa yang mengantar jenazah baginya pahala satu qirath. Maka dia (Ibnu ‘Umar radliallahu ‘anhu ma) berkata,: Abu Hurairah berlebihan terhadap kita”. Namun kemudian pernyataan Abu Hurairah radliallahu ‘anhu  dibenarkan,  yakni  oleh  ‘Aisyah  radliallahu  ‘anha  dan  Abu  Hurairah  berkata;  aku mendengar Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam mengatakannya. Maka Ibnu ‘Umar radliallahu ‘anhu berkata: “Kami telah banyak meremehkan masalah dan aku telah meremehkan dan melalaikan urusan (agama) Allah”

Bab: Menunggu Sampai Jenazah Dikubur

  1. Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Maslamah berkata, aku membacakan kepada Ibnu Abu Dza’bi dari Sa’id bin Abu Sa’id Al Maqbariy dari bapaknya bahwasanya dia pernah bertanya kepada  Abu  Hurairah  radliallahu  ‘anhu,  maka  Abu Hurairah  radliallahu ‘anhu menjawab; Aku mendengar Nabi Shallallahu’alaihiwasallam. Dan dalam riwayat lain telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Syabib bin Sa’id berkata, telah menceritakan bapakku kepadaku, telah menceritakan kepada kami Yunus berkata, Ibnu Syihab dan telah menceritakan kepada saya ‘Abdurrahman Al A’raj bahwa Abu Hurairah radliallahu ‘anhu berkata; Telah bersabda Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam: “Barangsiapa yang menyaksikan jenazah hingga ikut menyolatkannya maka baginya pahala satu qirath, dan barangsiapa yang menyaksikan jenazah hingga ikut menguburkannya maka baginya pahala dua qirath”. Ditanyakan kepada Beliau; “Apa yang dimaksud dengan dua qirath?” Beliau menjawab: “Seperti dua gunung yang besar”.

Bab: Keikut sertaan Anak-anak Bersama Orang Dewasa dalam Shalat Jenazah

  1. Telah menceritakan kepada kami Ya’qub bin Ibrahim telah menceritakan kepada kami Yahya bin Abu Bukair telah menceritakan kepada kami Za’idah telah menceritakan kepada kami Abu Ishaq Asy-Syaibaniy dari ‘Amir dari Ibnu ‘Abbas radliallahu ‘anhuma berkata; Nabi Shallallahu’alaihiwasallam mendatangi kuburan.  Mereka  berkata;  “Ini  dikebumikan kemarin”. Berkata, Ibnu ‘Abbas radliallahu ‘anhuma: Maka Beliau membariskan kami di belakang Beliau kemudian mengerjakan shalat untuknya”.

Bab: Menshalati Jenazah di Lapangan atau di Masjid

  1. Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Bukair telah menceritakan kepada kami Al Laits dari ‘Uqail dari Ibnu Syihab telah menceritakan kepada kami Sa’id bin Al Musayyab dan Abu Salamah bahwa keduanya menceritakan kepadanya dari Abu Hurairah radliallahu ‘anhu berkata,: Nabi Shallallahu’alaihiwasallam mengumumkan kepada kami kematian An-Najasyi, Penguasa Negeri Habasyah pada hari kematiannya lalu berkata,: “Mohonkanlah ampun buat saudara kalian”. Dan dari Ibnu Syihab berkata, telah menceritakan kepada saya Sa’id bin Al Musayyab bahwa Abu Hurairah radliallahu ‘anhu berkata,: Bahwa Nabi Shallallahu’alaihiwasallam membariskan mereka di tanah lapang kemudian Beliau bertakbir empat kali”.
  2. Telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin AL Mundzir telah menceritakan kepada kami Abu Dhamrah  telah  menceritakan  kepada  kami  Musa  bin  ‘Uqbah  dari  Nafi’  dari ‘Abdullah bin ‘Umar radliallahu ‘anhuma; Orang-orang Yahudi datang kepada Nabi Shallallahu’alaihiwasallam dengan membawa seorang laki-laki dan seorang perempuan yang keduanya berzina. Maka Beliau memerintahkan untuk merajam keduanya di tempat biasa untuk menyolatkan jenazah, disamping Masjid Nabawi”.

Bab: Larangan Menjadikan Kuburan Sebagai Masjid

  1. Telah menceritakan kepada kami ‘Ubaidullah bin Musa dari Syaiban dari Hilal dia adalah Al Wazzan  dari  ‘Urwah dari ‘Aisyah radliallahu ‘anha dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda ketika Beliau sakit yang membawa kepada kematiannya: “Allah melaknat orang-orang Yahudi dan Nashrani disebabkan mereka menjadikan kuburan para nabi mereka sebagai  masjid”.  ‘Aisyah  radliallahu  ‘anha  berkata;  “Kalau  bukan  karena  sabda  Beliau tersebut tentu sudah mereka pindahkan kubur beliau (dari dalam rumahnya), namun aku tetap khawatir nantinya akan dijadikan masjid”.

Bab: Menshalati Jenazah Wanita Yang Meninggal Dunia dalam Keadaan Sedang Nifas

  1. Telah menceritakan kepada kami Musaddad telah menceritakan kepada kami Yazid bin Zurai’ telah menceritakan kepada kami Husain telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Buraidah dari Samurah bin Jundub radliallahu ‘anhu berkata; “Aku pernah di belakang Nabi Shallallahu’alaihiwasallam ikut menshalati jenazah wanita yang meninggal pada masa nifasnya. Beliau berdiri di tengah jenazah tersebut”.

Bab: Dimana Sehartusnya Imam Berdiri Ketika Menshalati Jenazah Wanita atau Laki-laki

  1. Telah menceritakan kepada kami ‘Imran bin Maisarah telah menceritakan kepada kami ‘Abdul Warits telah   menceritakan   kepada   kami   Husain   dari   Ibnu   Buraidah   telah menceritakan kepada kami Samurah bin Jundab radliallahu ‘anhu berkata; “Aku pernah di belakang Nabi Shallallahu’alaihiwasallam ikut menshalati jenazah wanita yang meninggal pada masa nifasnya. Beliau berdiri di tengah jenazah tersebut”.

Bab: Takbir dalam Shalat Jenazah Sebanyak Empat Kali

  1. Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Yusuf telah mengabarkan kepada kami Malik dari Ibnu Syihab dari Sa’id bin Al Musayyab dari Abu Hurairah radliallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam mengumumkan kematian An-Najasyi, pada hari kematiannya lalu Beliau keluar bersama mereka menuju tanah lapang kemudian Beliau membariskan mereka dalam shaf lalu Beliau bertakbir empat kali”.
  2. Telah menceritakan kepada kami Mihammad bin Sinan telah menceritakan kepada kami Salim bin Hayyan telah menceritakan kepada kami Sa’id bin Mina’ dari Jabir radliallahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallahu’alaihiwasallam shalat untuk An-Najasyi, maka Beliau takbir empat kali. Dan berkata, Yazid bin harun dari Salim; Ashhamah”. Dan dikautkan pula oleh ‘Abdush Shamad.

Bab: Membaca Surah al-Fatihah dalam Shalat Jenazah

  1. Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Basysyar telah menceritakan kepada kami Ghundar telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Sa’ad dari Tholhah berkata,: Aku shalat dibelakang Ibnu ‘Abbas radliallahu ‘anhuma. Dan diriwayatkan pula oleh Muhammad bin Katsir telah mengabarkan kepada kami Sufyan dari Saad bin Ibrahim dari Tholhah bin ‘Abdullah  bin  ‘Auf  berkata;  Aku  shalat  dibelakang  Ibnu  ‘Abbas  radliallahu ‘anhuma pada suatu jenazah, lalu ia membaca surat Al Fatihah, ia berkata, agar orang-orang tahu bahwa itu merupakan sunah”.

Bab: Shalat Jenazah di atas Kuburan Setelah Jenazah Dikuburkan

  1. Telah menceritakan kepada kami Hajjaj bin Minhal telah menceritakan kepada kami Syu’bah berkata, telah menceritakan kepada saya Sulaiman Asy-Syaibaniy berkata; Aku mendengar Asy-Sya’biy berkata, telah mengabarkan  kepada saya  seorang  yang bersama Nabi Shallallahu’alaihiwasallam pernah melewati kuburan yang terpisah (dari kuburan lain). Maka Beliau memimpin mereka shalat dan mereka shalat di belakang Beliau. Aku bertanya: “Wahai ‘Amru, siapakah yang menceritakan ini kepadamu?”. Dia menjawab: ” Ibnu ‘Abbas radliallahu ‘anhu”.
  2. Telah menceritakan  kepada  kami  Muhammad  bin  Al  Fadhal  telah  menceritakan kepada kami Hammad bin Zaid dari Tsabit dari Abu Rafi’ dari Abu Hurairah radliallahu ‘anhu: “Ada seorang laki-laki kulit hitam atau wanita kulit hitam yang menjadi tukang sapu masjid meninggal dunia yang tidak diketahui Nabi Shallallahu’alaihiwasallam tentang kamatiannya. Suatu hari Beliau diceritakan, maka Beliau berkata,: “Apa yang telah terjadi dengan orang itu?. Mereka menjawab: “Dia telah meninggal, wahai Rasulullah” Lalu Nabi Shallallahu’alaihiwasallam berkata,: “Kenapa kalian tidak memberitahu aku?. Mereka berkata,: Kejadiannya begini begini, lalu mereka menjelaskan”. Kemudian Beliau berkata,: “Tunjukkan kepadaku kuburannya! ‘. Maka Beliau Shallallahu’alaihiwasallam mendatangi kuburan orang itu kemudian shalat untuknya.

Bab:   Mayit   Dapat   Mendengar   Suara   Langkah   Sandal   (Orang-orang   Yang Mengantarkannya)

  1. Telah menceritakan kepada kami ‘Ayyasy telah menceritakan kepada kami ‘Abdul A’laa telah menceritakan kepada kami Sa’id berkata; dan telah berkata, kepadaku Khalifah telah menceritakan kepada kami Yazid bin Zurai’ telah menceritakan kepada kami Sa’id dari Qatadah dari Anas  radliallahu  ‘anhu  dari  Nabi  Shallallahu’alaihiwasallam  bersabda:  “Jika suatu jenazah sudah diletakkan didalam kuburnya dan teman-temannya sudah berpaling dan pergi meninggalkannya, dia mendengar gerak langkah sandal sandal mereka, maka akan datang kepadanya dua malaikat yang keduanya akan mendudukkannya seraya keduanya berkata, kepadanya: “Apa yang kamu komentari tentang laki-laki ini, Muhammad Shallallahu’alaihiwasallam?”. Maka jenazah itu menjawab: “Aku bersaksi bahwa dia adalah hamba Allah dan utusanNya”. Maka dikatakan kepadanya: “Lihatlah tempat dudukmu di neraka yang Allah telah menggantinya dengan tempat duduk di surga”. Nabi Shallallahu’alaihiwasallam   selanjutnya   berkata,:   “Maka   dia   dapat   melihat   keduanya”. Adapun (jenazah) orang kafir atau munafiq akan menjawab: “Aku tidak tahu, aku hanya berkata, mengikuti apa yang dikatakan kebanyakan orang”. Maka dikatakan kepadanya: “Kamu tidak mengetahuinya dan tidak mengikuti orang yang mengerti”. Maka kemudian dia dipukul dengan  palu  godam besar terbuat dari besi diantara kedua telinganya sehingga mengeluarkan suara teriakan yang dapat didengar oleh yang ada di sekitarnya kecuali oleh dua makhluq (jin dan manusia) “.

Bab: Orang Yang Menginginkan Dikuburkan di Tanah Suci atau Sejenisnya

  1. Telah menceritakan kepada kami Mahmud telah menceritakan kepada kami ‘Abdur Razzaq telah mengabarkan kepada kami Ma’mar dari Ibnu Thawus dari bapaknya dari Abu Hurairah radliallahu ‘anhu  berkata,:  “Suatu  hari  malaikat  maut  diutus  kepada  Musa ‘alaihissalam. Ketika menemuinya, (Nabi Musa ‘alaihissalam) memukul matanya. Maka malaikat maut kembali kepada Rabbnya dan berkata,: “Engkau mengutusku kepada hamba yang tidak menginginkan mati”. Maka Allah membalikkan matanya kepadanya seraya berfirman: “Kembalilah dan katakan kepadanya agar dia meletakkan tangannya di atas punggung seekor lembu jantan, yang pengertiannya setiap bulu lembu yang ditutupi oleh tangannya berarti umurnya satu tahun”. Nabi Musa ‘alaihissalam bertanya: “Wahai Rabb, setelah itu apa?. Allah berfirman:: “Kematian”. Maka Nabi Musa ‘alaihissalam berkata,: “Sekaranglah waktunya”. Kemudian Nabi Musa ‘alaihissalam memohon kepada Allah agar mendekatkannya dengan tanah yang suci (Al Muqaddas) dalam jarak sejauh lemparan batu”. Abu Hurairah radliallahu ‘anhu berkata; Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:  “Seandainya aku  kesana,  pasti  akan  aku  tunjukkan  kepada kalian  keberadaan kuburnya yang ada di pinggir jalan dibawah tumpukan pasir merah”.

Bab: Menguburkan Mayat di Malam Hari

  1. Telah menceritakan kepada kami ‘Utsman bin Abu Syaibah telah menceritakan kepada kami Jarir dari Asy-Syaibaniy dari Asy-Sya’biy dari Ibnu ‘Abbas radliallahu ‘anhuma berkata; Nabi Shallallahu’alaihiwasallam pernah mengerjakan shalat jenazah untuk seorang laki-laki yang telah dikebumikan pada malam hari. Beliau mengerjakannya bersama dengan para sahabatnya. Saat itu  Beliau  bertanya  tentang  jenazah  tersebut:  “Siapakah  orang  ini?”. Mereka menjawab: “Si anu, yang telah dikebumikan kemarin”. Maka mereka menyolatkannya”.

Bab: Mendirikan Masjid di atas Kuburan

  1. Telah menceritakan kepada kami Isma’il berkata, telah mengabarkan kepada saya Malik dari Hisyam dari bapaknya dari ‘Aisyah radliallahu ‘anhu berkata; Ketika Nabi Shallallahu’alaihiwasallam sedang berbaring sakit sebagian isteri-isteri Beliau menceritakan tentang suatu gereja yang mereka lihat di negeri Habasyah (Etithapia) yang disebut dengan Mariyah. Sebelumnya Ummu Salamah dan Ummu Habibah radliallahu ‘anhuma pernah berhijrah ke negeri Habasyah, sehingga keduanya dapat menceritakan tentang keindahan gereja tersebut dan adanya gambar (patung-patung) didalamnya. Maka Beliau Shallallahu’alaihiwasallam mengangkat kepalanya  lalu  bersabda:  “Mereka  itulah,  yang apabila  ada  hamba  shalih  atau  laki-laki  shalih  diantara  mereka  yang  meninggal  dunia, mereka bangun masjid di atas kuburannya itu dan membuatkan patung dari orang yang meninggal itu di dalamnya. Mereka itulah seburuk-buruk makhluq disisi Allah “.

Bab: Orang Yang Menguburkan dan Masuk ke Liang Qubur Jenazah Wanita

  1. Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Sinan telah menceritakan kepada kami Fulaih bin Sulaiman telah menceritakan kepada kami Hilal bin ‘Ali dari Anas radliallahu ‘anhu berkata,: “Kami menyaksikan pemakaman puteri Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam dan saat itu Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam duduk diatas kuburnya. Lalu aku melihat kedua mata Beliau mengucurkan air mata”. Kemudian Beliau bertanya: “Siapakah diantara kalian yang malam  tadi  tidak  berhubungan  (dengan  isterinya)  “.  Berkata,  Abu  Tholhah: “Aku”.  Beliau  berkata,:  “Turunlah  ke  dalam  kuburnya!”.”Maka  Beliau  turun  kedalam kuburnya lalu menguburkannya”. Berkata, Ibnu Mubarak berkata, Fulaih: “Aku memahami makna  Yuqarif  maksudnya  adalah  “berbuat  dosa”.  Berkata,  Abu  ‘Abdullah  Al  Bukhariy tentang Firman Allah Ta’ala ‘Liyaqtarifuu (QS Al An’am: 113, maksudnya adalah: agar mereka mengerjakan (seperti syetan mengerjakannya).

Bab: Menshalati Orang Yang Mati Syahid

  1. Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Yusuf telah menceritakan kepada kami Al Laits berkata, telah menceritakan kepada saya Ibnu Syihab dari ‘Abdurrahman bin Ka’ab bin Malik dari  Jabir  bin  ‘Abdullah  radliallahu  ‘anhua berkata,:  “Nabi Shallallahu’alaihiwasallam pernah menggabungkan dalam satu kubur dua orang laki-laki yang gugur dalam perang Uhud dan dalam satu kain, lalu bersabda: “Siapakah diantara mereka yang lebih banyak mempunyai hafalan Al Qur’an”. Bila Beliau telah diberi tahu kepada salah satu diantara keduanya, maka Beliau mendahulukannya didalam lahad lalu bersabda: “Aku akan menjadi saksi atas mereka pada hari qiyamat”. Maka Beliau memerintahkan agar menguburkan mereka dengan darah-darah mereka, tidak dimandikan dan juga tidak dishalatkan”.
  2. Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Yusuf telah menceritakan kepada kami Al Laits telah menceritakan kepada saya Yazid bin Abu Habib dari Abu Al Khair dari ‘Uqbah bin ‘Amir bahwa Nabi Shallallahu’alaihiwasallam pada suatu hari keluar untuk menyolatkan syuhada’ perang Uhud sebagaimana shalat untuk mayit. Kemudian Beliau pergi menuju mimbar lalu bersabda: “Sungguh aku ini yang terdepan dari kalian dan aku menjadi saksi atas kalian. Dan aku, demi Allah, sekarang sedang melihat telagaku (yang di surga) dan aku telah diberikan kunci-kunci kekayaan bumi atau kunci-kinci bumi (dunia). Demi Allah, sungguh aku tidak khawatir kepada kalian bahwa kalian akan menyekutukan (Allah) kembali sepeninggal aku. Namun yang aku khawatirkan terhadap kalian adalah kalian akan memperebutkan (kekayaan) duniawi ini”.

Bab: Menguburkan Dua atau Tiga Jenazah dalam Satu Liang Qubur

  1. Telah menceritakan kepada kami Sa’id bin Sulaiman telah menceritakan kepada kami Al Laits telah menceritakan kepada kami Ibnu Syihab dari ‘Abdurrahman bin Ka’ab bahwa Jabir bin ‘Abdullah radliallahu ‘anhu mengabarkan kepadanya bahwa Nabi Shallallahu’alaihiwasallam pernah menggabungkan (dalam satu kubur) dua orang laki-laki yang gugur dalam perang Uhud.

Bab: Orang Yang Berpendapat Tidak Perlu Memandikan Jenazah Orang Yang Mati Syahid

  1. Telah menceritakan kepada kami Abu Al Walid telah menceritakan kepada kami Laits dari Ibnu Syihab dari ‘Abdurrahman bin Ka’ab bin Malik dari Jabir berkata; Nabi Shallallahu’alaihiwasallam bersabda: “Kuburkanlah mereka bersama dengan darah-darah mereka”. Yaitu mereka yang gugur pada perang Uhud: “Dan janganlah mereka dimandikan”.

Bab: Jenazah Yang Lebih Dahulu Dimasukkan ke dalam Liang Qubur

  1. Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Muqatil telah mengabarkan kepada kami ‘Abdullah telah mengabarkan kepada kami Laits bin Sa’ad telah menceritakan kepada saya Ibnu Syihab dari ‘Abdurrahman bin Ka’ab bin Malik dari Jabir bin ‘Abdullah radliallahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallahu’alaihiwasallam pernah menghimpun dua orang laki-laki yang gugur dalam perang Uhud dalam satu kubur dan dalam satu kain, lalu bersabda: “Siapakah dianrara mereka yang lebih banyak mengambil hafalan Al Qur’an”. Bila Beliau telah diberi tahu kepada salah satu diantara keduanya, maka Beliau mendahulukannya didalam lahad lalu bersabda: “Aku   akan   menjadi   saksi   atas   mereka”.   Maka   kemudian   Beliau memerintahkan agar menguburkan mereka dengan darah-darah mereka dan tidak dishalatkan dan juga tidak dimandikan”.Dan telah mengabarkan kepada kami Ibnu AL Mubarak telah mengabarkan kepada kami Al Awza’iy dari Az Zuhriy dari Jabir bin ‘Abdullah radliallahu  ‘anhua  bahwa  Nabi  Shallallahu’alaihiwasallam  berkata  tentang  mereka  yang gugur dalam perang Uhud: “Siapakah dianrara mereka yang lebih banyak mengambil hafalan Al  Qur’an”.  Bila  Beliau  telah  diberi  tahu  kepada  salah  satunya,  maka  Beliau mendahulukannya sebelum temannya yang lain”. Berkata, Jabir: “Maka bapakku dan pamanku dikafankan dalam satu kain namirah (selimut bergaris terbuat dari wol). Dan berkata, Sulaiman bin Katsir telah menceritakan kepada saya Az Zuhriy telah menceritakan kepada saya orang yang telah mendengar dari Jabir radliallahu ‘anhu.

Bab:  Pohon  Idzkhir  (Pohon  yang  Mendatangkan  Bau  Harum)  dan  Rerumputan diatas Kuburan

  1. Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin ‘Abdullah bin Hawsyab telah menceritakan kepada kami  ‘Abdul  Wahhab  telah  menceritakan  kepada  kami  Khalid  dari ‘Ikrimah dari Ibnu ‘Abbas radliallahu ‘anhuma dari Nabi Shallallahu’alaihiwasallam bersabda: “Allah telah mengharamkan kota Makkah, maka tidak dihalalkan buat seorangpun sebelum dan sesudahku melakukan pelanggaran disana, yang sebelumnya pernah dihalalkan buatku beberapa saat dalam suatu hari. Di Makkah tidak boleh diambil rumputnya dan tidak boleh ditebang pohonnya dan tidak boleh diburu hewan buruannya dan tidak ditemukan satupun barang temuan kecuali untuk diserahkan kepada juru pengumuman (agar dikembalikan kepada pemiliknya) “. Berkata, (Al ‘Abbas radliallahu ‘anhu) kecuali pohon idzkhir (pohon yang harum baunya) yang berguna untuk pengerjaan celup (pewarnaan pakaian) dan kubur- kubur kami. Maka Beliau bersabda: “Ya kecuali pohon idzkhir”. Dan berkata, Abu Hurairah radliallahu ‘anhu dari Nabi Shallallahu’alaihiwasallam: “Untuk kubur-kubur mereka dan rumah-rumah mereka”. Dan berkata, Aban bin Shalih dari Al Hasan bin Muslim dari Shafiyah binti Syaibah bahwa dia mendengar Nabi Shallallahu’alaihiwasallam bersabda seperti ini. Dan  berkata,  Mujahid  dari  Thawus  dari  Ibnu  ‘Abbas  radliallahu  ‘anhu:  “Dan  untuk  alat berhias mereka (parfum) dan rumah-rumah mereka”.

Bab: Bolehkan Mengeluarjkan Mayat dari Qubur atau Liang Lahad karena Suatu Alasan?.

  1. Telah menceritakan kepada kami ‘Ali bin ‘Abdullah telah menceritakan kepada kami Sufyan berkata, ‘Amru; Aku mendengar Jabir bin ‘Abdullah radliallahu ‘anhua berkata, Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam mendatangi ‘Abdullah bin Ubay setelah dimasukkan kedalam kuburnya, lalu Beliau memerintahkan untuk mengeluarkannya. Maka jenazahnya dikeluarkan dan diletakkan di kedua paha Beliau kemudian Beliau menyempratkan dengan air ludah  Beliau  dan  memakaikan  baju  qamis  (gamis)  Beliau.  Dan  Allah  yang  lebih mengetahui.  Sebelumnya  Beliau  pernah  memakaikan  (memberi)  baju  kepada  ‘Abbas. Berkata, Sufyan dan berkata, Abu Harun Yahya: “Bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam memiliki dua gamis”. Maka putra ‘Abdullah bertanya kepada Beliau: “Wahai Rasulullah, pakaikanlah bapakku dengan gamis anda yang telah mengenai kulit anda”. Sufyan berkata,: “Mereka  memandang  Nabi  Shallallahu’alaihiwasallam  memakaikan  baju  Beliau  kepada ‘Abdullah sebagai hadiah yang sama seperti yang Beliau lakukan (terhadap ‘Abbas) “.
  2. Telah menceritakan kepada kami Musaddad telah mengabarkan kepada kami Bisyir bin Al Mufadhdhal telah menceritakan kepada kami Husain AL Mu’alim dari ‘Atha’ dari Jabir radliallahu ‘anhu berkata; Ketika terjadi perang Uhud, pada suatu malamnya bapakku memanggilku seraya berkata,: “Tidaklah aku melihat diriku (menduga) melainkan aku akan menjadi orang yang pertama-tama gugur diantara para sahabat Nabi Shallallahu’alaihiwasallam (dalam peperangan ini) dan aku tidak meninggalkan sesuatu yang berharga bagimu sepeninggalku melainkan diri Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam. Dan aku mempunyai hutang, maka lunasilah dan berilah nasehat yang baik kepada saudara- saudaramu yang perempuan”. Pada pagi harinya kami dapati bapakku adalah orang yang pertama gugur dan dikuburkan bersama dengan yang lain dalam satu kubur. Setelah itu perasaanku tidak enak dengan membiarkan dia bersama yang lain, maka kemudian aku keluarkan setelah enam bulan lamanya dari hari pemakamannya dan aku dapati jenazah bapakku masih utuh sebagaimana hari dia dikebumikan dan tidak ada yang berubah padanya kecuali sedikit pada ujung bawah telinganya”.
  3. Telah menceritakan kepada kami ‘Ali bin ‘Abdullah telah menceritakan kepada kami Sa’id bin ‘Amir  dari  Syu’bah  dari  Ibnu  Abu  Najih  dari  ‘Atha’  dari  Jabir  radliallahu  ‘anhu berkata; “Seorang laki-laki dikuburkan bersama dengan bapakku namun kemudian perasaanku tidak enak hingga akhirnya aku keluarkan dan aku kuburkan dalam satu liang kubur kembali”.

Bab: Liang Lahad (Lobang di samping) dan Syaq (Lobang di Tengah) pada Lobang Kuburan

  1. Telah menceritakan kepada kami ‘Abdan telah mengabarkan kepada kami ‘Abdullah telah mengabarkan kepada kami Al Laits bin Sa’ad berkata, telah menceritakan kepada kami Ibnu Syihab dari ‘Abdurrahman bin Ka’ab bin Malik dari Jabir bin ‘Abdullah radliallahu ‘anhua berkata,: “Nabi Shallallahu’alaihiwasallam pernah menggabungkan dalam satu kubur dua orang laki-laki yang gugur dalam perang Uhud dan dalam satu kain, lalu bersabda: “Siapakah diantara mereka yang lebih banyak mempunyai hafalan Al Qur’an”. Bila Beliau telah diberi tahu kepada salah satu diantara keduanya, maka Beliau mendahulukannya didalam lahad lalu bersabda: “Aku akan menjadi saksi atas mereka pada hari qiyamat”. Maka kemudian Beliau memerintahkan agar menguburkan mereka dengan darah-darah mereka dan tidak pula dimandikan”.

Bab: Jika Anak Kecil Masuk Islam Lalu Mati Apakah Wajib Dishalati?. Apakah Islam Wajib Diperkenalkan Kepada Anak Kecil?.

  1. Telah menceritakan kepada kami ‘Abdan telah mengabarkan kepada kami ‘Abdullah dari Yunus dari Az Zuhri berkata, telah mengabarkan kepada saya Salim bin ‘Abdullah bahwa Ibnu’Umar radhiyallahu’anhuma mengabarkannya bahwa ‘Umar dan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berangkat bersama rambongan untuk mememui Ibnu Shayyad hingga akhirnya mereka mendapatinya sedang  bermain  bersama  anak-anak  yang  lain  di  bangunan  yang tinggi milik Bani Magholah. Ibnu Shayyad sudah mendekati baligh dan dia tidak menyadari (kedatangan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam) hingga akhirnya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menepuknya dengan tangan Beliau kemudian berkata kepada Ibnu Shayyad: “Apakah  kamu  bersaksi  bahwa  aku  ini  utusan Allah?”.  Maka  Ibnu  Shayyad  memandang Beliau lalu berkata: “Aku bersaksi bahwa kamu utusan kaum ummiyyin (kaum yang tidak kenal baca tulis) “. Kemudian Ibnu Shayyad berkata, kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam: “Apakah kamu juga bersaksi bahwa aku ini utusan Allah?”. Maka Beliau menolaknya dan berkata, “Aku beriman kepada Allah dan kepada Rasul-rasulNya”. Kemudian Beliau berkata: “Apa yang kamu pandang sebagai alasan (sehingga mengaku sebagai Rasul). Berkata, Ibnu Shayyad: “Karena telah datang kepadaku orang yang jujur dan pendusta”. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Urusanmu jadi kacau”. Kemudian Nabi shallallahu

‘alaihi wasallam berkata, kepadanya: “Sesungguhnya aku menyembunyikan (sesuatu dalam hatiku)  coba  kamu  tebak?”.  Ibnu  Shayyad  berkata:  “Itu  adalah  asap”.  Beliau  berkata: “Hinalah kamu, dan kamu tidak bakalan melebihi kemampuanmu sebagai seorang dukun. Lalu ‘Umar bin Al Khaththob Radhiyallahu’anhu berkata: “Wahai Rasulullah, biarkanlah aku memenggal  leher  orang  ini!”.  Maka  Beliau  berkata:  “Jika  dia  benar,  kamu  tidak  akan berkuasa atasnya dan bila dia benar maka tidak ada kebaikan buatmu dengan membunuhnya”. Berkata, Salim; Aku mendengar Ibnu ‘Umar Radhiyallahu’anhuma: “Setelah itu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan Ubay bin Ka’ab pergi menuju satu pohon kurma tempat Ibnu Shayyad sebelumnya berada di situ dengan harapan Beliau dapat mendengar sesuatu  dari  Ibnu  Shayyad  sebelum  dia  melihat  Beliau.  Maka  Nabi  shallallahu  ‘alaihi wasallam melihat Ibnu Shayyad sedang tertidur dibalik baju tebalnya dengan mendengkur ringan. Dalam keadaan itu ibu dari Ibnu Shayyad melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sedang duduk di bawah pohon kurma, maka ibunya berkata, kepada Ibnu Shayyad: “Wahai Shaf, (ini nama dari Ibnu Shayyad), Muhammad shallallahu’alaihi wasallam”. Maka Ibnu  Shayyad  kembali  pada  keadaannya  semula  (berbaring).  Kemudian  Nabi  shallallahu ‘alaihi wasallam berkata: “Seandainya ibunya biarkan, pasti jelaslah persoalannya (dajjal atau bukan)”. Dan Syu’aib berkata; ‘menekannya dengan ramramah (suara halus) atau zamzamah. Sedangkan Ishaq Al Kalbi dan ‘Uqail berkata; “ramramah”. Ma’mar berkata; ramzah.

  1. Telah menceritakan kepada kami Sulaiman bin Harb telah menceritakan kepada kami Hammad dia adalah Ibnu Zaid dari Tsabit dari Anas radliallahu ‘anhu berkata,: “Ada seorang anak kecil Yahudi yang bekerja membantu Nabi Shallallahu’alaihiwasallam menderita sakit. Maka Nabi Shallallahu’alaihiwasallam menjenguknya dan Beliau duduk di sisi kepalanya lalu bersabda: “Masuklah Islam”. Anak kecil itu memandang kepada bapaknya yang berada di dekatnya, lalu bapaknya berkata,: “Ta’atilah Abu Al Qasim Shallallahu’alaihiwasallam”. Maka anak kecil itu   masuk  Islam.  Kemudian  Nabi  Shallallahu’alaihiwasallam   keluar   sambil bersabda: “Segala puji bagi Allah yang telah menyelamatkan anak itu dari neraka”.
  2. Telah menceritakan kepada kami ‘Ali bin ‘Abdullah telah menceritakan kepada kami Sufyan berkata; ‘Ubaidullah bin Abu Yazid berkata; Aku mendengar Ibnu ‘Abbas radliallahu ‘anhuma berkata,: “Aku dan ibuku adalah termasuk orang-orang lemah, aku dari golongan anak-anak dan ibuku dari golongan wanita”.
  3. Telah menceritakan kepada kami Abu Al Yaman telah mengabarkan kepada kami Syu’aib berkata, Ibnu Syihab: “Setiap anak yang wafat wajib dishalatkan sekalipun anak hasil zina karena dia dilahirkan dalam keadaan fithrah Islam, jika kedua orangnya mengaku beragama Islam atau hanya bapaknya yang mengaku beragama Islam meskipun ibunya tidak beragama Islam selama anak itu ketika dilahirkan mengeluarkan suara (menangis) dan tidak dishalatkan bila  ketika  dilahirkan anak itu tidak sempat mengeluarkan suara (menangis) karena dianggap keguguran sebelum sempurna, berdasarkan perkataan Abu Hurairah radliallahu ‘anhu yang menceritakan bahwa Nabi Shallallahu’alaihiwasallam bersabda: “Tidak ada seorang anakpun yang terlahir kecuali dia dilahirkan dalam keadaan fithrah. Maka kemudian kedua orang tuanyalah yang akan menjadikan anak itu menjadi Yahudi, Nashrani atau Majusi sebagaimana binatang ternak yang melahirkan binatang ternak dengan sempurna. Apakah kalian melihat ada cacat padanya?”. Kemudian Abu Hurairah radliallahu

‘anhu berkata, (mengutip firman Allah QS Ar-Ruum: 30 yang artinya: (‘Sebagai fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu”).

  1. Telah menceritakan kepada kami ‘Abdan telah mengabarkan kepada kami ‘Abdullah telah mengabarkan kepada kami Yunus dari Az Zuhriy telah mengabarkan kepada saya Abu Salamah bin ‘Abdurrahman bahwa Abu Hurairah radliallahu ‘anhu berkata; Telah bersabda Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam: “Tidak ada seorang anak pun yang terlahir kecuali dia dilahirkan dalam keadaan fithrah. Maka kemudian kedua orang tuanyalah yang akan menjadikan anak itu menjadi Yahudi, Nashrani atau Majusi sebagaimana binatang ternak yang melahirkan binatang ternak dengan sempurna. Apakah kalian melihat ada cacat padanya”. Kemudian Abu Hurairah radliallahu ‘anhu berkata, (mengutip firman Allah subhanahu wata’ala QS Ar-Ruum: 30 yang artinya: (‘Sebagai fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus”).

Bab: Jika Seorang Musyrik Mengucapkan Kaliamt “Laa Ilaaha Illallah” Menjelang Kematiannya

  1. Telah menceritakan kepada kami Ishaq telah mengabarkan kepada kami Ya’qub bin Ibrahim berkata, telah menceritakan apakku kepadaku dari Shalih dari Ibnu Syihab berkata, telah mengabarkan kepada saya telah mengabarkan kepada saya Sa’id bin Al Musayyab dari bapaknya bahwasanya dia  mengabarkan  kepadanya:  “Ketika  menjelang  wafatnya  Abu Tholib, Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam mendatanginya dan ternyata sudah ada Abu Jahal bin Hisyam dan ‘Abdullah bin Abu Umayyah bin Al Mughirah. Maka Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam  berkata,  kepada  Abu  Tholib:  “Wahai  pamanku  katakanlah  laa ilaaha illallah, suatu kalimat yang dengannya aku akan menjadi saksi atasmu di sisi Allah”. Maka berkata, Abu Jahal dan ‘Abdullah bin Abu Umayyah: “Wahai Abu Thalib, apakah kamu akan  meninggalkan  agama  ‘Abdul Muthalib?”.  Rasulullah  Shallallahu’alaihiwasallam  terus menawarkan kalimat syahadat kepada Abu Tholib dan bersamaan itu pula kedua orang itu mengulang pertanyaannya yang berujung Abu Tholib pada akhir ucapannya tetap mengikuti agama ‘Abdul Muthalib dan enggan untuk mengucapkan laa ilaaha illallah. Maka berkatalah Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam: “Adapun aku akan tetap memintakan ampun buatmu selama  aku  tidak  dilarang”.  Maka  turunlah  firman  Allah  subhanahu  wata’ala  tentang peristiwa ini: (“Tidak patut bagi Nabi …”) dalam QS AT-Taubah ayat 113).

Bab: Menancapkan Pelepah Daun (Kurma) di atas Kuburan

  1. Telah menceritakan kepada kami Yahya telah menceritakan kepada kami Abu Mu’awiyah dari Al A’masy dari Mujahid dari Thawus dari Ibnu ‘Abbas radliallahu ‘anhuma berkata, dari Nabi Shallallahu’alaihiwasallam bahwasanya Beliau berjalan melewati dua kuburan yang penghuninya sedang disiksa, lalu Beliau bersabda: “Keduanya sungguh sedang disiksa, dan tidaklah keduanya disiksa disebabkan karena berbuat dosa besar. Yang satu disiksa karena tidak bersuci setelah kencing sedang yang satunya lagi karena selalu mengadu domba” Kemudian Beliau mengambil sebatang dahan kurma yang masih basah daunnya lalu membelahnya menjadi dua   bagian   kemudian   menancapkannya   pada   masing-masing kuburan tersebut. Mereka bertanya: “Kenapa anda melakukan ini?”. Nabi Shallallahu’alaihiwasallam menjawab: “Semoga diringankan (siksanya) selama batang pohon ini basah”.

Bab:  Nasehat  Yang  Disampaikan Seseorang di  Kuburan  dan  Sementara Teman- temannya Duduk di Sekelilingnya

  1. Telah menceritakan kepada kami ‘Utsman telah menceritakan kepada saya Jarir dari Manshur dari Sa’ad bin ‘Ubaidah dari Abu ‘Abdurrahman dari ‘Ali radliallahu ‘anhu berkata,: Kami pernah berada di dekat kuburan Baqi’ Al Ghorqad yang kemudian Nabi Shallallahu’alaihiwasallam mendatangi kami, lalu Beliau duduk maka kami pun ikut duduk dekat Beliau. Beliau  membawa  sebuah  tongkat  kecil  yang  dengan  tongkat  itu  Beliau memukul-mukul permukaan  tanah dan mengorek-ngoreknya seraya berkata,: “Tidak ada seorangpun  dari  kalian  dan  juga  tidak  satupun  jiwa  yang  bernafas  melainkan  telah ditentukan tempatnya di surga atau di neraka dan melainkan sudah ditentukan jalan sengsaranya atau bahagianya”. Kemudian ada seorang yang berkata,: “Wahai Rasulullah, dengan begitu apakah kita tidak pasrah saja menunggu apa yang sudah ditentukan buat kita dan  kita  tidak  perlu  beramal?.  Karena  barangsiapa  diantara  kita  yang  telah  ditentukan sebagai  orang  yang  berbahagia,  maka  pasti  dia  sampai  kepada  amalan  orang  yang berbahagia,  sebaliknya  siapa  diantara  kita  yang  telah  ditentukan  sebagai  orang  yang sengsara maka pasti dia akan sampai kepada amalan orang yang sengsara”. Maka Beliau bersabda: “(Tidak begitu). Akan tetapi siapa yang telah ditetapkan sebagai orang yang berbahagia, dia akan dimudahkan untuk beramal amalan orang yang berbahagia dan sebaliknya orang yang telah ditetapkan sebagai orang yang akan sengsara maka dia pasti akan dimudahkan beramal amalan orang yang sengsara”. Kemudian Beliau membaca firman Allah  subhanahu  wata’ala  QS  Al  Lail  ayat  5  –  6  yang  artinya:  (“Adapun  orang  yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa serta membenarkan adanya pahala yang terbaik (syurga) “).

 

Bab: Tentang Orang Yang Mati Bunuh Diri

  1. Telah menceritakan kepada kami Musaddad telah menceritakan kepada kami Yazid bin Zurai’ telah menceritakan kepada kami Khalid dari Abu Qalabah dari Tsabit bin Adh-Dhahhak radliallahu ‘anhu dari Nabi Shallallahu’alaihiwasallam bersabda: “Barangsiapa yang bersumpah setia dengan agama selain Islam secara dusta dan sengaja, maka dia seperti apa yang dikatakannya, dan barangsiapa membunuh dirinya sendiri dengan besi, maka dia akan disiksa di dalam nereka Jahanam”. Dan berkata, Hajjaj bin Minhal telah menceritakan kepada kami Jarir bin Hazim dari Al Hasan telah menceritakan kepada kami Jundab radliallahu ‘anhu: “Didalam masjid ini tidak akan kami lupakan dan kami tidak takut bahwa Jundab akan berdusta atas nama Nabi Shallallahu’alaihiwasallam, dia berkata,: “Pernah ada seorang yang terluka lalu dia  bunuh  diri  maka  Allah  Shallallahu’alaihiwasallam  berfirman:  “HambaKu mendahului aku dalam hal nyawanya sehingga aku haramkan baginya surga”.
  2. Telah menceritakan kepada kami Abu AL Yaman telah mengabarkan kepada kami Syu’aib telah menceritakan kepada kami Abu Az Zanad dari Al A’raj dari Abu Hurairah radliallahu ‘anhu berkata; Telah bersabda Nabi Shallallahu’alaihiwasallam: “Barangsiapa yang mencekik dirinya (hingga mati) maka dia akan dicekik di neraka dan barangsiapa yang menikam dirinya (hingga mati) maka dia akan di tikam di neraka”.

Bab: Larangan Menshalati Jenazah Orang Munafiq dan  Memohonkan Ampunan Bagi Kaum Musyrikin

  1. Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Bukair telah menceritakan kepada saya Al Laits dari ‘Uqail dari Ibnu Syihab dari ‘Ubaidullah bin ‘Abdullah dari Ibnu ‘Abbas dari ‘Umar bin Al Khaththab radliallahu ‘anhu bahwasanya dia berkata,: “Ketika ‘Abdullah bin Ubay bin Salul meninggal dunia, Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam diminta untuk menyolatkannya. Ketika Beliau sudah berdiri hendak shalat aku hampiri Beliau lalu aku berkata: “Wahai Rasulullah, apakah anda akan menyolatkan anak Ubay padahal dia suatu hari pernah mengatakan begini begini, begini dan begini, (aku mengulang-ulang ucapan bin Ubay yang dahulu pernah dilontarkan kepada Nabi) “. Ternyata Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam malah tersenyum seraya berkata,: “Cukupkanlah ucapanmu dariku wahai ‘Umar. Ketika aku terus berbicara kepada Beliau, Beliau berkata,: “Sungguh aku diberi pilihan dan aku memilih seandainya aku mengetahui bila aku menambah lebih dari tujuh puluh kali permohonan ampun baginya dia akan diampuni, pasti aku akan tambah (permohonan ampun baginya) “. ‘Umar berkata,: “Maka kemudian Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam menyolatkannya hingga selesai, tak lama setelah Beliau terdiam, turunlah firman Allah subhanahu wata’ala QS At-Taubah ayat 84 yang artinya (“Dan janganlah kamu menyolatkan siapa yang mati dari mereka selamanya” hingga ayat “mereka mati dalam keadaan fasiq”).

Bab: Pujian Manusia Terhadap Mayat

  1. Telah menceritakan kepada kami Adam telah menceritakan kepada kami Syu’bah telah menceritakan kepada kami ‘Abdul ‘Aziz bin Shuhaib berkata; aku mendengar Anas bin Malik radliallahu ‘anhu berkata,:  “Mereka  (para  sahabat)  pernah  melewati  satu  jenazah  lalu mereka menyanjungnya dengan kebaikan. Maka Nabi Shallallahu’alaihiwasallam bersabda: “Pasti baginya”. Kemudian mereka melewati jenazah yang lain lalu mereka menyebutnya dengan keburukan, maka Beliaupun bersabda: “Pasti baginya”. Maka kemudian ‘Umar bin Al Khaththab   radliallahu   ‘anhu   bertanya:   “Apa   yang   dimaksud   pasti   baginya?”.   Beliau menjawab: “Jenazah pertama kalian sanjung dengan kebaikan, maka pasti baginya masuk surga sedang jenazah kedua kalian menyebutnya dengan keburukan, berarti dia masuk neraka karena kalian adalah saksi-saksi Allah di muka bumi”.
  2. Telah menceritakan kepada kami ‘Affan bin Muslim, dia dijuluki Ash-Shaffar telah menceritakan kepada kami Daud bin Abu Al Furat dari ‘Abdullah bin Buraidah dari Abu Al Aswad berkata,: “Aku pernah berkunjung ke kota Madinah saat sedang berjangkitnya penyakit. Saat aku sedang duduk dekat ‘Umar bin Al Khaththab radliallahu ‘anhu tiba-tiba ada jenazah yang lewat di hadapan mereka lalu mereka menyanjungnya dengan kebaikan. Maka ‘Umar radliallahu ‘anhu berkata,: “Pasti baginya”. Tak lama kemudian lewat jenazah yang lain lalu jenazah itu pun disanjung dengan kebaikan. Maka ‘Umar radliallahu ‘anhu berkata, lagi: “Pasti baginya”. Kemudian lewat jenazah yang ketiga lalu jenazah itu disebut dengan keburukan, maka ‘Umar radliallahu ‘anhu pun berkata,: “Pasti baginya”. Berkata, Abu Al Aswad; maka aku bertanya: “Apa yang dimaksud pasti baginya, wahai Amirul mu’minin?”. Maka dia berkata,:    “Aku    mengatakannya    seperti    yang    dikatakan    oleh    Nabi Shallallahu’alaihiwasallam: “Bilamana seorang muslim (meninggal dunia) lalu disaksikan (disanjung) oleh empat orang muslim lainnya dengan kebaikan maka pasti Allah akan memasukakannya ke dalam surga”. Maka kami bertanya kepadanya: “Bagaimana kalau tiga orang muslim?”. Dia menjawab; “Juga oleh tiga orang”. Kami berkata lagi: “Bagaimana kalau dua orang muslim?”. Dia menjawab; “Juga oleh dua orang”. Dan kami tidak menanyakannya lagi bagaimana kalau satu orang”.

Bab: Tentang Adzab (Siksa) Qubur

  1. Telah menceritakan kepada kami Hafsh bin ‘Umar telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari ‘Alqamah bin Martsad dari Sa’ad bin ‘Ubadah dari Al Bara’ bin ‘Azib radliallahu ‘anhuma dari Nabi Shallallahu’alaihiwasallam bersabda: “Apabila (jenazah) seorang muslim sudah didudukkan dalam kuburnya maka dia akan dihadapkan (pertanyaan malaikat), kemudian ia bersaksi bahwa tidak ada ilah yang berhak disembah kecuali Allah dan Muhammad utusan Allah. Itulah perkataan seorang muslim sebagaimana firman Allah subhanahu wata’ala (QS Ibrahim ayat 27 yang artinya): (“Allah akan meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu”). Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin   Basysyar   telah   menceritakan   kepada   kami   Ghundar   telah menceritakan kepada kami Syu’bah seperti riwayat ini lalu menambahkannya (firman Allah subhanahu wata’ala): (“Allah akan meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman…”) ayat ini turun berkenaan dengan masalah siksa kubur”.
  2. Telah menceritakan kepada kami ‘Ali bin ‘Abdullah telah menceritakan kepada kami Ya’qub bin Ibrahim telah menceritakan kepadaku bapakku dari Shalih telah menceritakan kepada saya Nafi’ bahwa Ibnu ‘Umar radliallahu ‘anhuma mengabarkannya berkata; Nabi Shallallahu’alaihiwasallam mendatangi para   penghuni   sumur   (kaum   musyrikin)   yang terbunuh dalam perang Badar lalu bersabda: “Kalian telah mendapatkan apa yang dijanjkan Rabb kalian adalah benar”. Lalu Beliau ditanya: “Anda memanggil mereka (yang sudah mati)?”. Maka Beliau menjawab: “Tidaklah kalian lebih bisa mendengar daripada mereka, hanya saja mereka tidak dapat menjawab”.
  3. Telah menceritakan  kepada  kami  ‘Abdullah  bin  Muhammad  telah  menceritakan kepada kami Sufyan dari Hisyam bin ‘Urwah dari Bapaknya dari ‘Aisyah radliallahu ‘anha berkata; Nabi Shallallahu’alaihiwasallam bersabda: “Mereka (kaum musyrikin yang terbunuh dalam perang Badar) telah mengetahui sekarang bahwa apa yang aku katakan (terbukti) benar dan Allah telah berfirman (QS An-Naml ayat 80 yang artinya): (“Sungguh kamu tidak akan dapat menjadikan orang yang sudah mati bisa mendengar”).
  4. Telah menceritakan kepada kami ‘Abdan telah mengabarkan bapakku kepadaku nd Syu’bah; aku mendengar Al Asy’ats dari Bapaknya dari Masruq dari ‘Aisyah radliallahu ‘anha (berkata); ada seorang wanita Yahudi menemuinya lalu menceritakan perihal siksa kubur kemudian berkata (kepada Aisyah radliallahu ‘anha); “Semoga Allah melindungimu dari siksa kubur”. Kemudian setelah itu ‘Aisyah radliallahu ‘anha bertanya kepada Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam perihal siksa  kubur,  maka  Beliau  menjawab:  “Ya  benar,  siksa kubur  itu  ada”.  Kemudian  ‘Aisyah  radliallahu  ‘anha  berkata:  “Maka  sejak  itu  aku  tidak melihat Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam setelah melaksanakan shalat kecuali Beliau memohon perlindungan dari siksa kubur”. Ghundar menambhakan: “Siksa kubur itu benar adanya”.
  5. Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Sulaiman telah menceritakan kepada kami Ibnu Wahb berkata, telah menceritakan kepada saya Yunus dari Ibnu Syihab telah mengabarkan kepada saya ‘Urwah bin Az Zubair bahwasanya dia mendengar Asma’ binti Abu Bakar radliallahu ‘anhuma berkata,: “Suatu hari Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam berdiri menyampaikan khuthbah lalu menyebut perihal fitnah kubur yang setiap orang akan diuji karennaya. Ketika Beliau menyebutkan hal tersebut kaum muslimun menjadi gaduh dan berteriak”.
  6. Telah menceritakan kepada kami ‘Ayyasy bion Al Walid telah menceritakan kepada kami ‘Abdul A’laa telah menceritakan kepada kami Sa’id dari Qatadah dari Anas bin Malik radliallahu ‘anhu bahwasanya dia menceritakan kepada mereka bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam bersabda: “Jika seorang hamba (jenazahnya) sudah diletakkan didalam kuburnya dan teman-temannya sudah berpaling dan pergi meninggalkannya dan dia dapat mendengar gerak langkah sandal sandal mereka, maka akan datang kepadanya dua malaikat yang keduanya akan mendudukkannya seraya keduanya berkata, kepadanya: “Apa yang kamu ketahui  tentang  laki-laki  ini,  Muhammad  Shallallahu’alaihiwasallam?”.  bila seorang mu’min  dia  akan menjawab: “Aku bersaksi bahwa dia adalah hamba Allah dan utusanNya”. Maka dikatakan kepadanya: “Lihatlah tempat dudukmu di neraka yang Allah telah menggantinya dengan tempat duduk di surga. Maka dia dapat melihat keduanya”.”. Qatadah berkata,: “Dan diceritakan kepada kami bahwa dia (hamba mu’min itu) akan dilapangkan dalam kuburnya”. Kemudian dia kembali melanjutkan hadits Anas radliallahu ‘anhu.: ” Dan adapun (jenazah) orang kafir atau munafiq akan dikatakan kepadanya apa yang kamu ketahui tentang laki-laki ini?”. Maka dia akan menjawab: “Aku tidak tahu, aku hanya berkata, mengikuti apa yang dikatakan kebanyakan orang”. Maka dikatakan kepadanya: “Kamu  tidak  mengetahuinya  dan  tidak  mengikuti  orang  yang  mengerti”.  Kemudian  dia dipukul dengan palu godam besar terbuat dari besi sehingga mengeluarkan suara teriakan yang dapat didengar oleh yang ada di sekitarnya kecuali oleh dua makhluq (jin dan manusia) “.

Bab: Memohon Perlindungan dari Adzab Qubur

  1. Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al Mutsanna telah menceritakan kepada kami Yahya telah menceritakan kepada kami Syu’bah berkata, telah menceritakan kepada saya ‘Aun bin Abu Juhaifah dari Bapaknya dari Al Bara’ bin ‘Azib dari Abu Ayyub radliallahu ‘anhum berkata,: Suatu hari Nabi Shallallahu’alaihiwasallam keluar saat matahri sudah meninggi lalu Beliau mendengar suara, maka Beliau bersabda: “Orang Yahudi sedang disiksa didalam kuburnya”.  Dan  berkata,  An-Nadhar  telah  mengabarkan  kepada  kami Syu’bah telah menceritakan kepada kami ‘Aun aku mendengar Bapakku, (berkata,) Aku mendengar Al Bara’ dari Abu Ayyub radliallahu ‘anhu dari Nabi Shallallahu’alaihiwasallam.
  2. Telah menceritakan kepada kami Mu’allaa telah menceritakan kepada kami Wuhaib dari Musa bin ‘Uqbah berkata, telah menceritakan kepada saya dari Khalid bin Sa’id bin Al ‘Ash bahwa dia mendengar Nabi Shallallahu’alaihiwasallam ketika Beliau berlindung dari siksa kubur.
  3. Telah menceritakan kepada kami Muslim bin Ibrahim telah menceritakan kepada kami Hisyam telah menceritakan kepada kami Yahya dari Abu Salamah dari Abu Hurairah radliallahu ‘anhu berkata, Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam berdo’a: “Allahumma innii ‘A’uudzu bika min ‘adzaabil qabri wa min ‘adzaabin naar wa min fitnatil mahyaa wal mamaati wa min fitmatil masiihid dajjaal” (artinya): (“Ya Allah aku berlindung kepadaMu dari suksa kubur dan dari siksa api neraka dan dari fitnah kehidupan dan kematian dan dari fitnah Al Masihid Dajjal”).

Bab: Adzab Qubur Akibat Dosa Ghibah (Menggunjing Aib Orang) dan Air Kencing

  1. Telah menceritakan kepada kami Qutaibah telah menceritakan kepada kami Jarir dari Al A’masy dari  Mujahid  dari  Thowus  dari  Ibnu ‘Abbas  radliallahu  ‘anhuma  bahwa:  Nabi Shallallahu’alaihiwasallam berjalan melewati dua kuburan lalu Beliau bersabda: “Keduanya sungguh  sedang disiksa, dan tidaklah keduanya disiksa disebabkan karena berbuat dosa besar. Kemudian Beliau bersabda: “Demikianlah. Adapun yang satu disiksa karena selalu mengadu domba sedang yang satunya lagi tidak bersuci setelah kencing.” Ibnu ‘Abbas radliallahu ‘anhu: “Kemudian Beliau mengambil sebatang dahan kurma lalu membelahnya menjadi dua bagian kemudian menancapkannya pada masing-masing kuburan tersebut seraya berkata,: “Semoga diringankan (siksanya) selama batang pohon ini masih basah”.

Bab: Diperlihatkan Kepada Mayit Tempat Duduknya Kelak di Surga Setiap Pagi dan Petang

  1. Telah menceritakan kepada kami Isma’il berkata, telah menceritakan kepadaku Malik dari Nafi’ dari ‘Abdullah bin ‘Umar radliallahu ‘anhuma bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Jika seorang dari kalian meninggal dunia maka akan ditampakkan kepadanya tempat duduk (tinggal) nya setiap pagi dan petang hari. Jika dia termasuk penduduk surga, maka akan (melihat kedudukannya) sebagai penduduk surga dan jika dia termasuk penduduk neraka, maka akan (melihat kedudukannya) sebagai penduduk neraka lalu dikatakan kepadanya inilah tempat duduk tinggalmu hingga nanti Allah membangkitkanmu pada hari qiyamat”.

Bab:  Mayit  Berbicara  tentang  Jenazah  Dirinya  Sendiri  Ketika  Akan  Dibawa  ke Kuburan

  1. Telah menceritakan kepada kami Qutaibah telah menceritakan kepada kami Al Laits dari Sa’id bin Abu Sa’id dari bapaknya bahwa dia mendengar Abu Sa’id AL Khudriy radliallahu ‘anhu berkata; Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam bersabda: “Jika jenazah diletakkan lalu dibawa oleh para pemandu di atas pundak mereka, maka jika jenazah tersebut termasuk orang shalih (semasa hidupnya) maka dia akan berkata; “Bersegeralah kalian, bersegeralah kalian (membawa aku). Dan jika ia bukan dari orang shalih, maka dia akan berkata; “Celaka, kemana mereka akan  membawanya?.  Suara  jenazah  itu  didengar  oleh  setiap  makhluq kecuali  manusia dan  seandainya ada manusia yang mendengarnya tentu dia akan jatuh pingsan”.

Bab: Pembicaraan Tentang Kematian dan Keberadaan Mayit dari Anak-anak Kaum Muslimin

  1. Telah menceritakan kepada kami Ya’qub bin Ibrahim telah menceritakan kepada kami Ibnu ‘Ulayyah telah menceritakan kepada kami ‘Abdul ‘Aziz bin Shuhaib dari Anas bin Malik radliallahu ‘anhu berkata; Nabi Shallallahu’alaihiwasallam telah bersabda: “Tidak seorang muslimpun yang ditinggal wafat oleh tiga orang anaknya yang belum baligh kecuali Allah memasukkannya ke dalam surga karena limpahan rahmatNya kepada mereka”.
  2. Telah menceritakan kepada kami Abu Al Walid telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari ‘Adiy bin Tsabit bahwa dia mendengar Al Bara’ radliallahu ‘anhu berkata; Ketika Ibrahim (putra Nabi  Shallallahu’alaihiwasallam)  meninggal  dunia,  Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Baginya akan ada yang menyusuinya di surga”.

Bab: Pembicaraan Tentang Keberadaan Mayit dari Anak-anak Kaum Musyrikin

  1. Telah menceritakan kepada kami Hibban bin Musa telah mengabarkan kepada kami ‘Abdullah telah mengabarkan kepada kami Syu’bah dari Abu Bisyir dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu ‘Abbas radliallahu  ‘anhuma  berkata,:  Ketika  Rasulullah  Shallallahu’alaihiwasallam ditanya tentang anak-anak orang musyrikin (yang meninggal dunia), Beliau bersabda: “Allah subhanahu wata’ala ketika menciptakan mereka, lebih mengetahui apa yang mereka kerjakan”.
  2. Telah menceritakan kepada kami Abu Al Yaman telah mengabarkan kepada kami Syu’aib dari Az Zuhriy berkata, telah mengabarkan kepada saya ‘Atha’ bin Yazid Al Laitsiy bahwa dia mendengar Abu Hurairah radliallahu ‘anhu berkata,: Ketika Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam ditanya tentang keturunan orang musyrikin (yang meninggal dunia), Beliau bersabda: “Allah subhanahu wata’ala ketika menciptakan mereka lebih mengetahui apa yang telah mereka kerjakan”.
  3. Telah menceritakan kepada kami Adam telah menceritakan kepada kami Ibnu Abu Dza’bi dari Az Zuhriy dari Abu Salamah bin ‘Abdurrahman dari Abu Hurairah radliallahu ‘anhu berkata; Nabi Shallallahu’alaihiwasallam bersabda: “Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fithrah. Kemudian kedua orang tunyalah yang akan menjadikan anak itu menjadi Yahudi, Nashrani atau Majusi sebagaimana binatang ternak yang melahirkan binatang ternak dengan sempurna. Apakah kalian melihat ada cacat padanya?”
  4. Telah menceritakan kepada kami Musa bin Isma’il telah menceritakan kepada kami Jarir bin Hazim telah menceritakan kepada kami Abu Raja’ dari Samrah bin Jundab berkata; Sudah menjadi kebiasaan Nabi Shallallahu’alaihiwasallam bila selesai melaksanakan suatu shalat, Beliau menghadapkan wajahnya kepada kami lalu berkata,: “Siapa diantara kalian yang tadi malam  bermimpi”.  Dia  (Samrah  bin Jundab)  berkata,:  “Jika  ada  seorang  yang bermimpi maka orang itu akan menceritakan, saat itulah Beliau berkata,: “Maa sya-allah” (atas kehendak Allah) “. Pada suatu hari yang lain Beliau bertanya kepada kami: “Apakah ada diantara kalian yang bermimpi?”. Kami menjawab: “Tidak ada”. Beliau berkata,: “Tetapi aku tadi malam bermimpi yaitu ada dua orang laki-laki yang mendatangiku kemudian keduanya memegang tanganku lalu membawaku ke negeri yang disucikan (Al Muqaddasah), ternyata disana ada seorang laki-laki yang sedang berdiri dan yang satunya lagi duduk yang di tangannya memegang sebatang besi yang ujungnya bengkok (biasanya untuk menggantung sesuatu). Sebagian dari sahabat kami berkata, dari Musa bahwa: batang besi tersebut dimasukkan   ke   dalam   satu   sisi   mulut   (dari   geraham)   orang   itu   hingga   menembus tengkuknya.  Kemudian  dilakukan  hal  yang  sama  pada  sisi  mulut  yang  satunya  lagi,  lalu dilepas dari mulutnya dan dimasukkan kembali dan begitu seterusnya diperlakukan. Aku bertanya: “Apa ini maksudnya?”. Kedua orang yang membawaku berkata,: “Berangkatlah”. Maka kami berangkat ke tempat lain dan sampai kepada seorang laki-laki yang sedang berbaring bersandar pada tengkuknya, sedang ada laki-laki lain yang berdiri diatas kepalanya memegang batu atau batu besar untuk menghancurkan kepalanya. Ketika dipukulkan, batu itu menghancurkan kepala orang itu, Maka orang itu menghampirinya untuk mengambilnya dan dia tidak berhenti melakukan ini hingga kepala orang itu kembali utuh seperti semula, kemudian dipukul lagi dengan batu hingga hancur. Aku bertanya: “Siapakah orang ini?”. Keduanya menjawab: “Berangkatlah”. Maka kamipun berangkat hingga sampai pada suatu lubang seperti dapur api dimana bagian atasnya sempit dan bagian bawahnya lebar dan dibawahnya dinyalakan api yang apabila api itu didekatkan, mereka (penghuninya) akan terangkat  dan  bila  dipadamkan  penghuninya  akan  kembali  kepadanya,  penghuninya  itu terdiri dari laki-laki dan perempuan. Aku bertanya: “Siapakah mereka itu?”. Keduanya menjawab: “Berangkatlah”. Maka kami pun berangkat hingga sampai di sebuah sungai yang airnya adalah darah, disana ada seorang laki-laki yang berdiri di tengah-tengah sungai”. Berkata, Yazid dan Wahb bin Jarir dari Jarir bin Hazim: ‘Dan di tepi sungai ada seorang laki- laki yang memegang batu. Ketika orang yang berada di tengah sungai menghadapnya dan bermaksud hendak keluar dari sungai maka laki-laki yang memegang batu melemparnya dengan batu kearah mulutnya hingga dia kembali ke tempatnya semula di tengah sungai, dan terjadilah seterusnya begitu, setiap dia hendak keluar dari sungai, akan dilempar dengan batu sehingga kembali ke tempatnya semula. Aku bertanya: “Apa maksudnya ini?” Keduanya menjawab: “Berangkatlah”. Maka kamipun berangkat hingga sampai ke suatu taman yang hijau, didalamnya penuh dengan pepohonan yang besar-besar sementara dibawahnya ada satu orang tua dan anak-anak dan ada seorang yang berada dekat dengan pohon yang memegang api, manakala dia menyalakan api maka kedua orang yang membawaku naik membawaku memanjat pohon lalu keduanya memasukkan aku ke sebuah rumah (perkampungan) yang belum pernah aku melihat seindah itu sebelumnya dan didalamnya ada para orang laki-laki, orang-orang tua, pemuda, wanita dan anak-anak lalu keduanya membawa aku keluar dari situ lalu membawaku naik lagi ke atas pohon, lalu memasukkan aku ke dalam suatu rumah yang lebih baik dan lebih indah, didalamnya ada orang-orang tua dan para pemuda. Aku berkata: “Ajaklah aku keliling malam ini dan terangkanlah tentang apa yang aku sudah lihat tadi”. Maka keduanya berkata,: “Baiklah. Adapun orang yang kamu lihat mulutnya ditusuk dengan besi adalah orang yang suka berdusta dan bila berkata selalu berbohong, maka dia dibawa hingga sampai ke ufuq lalu dia diperlakukan seperti itu hingga hari qiyamat. Adapun orang yang kamu lihat kepalanya dipecahkan adalah seorang yang telah diajarkan Al Qur’an oleh Allah lalu dia tidur pada suatu malam namun tidak melaksanakan Al Qur’an pada siang harinya, lalu dia diperlakukan seperti itu hingga hari qiyamat. Dan orang-orang yang kamu lihat berada didalam dapur api mereka adalah para pezina sedangkan orang yang kamu lihat berada di tengah sungai adalah mereka yang memakan  riba’  sementara  orang  tua  yang  berada  dibawah  pohon  adalah  Nabi  Ibrahim ‘alaihissalam, sedangkan anak-anak yang ada disekitarnnya adalah anak-anak kecil manusia. Adapun orang yang menyalakan api adalah malaikat penunggu neraka sedangkan rumah pertama yang kamu masuki adalah rumah bagi seluruh kaum mu’minin sedangkan rumah yang ini adalah perkampungan para syuhada’ dan aku adalah Jibril dan ini adalah Mika’il, maka angkatlah kepalamu. Maka aku mengangkat kepalaku ternyata diatas kepalaku ada sesuatu seperti awan. Keduanya berkata,: “Itulah tempatmu”. Aku berkata: “Biarkanlah aku memasuki rumahku”. Keduanya berkata,: ” Umurmu masih tersisa dan belum selesai dan seandainya sudah selesai waktunya kamu pasti akan memasuki rumahmu”.

Bab: Meninggal Dunia pada Hari Senin

  1. Telah menceritakan kepada kami Mu’alla bin Asad telah menceritakan kepada kami Wuhaib dari Hisyam  dari  bapaknya  dari  ‘Aisyah  radliallahu  ‘anha  berkata,:  “Aku  pernah masuk menemui Abu Bakar radliallahu ‘anhu lalu dia berkata,: “Berapa lembar kain kalian mengafani Nabi Shallallahu’alaihiwasallam?”. Dia berkata,: “Dalam tiga lembar kain putih buatan negeri Yaman dan tidak dipakaikan baju dan juga tidak sorban”. Kemudian Abu Bakar radliallahu ‘anhu berkata kepadanya: “Hari apakah Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam wafat?”. ‘Aisyah radliallahu ‘anha menjawab: Hari Senin”. Lalu dia berkata, lagi: “Sekarang ini hari apa?”. Dia ‘Aisyah radliallahu ‘anha menjawab: “Sekarang hari Senin”. Abu Bakar berkata,: “Aku berharap umurku sampai malam ini saja”. Lalu dia memandang baju yang dipakainya sejak dia menderita sakit yang ketika itu bajunya sudah kotor terkena minyak za’faran    (kunyit)   pada   sebagiannya   kemudian   berkata,:   “Cucilah   bajuku   ini   dan tambahkanlah dengan dua baju lain untuk mengafaniku dengannya”. Aku berkata: “Baju ini sudah usang”. Maka dia menjawab: “Orang yang hidup lebih pantas untuk mengenakan yang baru dari  pada  orang yang sudah mati. Kain  itu hanya untuk mewadahi nanah mayat”. Kemudian dia tidak wafat hingga menjelang malam Selasa (dimana akhirnya wafat) lalu ia dikuburkan sebelum pagi”.

Bab: Kematian Yang Mendadak

  1. Telah menceritakan kepada kami Sa’id bin Abu Maryam telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far berkata, telah mengabarkan kepada saya Hisyam bin ‘Urwah dari Bapaknya dari ‘Aisyah radliallahu ‘anha bahwa ada seorang laki-laki berkata, kepada Nabi Shallallahu’alaihiwasallam: “Ibuku meninggal dunia dengan mendadak, dan aku menduga seandainya dia sempat  berbicara  dia  akan  bershadaqah.  Apakah  dia  akan  memperoleh pahala jika aku bershadaqah untuknya (atas namanya)?”. Beliau menjawab: “Ya, benar”.

 

Bab: Tentang Kuburan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa salam, Abu Bakr ash-Shiddiq dan ‘Umar bin Al-Khaththab RAa

  1. Telah menceritakan kepada kami Isma’il telah menceritakan kepada saya Sulaiman dari Hisyam dan diriwayatkan pula dari jalan lain, telah menceritakan kepada saya Muhammad bin Harb telah menceritakan kepada kami Abu Marwan Yahya bin Abu Zakariya’ dari Hisyam dari ‘Urwah dari ‘Aisyah radliallahu ‘anha berkata,: Ketika Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam dalam keadaan sakit dan meminta udzur untuk giliran tinggal dengan isteri-isterinya (Beliau bertanya): “dimana aku hari ini dan dimana kesokannya?”, saat itu rupanya Beliau menginginkan berlama-lama berada dalam giliran ‘Aisyah radliallahu ‘anha. Saat Beliau giliran di rumahku, Allah mencabut nyawa Beliau yang berada dalam dekapan dadaku dan pangkuanku, lalu Beliau dikebumikan di rumahku”.
  2. Telah menceritakan kepada kami Musa bin Isma’il telah menceritakan kepada kami Abu ‘Awanah dari Hilal dia adalah Al Wazzan dari ‘Urwah dari ‘Aisyah radliallahu ‘anha berkata; Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda ketika beliau sakit yang setelah itu beliau tidak bangun lagi (wafat): “Allah melaknat orang-orang Yahudi dan Nashrani disebabkan mereka menjadikan quburan para nabi mereka sebagai masjid”. ‘Aisyah radliallahu ‘anha; “Kalau bukan karena ada sabda beliau tersebut tentu aku pindahkan qubur beliau (dari dalam rumahnya), namun aku tetap khawatir nantinya akan dijadikan masjid”. Dan dari Hilal berkata; “‘Urwah bin Az Zubair pernah memberikan kuniyah (nama panggilan yang dinisbatkan kepada anak) kepadaku namun aku tidak punya anak.”
  3. Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Muqatil telah mengabarkan kepada kami ‘Abdullah telah mengabarkan kepada kami Abu Bakar bin ‘Iyyasy dari Sufyan At-Tamar bahwa dia melihat kuburan Nabi Shallallahu’alaihiwasallam sudah ditinggikan tanahnya sedikit.”
  4. Telah menceritakan kepada kami Farwah telah menceritakan kepada kami ‘Ali bin Mushir dari Hisyam bin ‘Urwah dari bapaknya; Ketika tembok runtuh menimpa kuburan Nabi Shallallahu’alaihiwasallam pada masa kekhilafahan Al Walid bin ‘Abdul-Malik, orang-orang mulai membangun kembali. Saat itu mereka menemukan sebuah kaki yang terputus, mereka mengira bahwa itu adalah kaki Nabi Shallallahu’alaihiwasallam. Mereka tidak menemui seseorang yang mengetahui hal itu, hingga akhirnya ‘Urwah berkata kepada mereka: “Demi Allah itu bukanlah  kaki  Nabi  Shallallahu’alaihiwasallam,  itu  adalah  kaki  Umar  radliallahu ‘anhu.
  5. Dan dari Hisyam  dari bapaknya dari ‘Aisyah radliallahu ‘anha bahwa ia berwasiat kepada  ‘Abdullah  bin  Az  Zubair  radliallahu  ‘anhuma:  “Janganlah  kamu  mengubur  aku bersama  mereka,  namun  kuburkanlah aku  bersama  para  isteri Nabi Shallallahu’alaihiwasallam di Baqi’ agar aku tidak dikeramatkan seorangpun selama- lamanya”.
  6. Telah menceritakan kepada kami Qutaibah telah menceritakan kepada kami Jarir bin ‘Abdul Hamid telah menceritakan kepada kami Hushain bin ‘Abdurrahman dari ‘Amru bin Maimun Al Audiy berkata,: “Aku melihat ‘Umar bin Al Khaththab radliallahu ‘anhu berkata,: “Wahai ‘Abdullah bin Umar temuilah Ummul Mu’minin ‘Aisyah radliallahu ‘anha lalu sampaikan bahwa ‘Umar bin Al Khaththab menyampaikan salam kepadamu, kemudian mintalah agar aku   dikubur   bersama   kedua   temanku.   ‘Aisyah   berkata;   “Aku   dulu menginginkan tempat itu untukku, namun sekarang aku lebih mengutamakannya daripada diriku. Ketika ia pulang, Umar berkata, kepadanya: “Jawaban apa yang kamu bawa?”. Ia menjawab; “Engkau telah mendapat izin wahai Amirul Mu’minin, lalu ia berkata,: “Tidak ada sesuatu yang lebih aku cintai daripada tempat berbaring itu, dan jika aku sudah meninggal, bawalah aku kepadanya lalu sampaikan salam dan katakan bahwa ‘Umar bin Al Khaththab telah meminta izin, dan jika diizinkan maka kuburkanlah aku disana, dan jika tidak, maka kuburlah aku dipekuburan kaum muslimin. Sebab aku tidak mengetahui seseorang yang lebih berhak pada perkara ini daripada mereka, orang-orang yang ketika beliau meninggal maka Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam telah meridhai mereka, maka barangsiapa yang menggantikan aku setelahku dialah khalifah, wajib dengar dan taatlah padanya. Lalu ia menyebut nama ‘Utsman, ‘Ali, Thalhah, Az Zubair, ‘Abdur-Rahman bin ‘Auf, Saad bin Abi Waqqas. Kemudian seorang pemuda Anshar datang kepadanya, ia berkata,: “Wahai Amirul Mu’minin,  berilah  kabar  gembira  yang  diberikan  Allah  kepadamu  karena  masuk  Islam pertama kali seperti yang telah engkau ketahui, lalu engkau diangkat menjadi khalifah dan setelah ini semua engkau akan mati syahid?”. Da menjawab: “Barangkali cukuplah yang engkau katakan itu wahai anak saudaraku, aku berwasiat kebaikan kepada khalifah setelahku terhadap orang-orang yang pertama-tama berhijrah, agar ia mengerti hak-hak mereka dan menjaga kehormatan mereka, dan aku berwasiat kebaikan kepadanya terhadap orang-orang Anshar, yang mereka telah menempati Madinah dan beriman kepada Allah Ta’ala, agar ia terima orang-orang yang baik diantara mereka dan memaafkan orang-orang yang berbuat buruk diantara mereka, dan aku berwasiat kepadanya akan tanggungan Allah dan RasulNya Shallallahu’alaihiwasallam agar ia menepati perjanjian dengannya, dan ia berperang dibelakangnya, serta tidak membebani mereka dengan apa yang tidak mereka mampu”.

Bab: Larangan Mencela Orang Yang Telah Meninggal Dunia

  1. Telah menceritakan kepada kami Adam telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Al A’masy dari Mujahid dari ‘Aisyah radliallahu ‘anha berkata; Nabi Shallallahu’alaihiwasallam telah bersabda: “Janganlah kalian mencela mayat karena mereka telah sampai (mendapatkan) apa yang telah mereka kerjakan”. Dan diriwayatkan oleh ‘Abdullah bin ‘Abdul Quddus dari Al A’masy dan Muhammad bin Anas dari Al A’masy yang dikuatkan oleh ‘Ali bin Al Ja’di dari Ibnu’Ar’arah dari Ibnu ‘Adiy dari Syu’bah.

Bab: Menceritakan Keburukan Orang Yang Telah Meninggal Dunia

  1. Telah menceritakan kepada kami ‘Umar bin Hafsh telah menceritakan bapakku kepada kami bapakku telah menceritakan kepada kami Al A’masy telah menceritakan kepada saya ‘Amru bin Murrah dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu ‘Abbas radliallahu ‘anhuma berkata,: “Abu Lahab, laknat Allah   atasnya,   kepada   Nabi   Shallallahu’alaihiwasallam:   “Celaka   kamu sepanjang jari ini”. Maka turunlah QS Al Lahab (yang artinya): (“Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sesungguhnya dia akan binasa”).

-Shahih Bukhari-

Menyorot HTI: Antara Khilafah VS Negara Pancasila

20170812-ht

Menyorot HTI: Antara Khilafah VS Negara Pancasila [1]

Dian Dwi Jayanto

Salah satu topik yang banyak menyeret perhatian publik kali ini terkait usulan pembubaran HTI oleh pemerintah. Sebagaimana berita yang dimuat di Jawa Pos [2], melalui Menko Polhukam Wiranto menyatakan, HTI dianggap telah melakukan aktifitas gerakan dan menyebarkan gagasan-gagasan yang bertentangan dengan Pancasila dan UUD 1945. Kesimpulan tersebut berangkat dari hasil kajian mendalam yang melibatkan Kemenkum HAM, Kemendagri, dan Polri. Senada dengan pernyataan Menkopolhukam Wiranto, Kapolri Jenderal Tito Karnavian mengungkapkan bahwa, pada dasarnya prinsip khilafah yang diusung oleh HTI sangat berseteru dengan Pancasila.

Benarkah HTI bertentangan dengan Pancasila? Ada baiknya perlu disinggung secara sekilas tentang HTI.

Mengenal HTI

Merujuk pada buku Manifesto Hizbut Tahrir untuk Indonesia [3] dijelaskan bahwa, Hizbut Tahrir merupakan sebuah partai politik yang berideologi Islam, yang didirikan pada tahun 1953 M oleh Taqiyuddin an-Nabhani. Tujuan berdirinya HT adalah membawa umat Islam kembali pada kehidupan Islam di dalam Darul Islam, yakni negara Islam dan masyarakat Islam, sehingga seluruh persoalan kehidupan diatur dengan syariat Islam dalam sebuah Daulah Khilafah. Khilafah sendiri diartikan sebagai sebuah kekuasaan yang menerapkan Islam secara total atau menyeluruh.

Latar belakang gagasan tersebut bertolak dari sejarah hancurnya Khilafah di Istanbul. Mereka berkeyakinan kuat bahwa segala petaka yang terjadi di negara-negara muslim kemudian tidak lepas dari usaha kolonialisasi Inggris dan sekutu-sekutunya pasca runtuhnya sistem kekhilafaan di Turki. Bahkan, menurut mereka, segala paham dan ideologi yang membumi sekarang hanyalah keberlanjutan dari sistem imprealisme negara kafir. Bertolak dari gambaran sejarah tersebut, mereka dengan teguh menyatakan, satu-satunya cara untuk mengembalikan kejayaan Islam yang sempat terpuruk adalah mendirikan kembali sistem khilafah serta penerapan ajaran Islam secara sempurna.[4]

  1. Shiddiq al-Jawi, seorang tokoh HTI dalam sebuah diskusi buku di PADMA (Padepokan Musa Asy’ari, Yogyakarta) pada tanggal 15 September 2007 dengan lantang dan penuh optimisme yang tinggi mengatakan bahwa proyek khilafah akan benar-benar terwujud pada tahun 2020. Sedangkan tokoh HTI lainnya, Farid Wadjdi mengecam keras prinsip demokrasi yang menitikberatkan pada kedaulatan rakyat yang jelas-jelas bertentangan dengan prinsip Islam dan bersifat kufur. Menurut HTI, sistem negara Islam adalah realisasi kongkrit dari penegakkan khilafah Islam, atau kekhilafaan adalah realisasi kongkrit dari negara Islam atau Negara syariat. Sedangkan konsep negara-bangsa yang dikenal luas dan juga diterapkan di Indonesia hari ini tidak lain hanyalah rekayasa penjajah kafir.[5]

Dari uraian singkat di atas, kita bisa menyimpulkan bahwa, meskipun HTI terdapat embel-embel kata Indonesia, harus diakui bahwa gerakan politik ini pada dasarnya bercorak transnasional. Tujuan akhir dari perjuangan politik mereka adalah tegaknya khilafah Islam di seluruh dunia. Bagi mereka, hanya khilafah Islam lah satu-satunya praktek politik yang memang benar-benar dikehendaki oleh syariat.[6]

Pertanyannya kemudian yang perlu ditegaskan kembali adalah, benarkah konsep khilafah yang diusung HTI bertentang dengan Pancasila? Sebelum melangkah untuk menjawab pertanyaan tersebut, terlebih dahulu kiranya mesti mendudukkan pengertian Pancasila sebelum mengatakan apakah benar-benar HTI bertentangan dengan Pancasila atau tidak.

Mendudukkan Pancasila

Menguti pendapat Goenawan Muhammad, kata kunci memahami Pancasila terletak pada prespektif filsafat sejarah yang mengandung arti “kompromi” dan “kekuatan-kekuatan historis”.[7] Artinya, meniadakan perbedaan, perselisihan dan pertentangan di negara majemuk semacam Indonesia ini adalah sebuah harapan yang tak nyata. Namun, kearifan sejarah menjadi modal penting untuk saling memahami makna kehidupan bersama. Goenawan menambahkan, sebab Pancasila bukanlah wahyu yang begitu saja turun dari langit, tapi lahir dari kumpulan kondisi kemelut sosial-politik di bumi Indonesia. Disini Nampak bahwa Goenawan Muhammad menitikberatkan refleksi kesejarahan dalam proses perumusan Pancasila.

Sejarah mencatat, penghapusan tujuh kata dalam sila pertama Pancasila [8] bersifat final dan sekaligus menetapkan Pancasila sebagai konsensus ideologi negara. Ringkasnya, upaya-upaya untuk mendirikan kembali negara Islam hanyalah sebuah nyanyian sumbang sejarah, atau bahkan usaha untuk kembali lagi mengulangi sejarah perdebatan dan bahkan berpotensi benturan yang dulu oleh pendahulu kita telah disikapi dengan arif dan bijaksana.

Pendapat lain tentang Pancasila dijelaskan oleh Kaelani & Achmad Zubaidi, mereka mengatakan, “Pancasila merupakan jawaban dari refleksi ideologi kolektif yang berasal dari nilai-nilai adat-istiadat, nilai-nilai kebudayaan serta nilai religius yang terdapat dalam pandangan hidup masyarakat Indonesia sebelum membentuk negara”.[9] singkatnya, asal muasal dari bahan Pancasila mengambil unsur-unsur yang diangkat dari pandangan hidup masyarakat Indonesia sendiri, meliputi nilai adat-istiadat, nilai kebudayaan, serta nilai religious yang ada di Indonesia.

Sebenarnya berbicara tentang kemajemukan Indonesia, dalam prespektif Nurcholish Madjid sendiri sebagaimana dikutip Siti Masdah Mulia[10] menyatakan, bukan sesuatu yang istimewa dan membanggakan. Setiap negara bangsa yang komposisi penduduknya memiliki variasi etnisitas dan kebudayaan yang berbeda bukan hanya dimiliki Indonesia. Memang realitas faktual di Indonesia menyatakan bahwa keberagaman pemahaman dan kebudayaan yang terdapat dalam agama Islam sekali pun sebagai agama mayoritas (sebesar 88,22%) memiliki varian ekspresi kultural dan intelektual, paham agama, dan lebih-lebih politik yang majemuk. Fenomena serupa juga sebenarnya terjadi di agama-agama lain, ekspresi politik umat Katolik di Indonesia juga tidak tunggal sebagaimana Budha maupun Hindu yang terdiri dari tiga sekte.

Namun yang menjadikan Indonesia menjadi istimewa, sekali lagi perlu ditegaskan!, adalah fakta sejarah bagaimana Bung Hatta yang didukung oleh pemimpin Islam untuk mencoret tujuh kata dalam Piagam Jakarta tertanggal 22 Juni 1945. Dimana hal tersebut menandai bahwa konsesus yang terbentuk bukan malah memberikan posisi istimewa bagi golongan mayoritas. Menilik peristiwa bersejar ini, kearifan dan ketegasan para pemimpin pendahulu kita patut dicontoh dalam rangka mengelola kemajemukan dan menjinakkan politik identitas dalam keadaan genting.

Menyepakati bagaimana pandangan Goenawan, Syafii Maarif, Kaelani dan Achmad Zubaidi, yang mendudukkan penafsiran Pancasila dari segi kekuatan historis dalam proses perumusannya, serta bagaimana sebenarnya Pancasila merupakan ideologi yang terbuka atas realitas yang ada di bangsa Indonesia, berarti pula Pancasila bersifat inklusif, maka dapat disimpulkan, HTI dengan konsep khilafahnya sebenarnya bertentangan dengan Pancasila. Sebab, apa yang diperjuangkan HTI melalui usulan khilafahnya adalah usaha a-historis, dan memaksakan eksklusifitas penafsiran Pancasila dengan menanggalkan fakta keberagaman sosio-kultural yang ada di Indonesia. Apalagi, HTI bercorak transnasional yang, mohon maaf, sama sekali bukan merupakan ekspresi kultural keagamaan yang lahir dari perut nusantara.

Meredam Politik Identitas Islamisme dengan Pancasila

Dalam bukunya yang berjudul Politik Identitas dan Masa Depan Pluralisme Kita, Ahmad Syafii Maarif politik Identitas kontemporer di Indonesia, Syafii menyoroti gerakan radikal atau setengah radikal dengan jubah Islam: gerakan-gerakan yang sama-sama anti demokrasi, anti pluralisme dan bahkan anti nasionalisme[11]. Faksi-faksi yang mengusung perjuangan tersebut diantara adalah MMI (Majelis Mujahidin Indonesia), FPI (Front Pembela Islam), HTI (Hizbut Tahrir Indonesia) .[12]

Pada bagian penutup tulisannya dan sekaligus sebuah tawaban jawaban teoritik, Syafii Maarif meminjam penjelasan Nur Cholish Madjid dalam merespon politik identitas Islam kontemporer di Indonesia. Menurut Cak Nur (panggilan akrab Nur Cholish Madjid), sebuah bangunan kekuasaan yang berbeda dengan Pancasila pada dasarnya adalah tidak sah. Di sisi lain harus pula diingat bahwa kita tetap harus meletakkan Pancasila sebagai ideologi terbuka untuk menjauh pemasungan intepretasi dan kekakuan penafsiran. Intinya, Pancasila harus menghindari diri dari penafsiran monolitik. Cita-cita keislaman dan keindonesiaan yang digagas Cak Nur bertemu dalam Pancasila sebagai ideologi terbuka yang harus ditafisir secara proaktif. dengan semangat Sumpah Pemuda dan dan nilai luhur Pancasila, maka gerakan politik identitas yang bermuatan apa saja di Indonesia yang mengemuka, entah etnis, agama, kelompok dan lain-lain dapat diarahkan untuk tidak menyentuh wilayah-wilayah yang cenderung negatif, sekaligus menjaga keutuhan bangsa dan negara yang merupakan cita-cita Indonesia di masa depan.[13]

Bagi Cak Nur, umat Islam seharusnya tidak perlu lagi mengganti Pancasila dengan dasar lain sebagai filsafat Negara. Yang perlu dilakukan adalah sebuah dialog dari esensi nilai yang diperjuangkan dari politik identitas apakah sesuai dengan tafsiran mereka terhadap Pancasila. Artinya, ini penafsiran saya pribadi, jika sebuah politik identitas yang menghendaki otonomi daerah khusus seperti Aceh dan Papua yang memang ingin menuntut kesetaraan dan keadilan sosial sebagaimana termaktub dalam nilai Pancasila, maka hal tersebut dibenarkan. Sebaliknya, jika tuntutan dari politik identitas itu bersifat etnosentris tertentu dan berat sebelah, menanggalkan penafsiran atas Pancasila atau hingga pada level tidak setuju terhadap Pancasila dan menggantinya dengan dasar lain, maka hal tersebut perlu ditolak karena berbahaya bagi keutuhan bangsa yang multikultural dengan pengikat dasar Pancasila.

 

 

Penutup

Melalui tulisan ini, penulis ingin memproyeksikan pendapat penulis bahwa sudah seharusnya HTI dibubarkan dan bahkan pemikirannya harus dilarang untuk disebarkan. Sebab, argumentasi yang berlandaskan negasi dari khilafah berbenturan dengan Pancasila.

Apa tidak bisa didialogkan terlebih dahulu? Seturut dengan pendapat Cak Nur, perjumpaan dialogis yang terbangun harus mengacu pada asas yang disepakati bersama, jika perbedaan aliran dalam Islam maka mengacu al-Quran dan al-Hadist, namun jika perbedaan bentuk politik identitas dalam kerangka kenegaraan, maka harus mengacu pada Pancasila. Jika tidak disepakati pondasi yang jelas sebagai koridor dalam berdiskusi, maka yang terjadi adalah perdebatan dalam ruangan yang berbeda tanpa ada perjumpaan pemikiran. Maka, diskusi sehat tetap bisa dijalankan dengan syarat menjadikan Pancasila sebagai koridor limitasi atas intepretasi mereka seperti apa tentang Pancasila, bukan menawarkan pendekatan yang hanya berorientasi pada dasar teologis semata.

Cuma mengandai saja, HT adalah gerakan transnasional yang mengusung gagasan mendirikan khilafah Islam, ketika dia berada di Indonesia, bagaimana keserasian gagasan itu membumi atau diaplikatifkan sesuai dengan nilai-nilai di Indonesia yang berhalauan Pancasila. Apakah bisa HT Indonesia adalah HT dengan ciri keindonesiaan yang koperatif dengan Pancasila maupun nilai-nilai di Indonesia yang bersifat multicultural? Bisa! Dengan resiko mereka menanggalkan cita-cita khilafahnya, lantas ideologi apa yang dibawah HTI kemudian? Mari berdiskusi

Foot Note

[1] Tulisan ini ditujukan sebagai pemantik diskusi yang diselenggarakan Kementerian Sosial Politik dengan tema “Kebebasan dan Kebablasan: Antara Pancasila dan Khilafah”, pada hari Selasa, 23 Mei 2017 pukul 13.00-selesai, di Aula Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Airlangga.

[2] Kumpulkan Bukti untuk Bubarkan Ormas HTI. Jawa Pos, 09 Mei 2017.

[3] Hizbut Tahrir Indonesia. 2009.Manifesto Hizbut Tahrir untuk IndonesiaIndonesia, Khilafah dan Penyatuan Kembali Dunia Islam. Hal. 67-68

[4] Ibid., hal. 73-75.

[5]Syafii Maarif, Ahmad. 2012. Politik Identitas dan Masa Depan Pluralisme Kita. Jakarta: Democracy Project. Hal. 23-24

[6] Ibid., hal. 23-24.

[7] Mohammad, Goenawan. 1989. Catatan Pinggir. Jakarta: PT Pustaka Utama Grafiti. Hal. 442

[8] “Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya” yang merupakan hasil Piagam Jakarta diganti diganti dengan “Ketuhanan Yang Maha Esa”, atas inisiatif Bung Hatta dan kesepakatan pemuka-pemuka kelompok dari berbagai golongan, termasuk dari perwakilan Islam sendiri, sebut saja diantaranya Ki Bagus Hadikusumo, Wahid Hasyim, Kasman Singodimejo, dan teuku Hasan. Kesepakatan ini tidak bisa dilepaskan dari protes perwakilan Protestan dan Katolik Indonesia Timur.

[9] Kaelani & Achmad Zubaidi. 2012. Pendidikan Kewarganegaraan untuk Perguruan Tinggi.   Jogjakarta: Paradigma. Hal. 30.

[10]Op.Cit. Syafii Maarif, Ahmad., hal. 111

[11]Ibid. hal. 21

[12]Ibid.

[13]Ibid. hal. 28

DAFTAR RUJUKAN 

Buku

  1. Hizbut Tahrir Indonesia. 2009.Manifesto Hizbut Tahrir untuk IndonesiaIndonesia, Khilafah dan Penyatuan Kembali Dunia Islam.
  2. Kaelani & Achmad Zubaidi. 2012. Pendidikan Kewarganegaraan untuk Perguruan Tinggi.   Jogjakarta: Paradigma.
  3. Mohammad, Goenawan. 1989. Catatan Pinggir. Jakarta: PT Pustaka Utama Grafiti
  4. Syafii Maarif, Ahmad. 2012. Politik Identitas dan Masa Depan Pluralisme Kita. Jakarta: Democracy Project.

Media Masa

  1. Kumpulkan Bukti untuk Bubarkan Ormas HTI. Jawa Pos, 09 Mei 2017.

Sumber: http://bem.unair.ac.id

Antara Moderat, Liberal, Radikal dan Fundemental yang mana bisa di sebut Islam di jalan Allah?

20170719-moderat-og-radikal-islam

“Dan sekiranya mereka sungguh-sungguh menjalankan (hukum) Taurat, Injil dan (Al-Qur’an) yang diturunkan kepada mereka dari Tuhannya, niscaya mereka akan mendapat makanan dari atas mereka dan dari bawah kaki mereka. Di antara mereka ada golongan yang pertengahan. (tdk ke-kiri dan ke-kanan, tetap ditengah-tengah) Dan alangkah buruknya apa yang dikerjakan oleh kebanyakan mereka”.QS.5: 66.

Semoga Allah melindungi kita dari tipu daya setan yang terkutuk dalam menjelaskan issue yang selalu melekat di dalam masyarakat beragama, terutama islam. Yaitu issue strategi perjuangan dalam agama melawan reformist dengan label; Moderat, Liberal, Radikal dan Fundamen.

Sesungguhnya ke 4 golongan tersebut bukanlah agama, adalah strategi, mereka memiliki banyak persamaan dalam mengikuti perintah-perintah Allah, hanya masing-masing golongan berbeda menafsirkan ayat-ayat Allah atau berbeda merujuk ayat-ayat Allah dalam Al-Qur’an.

Kenapa terjadi demikian? Karena penerima (nabi) wahyu dari Allah sudah ribuan tahun wafat. Jadi kalau terjadi perbedaan dalam menafsirkan wahyu-wahyu Allah dalam masarakat Yahudi, Nasrani dan Muslim, sudah menjadi sunnatullah.

Lebel seperti;Liberal, Moderat dan Radikal ini sudah ada sebelum agama islam datang. Sebagaimana di tulis dalam ayat Allah diatas itu.Allah menjelaskan dlm ayatNya QS.5:56, Golongan moderatlah yang dirahmati oleh Allah SWT, jalan yang lurus yang tidak menyimpang banyak ke-kiri dan ke-kanan.

  • Islam Moderat.

Pengertian dari ‘Islam moderat’bukanlah tanpa konsep dan landasan. Justeru, istilah itu muncul dengan dasar atau landasan teologis dan ontologis (sesuatu yang bersifat konkret). Istilah Islam moderat ialah bagian dari ajaran Islam yang universal. Istilah Islam moderat memiliki padanan dengan istilah Arab ummatan wasathan atau al-din al-wasath. Allah SWT berfirman yang artinya, “Dan demikianlah Aku (Tuhan) jadikan kalian umat yang “wasat” (adil, tengah-tengah, terbaik) agar kalian menjadi saksi (syuhada’) bagi semua manusia, dan agar Rasul (Muhammad SAW) menjadi saksi (syahid) juga atas kalian.” (Q. S. Al-Baqarah:143). Umatan wasathan dalam ayat tersebut berarti “golongan atau agama tengah”.

Kata “wasat” dalam ayat di atas, jika merujuk kepada tafsir klasik seperti al-Tabari atau al-Razi, mempunyai tiga kemungkinan pengertian, yakni: umat yang adil, tengah-tengah, atau terbalik. Ketiga pengertian itu, pada dasarnya, saling berkaitan.

Sebagai istilah untuk penggolongan corak pemikiran dan gerakan istilah “Islam moderat” dperlawankan dengan istilah lain, yaitu Islam radikal. Islam moderat, dalam pengertian yang lazim kita kenal sekarang, adalah corak pemahaman Islam yang menolak cara-cara kekerasan yang dilakukan oleh kalangan lain yang menganut model Islam radikal.

Sejarah munculnya Islam Moderat.

Golongan ini adalah golongan antara Liberal dan Radikal, jalan tengah yaitu jalan yang lurus, tidak ke-kiri dan tidak ke-kanan. Jalan yang diredhoi oleh Allah, jalan yang pendek,aman dan cepat sukses di dunia dan akirat.QS.5: 56.

Oleh karena golongan Moderat adalah antara liberal dan radikal, sudah tentu ada persamaan perjuangan dengan liberal dan radikal. Dan sudah tentu pula ada perbedaannya. Mari kita tinjau apa perbedaannya dan kesamaannya yang mendasar.

  • Islam Liberal.

Istilah Islam Liberal disusun dari dua buah kata, yaitu Islam dan liberal. Islam maksudnya adalah agama Islam, yang diturunkan oleh Allah kepada Muhammad saw. Dan Liberal yang artinya adalah kebebasan.

Setelah dua kata ini disusun, kata liberal berfungsi sebagai keterangan terhadap Islam, sehingga bisa secara singkat bisa dikatakan islam yang liberal atau bebas. Gerakan Islam liberal, sebagaimana ditulis oleh tokohnya tujuannya adalah untuk untuk membebaskan (liberating) umat Islam dari belenggu keterbelakangan dan kejumudan. Sayangnya, gerakan ini menjadi liar dan benar-benar liberal, hingga mereka pun hendak melepaskan diri dari nash-nash al-Qur’an dan sunnah. Kalaupun mereka masih mengutip Qur’an dan hadis, mereka adakan penafsiran liberal sedemikian rupa hingga memenuhi selera mereka.

Karakteristik Islam Liberal.

Dari pengamatan kita membaca buku-buku yang diturunkan oleh Allah (Taurat,Injil dan Al-Qur’an) dan pengamalan/pengaplikasian ajaran agama di lapangan, terutama di Amerika (Nasrani) kita dapat menyimpulkan ciri Liberal adalah sebagai berikut:

  1. Tidak lagi menjujung nama agama, tetapi lebih condong kepada peraturan2 Universal, the common value of life.
  2. Berpendapat setiap agama adalah sama, peraturan2 agama mengajak kepada kebaikan dan mejahui tindakan kekerasan yang dapat melukai orang lain.(hablul minan nas)
  3. Merdeka menjalankan keyakinan masing2 (agama, berpakaian dan berbicara) tidak ada paksaan, dan harus saling hormat menghormati.
  4. perbedaan2 yang terdapat dlm masarakat.
  5. Mengizinkan perkawinan berbeda sex, dan boleh obortion(Pro- choise).
  6.  Pergaulan bebas, dll.

Golongan Liberal ini pada umumnya menyokong Partai Demokrat. Partai Demokrat ini banyak mendapat sokongan dari masarakat Holywood, bintang-bintang Flim dll.

Dalam masarakat islam, juga terdapat golongan Liberal ini yang mana strategi perjuangan adalah sama, mencontoh liberal dari umat Nasrani. Hanya berbeda agama saja.

Sejarah munculnya Islam Liberal.

Sesungguhnya, munculnya Islam Liberal itu adalah dalam rangka menghadang laju perkembangan kaum muslimin yang setia dan taat pada al-qur’an dan hadis. Mereka menganggap muslim yang taat pada dua ajaran islam ini sebagai kaum militan fundamentalis. Tentang later belakang ini, di dalam situs resmi Islam Liberal dinyatakan, “sudah tentu, jika tidak ada usaha-usaha untuk mencegah dominannya pandangan keagamaan yang militan (fundamentalis) itu, dalam waktu yang panjang, pandangan-pandangan kelompok keagamaan yang militan ini boleh menjadi dominan. Hal ini jika terjadi, akan mempunyai akibat buruk buat usaha memantapkan demokrasi di Indonesia. Sebab pandangan keagamaan yang militan biasanya menimbulkan ketegangan antara kelompok-kelompok agama yang ada. Sebut saja antara Islam dan Kristian. Pandangan-pandangan kegamaan yang terbuka (inklusif) plural, dan humanis adalah salah satu nilai-nilai pokok yang mendasari suatu kehidupan yang demokratis.”

Istilah Islam Liberal ini diperkenalkan oleh seorang intelektual asal India, Asaf ‘Ali Asghar Fyzee, pada tahun 1950-an. Pada salah satu tulisannya dia menuliskan, ”Kita tidak perlu menghiraukan nomenklatur. Tetapi jika sebuah nama harus diberikan padanya, marilah kita sebut itu ‘Islam liberal” Kemudian istilah ini dipopulerkan di Indonesia melalui karya Greg barton, Leonard Binder dan Charles Kurzman.

  • Islam Radikal

Kata radikal berasal dari kata radix yang dalam bahasa Latin artinya akar. Dalam kamus, kata radikal memiliki arti: mendasar (sampai pada hal yang prinsip), sikap politik amat keras menuntut perubahan (undang-undang, pemerintahan), maju dalam berpikir dan bertindak (KBBI, ed-4, cet.I, 2008).

Sejarah munculnya Islam Radikal.

Munculnya isu-isu politis mengenai radikalisme Islam merupakan tantangan baru bagi umat Islam untuk menjawabnya. Isu radikalismeIslam ini sebenarnya sudah lama mencuat di permukaan wacana internasional. Radikalisme Islam sebagai fenomena historis-sosiologis merupakan masalah yang banyak dibicarakan dalam wacana politik dan peradaban global akibat kekuatan media yang memiliki potensi besar dalam menciptakan persepsi masyarakat dunia6. Banyak label label yang diberikan oleh kalangan Eropa Barat dan Amerika Serikat untuk menyebut gerakan Islam radikal, dari sebutan kelompok garis keras, ekstrimis, militan, Islam kanan, fundamentalisme sampai terrorisme. Bahkan di negara-negara Barat pasca hancurnya ideology komunisme (pasca perang dingin) memandang Islam sebagai sebuah gerakan dari peradaban yang menakutkan. Tidak ada gejolak politik yang lebih ditakuti melebihi bangkitnya gerakan Islam yang diberinya label sebagai radikalisme Islam. Tuduhan-tudujan dan propaganda Barat atas Islam sebagai agama yang menopang gerakan radikalisme telah menjadi retorika internasional.

      Label radikalisme bagi gerakan Islam yang menentang Barat dan sekutu-sekutunya dengan sengaja dijadikan komoditi politik. Gerakan perlawanan rakyat Palestina, Revolusi Islam Iran, Partai FIS Al-Jazair, perilaku anti-AS yang dipertunjukkan Mu’ammar Ghadafi ataupun Saddam Hussein, gerakan Islam di Mindanao Selatan, gerakan masyarakat Muslim Sudan yang anti-AS, merebaknya solidaritas Muslim Indonesia terhadap saudara-saudara yang tertindas dan sebagainya, adalah fenomena yang dijadikan media Barat dalam mengkapanyekan label radikalisme Islam.Tetapi memang tidak bisa dibantah bahwa dalam perjalanan sejarahnya terdapat kelompok-kelompok Islam tertentu yang menggunakan jalan kekerasan untuk mencapai tujuan politis atau mempertahankan paham keagamaannya secara kaku yang dalam bahasa peradaban global sering disebut kaum radikalisme Islam.

Karakteristik Islam Radikal

  1. Memaksakan hukum agama kepada orang lain atau dgn membuat undang2.
  2. Orang2 atau golongan yang berbeda agama dgn mereka di anggap musuh Tuhan atau ingkar Tuhan.Tidak menghormati keyakinan orang lain.
  3. Pemerintahan mengakui satu partai agama, yang mirip dengan sistem komunis.Tidak tolerensi dgn perbedaan2.
  4. Anti Obortion(penggugura n bayi) dan anti penikahan sama jenis sex.(Lesbian dan Gay),anti pergaulan bebas
  5. Condong melakukan tindakan kekerasan terhadap lawan2 nya bahkan dengan membunuh lawan2nya,nabi2 dan Reformer. Seperti di contohkan dlm al Quran menyiksa nabi Isa di salip, memerangi Nabi Muhammad saw.
  6. beberapa kali peperangan dll.

       Golongan Radikal/conservative ini pada umumnya menyokong Partai Republik. Dalam masarakat muslim juga ada golongan Radikal/ extremis yang hampir sama strategi perjuangan dengan golongan radikal Nasrani dan yahudi.

Yang sangat kita sayangi sekali dlm masarakat islam masih berlansungsampai hari ini perbuatan2 kekeraan,penzoliman dan bahkan pembunuhan2dgn bom2 bunuh diri sesama saudara2 sebangsa dan seiman. Lihatlah di Iraq, Pakistan, Sudan, Afaganistan, Indonesia, Negeria dll. Tidakah menyidihkan kita semua?

Sedangkan masarakat Nasrani, Yahudi, Budha pada umumnya sudah relatif TIDAK ada lagi tindakan penzoliman dan kekerasan karena berbedamenafsirkan Bible.Setiap golongan merdeka menafsirakn Bilble.

Mereka sudah dapat menciptakan hidup yang TOLERENSI,damai, harmonis dalam perbedaan atau hidup yang orang2 dewasa. Mereka sudah sukses meng-aplikasikan salah satu peraturan agama dlm bermasarakat yangberbeda beda keyakinan dan tafsiran, yaitu menghormati keyakinan orang lain artinya mencitai ciptaan ALLAH yang mana ALLAH menciptakan manusia bermacam macam pendapat/keyakinan. Ini kunci hidup damai harmonis di dunia ini.Agama mu untuk kamu,agama ku untuk aku.

  • Islam Fundamental

Definisi Islam fundamental : Orang Islam yang menegakkan syaria’at Islam berdasarkan Al-Qur’an dan Hadist secara sepenuhnya dan semurni-murninya.

Beberapa pandangan islam fundamental

Pertama, dari segi keyakinan keagamaanya, mereka bersikap sangat kaku dan literalis terhadap teks-teks keagamaan. Mereka sangat menekankan simbol-simbol keagamaan daripada substansinya serta mengangap Islam sebagai doktrin yang telah mengatur segala-galanya tanpa terkecuali.

Kedua, sikap dan pandangannya yang eksklusif, mereka selalu mengklaim dengan menekankan bahwa keyakinan mereka yang benar, sehingga orang yang berseberangan atau berbeda dengan mereka dianggap salah dan harus dikutuk. Oleh sebab itu gerakan ini sangat cepat untuk memvonis seseorang sesat, kafir, bid’ah dan lain sebagainya.

Ketiga, dari segi budaya dan sosial, terkesan kolot, kuno. Hal ini disebabkan sikap mereka terhadap produk budaya modern kendatipun sifatnya kultural bukan masuk pada wilayah keyakinan.

Keempat,dari segi bentuk dan sifat gerakannya, mereka cendrung memaksakan kehendak dengan menggunakan berbagai cara termasuk dengan cara-cara kekerasan, seperti hasutan, pemukulan, pengrusakan, bahkan pengeboman atau dengan kata lain selalu menggunakan penghakiam sendiri.

Sejarah munculnya Islam Fundamental

Secara historis, istilah fundamentalisme muncul pertama dan populer di kalangan tradisi Barat-Kristen. Namun demikian, bukan berarti dalam Islam tidak dijumpai istilah atau tindakan yang mirip dengan fundamentalisme yang ada di barat.

Pelacakan historis gerakan fundamentalisme awal dalam Islam bisa dirujukkan kepada gerakan Khawarij, sedangkan representasi gerakan fundamentalisme kontemporer bisa dialamatkan kepada gerakan Wahabi Arab Saudi dan Revolusi Islam Iran ( Azyumardi Azra, 1996:107 ).

Secara makro, faktor yang melatarbelakangi lahirnya gerakan fundamentalis adalah situasi politik baik tingkat domestik maupun di tingkat internasional. Ini dapat dibuktikan dengan munculnya gerakan fundamentalis pada masa akhir khalifah Ali bin Abi Thalib, di mana situasi dan kondisi sosial politik tidak kondusif. Pada masa khalifah Ali, perang saudara berkecamuk hebat antara kelompok Ali dan Muawiyah karena masalah pembunuhan Utsman.

Dalam keadaan runyam, Khawarij yang awalnya masuk golongan Ali membelot dan muncul secara independen ke permukaan sejarah klasik Islam. Dengan latar belakang kekecewaan mendalam atas roman ganas dua kelompok yang berseteru, mereka berpendapat bahwa Ali dan Muawiyah kafir dan halal darahnya. Kemudian Ali mereka bunuh, sedangkan Muawiyah masih tetap hidup. (as-Syahrustani,t.t.:131-137).

Karakteristik Islam Fundamental

Pertama, mereka cenderung melakukan interpretasi literal terhadap teks-teks suci agama dan menolak pemahaman kontekstual atas teks agama karena pemahaman seperti itu dianggap mereduksi kesucian agama.

Kaum fundamental  mengklaim kebenaran tunggal. Menurut mereka, kebenaran hanya ada di dalam teks dan tidak ada kebenaran di luar teks bahkan kebenaran hanya ada pada pemahaman mereka terhadap apa yang dianggap sebagai prinsip-prinsip agama. Mereka tidak memberi ruang kepada pemahaman dan penafsiran selain mereka. Sikap yang demikian ini adalah sikap otoriter.

Kedua, mereka menolak pluralisme dan relativisme. Bagi kaum fundamentalis, pluralism merupakan produk yang keliru dari pemahaman terhadap teks suci. Pemahaman dan sikap yang tidak selaras dengan pandangan kaum fndamentalis merupakan bentuk dari relativisme keagamaan, yang terutama muncul tidak hanya karena intervensi nalar terhadap teks kitab suci, tetapi juga karena perkembangan sosial kemasyarakatan yang telah lepas dari kendali agama.

Ketiga, mereka memonopoli kebenaran atas tafsir agama. Kaum fundamentalis cenderung menganggap dirinya sebagai penafsir yang paling benar sehingga memandang sesat aliran yang tidak sepaham dengan mereka. Di dalam  khasanah Islam perbedaan tafsir merupakan suatu yang biasa, sehingga dikenal banyak mazhab. 4 mahzab terbesar di Indonesia adalah Ikhwanul Muslimin, Salafi atau Wahabi, Hizbut Tahrir, dan Habib.

Sikap keagamaan yang seperti ini berpotensi untuk melahirkan kekerasan. Dengan dalih atas nama agama, atas nama membela Islam, atas nama Tuhan mereka melakukan tindakan kekerasan, pengrusakan, penganiayaan, dan bahkan sampai pembunuhan.

Keempat, setiap gerakan fundamentalisme hampir selalu dapat dihubungkan dengan fanatisme, eksklusifisme, intoleran, radikalisme, dan militanisme. Kaum fundamentalisme selalu mengambil bentuk perlawanan yang sering bersifat radikal teradap ancaman yang dipandang membahayakan eksistensi agama.

Beberapa karakteristik lain dari gerakan fundamentalisme Islam, yaitu :

  1. Mempunyai prinsip interpretasi ajaran agama yang berbeda atau berseberangan dengan tradisi yang berlaku. Kemudian secara aktif, kelompok ini akan bergerak untuk memperjuangkan hasil penafsirannya tersebut dengan pelbagai cara; dari kritik persuasif hingga tindakan tegas yang menjurus anarkhisme. Pada titik inilah fundamentalisme kerap dipersepsikan sebagai gerakan negatif.
  2. Lazimnya kelompok ini memiliki perilaku yang eksklusif, tertutup, dan mencurigai kelompok lain. Kendati dalam sebuah kesempatan bisa sangat terbuka untuk berdialog dengan kelompok lain tetapi tujuannya sekadar membantah argumentasi mereka.
  3. Berkat keyakinan akan kebenaran pemahamannya tentang ajaran agama, kelompok fundamentalis selalu aktif menyebarkan pahamnya, agresif dalam merekrut pengikut baru, dan sebagainya.
  4. Keyakinan akan perlunya upaya yang sungguh-sungguh (jihad) dalam mencapai keselamatan hidup baik di dunia ataupun di akhirat menjadikan kelompok fundamentalis senantiasa giat dan militan melakukan segala aktifitasnya. (*)

Haji

20170713-haji

Sebuah lukisan yang menggambarkan seseorang yang telah menunaikan ibadah haji dan mengenakan pakaian Arab, pada masa Hindia Belanda digambar oleh Auguste van Pers, pada tahun 1854.

Haji adalah gelar homonim yang memiliki dua etimologi yang berbeda. Dalam budaya Islam Nusantara di Asia Tenggara, gelar haji umumnya digunakan untuk orang yang sudah melaksanakan haji. Istilah ini berasal dari bahasa Arab yang merupakan bentuk isim fail (partisip aktif) dari kata kerja ‘hajj’ (‘pergi haji’) atau dari kata benda ‘hajj’ (‘ibadah haji’) yang diberi sufiks nisbah menjadi ‘hajjiy’.

Arti lainnya adalah berasal dari kebudayaan Nusantara pra-Islam era Hindu-Buddha, yaitu Haji atau Aji yang berarti “Raja”.

Gelar dalam Islam

Gelar haji umum digunakan sebagai tambahan di depan nama dan sering disingkat dengan “H”. Dalam hal ini biasanya para Haji membubuhkan gelarnya dianggap oleh mayoritas masyarakat sebagai tauladan maupun contoh di daerah mereka. Bisa dikatakan sebagai guru atau panutan untuk memberikan contoh sikap secara lahiriah dan batiniah dalam segi Islam sehari-hari.

Gelar yang aslinya bahasa Arab ini telah memiliki versi sesuai bahasa lokal masing-masing negara. Dalam bahasa Farsi dan Pashto ditulis: حاجی, bahasa Yunani: Χατζής, Albania: Haxhi, Bulgaria: Хаджия, Kurdi: Hecî, Serbia/Bosnia/Kroasia: Хаџи atau Hadži, Turki: Hacı, Hausa: Alhaji dan bahasa Romania: hagiu.

Di beberapa negara, gelar haji dapat diwariskan turun-temurun sehingga menjadi nama keluarga seperti Hadžiosmanović dalam bahasa Bosnia yang berarti ‘Bani Haji Usman’ alias ‘anak Haji Usman’. Di negara-negara Arab, gelar haji awam digunakan sebagai penghormatan kepada orang yang lebih tua terlepas dari pernah haji atau belum. Gelar haji juga digunakan di negara-negara kristen Balkan yang pernah dijajah Imperium Usmani (Bulgaria, Serbia, Yunani, Montenegro, Makedonia dan Romania) bagi orang kristen yang sudah pernah berziarah ke Yerusalem dan Tanah Suci.

Dalam konteks historis di Hindia Belanda, penggunaan gelar haji sering disematkan pada seseorang yang telah pergi haji, dan sempat digunakan pemerintah Hindia Belanda untuk identifikasi para jemaah haji yang mencoba memberontak sepulangnya dari Tanah Suci. Mereka dicurigai sebagai anti kolonialisme, dengan pakaian ala penduduk Arab yang disebut oleh VOC sebagai “kostum Muhammad dan serban”.

Dilatar belakangi oleh gelombang propaganda anti VOC pada 1670-an di Banten, ketika banyak orang meninggalkan pakaian adat Jawa kemudian menggantinya dengan memakai pakaian Arab, serta oleh pemberontakan Pangeran Diponegoro serta Imam Bonjol yang terpengaruh pemikiran Wahabi sepulang haji, pemerintah Hinda Belanda akhirnya menjalankan politik Islam, yaitu sebuah kebijakan dalam mengelola masalah-masalah Islam di Nusantara pada masa itu. Ketentuan ini diatur dalam Peraturan Pemerintahan Belanda Staatsblad tahun 1903. Maka sejak tahun 1911, pemerintah Hindia Belanda mengkarantina penduduk pribumi yang ingin pergi haji maupun setelah pulang haji di Pulau Cipir dan Pulau Onrust, mereka mencatat dengan detail nama-nama dan maupun asal wilayah jamaah Haji. Begitu terjadi pemberontakan di wilayah tersebut, Pemerintah Hindia Belanda dengan mudah menemukan warga pribumi, karena di depan nama mereka sudah tercantum gelar haji.

Kontroversi

Dalam penggunaan gelar haji yang sering disematkan oleh mayoritas penduduk Asia Tenggara, sering mendapatkan kritikan dari ulama salafy, yang dianggap sebagai perbuatan riya dan tidak pernah dicontohkan oleh Nabi Muhammad dan para as-sabiqun al-awwalun. Ada ulama yang mengatakan bahwa tidak pernah ada riwayat yang menjelaskan adanya gelar yang pernah disandang oleh rasulallah dan para sahabatnya, sebagai contoh H. Muhammad, H. Abu Bakar, H. Umar bin Khattab, H. Ali bin Abu Thalib dan seterusnya.

Kemudian ulama tersebut mengatakan bahwa di antara 5 rukun Islam hanya ibadah haji saja yang digunakan sebagai gelar, dan mengapa ketika orang mengerjakan rukun Islam yang lain seperti mengucap kalimat syahadat, salat, zakat, puasa tidak diberi gelar seperti halnya ibadah haji.

Gelar para raja

Dalam sejarah Nusantara pra-Islam, Haji atau Aji juga merupakan gelar untuk penguasa. Gelar ini dianggap setara dengan raja, akan tetapi posisinya di bawah Maharaja. Gelar ini ditemukan dalam Bahasa Melayu Kuno, Sunda, dan Jawa kuno, dan ditemukan dalam beberapa prasasti.

Sebagai contoh, legenda Jawa Aji Saka menjelaskan mengenai asal mula peradaban dan aksara di tanah Jawa. Nama Aji Saka bermakna “Raja Permulaan”. Kemudian pada tahun 1482 Raja Kerajaan Sunda Pajajaran Prabu Siliwangi, dalam Prasasti Batu Tulis diberitakan bahwa Prabu Siliwangi saat di nobatkan menjadi penguasa Sunda-Galuh bergelar Sri Baduga Maharaja Ratu Haji di Pakuan Pajajaran Sri Sang Ratu Dewata. Pakuan adalah ibu kota Kerajaan Pajajaran. (wiki)