Di Balik Kekuatan Al Quran

quran-tadabur-dalam

Al-Qur’an… Sebuah kata yang sangat populer di dunia sejak ia diturunkan 14.5 abad silam sampai hari ini. Kalau kita tanya sama mbah “Google”, maka ia akan menjawab : Ada sekitar 68.5 juta kata Al-Qur’an tercantum di dalamnya…. Subhanallah… Sebaliknya, jika kita tanya umat Islam yang mencapai 1.6 milyar terkait hakikat Al-Qur’an, pasti jawaban mereka akan beragam… Jika kita fokuskan lagi pertanyaannya terkait Al-Qur’an seperti, sudahkan anda lancar membaca Al-Qur’an? Berapa banyak anda membaca Al-Qur’an perhari? Sudahkan anda memahami dan mentadabburkan semua isi Al-Qur’an? Berapa banyak anda menghafal Al-Qur’an? Sudah berapa anda mengamalkan perintah Al-Qur’an dan meninggalkan larangannya? Yakinkah anda Al-Qur’an itu sebagai solusi bagi kehidupan di dunia dan di akhirat?……. baca selengkapnya.

 

Al-qur’an Audio

01.Alfatihah, 02.Al-Baqarah, 03.Al-Imran, 04.An-Nisa’, 05.Al-Maidah, 06.Al-An’am. 07.Al-A’raf. 08.Al-Anfal, 09.At-Taubah, 10.Yunus. 11.Hud. 12.Yusuf. 13.Ar-Ra’d. 14.Ibrahim. 15.Al-Hijr. 16.An-Nahl. 17.Al-Isra’. 18.Al-Kahfi. 19.Maryam. 20.Thaha. 21.Al-Anbiya’. 22.Al-Hajj. 23.Al-Mu’min. 24.An-Nur. 25.Al-Furqan. 26.Asy-syu’ara. 27.An-Naml. 28.Al-Qashash. 29.Al-Ankabut. 30.Ar-Rum. 31.Lukman. 32.As-Sajada. 33.Al-Ahzab. 34.Saba’. 35.Fathir. 36.Ya-Siin. 37.Ash-Shaafaat. 38.Shaad. 39.Az-Zumar. 40.Ghafir. 41.Fusshilat. 42.Asyura. 43.Az-Zukhruf. 44.Ad-Dukhan. 45.Al-Jaatsiyah. 46.Al-Ahqaaf. 47.Muhammad. 48.Al-Fath. 49.Al-Hujuraat. 50.Qaaf. 51.Adz-Dzaariyaat. 52.Ath-Thuur. 53.An-Najm. 54.Al-Qamar. 55.Ar-Rahman. 56.Al-Waaqi’ah. 57.Al-Hadid. 58.Al-Mujaadalah. 59.Al-Hasyr. 60.Al-Mumtahana. 61.Ash-Shaf. 62.Al-Jum’ah. 63.Al-Munaafiqun. 64.At-Taghabuun. 65.Ath-Thalaq. 66.At-Tariim. 67.Al-Mulk. 68.Al-Qalam. 69.Al-Haaqqah. 70.Al-Ma’aarij. 71.Nuh. 72.Al-Jin. 73.Al-Muzammil. 74.Al-Mudatstsir. 75.Al-Qiyaamah. 76.Al-Insan. 77.Al-Murasalaat. 78.An-Naba’. 79.An-Nazi’aat. 80.Abasa. 81.At-Takwiir. 82.Al-Infithar. 83.Al-Muthafifiin. 84.Al-Insyiqaq. 85.Al-Buruj. 86.Ath-Thaariq. 87.Al-A’la. 88.Al-Ghasyiyah. 89.Al-Fajr. 90.Al-Balad. 91.Asy-Syams. 92.Al-Lail. 93.Adh-Dhuha. 84.Asy-Syarh. 95.Ath-Thiin. 96.Al-Alaq. 97.Al-Qadr. 98.Al-Bayyinah. 99.Al-Zalzalah. 100.Al-Adiyaat. 101.Al-Qaari’ah. 102.At-Takaatsur. 103.Al-Ashr. 104.Al-Humazah. 105.Al-Fil. 106.Al-Quraisy. 107.Al-Maa’uun. 108.Al-Kautsar. 109.Al-Kaafirun. 110.An-Nashr. 111.Al-Masad. 112.Al-Ikhlash. 113.Al-Falaq. 114.An-Nas

Iklan
By arifuddinali Posted in Artikel

Reuni Akbar 212 di Monas

Aksi Reuni 2 Desember atau Reuni Akbar Mujahid 212 digelar di kawasan Monumen Nasional Jakarta, Minggu (2/12). Penyelenggaraan reuni ini merupakan kali kedua setelah juga dilakukan pada 2017. 

Acara reuni akbar ini akan diawali dengan sholat Tahajud bersama pada pukul 03.00 WIB, dilanjutkan dengan sholat Subuh berjamaah, dzikir dan istighotsah. Jumlah massa diklaim mencapai jutaan orang.

Ketua Persaudaraan Alumni (PA) 212 Slamet Ma’arif menyebut minimal satu juta orang akan menghadiri Reuni 212. Ia mengatakan, perkiraan itu berdasarkan data yang mereka miliki di 21 provinsi.

Sebagian besar yang akan datang pada Reuni 212 hari ini adalah yang pernah hadir pada aksi 2 Desember 2016 lalu.

Seperti apa jalannya Reuni Akbar Mujahid 212 tahun ini? 

IDN Times merangkum detik-detik rangkaian acaranya berikut ini.

10.00 WIB: Prabowo: Saya tak boleh kampanye di acara Reuni 212

Calon Presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto hadir di acara Reuni 212 di Monas, Jakarta Pusat. Saat Prabowo berada di atas panggung, peserta langsung menyambut meriah dan meneriakkan namanya dengan penuh semangat.

Prabowo yang diberi kesempatan untuk memberi sambutan, mengaku tak ingin berbicara panjang lebar. Alasannya, dia tidak ingin disebut kampanye.

“Saya tidak akan panjang bicara karena kalian ketahui saya sekarang telah mendapat tugas dan amanah sebagai capres RI dan karena itu, saya harus patuh dan mengikuti semua ketentuan. Saya tidak boleh bicara politik,” kata Prabowo.

Prabowo mengungkapkan, dia dilarang berkampanye di acara Reuni 212. Meski begitu, ia tetap mengucapkan terima kasih kepada panitia karena diundang.

“Saya tidak boleh kampanye. Jadi saya hanya ingin mengucapkan terima kasih bahwa saya diundang oleh panitia. Ini kehormatan bagi saya. Saya bangga melihat jutaaan umat Islam, jutaan rakyat Indonesia, jutaan tapi damai tertib,” tambahnya.

Ucapan Prabowo tersebut langsung disambut teriakan peserta Reuni 212 yang memanggil-manggil namanya. “Prabowo.. Prabowo.. Prabowo..” teriak peserta.

09.35 WIB: Anies minta peserta Reuni 212 tertib, agar yang menuding acara ini kekacauan kecewa

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan yang hadir dalam acara reuni akbar 212, mengingatkan kepada para peserta agar tetap menjaga ketertiban di dalam Monas maupun di luar Monas. Hal tersebut disampaikannya agar orang-orang yang menganggap Reuni 212 sebagai kekacauan merasa malu dan kecewa karena peserta 212 tetap tertib.

“Saya harap semua yang berkumpul di tempat ini menjaga ketertiban. Mari buktikan yang mendapat izin di Monas, hadir tertib. Dan biarkan mereka yang menduga di sini kekacauan, kecewa, karena justru menghadirkan kedamaian dan ketertiban. Bukan hanya yang ada di Monas,” ujar Anies dalam sambutannya di Monas, Jakarta.

Anies juga sempat menyinggung tentang insiden Sabtu (1/12) malam saat peserta yang hendak memasukin area Monas, diminta untuk menunjukkan Kartu Tanda Penduduk (KTP) mereka. Mendengar kabar itu, Anies pun mengatakan bahwa siapapun berhak masuk ke area Monas tanpa harus menunjukkan KTP.

“Tempat ini adalah tempat kita semua. Jadi tidak usah masuk menggunakan KTP. Katanya semalam beredar ya? Karena sudah pasti yang masuk ke sini WNI. Ini tetap milik umum, milik semuanya,” kata Anies.

09.05 WIB: Sarapan dan bakso gratis untuk peserta Reuni 212

Di tengah ribuan masyarakat yang mengikuti kegiatan Reuni 212 di Monumen Nasional (Monas), Jakarta pada Minggu (2/12), ada hal menarik yang dilakukan sekelompok orang untuk berbuat kebaikan. 

Salah satunya yang dilakukan oleh Pondok Tahfiz Al Irsad dari Gunung Putri, Bogor yang memberi sarapan gratis bagi peserta aksi lainnya.

Kelompok tersebut terpantau membawa banyak paket yang dibagikan langsung di daerah jalan Medan Merdeka Barat.

“Kami membawa 1.500 paket. Selain itu ada juga makanan ringan lainnya, tapi belum sampai sini (Jalan Medan Merdeka Barat) karena sulit masuk. Ada juga merchandise 212 yang kami bagikan secara cuma-cuma,” kata salah satu perwakilan Pondok Tahfiz Al Irsad, Deni Sahputra kepada IDN Times.

Sementara, di kawasan Senen, Jakarta Pusat, ada gerobak bakso yang ramai dikerumuni peserta Reuni 212. Di gerobak bakso tersebut, terpampang sobekan kardus bertuliskan ‘gratis’. 

Kepada IDN Times, sang penjual mengaku telah membagikan bakso gratis sejak pukul 05.00 WIB. 

“Saya sediain 300 porsi gratis,” ujar Sumiyati kepada IDN Times.

Dia mengungkapkan bahwa ia biasa berjualan di salah satu sekolah dasar. Namun, khusus hari ini ia rela membagikan dagangannya secara cuma-cuma.

08.30 WIB: Peserta Reuni 212 jalan kaki 5 kilometer ke Monas

Banyaknya orang yang hendak mengikuti Reuni 212 di kawasan Monumen Nasional (Monas), membuat sejumlah ruas jalan di ibu kota macet.

Akibatnya, banyak peserta Reuni 212 yang memutuskan untuk berjalan kaki meski Monas masih berjarak sekitar 5 kilometer.

Jauhnya perjalanan yang harus ditempuh tak memupuskan niat peserta untuk berjalan kaki menuju lokasi Reuni 212.

“Bapak-bapak yang mau jalan kaki silakan, masih ada 5 Km lagi lumayan lah,” ujar Bambang, koordinator salah satu rombongan Alumni PA 212.

Pantauan IDN Times, sejumlah peserta Reuni 212 langsung bergegas turun dari bus. Namun, tak sedikit pula yang memutuskan bertahan di kendaraan.

07.40 WIB: Prabowo naik ke atas panggung utama Reuni 212

Setelah Anies Baswedan tiba di Monas pada pukul 07.32 WIB, tak beberapa lama Calon Presiden Nomor Urut 02 Prabowo Subianto juga turut hadir dalam reuni akbar 212, Minggu (2/12). 

Usai Anies naik ke atas panggung, MC pun menyambut dan mempersilakan Prabowo naik ke atas panggung. Saat Prabowo tiba di atas panggung, para peserta langsung meneriakkan namanya.

“Prabowo..Prabowo..Prabowo..,” teriak para peserta menyambut kedatangan Prabowo.

Kemudian, MC pun mengingatkan bahwa kehadiran para tokoh, khususnya Prabowo bukanlah ajang politik, melainkan persatuan.

“Ini ajang persatuan tokoh. Jangan provokatif kami jadi ajang politik,” kata sang MC.

Selain Prabowo dan Anies, Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Fadli Zon juga hadir menemani Prabowo. Tidak hanya itu, musisi sekaligus politisi Gerindra, Ahmad Dhani juga terlihat hadir dengan mengenakan pakaian serba hitam.

07.32 WIB: Anies Baswedan disambut takbir peserta reuni 212

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan tiba di Monas untuk menghadiri reuni akbar 212, Minggu (2/12). Pantauan IDN Times, Anies tiba di lokasi pada pukul 07.32 WIB. 

Saat Anies tiba di atas panggung, para peserta 212 langsung mengumandangkan takbir untuk menyambut kedatangannya. Anies lalu menyalami para tokoh dan juga ulama yang hadir.

Sebelumnya, Anies telah menyatakan akan hadir dalam reuni 212 di Monas, hari ini. Ia mengatakan, meski bukan alumni aksi 212, ia tetap akan datang selaku Gubernur DKI Jakarta.

07.00 WIB: Titiek Soeharto sholat Subuh berjamaah di Monas

Di antara ribuan peserta Reuni 212 yang melaksanakan sholat subuh berjamaah, ada sosok yang menarik perhatian. Titiek Soeharto tampak hadir mengikuti rangkaian kegiatan alumni aksi 212 di kawasan Monas, Jakarta, Minggu (2/12).

Dalam foto yang diunggah salah satu staf Titiek, Rachmat Widiyanto di akun media sosialnya, tampak putri Presiden Soeharto itu mengenakan mukena berwarna putih. Ia duduk bersama jamaah lainnya di pelataran Monas.

06.00 WIB: Dalam Doa Bersama, Peserta Reuni 212 Sebut Rindu Rizieq Shihab

Usai sholat Subuh, para peserta pun membaca sholawat secara berjamaah. Kemudian, mereka berdoa bersama. Dalam doa bersama tersebut, pemimpin doa sempat menyebut bahwa para peserta alumni 212 merindukan Imam Besar FPI Rizieq Shihab.

“Kami rindu Ya Allah, kami sayang beliau ya Allah. Kami mohon kepada-Mu berikan kekutan kami,” ucap sang pemimpin doa dan diikuti oleh peserta alumni 212 yang lain.

05.41 WIB: Ribuan peserta mulai memenuhi sekitar panggung utama Monas

Rombongan peserta alumni 212 semakin memadati Tugu Monas. Adapun tokoh yang telah hadir di acara reuni 212 yakni Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan, Sekretaris Jenderal PAN Eddy Soeparno, Wakil Ketua Dewan Syuro PKs Hidayat Nur Wahid, Sekretaris Jenderal PKS Mustafa Kamal, Ketua PA 212 Slamet Maarif, Camelia Malik, dan Utaz Felix Siauw.

05.10 WIB: Sejumlah massa mulai memadati Monas usai sholat subuh berjamaah

Sejumlah peserta aksi Reuni Akbar 212 sudah mulai berdatangan ke sekitar kawasan Monas usai melaksanakan sholat subuh berjamaah. 

Sumber: idntimes – 02122018

Arti & Makna Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh artinya adalahsemoga keselamatan dan rahmat Allah, serta keberkahan-Nya terlimpah kepada kalian. Tulisan dalam bahasa Arab:
السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Salam memiliki makna yang substansial, esensial dan mendalam bagi umat Islam. Kalimat salam tidak hanya digunakan sebagai tradisi menegur sapa saja, tetapi mengandung filosofi bahwa umat Muslim harus saling mendoakan dan tidak saling membenci.

Sapaan salam biasanya dijawab juga dengan salam dengan kalimat: waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh artinya adalah Dan semoga keselamatan dan rahmat Allah, serta keberkahan-Nya terlimpah juga kepada kalian. Tulisan dalam bahasa Arab:
وَعَلَيْكُمْ لسَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Betapa indahnya ajaran agama Islam yang dibawa Nabi Muhammad Saw. Beliau mengajarkan kepada umatnya untuk tidak saling bermusuhan, tidak saling membenci melalui salam sapa yang memiliki arti, makna dan filosofi perdamaian.

Arti Makna Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh Tulisan dalam Bahasa Arab

Cendekiawan jebolan IAIN Walisongo Semarang (sekarang UIN Walisongo Semarang), Lismanto dalam tulisan ilmiahnya, Teologi Islam Damai yang terbitkan Jurnal Justisia Edisi 40 Tahun 2013, mengatakan, assalamualaikum adalah simbol sapaan bagi umat Islam memiliki arti kedamaian atau kesejahteraan.

Assalamualaikum (عليكم السلام) yang berarti kedamaian atau kesejahteraan, atau dalam bahasa Ibrani: shalom aleichem yang memiliki arti serupa: kedamaian. Inilah sebenarnya ajaran sederhana yang sangat “tua” yang menjadi inti dari segala inti ajaran agama. Dengan demikian, saya dapat katakan bahwa perdamaian merupakan basis dari teologi Islam, termasuk teologi agama-agama di dunia. (Lismanto, 2013: 79)

Senada dengan itu, budayawan Ehma Ainun Nadjib atau Cak Nun pernah mengemukakan bahwa kalimat salam memiliki arti dan makna yang mengikat, kita sebagai pengucap salam berjanji tidak akan memusuhi atau melukai baik dalam perkataan maupun perbuatan kepada seseorang yang diberikan salam.

Begitu juga dengan orang yang membalasnya dengan salam. Dia secara hakiki juga terikat dengan berjanji tidak akan berbuat jahat dalam perkataan atau perbuatan, karena sudah menjawab salam.

Sayangnya, banyak ucapan salam Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh yang artinya sangat mulia dan menjadi substansi Islam itu sendiri justru hanya sebatas menjadi tradisi kalimat tegur sapa saja, tidak dimaknai dari hati yang paling dalam bahwa ucapan salam berarti berjanji tidak akan melukai baik dalam perbuatan, lisan maupun pikiran.

Jadi, banyak orang yang mengucap salam hanya di lisan, ucapan, tapi tidak diresapi dalam hati dan pikirannya, sehingga masih banyak orang yang membenci seseorang lainnya meskipun sudah mengucapkan salam. Padahal, jika sudah mengucapkan salam, mestinya tidak benci lagi karena sudah memberikan teguran keselamatan, rahmat dan berkah.

Sebagai gambaran begini. Anda sudah memberikan salam kepada tetangga Anda. Itu artinya, Anda sudah menjamin bahwa tetangga Anda selamat baik dari doa maupun pikiran, ucapan dan perbuatan Anda.

Nah, kalau Anda sudah memberikan ucapan salam kepada tetangga Anda dan dibalas dengan salam pula, maka jika Anda suatu ketika berbuat jahat kepadanya (baik itu dalam bentuk iri, dengki, menyebar gosip atau fitnah, guna-guna, santet atau memukul), maka ucapan salam yang pernah Anda ucapkan tidak ada gunanya. Artinya, Anda adalah orang munafik dan jauh dari Islam.

Kenapa? Lha sudah berjanji memberikan keselamatan, kok masih saja benci dan jahat kepada seseorang yang diberikan salam? Bukankah itu munafik namanya?

Maka, sebagai umat Muslim yang selalu berusaha meneladani ajaran Rasulullah Muhammad Saw, kita biasakan mengucapkan salam kepada seseorang tidak hanya sebagai tradisi tegur sapa saja, tetapi juga diresapi dalam hati yang penuh dengan keikhlasan. Bahwa ucapan salam berarti mendoakan dan janji kita untuk memberikan keselamatan kepada orang lain sesama Muslim.

Dengan demikian, ucapan salam tidak sebatas di mulut saja yang membuat Anda terkesan islami, saleh dan salehah, tetapi tidak mengimplementasikan arti dan makna yang terkandung di dalamnya. Pembaca setia Islamcendekia.com yang kami muliakan, semoga artikel tentang Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh dalam tulisan bahasa Arab dan terjemahannya dalam bahasa Indonesia ini bermanfaat untuk kita semua. Amin. (*islamcendekia*)

Ucapan Hari Maulid Nabi Muhammad SAW

Ucapan Hari Maulid Nabi Muhammad yang Cocok Untuk Update Status di Instagram, Facebook, WhatsApp

Umat Islam akan merayakan hari kelahiran atau Maulid Nabi Muhammad SAW.

Menurut kalender masehi, Maulid Nabi akan jatuh pada Selasa (20/11/2018).

Sebagian besar umat Islam akan bersuka cita untuk merayakan Maulid Nabi, termasuk dengan mengupdate status di media sosialnya.

Umat Islam memaknai Maulid Nabi Muhammad SAW dengan harapan dan doa untuk kesejahteraan umat.

Berikut ucapan Hari Maulid Nabi Muhammad SAW 2018/1440 H yang cocok untuk update status di Instagram, Facebook, WhatsApp

1. “Mari tauladani budi pekerti dan akhlakul Karimah Nabi Muhammad, Selamat merayakan hari Maulid Nabi Muhammad SAW 12 Rabiul Awal.”

2. “Selamat merayakan hari Maulid Nabi Muhammad SAW 12 Rabiul Awal 1440 H 2018. Semoga di hari Maulid Nabi ini kita selalu mendapat Syafaat Rasulullah dengan meneladani akhlak beliau.”

3. “Selamat merayakan hari Maulid Nabi Muhammad SAW 12 Rabiul Awal 1440 H. Publik Figur itu adalah Muhammad SAW maka mari membumikan ketauladanan Rasulullah ke seluruh aspek kehidupan bermasyarakan, berbangsa dan bernegara.”

4. “Selamat Maulid Nabi SAW 2018. Semoga damai selalu menyertai seluruh umat Islam didunia!”

5. “Kelahiran Nabi kita adalah harapan untuk kebahagiaan abadi semua umat manusia. Visinya datang dari ketidaktahuan dan tirani penganiayaan. Dia memulai usia yang cerah dalam pengetahuan dan keyakinan, Selamat Maulid Nabi 1440 H 2018!”

6. “Selamat Memperingati Hari Maulid Nabi Muhammad SAW

(Dan tiadalah Kami mengutus kamu) hai Muhammad! (melainkan untuk menjadi rahmat) yakni merupakan rahmat (bagi semesta alam) manusia dan jin melalui kerasulanmu. (QS.Al Anbiya: 107)”

7. “Engkau adalah pelita hidup, engkau membawa kebenaran, membimbing kami menuju jalan yang lurus, dan karenamu kami beriman kepada Allah SWT. Selamat memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW 1440 H.”

8. “Selamat Maulid Nabi 1440 H 2018. Semoga Maulidur Rasul membawa kedamaian, berkah Dan kegembiraan untuk Anda serta keluarga.”

9. “Muhammad menunjukkan kepada kita kepatuhan dan kesetiaan, hak, kebenaran, belas kasihan dan hati nurani, keadilan, kebajikan, kesabaran dan toleransi dengan kehidupan teladannya, Selamat Maulid Nabi SAW 1440 H 2018!”

10. “Selamat Maulid Nabi SAW 2018 1440 H. Kegembiraan telah datang dengan kelahiran sang penunjuk jalan yang lurus.”

Selasa, 20 November 2018

Tokoh Indonesia yang Masuk ke Dalam 500 Muslim Paling Berpengaruh di Dunia 2019

500-Muslim-Influencial

Tokoh Indonesia yang Masuk ke Dalam 500 Muslim Paling Berpengaruh di Dunia 2019

Pada bulan Oktober 2018 ini, situs The Muslim 500 | The World’s Most Influential Muslims kembali merilis 500 Muslim paling berpengaruh di dunia edisi 2019. Di dalamnya, tentu saja, seperti edisi-edisi sebelumnya terdapat tokoh Muslim yang berasal dari Indonesia.

Situs The Muslim 500 dikelola oleh The Royal Islamic Strategic Studies Centre(MABDA المركز الملكي للبحوث والدراسات الإسلامية), sebuah lembaga penelitian independen yang berafiliasi dengan Royal Aal al-Bayt Institute for Islamic Thought, sebuah LSM internasional non-pemerintah asal Amman, Yordania.

The Muslim 500 pertama kali dirilis pada 16 Januari 2009, semenjak itu, edisi tahunan selanjutnya selalu ditunggu-tunggu oleh khalayak Muslim sedunia sampai hari ini. Berbagai macam proyek terkait dunia Muslim yang digarap oleh Royal Aal al-Bayt Institute for Islamic Thought selain The Muslim 500, di antaranya adalah World Interfaith Harmony Week, Free Islamic Calligraphy, dan yang paling terkenal adalah The Amman Message, sebuah ajang pertemuan ulama-ulama Islam terkemuka di dunia untuk menentukan mana yang termasuk Islam dan mana yang bukan, dan tindakan mana yang termasuk ajaran Islam dan mana yang bukan.

Pada edisi 2019 ini, terdapat 21 orang asal Indonesia yang masuk ke dalam 500 Muslim paling berpengaruh di dunia. Situs The Muslim 500 membaginya ke dalam dua kelompok besar, yaitu 50 Muslim dengan peringkat pengaruh tertinggi (The Top 50) dan 450 Muslim berpengaruh lainnya dengan peringkat yang tidak disebutkan (The 450 List).

Untuk The Top 50, terdapat tiga orang asal Indonesia yang termasuk di dalamnya. Mereka yaitu Presiden Joko Widodo pada peringkat ke-16, KH Said Aqil Siradj pada peringkat ke-20, dan Habib Luthfi bin Yahya pada peringkat ke-37.

Sementara itu, pada The 450 List, pembagiannya dibagi berdasarkan 13 kategori, yaitu: Ulama, Politik, Administrasi Keagamaan, Pendakwah dan Pembimbing Spiritual, Kedermawanan/Amal dan Pembangunan, Isu Sosial, Bisnis, Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, Seni dan Budaya, Pembaca Al-Quran, Media, Selebriti dan Bintang Olahraga, dan Ekstremis.

Jangan terkejut apabila dalam kategori tersebut anda menemukan kategori ekstremis, sebab dalam buku (format PDF) yang diterbitkan oleh The Muslim 500, dijelaskan bahwa mereka tidak membatasi pengaruh tersebut, apakah itu baik ataupun buruk. Jadi, selama orang yang bersangkutan berpengaruh, maka dia akan dimasukkan ke dalamnya.

Berikut ini adalah 18 orang Indonesia yang masuk ke dalam The 450 List (urutannya mengikuti sesuai dengan yang diterbitkan oleh The Muslim 500):

Haidar Bagir, dalam kategori Kedermawanan/Amal dan Pembangunan.

Abu Bakar Bashir, dalam kategori Ekstremis.

Achmad Mustofa Bisri, dalam kategori Ulama

Abdullah Gymnastiar atau Aa Gym, dalam kategori Pendakwah dan Pembimbing Spiritual

Sri Mulyani Indrawati, dalam kategori Bisnis

Syafii Maarif, dalam kategori Ulama

Anis Matta, dalam kategori Politik

Goenawan Mohammad, dalam kategori Media

Tri Mumpuni, dalam kategori Ilmu Pengetahuan dan Teknologi

Asma Nadia, dalam kategori Seni dan Budaya

Haedar Nasir, dalam kategori Administrasi Keagamaan

Helvy Tiana Rosa, dalam kategori Seni dan Budaya

Quraish Shihab, dalam kategori Pendakwah dan Pembimbing Spiritual

Yahya Cholil Staquf, dalam kategori Administrasi Keagamaan (baru masuk pada edisi 2019)

Prabowo Subianto, dalam kategori Politik

Megawati Soekarnoputri, dalam kategori Politik

Din Syamsuddin, dalam kategori Ulama

Maria Ulfah, dalam kategori Pembaca Al-Quran

Khusus pada edisi 2019, The Muslim 500 juga merilis 100 orang berpengaruh dalam 10 tahun terakhir yang dihitung secara akumulatif (The Top 100 Cumulative Influence Over Ten Years), mereka yang berasal dari Indonesia adalah:

Said Aqil Siradj, pada peringkat ke-17

Joko Widodo, pada peringkat ke-30

Susilo Bambang Yudhoyono, pada peringkat ke-36

Din Syamsuddin, pada peringkat ke-37

Habib Luthfi bin Yahya, pada peringkat ke-57

Hasyim Muzadi, pada peringkat ke-78

 

PH/IslamIndonesia

By arifuddinali Posted in Berita

Pancaran Hikmah Kisah-Kisah dalam Al-Quran

20181023-Pancaran-Hikmah-Kisah-Kisah-dalam-Al-Quran

Seperti diketahui, selain memuat aturan agama, betapa banyak kisah-kisah yang diceritakan dalam Al-Quran. Baik kisah tentang para Nabi dan Rasul, maupun kisah tentang beberapa raja dan kaum penentang mereka, yang kesemuanya mengandung banyak hikmah. Apa saja hikmah dari kisah-kisah dimaksud? Berikut ini beberapa di antaranya.

Pertama, sebagaimana yang Allah sebutkan dalam firman-Nya:

فَاقْصُصِ الْقَصَصَ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ

Maka ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berpikir.” (QS. Al A’raf:176)

Kedua, untuk menguatkan hati Nabi Saw, sebagaimana firman Allah:

وَكُلًّا نَقُصُّ عَلَيْكَ مِنْ أَنْبَاءِ الرُّسُلِ مَا نُثَبِّتُ بِهِ فُؤَادَكَ وَجَاءَكَ فِي هَذِهِ الْحَقُّ وَمَوْعِظَةٌ وَذِكْرَى لِلْمُؤْمِنِينَ

Dan semua kisah dari rasul-rasul Kami ceritakan kepadamu, ialah kisah-kisah yang dengannya Kami teguhkan hatimu; dan dalam surah ini telah datang kepadamu kebenaran serta pengajaran dan peringatan bagi orang-orang yang beriman.” (QS. Huud:120)

Peneguhan hati dengan kisah Al-Quran ini selain untuk Rasulullah Saw, tentunya juga untuk selain beliau. Betapa banyak para ulama dan orang-orang beriman memetik manfaat dari kisah para nabi dan yang lainnya. Betapa banyak kisah-kisah Qurani tersebut menjadi penerang yang memberikan petunjuk kepada manusia.

Ketiga, dalam kisah-kisah Al-Quran terdapat hikmah bagi orang-orang yang berakal.

لَقَدْ كَانَ فِي قَصَصِهِمْ عِبْرَةٌ لِأُولِي الْأَلْبَابِ

Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal.” (QS. Yusuf:111)

Keempat, mengambil hikmah dan pesan dari kondisi umat-umat sebelumnya. Jika mereka adalah orang-orang yang binasa, maka umat ini pun perlu diberitahu dan diminta waspada terhadap apa yang membuat umat-umat terdahulu binasa. Jika mereka termasuk orang-orang yang sukses, maka umat ini pun perlu mengambil pelajaran dengan meniti jejak kesuksesan mereka.

Kelima, mengenal bagaimana kemampuan Allah memberikan berbagai macam hukuman kepada orang-orang yang menyimpang, sesuai dengan hikmah yang telah ditetapkan-Nya.

Keenam, mengenal penegakan hujjah kepada manusia dengan diutusnya para Rasul, dan diturunkannya kitab-kitab. Mengenal bagaimana para umat terdahulu menghadapi Rasul mereka, apa yang terjadi ketika mereka ingkar kepada para Rasul dan apa yang terjadi ketika mereka menerima seruan para Rasul. Sebagaimana yang Allah firmankan setelah menceritakan sejumlah Rasul-Nya:

وَرُسُلًا قَدْ قَصَصْنَاهُمْ عَلَيْكَ مِنْ قَبْلُ وَرُسُلًا لَمْ نَقْصُصْهُمْ عَلَيْكَ وَكَلَّمَ اللَّهُ مُوسَى تَكْلِيمًا رُسُلًا مُبَشِّرِينَ وَمُنْذِرِينَ لِئَلَّا يَكُونَ لِلنَّاسِ عَلَى اللَّهِ حُجَّةٌ بَعْدَ الرُّسُلِ وَكَانَ اللَّهُ عَزِيزًا حَكِيمًا

Dan (Kami telah mengutus) rasul-rasul yang sungguh telah Kami kisahkan tentang mereka kepadamu dahulu, dan rasul-rasul yang tidak Kami kisahkan tentang mereka kepadamu. Dan Allah telah berbicara kepada Musa dengan langsung. (Mereka Kami utus) selaku rasul-rasul pembawa berita gembira dan pemberi peringatan agar supaya tidak ada alasan bagi manusia membantah Allah sesudah diutusnya rasul-rasul itu. Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. An Nisaa:164-165).

Sumber: islamindonesia.id

Hukum Mengambil Foto dengan Kamera

Bismillah … Segala pujian hanyalah milik Allah. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya.

Masalah ini adalah masalah nawazil (kontemporer) yang tidak didapati di masa silam. Oleh karena itu, bagaimana hukum dalam masalah ini, para ulama berselisih pendapat karena perbedaan dalam memahami dalil dan punya pilihan ijtihad masing-masing. Pada kesempatan kali ini, kami akan berusaha menyajikan masalah ini secara ringkas.

Hukum Menggambar

Tentang masalah hukum tashwir (menggambar), hukumnya haram. Berikut adalah dalil-dalil yang menunjukkan hal ini.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, ia berkata: Saya mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنْ ذَهَبَ يَخْلُقُ كَخَلْقِي فَلْيَخْلُقُوا بَعُوضَةً أَوْ لِيَخْلُقُوا ذَرَّةً

“Allah ‘Azza wa Jalla berfirman, “Siapakah yang lebih zholim daripada orang yang berkehendak mencipta seperti ciptaan-Ku. Coba mereka menciptakan lalat atau semut kecil (jika mereka memang mampu)!” (HR. Bukhari no. 5953 dan Muslim no. 2111, juga Ahmad 2: 259, dan ini adalah lafazhnya)

Juga dari Abu Hurairah dalam riwayat lain disebutkan,

قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنْ ذَهَبَ يَخْلُقُ كَخَلْقِى ، فَلْيَخْلُقُوا ذَرَّةً ، أَوْ لِيَخْلُقُوا حَبَّةً أَوْ شَعِيرَةً

“Allah ‘Azza wa Jalla berfirman, “Siapakah yang lebih zholim daripada orang yang mencipta seperti ciptaan-Ku. Coba mereka menciptakan semut kecil, biji atau gandum (jika mereka memang mampu)! ” (HR. Bukhari no. 7559)

Dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda,

إِنَّ أَشَدَّ النَّاسِ عَذَابًا عِنْدَ اللَّهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ الْمُصَوِّرُونَ

“Sesungguhnya manusia yang paling keras siksaannya di sisi Allah pada hari kiamat adalah tukang penggambar.” (HR. Bukhari no. 5950 dan Muslim no. 2109)

Dari ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, dia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ الَّذِينَ يَصْنَعُونَ هَذِهِ الصُّوَرَ يُعَذَّبُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يُقَالُ لَهُمْ أَحْيُوا مَا خَلَقْتُمْ

“Sesungguhnya mereka yang membuat gambar-gambar akan disiksa pada hari kiamat. Akan dikatakan kepada mereka, “Hidupkanlah apa yang kalian ciptakan.” (HR. Bukhari no. 5961 dan Muslim no. 5535)

Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ صَوَّرَ صُورَةً عُذِّبَ حَتَّى يَنْفُخَ فِيهَا الرُّوحَ وَلَيْسَ بِنَافِخٍ فِيهَا

“Barangsiapa yang membuat gambar, ia akan disiksa hingga ia bisa meniupkan ruh pada gambar yang ia buat. Namun kenyataannya ia tidak bisa meniupnya.” (HR. An Nasai no. 5359 dan Ahmad 1: 216. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Dalam hadits ini dibedakan antara gambar hewan (yang memiliki ruh, pen) dan bukan hewan. Hal ini mengandung pelajaran bahwa boleh saja menggambar pohon dan benda logam di baju atau kain, dan menggambar yang lain (yang tidak memiliki ruh, pen).” (Majmu’ Al Fatawa, 29: 370)

Dalam hadits berikut juga menunjukkan bahwa jika kepala dihapus dari gambar, maka gambarnya tidak jadi bermasalah.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dia berkata,

اسْتَأْذَنَ جِبْرِيلُ عَلَيْهِ السَّلام عَلَى النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم فَقَالَ : « ادْخُلْ » . فَقَالَ : « كَيْفَ أَدْخُلُ وَفِي بَيْتِكَ سِتْرٌ فِيهِ تَصَاوِيرُ فَإِمَّا أَنْ تُقْطَعَ رُؤوسُهَا أَوْ تُجْعَلَ بِسَاطًا يُوطَأُ فَإِنَّا مَعْشَرَ الْمَلائِكَةِ لا نَدْخُلُ بَيْتًا فِيهِ تَصَاوِيرُ

“Jibril ‘alaihis salam meminta izin kepada Nabi maka Nabi bersabda, “Masuklah.” Lalu Jibril menjawab, “Bagaimana saya mau masuk sementara di dalam rumahmu ada tirai yang bergambar. Sebaiknya kamu menghilangkan bagian kepala-kepalanya atau kamu menjadikannya sebagai alas yang dipakai berbaring, karena kami para malaikat tidak masuk rumah yang di dalamnya terdapat gambar-gambar.” (HR. An-Nasai no. 5365. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Dalam hadits lain, Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

اَلصُّوْرَةٌ الرَّأْسُ ، فَإِذَا قُطِعَ فَلاَ صُوْرَةٌ

“Gambar itu adalah kepala, jika kepalanya dihilangkan maka tidak lagi disebut gambar.” (HR. Al-Baihaqi 7/270. Syaikh Al Albani mengatakan hadits ini shahih dalam As Silsilah Ash Shohihah no. 1921)

Hati-Hati dengan Penghasilan dari Melukis!

Mari kita perhatikan hadits Sa’id bin Abil Hasan berikut ini.

عَنْ سَعِيدِ بْنِ أَبِى الْحَسَنِ قَالَ كُنْتُ عِنْدَ ابْنِ عَبَّاسٍ – رضى الله عنهما – إِذْ أَتَاهُ رَجُلٌ فَقَالَ يَا أَبَا عَبَّاسٍ إِنِّى إِنْسَانٌ ، إِنَّمَا مَعِيشَتِى مِنْ صَنْعَةِ يَدِى ، وَإِنِّى أَصْنَعُ هَذِهِ التَّصَاوِيرَ . فَقَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ لاَ أُحَدِّثُكَ إِلاَّ مَا سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – يَقُولُ سَمِعْتُهُ يَقُولُ « مَنْ صَوَّرَ صُورَةً فَإِنَّ اللَّهَ مُعَذِّبُهُ ، حَتَّى يَنْفُخَ فِيهَا الرُّوحَ ، وَلَيْسَ بِنَافِخٍ فِيهَا أَبَدًا » . فَرَبَا الرَّجُلُ رَبْوَةً شَدِيدَةً وَاصْفَرَّ وَجْهُهُ . فَقَالَ وَيْحَكَ إِنْ أَبَيْتَ إِلاَّ أَنْ تَصْنَعَ ، فَعَلَيْكَ بِهَذَا الشَّجَرِ ، كُلِّ شَىْءٍ لَيْسَ فِيهِ رُوحٌ

Dari Sa’id bin Abil Hasan, ia berkata, “Aku dahulu pernah berada di sisi Ibnu ‘Abbas –radhiyallahu ‘anhuma-. Ketika itu ada seseorang yang mendatangi beliau lantas ia berkata, “Wahai Abu ‘Abbas, aku adalah manusia. Penghasilanku berasal dari hasil karya tanganku. Aku biasa membuat gambar seperti ini.” Ibnu ‘Abbas kemudian berkata, “Tidaklah yang kusampaikan berikut ini selain dari yang pernah kudengar dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Aku pernah mendengar beliau bersabda, “Barangsiapa yang membuat gambar, Allah akan mengazabnya hingga ia bisa meniupkan ruh pada gambar yang ia buat. Padahal ia tidak bisa meniupkan ruh tersebut selamanya.” Wajah si pelukis tadi ternyata berubah menjadi kuning. Kata Ibnu ‘Abbas, “Jika engkau masih tetap ingin melukis, maka gambarlah pohon atau segala sesuatu yang tidak memiliki ruh.” (HR. Bukhari no. 2225)

Hadits ini menunjukkan bahwa gambar yang masih dibolehkan untuk dilukis adalah gambar yang tidak memiliki ruh yaitu selain hewan dan manusia. Hadits Sa’id di atas juga menunjukkan terlarangnya pekerjaan pelukis yang hasil karyanya dengan melukis makhluk yang memiliki ruh. Namun jika yang digambar adalah pepohonan, laut, gunung dan selain gambar yang memiliki ruh, tidaklah masalah. Imam Muhammad bin Isma’il Al Bukhari rahimahullah membawakan hadits di atas dalam kitab shahihnya, “Bab jual beli gambar makhluk yang tidak memiliki ruh dan yang menunjukkan terlarangnya pekerjaan dari gambar yang memiliki ruh.”

Hukum Foto dengan Kamera

Jika kita sudah mengetahui secara jelas hukum gambar makhluk yang memiliki ruh, sekarang kita beralih pada permasalahan yang lebih kontemporer yang tidak dapati di masa silam. Mengenai masalah foto dari jepretan kamera, para ulama ada khilaf (silang pendapat). Ada yang melarang dan menyatakan haram karena beralasan:

Hadits yang membicarakan hukum gambar itu umum, baik dengan melukis dengan tangan atau dengan alat seperti kamera. Lalu ulama yang melarang membantah ulama yang membolehkan foto kamera dengan menyatakan bahwa alasan yang dikemukakan hanyalah logika dan tidak bisa membantah sabda Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka juga mengharamkan dengan alasan bahwa foto hasil kamera masih tetap disebut shuroh (gambar) walaupun dihasilkan dari alat, tetapi tetap sama-sama disebut demikian.[1]

Sedangkan ulama lain membolehkan hal ini dengan alasan dalil-dalil di atas yang telah disebutkan. Sisi pendalilan mereka:

Foto dari kamera bukanlah menghasilkan gambar baru yang menyerupai ciptaan Allah. Gambar yang terlarang adalah jika mengkreasi gambar baru. Namun gambar kamera adalah gambar ciptaan Allah itu sendiri. Sehingga hal ini tidak termasuk dalam gambar yang nanti diperintahkan untuk ditiupkan ruhnya. Foto yang dihasilkan dari kamera ibarat hasil cermin. Para ulama bersepakat akan bolehnya gambar yang ada di cermin.

Alasan kedua ini disampaikan oleh Syaikhuna –Syaikh Sa’ad Asy Syatsri hafizhohullah–[2], yang di masa silam beliau menjadi anggota Hay-ah Kibaril ‘Ulama (kumpulan ulama besar Saudi Arabia).

Pendapat kedua yang membolehkan foto hasil kamera, kami rasa lebih kuat dengan alasan yang sudah dikemukakan.

Demikian pembahasan kami secara singkat dari penjelasan para ulama yang kami peroleh. Moga bermanfaat. Semoga Allah senantiasa memberikan kita ketakwaan untuk menjauhi segala yang Allah larang.

Segala puji bagi Allah yang dengan nikmat-Nya segala kebaikan menjadi sempurna. Hanya Allah yang memberi taufik.

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal, MSc

December 23, 2011

[1] Di antara ulama yang berpendapat seperti ini adalah guru penulis sendiri, Syaikh Sholeh Al Fauzan –hafizhohullah-. Kami mendengar langsung ketika beliau menjelaskan mengenai hukum gambar dari kitab Ad Durun Nadhid karya Muhammad bin ‘Ali Asy Syaukani, 18 Muharram 1433 H.

[2] Syaikh Sa’ad Asy Syatsri menyampaikan hal ini dalam sesi tanya jawab Dauroh sehari mengenai masalah fitnah, 20 Muharram 1433 H di Masjid Jaami’ ‘Utsman bin ‘Affan, Riyadh, KSA. Beliau menjadi pemateri ketiga dengan materi “Qowa’id wa Dhowabith Ta’amul ‘indal Fitnah”. Tanya jawab ini di rekaman penulis berada pada menit 83 – 85.

BSumber : rumaysho.com

Golongan Yang Selamat Hanya Satu

GOLONGAN YANG SELAMAT HANYA SATU

Oleh
Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas حَفِظَهُ الله تَعَالَى

عَنْ عَوْفِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ :(( اِفْتَرَقَتِ الْيَهُوْدُ عَلَى إِحْدَى وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً فَوَاحِدَةٌ فِي الْجَنَّةِ وَسَبْعُوْنَ فِي النَّارِ، وَافْتَرَقَتِ النَّصَارَى عَلَى ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً فَإِحْدَى وَسَبْعُوْنَ فِي النَّارِ وَوَاحِدَةٌ فِي الْجَنَّةِ، وَالَّذِيْ نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَتَفْتَرِقَنَّ أُمَّتِيْ عَلَى ثَلاَثٍ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً، وَاحِدَةٌ فِي الْجَنَّةِ وَثِنْتَانِ وَسَبْعُوْنَ فِيْ النَّارِ )) قِيْلَ يَا رَسُوْلَ اللهِ، مَنْ هُمْ ؟ قَالَ: ( اَلْجَمَاعَةُ ).

Dari Sahabat ‘Auf bin Mâlik Radhiyallahu ‘anhu , ia berkata, “Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Ummat Yahudi berpecah-belah menjadi 71 (tujuh puluh satu) golongan, maka hanya satu golongan yang masuk surga dan 70 (tujuh puluh) golongan masuk neraka. Ummat Nasrani berpecah-belah menjadi 72 (tujuh puluh dua) golongan dan 71 (tujuh puluh satu) golongan masuk neraka dan hanya satu golongan yang masuk surga. Dan demi jiwa Muhammad yang berada di tangan-Nya, sungguh akan berpecah-belah ummatku menjadi 73 (tujuh puluh tiga) golongan, hanya satu (golongan) masuk surga dan 72 (tujuh puluh dua) golongan masuk neraka.’ Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya, ‘Wahai Rasûlullâh, ‘Siapakah mereka (satu golongan yang selamat) itu ?’ Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ‘al-Jamâ’ah.’”

TAKHRIJ HADITS
Hadits ini diriwayatkan oleh:
1. Ibnu Mâjah dan lafazh ini miliknya, dalam Kitâbul Fitan, Bâb Iftirâqul Umam (no. 3992).
2. Ibnu Abi ‘Ashim dalam Kitâbus Sunnah (no. 63).
3. al-Lalika-i dalam Syarah Ushûl I’tiqâd Ahlis Sunnah wal Jamâ’ah (no. 149).
Hadits ini hasan. Lihat Silsilatul Ahâdîts ash-Shahîhah (no. 1492).

Dalam riwayat lain disebutkan tentang golongan yang selamat yaitu orang yang mengikuti Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para shahabatnya Radhiyallahu anhum. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

…كُلُّهُمْ فِي النَّارِ إِلاَّ مِلَّةً وَاحِدَةً: مَا أَنَا عَلَيْهِ وَأَصْحَابِيْ.

“…Semua golongan tersebut tempatnya di neraka, kecuali satu (yaitu) yang aku dan para sahabatku berjalan di atasnya.”[1]

SYARAH HADITS
Islam yang Allâh Azza wa Jalla karuniakan kepada kita, yang harus kita pelajari, fahami, dan amalkan adalah Islam yang bersumber dari al-Qur’ân dan as-Sunnah yang shahih menurut pemahaman para Sahabat (Salafush Shalih). Pemahaman para Sahabat Radhiyallahu anhum yang merupakan aplikasi (penerapan langsung) dari apa yang diajarkan oleh Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah satu-satunya pemahaman yang benar. Aqidah serta manhaj mereka adalah satu-satunya yang benar. Sesungguhnya jalan kebenaran menuju kepada Allâh hanya satu, sebagaimana sabda Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits di atas.

Satu golongan dari ummat Yahudi yang masuk Surga adalah mereka yang beriman kepada Allâh Azza wa Jalla dan kepada Nabi Musa Alaihissallam serta mati dalam keadaan beriman. Dan begitu juga satu golongan Nasrani yang masuk surga adalah mereka yang beriman kepada Allâh dan kepada Nabi ‘Isa Alaihissallam sebagai Nabi, Rasul dan hamba Allâh serta mati dalam keadaan beriman.[2] Adapun setelah diutusnya Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam , maka semua ummat Yahudi dan Nasrani wajib masuk Islam, yaitu agama yang dibawa oleh Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai penutup para Nabi. Prinsip ini berdasarkan hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ، لاَ يَسْمَعُ بِيْ أَحَدٌ مِنْ هَذِهِ الْأُمَّةِ يَهُوْدِيٌّ وَلاَ نَصْرَانِيٌّ، ثُمَّ يَمُوْتُ وَلَمْ يُؤْمِنْ بِالَّذِي أُرْسِلْتُ بِهِ، إِلاَّ كَانَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِ.

Demi (Rabb) yang diri Muhammad ada di tangan-Nya, tidaklah seorang dari ummat Yahudi dan Nasrani yang mendengar tentangku (Muhammad), kemudian ia mati dalam keadaan tidak beriman terhadap ajaran yang aku bawa, niscaya ia termasuk penghuni Neraka.” (HR. Muslim (no. 153), dari Sahabat Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu)

‘Abdullah bin Mas‘ûd Radhiyallahu ‘anhu berkata :

خَطَّ لَنَا رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَطًّا بِيَدِهِ ثُمَّ قَالَ: هَذَا سَبِيْلُ اللهِ مُسْتَقِيْمًـا، وَخَطَّ خُطُوْطًا عَنْ يَمِيْنِهِ وَشِمَـالِهِ، ثُمَّ قَالَ: هَذِهِ سُبُلٌ ]مُتَفَـِرّقَةٌ[ لَيْسَ مِنْهَا سَبِيْلٌ إِلَّا عَلَيْهِ شَيْطَانٌ يَدْعُوْ إِلَيْهِ، ثُمَّ قَرَأَ قَوْلَهُ تَعَالَـى: وَأَنَّ هَٰذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ ۖ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ ۚ ذَٰلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam membuat garis dengan tangannya kemudian bersabda, ‘Ini jalan Allâh yang lurus.’ Lalu beliau membuat garis-garis di kanan kirinya, kemudian bersabda, ‘Ini adalah jalan-jalan yang bercerai-berai (sesat) tak satupun dari jalan-jalan ini kecuali disana ada setan yang menyeru kepadanya.’ Selanjutnya Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca firman Allâh Azza wa Jalla , “Dan sungguh, inilah jalanku yang lurus, maka ikutilah! Jangan kamu ikuti jalan-jalan (yang lain) yang akan mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Demikianlah Dia memerintahkan kepadamu agar kamu bertakwa.” [al-An’âm/6:153] [3]

Dalam hadits ini Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan ayat dalam surat al-An’âm bahwa jalan menuju Allâh Azza wa Jalla hanya satu, sedangkan jalan-jalan menuju kesesatan banyak sekali. Jadi wajib bagi kita mengikuti shiratal mustaqim dan tidak boleh mengikuti jalan, aliran, golongan, dan pemahaman-pemahaman yang sesat, karena dalam semua itu ada setan yang mengajak kepada kesesatan.

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah (wafat tahun 751 H) berkata, “Hal ini disebabkan karena jalan menuju Allâh Subhanahu wa Ta’ala hanya satu. Jalan itu adalah ajaran yang telah Allâh Azza wa Jalla wahyukan kepada para rasul -Nya dan Kitab-kitab yang telah diturunkan kepada mereka. Tidak ada seorang pun yang bisa sampai kepada-Nya tanpa melalui jalan tersebut. Sekiranya ummat manusia mencoba seluruh jalan yang ada dan berusaha mengetuk seluruh pintu yang ada, maka seluruh jalan itu tertutup dan seluruh pintu itu terkunci kecuali dari jalan yang satu itu. Jalan itulah yang berhubungan langsung kepada Allâh dan menyampaikan mereka kepada-Nya.”[4]

Akan tetapi, faktor yang membuat kelompok-kelompok dalam Islam itu menyimpang dari jalan yang lurus adalah kelalaian mereka terhadap rukun ketiga yang sebenarnya telah diisyaratkan dalam al-Qur’ân dan as-Sunnah, yakni memahami al-Qur’ân dan as-Sunnah menurut pemahaman assalafush shalih. Surat al-Fâtihah secara gamblang telah menjelaskan ketiga rukun tersebut, Allâh Azza wa Jalla berfirman :

اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ

Tunjukilah kami jalan yang lurus. [al-Fâtihah/1:6]

Ayat ini mencakup rukun pertama (al-Qur’ân) dan rukun kedua (as-Sunnah), yakni merujuk kepada al-Qur’ân dan As-Sunnah, sebagaimana telah dijelaskan di atas.

Allâh Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ

(Yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepadanya, bukan (jalan) mereka yang dimurkai, dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.” [al-Fâtihah/1:7]

Ayat ini mencakup rukun ketiga, yakni merujuk kepada pemahaman assalafush shalih dalam meniti jalan yang lurus tersebut. Padahal sudah tidak diragukan bahwa siapa saja yang berpegang teguh dengan al-Qur’ân dan as-Sunnah pasti telah mendapat petunjuk kepada jalan yang lurus. Disebabkan metode manusia dalam memahami al-Qur’ân dan as-Sunnah berbeda-beda, ada yang benar dan ada yang salah, maka wajib memenuhi rukun ketiga untuk menghilangkan perbedaan tersebut, yakni merujuk kepada pemahaman assalafush shalih.[5]

Tentang wajibnya mengikuti pemahaman para sahabat, Allâh Azza wa Jalla berfirman :

وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَىٰ وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّىٰ وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ ۖ وَسَاءَتْ مَصِيرًا

Dan barangsiapa menentang Rasul (Muhammad) setelah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang Mukmin, Kami biarkan dia dalam kesesatan yang telah dilakukannya itu dan akan Kami masukkan dia ke dalam neraka Jahanam, dan itu seburuk-buruk tempat kembali.” [an-Nisâ’/4:115]

Uraian di atas merupakan penegasan bahwa generasi yang paling utama yang dikaruniai ilmu dan amal shalih oleh Allâh Azza wa Jalla adalah para Shahabat Rasul n . Hal itu karena mereka telah menyaksikan langsung turunnya al-Qur’ân, menyaksikan sendiri penafsiran yang shahih yang mereka fahami dari petunjuk Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mulia. Karena itu wajib bagi kita mengikuti pemahaman mereka.

Setiap Muslim dan Muslimah dalam sehari semalam minimal 17 (tujuh belas) kali membaca ayat :

اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ﴿٦﴾صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ

Tunjukilah kami jalan yang lurus. (Yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepadanya, bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat. [al-Fâtihah/1:6-7]

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Perhatikanlah hikmah berharga yang terkandung dalam penyebutan sebab dan akibat ketiga kelompok manusia (yang tersebut di akhir surat al-Fâtihah) dengan ungkapan yang sangat ringkas. Nikmat yang dicurahkan kepada kelompok pertama adalah nikmat hidayah, yaitu ilmu yang bermanfaat dan amal shalih.”[6]

Permohonan dan do’a seorang Muslim setiap hari agar diberikan petunjuk ke jalan yang lurus harus direalisasikan dengan menuntut ilmu syar’i, belajar agama Islam yang benar berdasarkan al-Qur’ân dan as-Sunnah yang shahih menurut pemahaman para shahabat (pemahaman assalafush shalih), dan mengamalkannya sesuai dengan pengamalan mereka. Artinya, ummat Islam harus melaksanakan agama yang benar menurut cara beragamanya para shahabat, karena sesungguhnya mereka adalah orang yang mengikuti Sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan benar.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan dalam hadits ‘Irbadh Bin Sariyah Radhiyallahu ‘anhu tentang akan terjadinya perselisihan dan perpecahan di tengah kaum Muslimin. Kemudian Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan jalan keluar yang terbaik yaitu, berpegang kepada sunnah Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan sunnah khulafâ-ur Rasyidin Radhiyallahu anhum serta menjauhkan semua bid’ah dalam agama yang diada-adakan. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

…فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِيْ فَسَيَرَى اخْتِلَافًا كَثِيْرًا، فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِيْ وَسُنَّةِ الْخُلَفَاء الرَّاشِدِيْنَ الْمَهْدِيِّيْنَ، عَضُّوْا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ، وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الْأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ.

“…Sungguh, orang yang masih hidup di antara kalian sepeninggalku, maka ia akan melihat perselisihan yang banyak, karenanya hendaklah kalian berpegang teguh kepada Sunnahku dan Sunnah para Khulafa-ur Rasyidin. Peganglah erat-erat Sunnah tersebut dan gigitlah dengan gigi geraham kalian. Dan jauhilah oleh kalian setiap perkara yang baru (dalam agama), karena sesungguhnya setiap perkara yang baru adalah bid’ah, dan setiap bid’ah adalah sesat.’”[7]

Mu’âdz bin Jabal Radhiyallahu ‘anhu berkata, ‘Tidakkah kalian mendengar apa yang disabdakan Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam ?’ Mereka berkata, ‘Apa yang Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam ucapkan?’ Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّهَا سَتَكُوْنُ فِتْنَةٌ، فَقَالُوْا : فَكَيْفَ لَنَا يَا رَسُوْلَ اللهِ ؟ وَكَيْفَ نَصْنَعُ ؟ قَالَ : تَرْجِعُوْنَ إِلَى أَمْرِكُمُ الْأَوَّل

Sungguh akan terjadi fitnah”, Mereka berkata, ‘Bagaimana dengan kita, wahai Rasûlullâh ? Apa yang kita perbuat?’ Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Hendaknya kalian kembali kepada urusan kalian yang pertama kali.”[8]

Apabila ummat Islam kembali kepada al-Qur’ân dan as-Sunnah dan mereka memahami Islam menurut pemahaman Salaf dan mengamalkannya menurut cara yang dilaksanakan Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya, maka ummat Islam akan mendapatkan hidayah (petunjuk), barakah, ketenangan hati, terhindar dari berbagai macam fitnah, perpecahan, perselisihan, bid’ah-bid’ah, pemahaman-pemahaman dan aliran yang sesat. Bila umat Islam berpegang teguh dengan aqidah, manhaj, pemahaman, dan cara beragama yang dilaksanakan oleh Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para Sahabatnya Radhiyallahu anhum maka Allâh Azza wa Jalla akan memberikan kepada kaum Muslimin keselamatan, kemuliaan, kejayaan dunia dan akhirat serta diberikan pertolongan oleh Allâh Azza wa Jalla untuk mengalahkan musuh-musuh Islam dari kalangan orang-orang kafir dan munafiqin.

Realita kondisi ummat Islam yang kita lihat sekarang ini adalah ummat Islam mengalami kemunduran, terpecah belah dan mendapatkan berbagai musibah dan petaka, dikarenakan mereka tidak berpegang teguh kepada ‘aqidah dan manhaj yang benar dan tidak melaksanakan syari’at Islam sesuai dengan pemahaman Shahabat, serta banyak dari mereka yang masih berbuat syirik dan menyelisihi Sunnah Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam .

Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

… وَجُعِلَ الذِّلَّةُ وَالصَّغَارُ عَلَى مَنْ خَالَفَ أَمْرِيْ وَمَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ.

“… Dijadikan kehinaan dan kerendahan atas orang-orang yang menyelisihi Sunnahku. Dan barang siapa menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk golongan mereka.”[9]

Pertama kali yang harus diluruskan dan diperbaiki adalah ‘aqidah dan manhaj[10] umat Islam dalam meyakini dan melaksanakan agama Islam. Hal ini merupakan upaya untuk mengembalikan jati diri umat Islam untuk mendapatkan ridha Allâh Azza wa Jalla dan kemuliaan di dunia dan di akhirat.

FAWA-ID HADITS
1. Para Sahabat Nabi Radhiyallahu anhum adalah orang-orang mulia yang paling dalam ilmu dan hujjahnya. (lihat Saba’/34:6 ; Muhammad/47:16)
2. Para Sahabat Nabi Radhiyallahu anhum sebagai sumber rujukan saat perselisihan dan sebagai pedoman dalam memahami al-Qur’ân dan As-Sunnah.
3. Mengikuti manhaj Para Sahabat Nabi Radhiyallahu anhum adalah jaminan mendapat keselamatan dunia dan akhirat. (lihat an-Nisâ’/4: 115)
4. Mencintai para Sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berarti iman, sedang membenci mereka berarti kemunafikan.
5. Kesepakatan (ijma’) para Sahabat Nabi Radhiyallahu anhum adalah hujjah yang wajib diikuti setelah al-Qur’ân dan as-Sunnah. (lihat an-Nisâ’/4:115 dan hadits al-‘Irbâdh bin Sariyah Radhiyallahu ‘anhu )
6. Para Sahabat Nabi Radhiyallahu anhum adalah orang-orang yang berpegang teguh kepada agama Islam yang berarti mereka telah mendapat petunjuk, dengan demikian mengikuti mereka adalah wajib.
7. Keridhaan Allâh Azza wa Jalla dapat diperoleh dengan mengikuti para Sahabat Nabi Radhiyallahu anhum , baik secara kelompok maupun individu. (lihat at-Taubah/9:100)
8. Para Shahabat Nabi Radhiyallahu anhum adalah orang-orang yang menyaksikan perbuatan, keadaan, dan perjalanan hidup Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam , mendengar sabda beliau, mengetahui maksudnya, menyaksikan turunnya wahyu, dan menyaksikan penafsiran wahyu dengan perbuatan beliau sehingga mereka memahami apa yang tidak kita pahami.
9. Mengikuti para Shahabat Nabi Radhiyallahu anhum adalah jaminan mendapatkan pertolongan Allâh Azza wa Jalla , kemuliaan, kejayaan dan kemenangan.
10. Mengikuti pemahaman assalaufus shalih adalah pembeda antara manhaj (cara beragama) yang haq dengan yang batil, antara golongan yang selamat dan golongan-golongan yang sesat.
11. Hadits di atas menetapkan bahwa ijma’ para Sahabat sebagai dasar hukum Islam yang ketiga. (an-Nisâ’/4: 115)
12. al-Qur’ân dan as-Sunnah wajib dipahami dengan pemahaman para shahabat, kalau tidak maka pemahaman tersebut akan membawanya pada kesesatan.
13. Kewajiban mengikuti manhaj-nya (cara beragamanya) para shahabat.
14. Golongan-golongan dan aliran-aliran yang sesat itu sangat banyak sedangkan kebenaran hanya satu.
15. Mereka yang menyelisihi manhaj para Sahabat pasti akan tersesat dalam beragama,manhaj dan aqidah mereka.
16. Hakikat persatuan di dalam Islam adalah bersatu dalam ‘aqidah, manhaj, dan pemahaman yang benar.
17. Hadits di atas melarang kita berpecah belah di dalam manhaj dan aqidah.
18. Perselisihan yang dimaksud dalam hadits di atas ialah perselisihan dan perpecahan dalam manhaj dan aqidah. Adapun perselisihan yang disebabkan karena tabi’at manusia dan tingkat keilmuan seseorang yang lebih kurang, maka hal yang seperti ini tidak terlarang secara mutlak asalkan mereka tetap berada di dalam satu manhaj. Seperti perselisihan dalam masalah fiqih dan hukum, hal ini sudah ada sejak zaman Shahabat.
19. Para shahabat Radhiyallahu anhum adalah orang-orang yang telah mengamalkan sunnah-sunnah Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan benar dan mereka tidak berselisih tentang ‘aqidah dan manhaj, meskipun ada perbedaan pendapat dalam masalah hukum dan ijtihad.
20. Orang banyak bukan ukuran kebenaran, karena hadits di atas dan ayat al-Qur’ân menjelaskan kalau kita mengikuti orang banyak niscaya orang banyak akan menyesatkan kita dari jalan kebenaran. (al-An’âm/6:116)
21. Tidak boleh membuat kelompok, golongan, aliran, sekte, dan jama’ah atas nama Islam, yang didasari kepada wala’ (loyalitas) dan bara’ (berlepas diri) atas nama kelompoknya tersebut. Karena hal tersebut dapat membuat perpecahan.
22. Bahwa bid’ah dan ahli bid’ah merusak agama Islam dan membuat perpecahan.
23. Dalam Islam tidak ada bid’ah hasanah, semua bid’ah sesat.
24. Kaum Muslimin, terutama para penuntut ilmu dan para da’i, wajib mengikuti jalan golongan yang selamat, belajar, memahami, mengamalkan, dan mendakwahkan dakwah yang hak ini, yaitu dakwah salaf.[11]
25. Do’a yang kita minta setiap hari memohon petujuk ke jalan yang lurus, maka harus dibuktikan dengan mengikuti jalan golongan yang selamat, yaitu cara beragamanya para sahabat Radhiyallahu anhum.

Maraaji’:
1. al-Qur’ânul Karîm dan terjemahnya.
2. Kutubus sittah.
3. As-Sunnah libni Abi ‘Ashim.
4. Syarh Ushûl I’tiqâd Ahlis Sunnah wal Jamâ’ah, al-Lâlika-i.
5. Madârijus Sâlikîn, Ibnul Qayyim.
6. Silsilah al-Ahâdîts as-Shahîhah.
7. Dirâsât fil Ahwâ’ wal Firaq wal Bida’ wa Mauqifis Salaf minha.
8. Madârikun Nazhar fis Siyâsah.
9. Mâ ana ‘alaihi wa Ash-hâbii.
10. Dar-ul Irtiyâb ‘an Hadîts Mâ Ana ‘alaihi wa Ash-hâbii oleh Syaikh Salim bin ‘Ied al-Hilali, cet. Daarur Rayah/ th. 1410 H.
11. Al-Arba’ûna Hadîtsan an-Nabawiyyah fii Minhâjid Da’wah as-Salafiyyah oleh Sa’id (Muhammad Musa) Husain Idris as-Salafi.
12. Badâ’iut Tafsîr Al-Jami’ Limâ Fassarahul Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah.
13. Dan kitab-kitab lainnya.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 08/Tahun XV/1433H/2012M. Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo-Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196]
_______
Footnote
[1]. Hasan: HR. At-Tirmidzi (no. 2641) dan al-Hakim (I/129) dari Sahabat ‘Abdullah bin ‘Amr Radhiyallahu anhu , dan dihasankan oleh Syaikh al-Albâni dalam Shahîhul Jâmi’ (no. 5343). Lihat Dar-ul Irtiyâb ‘an Hadîts Mâ Ana ‘alaihi wa Ash-hâbii oleh Syaikh Salim bin ‘Ied al-Hilali, cet. Daarur Rayah/ th. 1410 H.
[2]. Lihat Tafsir Ibnu Katsir ketika menafsirkan al-Baqarah/2:62
[3]. Shahih: HR. Ahmad (I/435, 465), ad-Darimy (I/67-68), al-Hakim (II/318), Syarhus Sunnah lil Imâm al-Baghawy (no. 97), dihasankan oleh Syaikh al-Albâni dalam As-Sunnah libni Abi ‘Ashim no. 17. Tafsir an-Nasa-i (no. 194). Adapun tambahan (mutafarriqatun) diriwayatkan oleh Imam Ahmad (I/435).
[4]. Tafsîrul Qayyim libnil Qayyim (hlm. 14-15), Badâ’iut Tafsîr Al-Jâmi’ Limâ Fassarahul Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah (hlm. 88), cet. Daar Ibnu Jauzi.
[5]. Lihat Madârikun Nazhar fis Siyâsah baina Tathbîqâtisy Syar’iyyah wal Infi’âlâtil Hamâsiyyah (hlm. 36-37) karya ‘Abdul Malik bin Ahmad bin al-Mubarak Ramadhani Aljazairi, cet. IX/ th. 1430 H, Darul Furqan.
[6]. Madârijus Sâlikin (I/20, cet. Daarul Hadits, Kairo).
[7]. HR. Abu Dawud (no. 4607), at-Tirmidzi (no. 2676), dan lainnya. At-Tirmidzi berkata: “Hadits ini hasan shahih”. Silahkan baca penjelasan hadits ini dan fawa-idnya dalam buku penulis “Wasiat Perpisahan”, Pustaka at-Taqwa.
[8]. Shahih: HR. Ath-Thabarani dalam al-Mu’jamul Kabîr (no. 3307) dan al-Mu’jamul Ausath (no. 8674). Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Silsilah Al-Ahâdîts Ash-Shahîhah (no. 3165).
[9]. HR. Ahmad (II/50, 92) dan Ibnu Abi Syaibah (V/575 no. 98) Kitâbul Jihâd, cet. Daarul Fikr, Fat-hul Bâri (VI/98) dari Sahabat ‘Abdullah bin ‘Umar Radhiyallahu anhuma , dishahihkan oleh Syaikh Ahmad Syakir rahimahullah dalam Tahqiq Musnad Imam Ahmad (no. 5667).
[10]. Manhaj artinya jalan atau metode. Dan manhaj yang benar adalah jalan hidup yang lurus dan terang dalam beragama menurut pemahaman para Sahabat Radhiyallahu anhhum. Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan al-Fauzan menjelaskan antara ‘aqidah dan manhaj, beliau berkata, “Manhaj lebih umum daripada ‘aqidah. Manhaj diterapkan dalam ‘aqidah, suluk, akhlak, mu’amalah, dan dalam semua kehidupan seorang Muslim. Setiap langkah yang dilakukan seorang Muslim dikatakan manhaj. Adapun ‘aqidah yang dimaksud adalah pokok iman, makna dua kalimat syahadat, dan konsekuensinya, inilah ‘aqidah.” (Al-Ajwibatul Mufîdah ‘an As-ilatil Manâhij al-Jadîdah, hlm. 123. Kumpulan jawaban Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan al-Fauzan atas berbagai pertanyaan seputar manhaj, dikumpulkan oleh Jamal bin Furaihan al-Haritsi, cet. III, Daarul Manhaj/ th. 1424 H.)
[11]. Untuk lebih jelasnya, silahkan baca buku penulis “Mulia dengan Manhaj Salaf”, cet. V, Pustaka At-Taqwa.

Read more https://almanhaj.or.id/3825-golongan-yang-selamat-hanya-satu.html

Pandangan Ustadz Felix Siauw Terkait Istilah Islam Nusantara dan Islam Arab.

20180926-ustaz-felix-siauwISLAM Nusantara belakangan makin banyak menjadi bahan diskusi, obrolan, dan bahkan kajian sejumlah pihak.

Ada pendapat pro dan kontra terhadap gerakan atau istilah Islam Nusantara tersebut.

Sejumlah aktivitas Nahdlatul Ulama (NU) tetap menggelorokan semangat Islam Nusantara ini yang diharapkan bisa menjadikan Islam yang memberi rahmat bagi seisi dunia.

Tetapi, ada juga tokoh atau public  figure yang tidak sependapat dengan istilah Islam Nusantara, salah satunya adalah Ustadz (Ustaz) Felix Siauw.

Melalui akun facebooknya, Ustadz Felix Siauw menulis panjang lebar terkait Islam Nusantara dan Islam Arab.

Dia tidak setuju jika gerakan Islam Nusantara kemudian dibenturkan atau bahkan menjelek-jelekan Islam yang bermula dari tanah Arab.

“Bila yang disyukuri itu Nusantara yang damai dan tenteram, tentu semua menerima. Yang jadi hal, menuding Islam Arab sebagai sumber terjadinya peperangan,” tulis Ustadz Felix Siauw, Selasa (17/7/2018) sekitar 3 jam lalu.

Apalagi, tulis Felix Siauw, tokoh-tokoh gerakan Islam Nusantara sering arogan dan main hakim sendiri.

“Belum lagi tokoh-tokoh pendukung ide ini yang arogan, tak simpatik, dan main hakim sendiri. Pendukungnya juga sama, begitu mudah lisannya melaknat dan mencela,” ujar Felix Siauw.

Felix Siauw mengaku akan terus mengkritik gerakan Islam Nusantara karena Islam Nusantara bukan wahyu.

Simak tulisan lengkap Ustadz Felix Siauw terkait Islam Nusantara

Andai Islam Nusantara

Andai yang dimaksudkan itu adalah ekspresi Nusantara berupa kelembutan dan kerahamahan, tentu takkan masalah. Yang jadi masalah, mengatakan selainnya radikal dan teroris

Bila yang disyukuri itu Nusantara yang damai dan tenteram, tentu semua menerima. Yang jadi hal, menuding Islam Arab sebagai sumber terjadinya peperangan

Jika yang dikata Islam Nusantara itu berbatik, maulid, manaqib, dan shalawat saja, maka takkan ramai. Yang jadi soalan, menuduh Islam Arab itu goblok, abal-abal, dan penjajah

Yang jadi soal itu membeda-bedakannya. Islam Nusantara vs Islam Arab, lalu merasa lebih baik. Bukankah Iblis dilaknat sebab merasa lebih baik dari manusia?

Apalagi bukan hanya merasa lebih baik, tapi juga mengubah pakem Islam yang sudah ada, seolah Islam yang diajarkan Nabi tak cukup komprehensif, tak cukup ramah, tak cukup seimbang

Ditambah lagi, ide “Islam Nusantara” ini dipakai untuk membuat pembenaran terhadap penistaan agama, dengan dalih toleransi, keberagaman, pluralisme, ini yang buat ramai

Belum lagi tokoh-tokoh pendukung ide ini yang arogan, tak simpatik, dan main hakim sendiri. Pendukungnya juga sama, begitu mudah lisannya melaknat dan mencela

Diakui atau tidak, ide “Islam Nusantara” menjadi tempat untuk berlindung para liberalis yang sudah tak laku dengan ide “Islam Liberal” mereka. Setali tiga uang, sama saja

Sebagaimana dalam salah satu ceramah Buya Yahya, “Orang munafik itu bajunya banyak”. Bisa berganti rupa tergantung kepentingan, “Sekarang bajunya Islam Nusantara”. Begitu

Tulisan ini bukan wahyu, bisa dikritik dan dikoreksi. Sama seperti ide “Islam Nusantara” pun bukan wahyu, bisa dikritik dan diberikan saran, agar lebih baik kedepannya

Inilah Islam, indah. Menghargai dalam perbedaan, tidak kasar saat tak sama, santun dan bijak dalam ukhuwah. Bila ada komentar kasar di bawah, abaikan, bisa jadi bukan Muslim

Islam Nusantara atau model Islam Indonesia adalah suatu wujud empiris Islam yang dikembangkan di Nusantara setidaknya sejak abad ke-16.

Islam Nusnatara adalah hasil interaksi, kontekstualisasi, indigenisasi, interpretasi, dan vernakularisasi terhadap ajaran dan nilai-nilai Islam yang universal, yang sesuai dengan realitas sosio-kultural Indonesia, sebagaimana ditulis wikipedia.org.

Istilah ini secara perdana resmi diperkenalkan dan digalakkan oleh organisasi Islam Nahdlatul Ulama pada 2015, sebagai bentuk penafsiran alternatif masyarakat Islam global yang selama ini selalu didominasi perspektif Arab dan Timur Tengah.

Islam Nusantara didefinisikan sebagai penafsiran Islam yang mempertimbangkan budaya dan adat istiadat lokal di Indonesia dalam merumuskan fikihnya.

Pada Juni 2015, Presiden Joko Widodo telah secara terbuka memberikan dukungan kepada Islam Nusantara, yang merupakan bentuk Islam yang moderat dan dianggap cocok dengan nilai budaya Indonesia

https://www.facebook.com/plugins/post.php?href=https://www.facebook.com/UstadzFelixSiauw/posts/10156225290276351&width=500

Sekitar 12 Jam sebelumnya, Ustadz Felix Siauw menuli status di Facebooknya terkait istilah Islam Nusantara yang ia beri judul Tabayyun Dong.

Tabayyun Dong

Artinya cek dan ricek, diverifikasi lagi, dipastikan lagi, diperiksa lagi. Perintah ini Allah berikan saat kita mendapatkan berita dari orang yang fasik, agar kita hati-hati menerima berita

Misalkan, ada yang berkata pada kita, “Eh, temanmu itu penyuka sesama jenis lo”, maka kita tak boleh langsung percaya dan disinilah berlaku perintah tabayyun

Tabayyun artinya mencari bukti (al-bayan) atas berita yang kita terima, hingga berita itu bisa kita pastikan benar. Agar kita memiliki referensi dalam reaksi kita

Pertanyaannya, tabayyun apalagi yang kita perlukan bila semua video-videonya ada, masih bisa diakses, ditambah lagi selalu disuarakan terus-menerus dengan bangga

Ada yang berkata ketika memaknai tentang ide Islam Nusantara, “Islam kita ini Islam Nusantara, Islam kita ini Islam yang sejati, bukan Islam abal-abal model Timur Tengah..”, begitu

Ditambahkan, “Lain dengan yang di Arab dan anak-anak peradabannya, semuanya Islam datang sebagai penakluk, yaa.. kurang lebih sebagai penjajah”. Perlu tabayyun?

Senada dengan tokoh lainnya yang katakan “Islam Nusantara” bukan “Islam Arab”, yang dianggap juga membawa radikalisme dan juga terorisme. Videonya ada, perlu tabayyun?

Mereka yang jernih hatinya akan melihat dengan jelas, kemana arah ide “Islam Nusantara” digelontorkan. Tapi yang sudah menutup hati, akan mencaci-maki

Tapi ya itu, bila untuk mereka “tabayyun dong”, untuk yang lain, tak perlu ada tabayyun. Tak perlu tabayyun saat persekusi, tak perlu tabayyun saat menuduh orang lain “Islam Arab” radikal

Tulisan ini dibuat hanya bagi yang berpikir, dan yang berpikir insyaAllah tetap santun dalam beda apapun, andai Anda menemukan komentar buruk dibawah, tak perlu ladeni

Bagi kita cukup Islam, tak perlu dibatasi Nusantara, apalagi untuk menjelekkan yang lain. Jaga ukhuwah, tugas kita hanya menyampaikan dengan akhlak yang baik

Sumber: wartakota.tribunnews – Selasa, 17 Juli 2018

Status Terakhir Yockie Suryo Prayogo: ‘Kita Semua Akan Berpulang KepadaNya’

Bagus untuk d baca, renungan buat diri kita

Tulisan Yockie Suryo Prayogo (musisi legendaris Indonesia) di FB tgl. 1 November 2017 (sebelum meninggal dunia Senin tgl 5 Februari 2018 )_

Boleh jadi *keterlambatanmu* dari suatu perjalanan adalah *keselamatanmu*

Boleh jadi *tertundanya pernikahanmu* adalah suatu *keberkahan*

Boleh jadi *dipecatnya* engkau dari pekerjaan adalah suatu *maslahat*

Boleh jadi sampai sekarang engkau *belum dikarunia anak* itu adalah *kebaikan dalam hidupmu*.

Boleh jadi engkau *membenci sesuatu* tapi ternyata itu *baik untukmu*, karena *Allah Maha Mengetahui* Sedangkan engkau tidak mengetahui.

Sebab itu, *jangan engkau merasa gundah* terhadap segala sesuatu yang terjadi padamu, karena *semuanya sudah atas izin Allah*

Jangan *banyak mengeluh* karena hanya akan *menambah kegelisahan*.

*Perbanyaklah bersyukur, Alhamdulillah*, itu yang akan *mendatangkan kebahagiaan.*
*Terus ucap alhamdulillah, alhamdulillah, alhamdulillah*, sampai engkau tak mampu lagi mengucapkannya.

*Selama kita masih bisa tidur tanpa obat tidur, kita masih bisa bangun tidur hanya dengan satu bunyi suara, kita terbangun tanpa melihat adanya alat-alat medis yang menempel di tubuh kita, itu pertanda bahwa kita hidup sejahtera.*

*Alhamdulillah,* *Alhamdulillah,* *Alhamdulillah,* ucapkan sampai engkau tak mampu lagi mengucapkannya.

*Jangan selalu melihat ke belakang karena disana ada masa lalu yang menghantuimu.*

*Jangan selalu melihat ke depan karena terkadang ada masa depan yang membuatmu gelisah.*

*Namun lihatlah ke atas karena di sana ada Allah yang membuatmu bahagia.*

Tidak harus banyak teman agar engkau menjadi populer, *singa sang raja hutan lebih sering berjalan sendirian.* Tapi kawanan domba selalu bergerombol.

*Jari-jari juga demikian; kelingking, jari manis, jari tengah, jari telunjuk, semuanya berjajar bersampingan kecuali jari jempol dia yang paling jauh diantara keempat itu.*

Namun perhatikan engkau akan terkejut kalau semua jari-jari itu *tidak akan bisa berfungsi dengan baik tanpa adanya jempol yang sendiri*, yang jauh dari mereka.

Karena itu, sebenarnya yang diperhitungkan *bukanlah jumlah teman yang ada di sekelilingmu* akan tetapi banyaknya *cinta dan manfaat* yang ada di sekitarmu, sekalipun engkau jauh dari mereka.

Menyibukkan diri dalam pekerjaan akan menyelamatkan dirimu dari tiga masalah; yaitu *kebosanan, kehinaan, dan kemiskinan*

Aku tidak pernah mengetahui adanya rumus kesuksesan, tapi aku menyadari bahwa *rumus kegagalan adalah sikap “asal semua orang “*

*Teman itu seperti anak tangga*, boleh jadi ia *membawamu ke atas* atau ternyata sebaliknya *membawamu ke bawah*, maka *hati-hatilah anak tangga mana yang sedang engkau lalui.*

Hidup ini akan terus berlanjut baik itu engkau tertawa ataupun menangis, karena itu jangan jadikan hidupmu penuh kesedihan yang tidak bermanfaat sama sekali.

*Berlapang dadalah*, *maafkanlah*, dan *serahkan urusan manusia kepada Tuhan*, karena engkau, mereka, dan kita semua, semuanya *akan berpulang kepadaNya.*

*Jangan tinggalkan sholatmu sekali pun*. Karena di sana, jutaan manusia yang berada di bawah tanah, sedang berharap sekiranya mereka diperbolehkan kembali hidup mereka akan bersujud kepada Allah SWT walau sekali sujud.

*Jangan selalu bersandar pada cinta, karena itu jarang terjadi.*

*Jangan bersandar kepada manusia karena ia akan pergi*.

*Tapi bersandarlah kepada Allah SWT, Tuhan YME, karena Dialah yang menentukan segala sesuatu.*

*Subhanallah wa bihamdihi subhanallah hiladzim.*

http://m.tribunnews.com/seleb/2018/02/05/status-terakhir-yockie-suryo-prayogo-kita-semua-akan-berpulang-kepadanya?page=2
#

Inilah Dosa yang 1.000 Kali Lebih Besar Dari Berzina

Sikap zina menggambarkan salah satu perbuatan dosa besar yang amat dibenci allah.

begitu banyak ayat dalam al – qur’an menarangkan tentang hukuman yang hendak diterima para pelakunya baik dikala di dunia ataupun kala di akhirat.

bila dicoba oleh orang yang belum menikah, hingga pelakon zina wajib dirajam di hadapan penduduk sebanyak seratus kali.

sedangkan untuk yang sudah menikah tetapi melaksanakan zina dengan yang bukan muhrimnya, hingga hukumannya dirajam hingga mati.

terlebih lagi dalam suatu riwayat dipaparkan kalau nabi musa as tidak memaafkan pelakon zina karna dikira amat hina.

dia mengusir perempuan pelakon zina yang mau bertaubat dan juga memohon petunjuk darinya. perihal ini meyakinkan kalau zina menggambarkan dosa besar yang susah diampuni.

walaupun demikian besar ancaman dosa yang hendak diterima oleh pelakon zina, tetapi nyatanya terdapat dosa yang besarnya 1000 kali lebih besar dari dosa ini.

ancaman untuk pelakon dosa tersebut merupakan hukuman dan juga kemurkaan allah dan memperoleh kehinaan di dunia dan juga akhirat. apakah dosa yang 1000 kali lebih besar dibandingkan zina? berikut ulasannya.

nyatanya dosa yang sedemikian besar tersebut merupakan dosa orang yang terencana meninggalkan salat 5 waktu. salat menggambarkan kewajiban utama umat islam yang jadi pondasi dasar agama allah ini.

meninggalkannya sama dengan meruntuhkan tiang agama dan juga membikin allah swt jadi murka. tidak cuma dikala di dunia, hukuman untuk orang yang meninggalkan salat, di akhirat pula amat pedih.

ibnu qayyim (AL) jauziyah –rahimahullah – berkata, ”kaum muslimin bersepakat kalau meninggalkan shalat 5 waktu dengan terencana merupakan dosa besar yang amat besar dan juga dosanya lebih besar dari dosa menewaskan, merampas harta teman , berzina, mencuri, dan juga minum minuman keras. orang yang meninggalkannya hendak menemukan hukuman dan juga kemurkaan allah dan memperoleh kehinaan di dunia dan juga akhirat. ” (ash – sholah, perihal. 7)

“rasulullah saw, diperlihatkan pada sesuatu kalangan yang membenturkan kepala mereka pada batu, tiap kali benturan itu menimbulkan kepala rusak, setelah itu dia berulang kepada kondisi semula dan juga mereka tidak terus menyudahi melaksanakannya. kemudian rasulullah bertanya: ‘siapakah ini wahai jibril’?

jibril menanggapi: ‘mereka ini orang yang berat kepalanya buat menunaikan sholat fardhu’. ” (riwayat tabrani).

dalam riwayat yang lain pula dipaparkan bagaiamana kejamnya siksaan untuk mereka yang meninggalkan shalat.

ibnu abbas r. a. mengatakan bila langit sudah terbuka, hingga malaikat hendak tiba dengan bawa rantai sejauh 7 hasta.

rantai ini hendak digantungkan kepada orang yang tidak melakukan shalat. setelah itu dimasukkan dalam mulutnya dan juga hendak keluar dari duburnya.

setelah itu malaikat mengumumkan, “ini merupakan balasan orang yang menyepelekan perintah allah. ” (ibnu abbas r. a).

nisbah dosa yang diterima oleh orang yang meninggalkan shalat merupakan antara lain merupakan bagaikan berikut:

bila satu kali meninggalkan shalat subuh, hingga hukumannya merupakan masuk neraka sepanjang 30 tahun, sebaliknya satu hari di neraka sama dengan 60. 000 tahun di dunia. maksudnya satu kali tidak melakukan salat subuh, hingga kita hendak mendekam 60 ribu tahun di neraka.
meninggalkan satu kali salat zuhur, sama dosanya dengan dosa menewaskan 1. 000 umat islam
dosa satu kali meninggalkan shalat ashar sama dengan dosa meruntuhkan ka’bah
dosa satu kali meninggalkan shalat maghrib sama dengan dosa berzina dengan ibunya (bila pria) ataupun berzina dengan bapaknya (bila wanita)
satu kali meninggalkan shalat isya, tidak hendak di – ridhoi oleh allah buat tinggal di bumi dan juga hendak didesak mencari bumi ataupun tempat hidup yang lain.

mudah – mudahan kita jadi orang – orang yang tetap mendirikan salat, melaksanakannya pas waktu, dan sanggup mengajak keluarga yang lain buat salat pas waktu. mudah – mudahan aja tulisan ini berguna dan juga terimakasih sudah membaca.