Di Balik Kekuatan Al Quran

quran-tadabur-dalam

Al-Qur’an… Sebuah kata yang sangat populer di dunia sejak ia diturunkan 14.5 abad silam sampai hari ini. Kalau kita tanya sama mbah “Google”, maka ia akan menjawab : Ada sekitar 68.5 juta kata Al-Qur’an tercantum di dalamnya…. Subhanallah… Sebaliknya, jika kita tanya umat Islam yang mencapai 1.6 milyar terkait hakikat Al-Qur’an, pasti jawaban mereka akan beragam… Jika kita fokuskan lagi pertanyaannya terkait Al-Qur’an seperti, sudahkan anda lancar membaca Al-Qur’an? Berapa banyak anda membaca Al-Qur’an perhari? Sudahkan anda memahami dan mentadabburkan semua isi Al-Qur’an? Berapa banyak anda menghafal Al-Qur’an? Sudah berapa anda mengamalkan perintah Al-Qur’an dan meninggalkan larangannya? Yakinkah anda Al-Qur’an itu sebagai solusi bagi kehidupan di dunia dan di akhirat?……. baca selengkapnya.

 

Al-qur’an Audio

01.Alfatihah, 02.Al-Baqarah, 03.Al-Imran, 04.An-Nisa’, 05.Al-Maidah, 06.Al-An’am. 07.Al-A’raf. 08.Al-Anfal, 09.At-Taubah, 10.Yunus. 11.Hud. 12.Yusuf. 13.Ar-Ra’d. 14.Ibrahim. 15.Al-Hijr. 16.An-Nahl. 17.Al-Isra’. 18.Al-Kahfi. 19.Maryam. 20.Thaha. 21.Al-Anbiya’. 22.Al-Hajj. 23.Al-Mu’min. 24.An-Nur. 25.Al-Furqan. 26.Asy-syu’ara. 27.An-Naml. 28.Al-Qashash. 29.Al-Ankabut. 30.Ar-Rum. 31.Lukman. 32.As-Sajada. 33.Al-Ahzab. 34.Saba’. 35.Fathir. 36.Ya-Siin. 37.Ash-Shaafaat. 38.Shaad. 39.Az-Zumar. 40.Ghafir. 41.Fusshilat. 42.Asyura. 43.Az-Zukhruf. 44.Ad-Dukhan. 45.Al-Jaatsiyah. 46.Al-Ahqaaf. 47.Muhammad. 48.Al-Fath. 49.Al-Hujuraat. 50.Qaaf. 51.Adz-Dzaariyaat. 52.Ath-Thuur. 53.An-Najm. 54.Al-Qamar. 55.Ar-Rahman. 56.Al-Waaqi’ah. 57.Al-Hadid. 58.Al-Mujaadalah. 59.Al-Hasyr. 60.Al-Mumtahana. 61.Ash-Shaf. 62.Al-Jum’ah. 63.Al-Munaafiqun. 64.At-Taghabuun. 65.Ath-Thalaq. 66.At-Tariim. 67.Al-Mulk. 68.Al-Qalam. 69.Al-Haaqqah. 70.Al-Ma’aarij. 71.Nuh. 72.Al-Jin. 73.Al-Muzammil. 74.Al-Mudatstsir. 75.Al-Qiyaamah. 76.Al-Insan. 77.Al-Murasalaat. 78.An-Naba’. 79.An-Nazi’aat. 80.Abasa. 81.At-Takwiir. 82.Al-Infithar. 83.Al-Muthafifiin. 84.Al-Insyiqaq. 85.Al-Buruj. 86.Ath-Thaariq. 87.Al-A’la. 88.Al-Ghasyiyah. 89.Al-Fajr. 90.Al-Balad. 91.Asy-Syams. 92.Al-Lail. 93.Adh-Dhuha. 84.Asy-Syarh. 95.Ath-Thiin. 96.Al-Alaq. 97.Al-Qadr. 98.Al-Bayyinah. 99.Al-Zalzalah. 100.Al-Adiyaat. 101.Al-Qaari’ah. 102.At-Takaatsur. 103.Al-Ashr. 104.Al-Humazah. 105.Al-Fil. 106.Al-Quraisy. 107.Al-Maa’uun. 108.Al-Kautsar. 109.Al-Kaafirun. 110.An-Nashr. 111.Al-Masad. 112.Al-Ikhlash. 113.Al-Falaq. 114.An-Nas

Iklan
By arifuddinali Posted in Artikel

Umat Islam Ditakut-takuti dengan HTI, Wahabi, dan Radikalisme

Umat Islam saat ini sedang ditakut-takuti dengan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) dan Wahabi. Di samping itu sedang dipasung dengan istilah radikalisme. Pada sisi lain, umat Islam hendak dibutakan dari ancaman yang sesungguhnya yaitu komunisme.

Demikian benang merah pemikiran akal sehat yang bisa dipintal dari paparan Prof Dr Achmad Zahro, Guru Besar Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya (UINSA), Prof Dr Aminuddin Kasdi, Guru Besar Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Drs Choirul Anam, mantan Ketua GP Ansor Jatim.

Mereka berbicara pada acara bedah buku “NU Jadi Tumbal Politik Kekuasaan Siapa Bertanggung Jawab?” di Gedung Astranawa, Selasa (26/2/19). Buku ini ditulis Choirul Anam yang juga dikenal sebagai tokoh NU kultural.

Menurut Achmad Zahro, umat Islam digiring untuk membenci faham Wahabi. Sampai ada yang mengatakan bahwa Wahabi itu iblis. “Kalau Wahabi itu iblis, berarti orang-orang yang shalat jamaah di Masjid Haram Mekah itu makmum kepada iblis,” katanya.

Karena, Imam di Masjid Haram itu mengikuti Wahabi yang bermazhab Hambali. Sedang Hambali itu sendiri termasuk Sunni (ahlus sunnah wal jamaah). Hambali termasuk mazhab yang juga diakui oleh Nahdlatul Ulama (NU) di samping Syafi’i, Maliki, dan Hanafi.

Umat Islam sengaja dikaburkan antara Wahabi yang didirikan Muhammad bin Abdul Wahab dengan aliran yang didirikan Abdul Wahab bin Abdurrahman Al Khoriji, pendiri mazhab Khawarij. “Yang sesat itu Khawaraij karena suka mengkafirkan Muslim yang lain,” tegas Zahro yang juga dikenal dengan Ketua Ikatan Imam Masjid Indonesia.

Lebih lanjur Zahro mengatakan, HTI digambarkan sebagai kekuatan dahsyat yang hendak mengganti Pancasila dengan sistem khilafah. Padahal khilafah versi HTI itu hanya gagasan. HTI itu sangat kecil dan tidak memiliki negara induk. Beda misalnya dengan Syiah yang memiliki negara induk yaitu Iran.

Penyebaran isu HTI dan Wahabi secara massif ini, kata Choirul Anam, untuk membutakan umat Islam dari ancaman yang sesungguhnya yaitu neo komunisme. Padahal sudah terang benderang neo komunisme sudah di depan mata.

Sejarah mencatat kumunisme selalu mencoba bangkit dari kekalahan dan membalas dendam. Kekalahan di pemberontakan Madiun 1948, lantas bangkit melakukan perlawanan tahun 1965. Apalagi komunisme memiliki negara induk yaitu Tiongkok atau Republik Rakyat China (RRC).

Aminuddin Kasdi melihat, sejak reformasi terlihat tanda-tanda PKI mau bangkit. Dimulai dengan usaha mengubah sejarah bahwa dalam peristiwa G30S PKI tahun 1965, PKI adalah korban pelanggaran hak asasi manusia (HAM). Mereka dikorbankan dalam pertikaian internal TNI AD. Mereka korban kekejaman umat Islam. Lantas upaya mereka dilakukan dengan mengubah buku pelajaran sejarah di sekolah.

Penerus PKI mulai berani unjuk diri dengan menyatakan bangga sebagai anak PKI. Mereka melakukan pertemuan-pertemuan konsolidasi. Lantas mereka berjuang agar agar ada rekonsiliasi umat Islam dengan PKI. Berarti umat Islam harus mengakui kesalahannya dan meminta maaf kepada PKI. Gilirannya PKI harus boleh hidup kembali.

Mereka terus bergerak sampai sekarang. Panglima TNI waktu itu Gatot Nurmantyo mengetahui tentang ancaman neo PKI maka dia perintahkan menonton film Pengkhinatan G30S PKI agar generasi muda tetap waspada tetap bahaya PKI.

Zahro dan Anam juga mengedepankan, saat ini umat Islam dipenjara dan ditakuti dengan istilah radikalisme. Jika ada umat Islam yang bersikap asyyida’u alal kuffar (bersikap keras terhadap orang kafir) dianggap radikal dan tidak toleran. Mereka seolah satu aliran dengan ISIS, Al Qaeda. Padahal ISIS, Al Qaeda, HTI itu semuanya proyek untuk memecah belah umat Islam.

https://pwmu.co/90003/02/27/umat-islam-ditakut-takuti-dengan-hti-wahabi-dan-radikalisme/

Soal Larangan Nonmuslim Disebut Kafir, Simak Penjelasan Buya Yahya

Hasil Musyawarah Nasional Alim dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 memutuskan beberapa persoalan bangsa. Salah satu yang memantik kontroversi adalah larangan penggunaan istilah kafir pada orang di luar Islam.

Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama KH Said Aqil Siroj menegaskan, istilah kafir dan nonmuslim sebagai konteks yang berbeda merujuk pada zaman Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Lalu, bagaimana penjelasan tentang istilah kafir?

Pengasuh LPD Al-Bahjah, Yahya Zainul Ma’arif, atau biasa disapa Buya Yahya, menjelaskan kafir adalah penyebutan bagi orang yang tidak mengakui Allah subhanahu wa ta’ala, Islam dan Nabi Muhammad. Kata Buya, soal ini sudah tegas dijelaskan dalam Alquran dan hadis.

“Pertama, bahwa orang Yahudi dan Nasrani, nonmuslim itu dari segi bahasa. Bahasa Arabnya, orang Yahudi dan Nasrani itu disebut dalam Alquran, kafir. Mereka tidak boleh disebut kafir, karena Yahudi, Nasrani. Ini kalimat salah. Justru karena mereka Yahudi dan Nasrani, mereka itu kafir,” ujar Buya Yahya, dalam penjelasannya di channel Youtube.

“Saudaraku yang Nasrani, Yahudi, Hindu, Buddha, tolong dengar, ini ada kalimat istimewa buat anda. Kalau anda dengar sampai tuntas, jangan anda putus. Jadi sangat salah kalau mereka tidak bisa kita sebut kafir karena mereka ahli kitab, sangat salah. Karena apa? Alquran sendiri yang menjelaskan. Ayat yang anak kecil sudah hafal, lamyakunil lazina kafaru, tidak mereka orang-orang kafir. Min ahlil kitab. Ahli kitab dimasukkan. Wal musyrikin, jadi orang kafir ada ahli kitab. Ada orang musyrik, namanya kafaru, orang-orang kafir. Jadi kalau mereka tidak boleh disebut kafir, sangat salah. Karena dalam Alquran, istilah kafir sudah ada,” kata Buya.

Video penjelasan Buya Yahya yang diunggah Al-Bahjah TV dipublikasikan pada 2 Maret 2019. Saat berita ini ditayangkan, video sudah ditonton 125.232 kali dan di-like 4,7 ribu orang.

Menurut Buya, kafir dalam istilah bahasa artinya menutup. Dan dalam Islam, kafir adalah orang yang menutup diri, tidak menerima Islam dan tidak menerima Nabi Muhammad. Sehingga, menurut Buya, tidak ada masalah menggunakan kata kafir pada orang di luar Islam. Sebab, tidak ada unsur cacian dan makian pada istilah yang secara tegas disebutkan di dalam Alquran dan hadis itu.

“Kalau seorang Hindu, Nasrani, Yahudi dibilang kafir tidak boleh, berarti kebalikannya dong. Berarti mereka bukan kafir. Kafir itu apa? Tidak mengakui Nabi Muhammad. Kebalikannya apa? Mengakui Nabi Muhammad. Mereka pun tidak mau kalau dikatakan mengakui Nabi Muhammad. Ini coba berpikir sejenak,” kata Buya.

“Sebenarnya permasalahannya kompleks, tidak tahu tujuannya apa, kita tak mengerti. Tapi kami khusnuzon kepada semua tujuannya baik. Yang ingin menggunakan kalimat nonmuslim, insya Allah tujuannya baik. Cuma kami ingin menjelaskan, kenapa? Karena ada sangkut pautnya di dalam Alquran. Jangan sampai orang di luar Islam nanti lalu kembali ke Alquran, loh ini kok Alquran ada kafirnya, ini enggak benar ini. Ini hadisnya enggak benar. Kami tidak ingin orang di luar Islam. Kalau orang Islam mudah memahami. Karena nonmuslim itu bahasa Indonesia. Bahasa Arabnya tetap kafir. Anda yang bertuhan selain Allah itu adalah kafir,” tuturnya.

Buya menegaskan, penggunaan istilah kafir sudah berlaku ketika Nabi Muhammad di Mekah. Kemudian, di Madinah, istilah ini pun tetap berlaku dan disebutkan oleh Rasulullah.

“Kenapa kami jelaskan seperti ini? Karena ada istilah ini di dalam Alquran. Dan Alquran berlaku di negeri apa pun. Di negeri kafir, di negeri Islam, di negeri perang, tetap berlaku agama Nabi Muhammad dan istilah Alquran. Supaya kita ingin jangan bikin keragu-raguan umat. Jadi makna kafir adalah yang tidak menerima Islam dan Nabi Muhammad. Maka siapa pun yang tidak menerima Islam dan Nabi Muhammad, itu kita sebut kafir. Itu sangat sesuai. Bahkan itu mengukuhkan akidahnya dia, bahwasanya kamu tidak menerima Nabi Muhammad. Lalu bagaimana? Ya dengan agamamu, lakum dinukum waliyadin,” tuturnya.

Simak penjelasan Buya Yahya selengkapnya

Senin, 4 Maret 2019 | 03:00 WIB

BID’AH

۞ Bid’ah ۞

Hadits Pertama:

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللََِّّ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللََّّ صَلَّى اللََُّّ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا خَطَبَ احْمَرَّتْ عَيْنَاهُ وَعَلَا صَوْتُهُ وَاشْتَدَّ غَضَبُهُ حَتَّى كَأنََّهُ مُنْذِرُ جَيْشٍ يَقُولُ صَبَّحَكُمْ وَمَسَّاكُمْ وَيَقُولُ بُعِثْتُ أنََا وَالسَّاعَةُ كَهَاتيَْنِ وَيَقْرُنُ بَيْنَ إِصْبَع يْهِ الس بَّابَةِ وَالْوُسْطَى وَيَقُولُ أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللََِّّ وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ وَشَرُّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتهَُا وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَ لَة

Dari Jabir bin Abdillah. Ia berkata, “Ketika Rasulullah Saw menyampaikan khutbah, kedua matanya memerah, suaranya keras, marahnya kuat, seakan-akan ia seorang pemberi peringatan pada pasukan perang, Rasulullah Saw bersabda, “Dia yang telah menjadikan kamu hidup di waktu pagi dan petang”. Kemudian Rasulullah Saw bersabda lagi, “Aku diutus, hari kiamat seperti ini”. Rasulullah Saw mendekatkan dua jarinya; jari telunjuk dan jari tengah. Kemudian Rasulullah Saw berkata lagi, “Amma ba’du (adapun setelah itu), sesungguhnya sebaik-baik cerita adalah kitab Allah (al-Qur’an). Sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad. Seburuk-buruk perkara adalah perkara yang dibuat-buat. Dan tiap-tiap perkara yang dibuat-buat itu dhalalah (sesat)”. (HR. Muslim).

Hadits Kedua:

عَنْ الْعِرْبَاضِ بْنِ سَارِيَةَ قَالَ وَعَظَنَا رَسُولُ اللََِّّ صَلَّى اللََُّّ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمًا بَعْدَ صَلَاةِ الْغَدَاةِ مَوْعِظَةً بَلِيغَةً ذَرَفَتْ مِنْهَا الْعُيُون وَوَجِلَتْ مِنْهَا الْقُلُوبُ فَقَالَ رَجُلٌ إِنَّ هَذِهِ مَوْعِظَةُ مُوَ دعٍ فَمَاذَا تعَْهَدُ إِلَيْنَا يَا رَسُولَ اللََّّ قَالَ أُوصِيكُمْ ب تَقْوَى اللََِّّوَالسَّمْاوَالطَّاعَةِ وَإِنْ عَبْدٌ حَبَشِيٌّ فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ يَرَى اخْتِلَافًا كَثِيرًا وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثاَتِ الْأُمُورِ فَإِن هَا ضَلاَلَةٌ فَمَنْ أَدْرَكَ ذَلِكَ مِنْكُمْ فَعَلَيْهِ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَعَاءِ الرَّاشِدِينَ الْمَهْدِي ينَ عَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ

Dari al-‘Irbadh bin Sariyah, ia berkata, “Rasulullah Saw suatu hari memberikan nasihat kepada kami setelah shalat Shubuh, nasihat yang sangat menyentuh, membuat air mata menetes dan hati bergetar. Seorang laki-laki berkata, “Sesungguhnya ini nasihat orang yang akan pergi jauh, apa yang engkau pesankan kepada kami wahai Rasulullah”. Rasulullah Saw menjawab, “Aku wasiatkan kepada kamu agar bertakwa kepada Allah. Tetap mendengar dan patuh, meskipun kamu dipimpin seorang hamba sahaya berkulit hitam. Sesungguhnya orang yang hidup dari kamu akan melihat banyak pertikaian. Jauhilah perkara yang dibuat-buat, sesungguhnya perkara yang dibuat-buat itu dhalalah (sesat). Siapa yang mendapati itu dari kalian, maka hendaklah ia berpegang pada sunnahku dan sunnah Khulafa’ Rasyidin yang mendapat hidayah. Gigitlah dengan gigi geraham”. (HR. Abu Daud, at-Tirmidzi dan Ibnu Majah).

Makna Bid’ah

Pendapat Imam asy-Syathibi:

طريقة في الدين مخترعة تضاهي الشرعية يقصد بالسلوك عليها المبالغة في التعبد لله سبحانه

Suatu cara/kebiasaan dalam agama Islam, cara yang dibuat-buat, menandingi syariat Islam, tujuan melakukannya adalah sikap berlebihan dalam beribadah kepada Allah Swt.

Definisi lain,

البدعة طريقة في الدين مخترعة تضاهي الشرعية يقصد بالسلوك عليها ما يقصد بالطريقة الشرعية

Bid’ah adalah suatu cara/kebiasaan dalam agama Islam, cara yang dibuat-buat, menandingi syariat Islam, tujuan melakukannya seperti tujuan melakukan cara dalam syariat Islam.

Pendapat Imam al-‘Izz bin Abdissalam:

البدعة فعل ما لم يعهد في عصر رسول الله صلى الله عليه وسلم.

Bid’ah adalah perkara yang tidak pernah dilakukan pada masa Rasulullah Saw.

Pendapat Imam an-Nawawi:

قال أهل اللغة هي كل شيء عمل على غير مثال سابق

Para ahli bahasa berkata, bid’ah adalah semua perbuatan yang dilakukan, tidak pernah ada contoh sebelumnya.

Pendapat al-Hafizh Ibnu Hajar al-‘Asqalani:

كل شيء أحدث على غير مثال يسمى بدعة سواء كان محمودا أو مذموما

Segala sesuatu yang dibuat-buat tanpa ada contoh sebelumnya disebut bid’ah, apakah itu terpuji ataupun tercela.

Seperti yang disebutkan para ulama di atas, semua sepakat bahwa Bid’ah adalah apa saja yang tidak ada pada zaman Rasulullah Saw. Jika demikian maka mobil adalah bid’ah, maka kita mesti naik onta. Tentu orang yang tidak setuju akan mengatakan, “Mobil itu bukan ibadah, yang dimaksud Bid’ah itu adalah masalah ibadah”. Dengan memberikan jawaban itu, sebenarnya ia sedang membagi bid’ah kepada dua: bid’ah urusan dunia dan bid’ah urusan ibadah. Bid’ah urusan dunia, boleh. Bid’ah dalam ibadah, tidak boleh.

Kalau bid’ah bisa dibagi menjadi dua; bid’ah urusan dunia dan bid’ah urusan ibadah, mengapa bid’ah tidak bisa dibagi kepada bid’ah terpuji dan bid’ah tercela?!

Oleh sebab itu para ulama membagi bid’ah kepada dua, bahkan ada yang membaginya menjadi lima. Berikut pendapat para ulama, sebagiannya berasal dari kalangan Salaf (tiga abad pertama Hijrah):

Pembagian Bid’ah Menurut Imam Syafi’i (150 – 204H):

قال الشافعي البدعة بدعتان محمودة ومذمومة فما وافق السنة فهو محمود وما خالعها فهو مذموم

Imam Syafi’i berkata,

“Bid’ah itu terbagi dua: Bid’ah Mahmudah (terpuji) dan Bid’ah Madzmumah (tercela).

Jika sesuai dengan Sunnah, maka itu Bid’ah Mahmudah. Jika bertentangan dengan Sunnah, maka itu Bid’ah Madzmumah

Disebutkan oleh Abu Nu’aim dengan maknanya dari jalur riwayat Ibrahim bin al-Junaid dari Imam Syafi’i.

Kretria Pembagian Bid’ah Mahmudah (terpuji) dan Bid’ah Madzmumah (tercela).

Menurut Imam Syafi’i:

وجاء عن الشافعي أيضا ما أخرجه البيهقي في مناقبه قال المحدثات ضربان ما أحدث يخالف كتابا أو سنة أو أثرا أو إجماعا فهذه بدعة الضلال وما أحدث من الخير لا يخالف شيئا من ذلك فهذه محدثة غير مذمومة

Juga dari Imam Syafi’i, diriwayatkan oleh Imam al-Baihaqi dalam Manaqib Imam Syafi’i, “Bid’ah itu terbagi dua:

Perkara yang dibuat-buat, bertentangan dengan al-Qur’an, atau Sunnah, atau Atsar, atau Ijma’, maka itu Bid’ah Dhalal (bid’ah sesat)

Perkara yang dibuat-buat, dari kebaikan, tidak bertentangan dengan al-Qur’an, Sunnah, Atsar dan Ijma’, maka itu Bid’ah Ghair Madzmumah (bid’ah tidak tercela).

Kretria Pembagian Bid’ah Menurut al-Hafizh Ibnu Hajar al-‘Asqalani:

Al-Hafizh Ibnu Hajar al-‘Asqalani menyebut dua kali dengan dua istilah berbeda:

Pertama: Bid’ah Hasanah – Bid’ah Mustaqbahah – Bid’ah Mubah.

والتحقيق أنها أن كانت مما تندر تحت مستحسن في الشرع فهي حسنة وأن كانت مما تندر تحت مستقبح في الشرع فهي مستقبحة وإلا فهي من قسم المباح

Berdasarkan penelitian, jika bid’ah itu tergolong dalam perkara yang dianggap baik menurut syariat Islam, maka itu disebut Bid’ah Hasanah.

Jika tergolong dalam sesuatu yang dianggap buruk menurut syariat Islam, maka itu disebut Bid’ah Mustaqbahah (bid’ah buruk).

Jika tidak termasuk dalam kedua kelompok ini, maka termasuk Mubah.

Kedua, Bid’ah Hasanah – Bid’ah Dhalalah – Bid’ah Mubah.

فما وافق السنة فحسن

وما خالف فضلالة

وهو المراد حيث وقا ذم البدعة

وما لم يوافق ولم يخالف فعلى أصل الإباحة

Jika perbuata itu sesuai dengan Sunnah, maka itu adalah Bid’ah Hasanah.

Jika bertentangan dengan Sunnah, maka itu adalah Bid’ah Dhalalah.

Itulah yang dimaksudkan.

Oleh sebab itu bid’ah dikecam.

Jika tidak sesuai dengan Sunnah dan tidak pula bertentangan dengan Sunnah,

maka hukum asalnya adalah Mubah.

Dasar Pembagian Bid’ah Menurut Imam an-Nawawi:

Hadits yang berbunyi,

كل محدثة بدعة وكل بدعة ضلالة

“Semua perkara yang dibuat-buat itu adalah bid’ah dan setiap yang bid’ah itu sesat”.

Hadits ini bersifat umum. Dikhususkan oleh hadits lain yang berbunyi:

من سن في الاسلام سنة حسنة فله أجرها

“Siapa yang membuat tradisi yang baik dalam Islam, maka ia mendapatkan balasan pahalanya”.

Yang dimaksud dengan bid’ah dhalalah dalam hadit pertama adalah:

المحدثات الباطلة والبدع المذمومة

Perkara diada-adakan yang batil dan perkara dibuat-buat yang tercela.

Sedangkan bid’ah itu sendiri dibagi lima: bid’ah wajib, bid’ah mandub, bid’ah haram, bid’ah makruh dan bid’ah mubah.

Teks lengkapnya:

) من سن في الاسلام سنة حسنة فله أجرها ( إلى آخرهوفي هذا الحديث تخصيص قوله صلى الله عليه و سلم كل محدثة بدعة وكل بدعة ضلالة وأن المراد به المحدثات الباطلةوالبدع المذمومة وقد سبق بي ان هذا في كتاب صلاة الجمعة وذكرنا هناك أن البدعخمسة أقسام واجبة ومندوبة ومحرمة ومكروهة ومباحة .

Tapi ada hadits menyebut, “Semua bid’ah itu sesat”, apa maksudnya?

Imam an-Nawawi menjawab,

قوله صلى الله عليه و سلم وكل بدعة ضلالة هذا عام مخصوص والمراد غالب البدع

Sabda Rasulullah Saw, “Semua bid’ah itu sesat”, ini kalimat yang bersifat umum, tapi dikhususkan. Maka maknanya, “Pada umumnya bid’ah itu sesat”.

Bid’ah Dibagi Lima:

Pendapat Imam al-‘Izz bin Abdissalam:

البدعة فعل ما لم يعهد في عصر رسول الله صلى الله عليه وسلم. وهي منقسمة إلى: بدعة واجبة، وبدعة محرمة، وبدعة مندوبة، وبدعة مكروهة، وبدعة مباحة، والطريق في معرفة ذلك أن تعرض البدعة على قواعد الشريعة: فإن دخلت في قواعد الإيجاب فهي واجبة، وإن دخلت في قواعد التحريم فهي محرمة، وإن دخلت في قواعد المندوب فهي مندوبة، وإن دخلت في قواعد المكروه فهي مكروهة، وإن دخلت في قواعد المباح فهي مباحة، وللبدع الواجبة أمثلة. أحدها: الاشتغال بعلم النحو الذي يعهم به كلام الله وكلام سوله صلى الله عليه وسلم، وذلك واجب لأن حعظ الشريعة واجب ولا يتأتى حعظها إلا بمعرفة ذلك، وما لا يتم الواجب إلا به فهو واجب. المثال الثاني: حعظ غريب الكتاب والسنة من اللغة. المثال الثالث: تدوين أصول العقه. المثال الرابا: الكلام في الجرح والتعديل لتمييز الصحيح من السقيم، وقد دلت قواعد الشريعة على أن حعظ الشريعة فرض كعاية فيما زاد على القدر المتعين، ولا يتأتى حعظ الشريعة إلا بما ذكرناه. وللبدع المحرمة أمثلة. منها: مذهب القدرية، ومنها مذهب الجبرية، ومنها مذهب المرجئة، ومنها مذهب المجسمة، والرد على هيلاء من البدع الواجبة. وللبدع المندوبة أمثلة. منها: إحداث الربط والمدارس وبناء القناطر، ومنها كل إحسان لم يعهد في العصر الأول، ومنها: صلاة التراويح، ومنها الكلام في دقائق التصوف، ومنها الكلام في الجدل في جما المحافل للاستدلال على المسائل إذا قصد بذلك وجه الله سبحانه. وللبدع المكروهة أمثلة. منها: زخرفة المساجد، ومنها تزويق المصاحف، وأما تلحين القرآن بحيث تتغير ألعاظه عن الوضا العربي، فالأصح أنه من البدع المحرمة. والبدع المباحة أمثلة. منها: المصافحة عقيب الصبح والعصر، ومنها التوسا في اللذيذ من المآكل والمشارب والملابس والمساكن، ولبس الطيالسة، وتوسيا الأكمام. وقد يختلف في بعض ذلك، فيجعله بعض العلماء من البدع المكروهة، ويجعل آخرون من السنن المععولة على عهد رسول الله صلى الله عليه وسلم فما بعده، وذلك كالاستعاذة في الصلاة والبسملة.

Bid’ah adalah perbuatan yang tidak pernah dilakukan pada masa Rasulullah Saw.

Bid’ah terbagi kepada: wajib, haram, mandub (anjuran), makruh dan mubah.

Cara untuk mengetahuinya, bid’ah tersebut ditimbang dengan kaedah-kaedah syariat Islam. Jika bid’ah tersebut masuk dalam kaedah wajib, maka itu adalah bid’ah wajib.

Jika masuk dalam kaedah haram, maka itu bid’ah haram.

Jika masuk dalam kaedah mandub, maka itu bid’ah mandub.

Jika masuk dalam kedah makruh, maka itu bid’ah makruh.

Jika masuk dalam kaedah mubah, maka itu bid’ah mubah.

Contoh bid’ah wajib: pertama, sibuk mempelajari ilmu Nahwu (gramatikal bahasa Arab) untuk memahami al-Qur’an dan sabda Rasulullah Saw. Itu wajib karena untuk menjaga syariat itu wajib. Syariat tidak mungkin dapat dijaga kecuali dengan mengetahui bahasa Arab. Jika sesuatu tidak sempurna karena ia, maka ia pun ikut menjadi wajib.

Contoh kedua, menghafal gharib (kata-kata asing) dalam al-Qur’an dan Sunnah. Contoh ketiga, menyusun ilmu Ushul Fiqh. Contoh keempat, pembahasan al-Jarh wa at-Ta’dil untuk membedakan shahih dan saqim. (mengandung penyakit).

Kaedah-kaedah syariat Islam menunjukkan bahwa menjaga syariat Islam itu fardhu kifayah pada sesuatu yang lebih dari kadar yang tertentu. Penjagaan syariat Islam tidak akan terwujud kecuali dengan menjaga perkara-perkara di atas.

Contoh bid’ah haram: mazhab Qadariyyah (tidak percaya kepada takdir), mazhab Jabariyyah (berserah kepada takdir), mazhab Mujassimah (menyamakan Allah dengan makhluk). Menolak mereka termasuk perkara wajib.

Contoh bid’ah mandub (anjuran): membangun prasarana jihad, membangun sekolah dan jembatan. Semua perbuatan baik yang belum pernah ada pada masa generasi awal Islam. Diantaranya: shalat Tarawih, pembahasan mendetail tentang Tashawuf. Pembahasan ilmu debat dalam semua aspek untuk mencari dalil dalam masalah-masalah yang tujuannya untuk mencari ridha Allah Swt.

Contoh bid’ah makruh: hiasan pada masjid-masjid. Hiasan pada mush-haf al-Qur’an. Adapun melantunkan al-Qur’an sehingga lafaznya berubah dari kaedah bahasa Arab, maka itu tergolong bid’ah haram.

Contoh bid’ah mubah: bersalaman setelah selesai shalat Shubuh dan ‘Ashar. Menikmati yang nikmat-nikmat; makanan, minuman, pakaian, tempat tinggal, memakai jubah pakaian kebesaran dan melebarkan lengan baju. Ulama berbeda pendapat dalam masalah ini, sebagian ulama menjadikan ini tergolong bid’ah makruh, sebagian lain menjadikannya tergolong ke dalam perbuatan yang telah dilakukan sejak zaman Rasulullah Saw dan masa setelahnya, sama seperti isti’adzah (mengucapkan a’udzubillah) dan basmalah (mengucapkan bismillah) dalam shalat.

Imam an-Nawawi Menyetujui Pembagian Bid’ah Menjadi Lima:

قال العلماء البدعة خمسة أقسام واجبة ومندوبة ومحرمة ومكروهة ومباحة فمن الواجبة نظم أدلة المتكلمين للرد على الملاحدة والمبتدعين وشبه ذلك ومن المندوبة تصنيف كتب العلم وبناء المدارس والربط وغير ذلك ومن المباح التبسط في ألوان الأطعمة وغير ذلك والحرام والمكروه ظاهران

Para ulama berpendapat bahwa bid’ah itu terbagi lima: wajib, mandub, haram, makruh dan mubah.

Contoh bid’ah wajib: menyusun dalil-dalil ulama ahli Kalam untuk menolak orang-orang atheis, pelaku bid’ah dan sejenisnya.

Contoh bid’ah mandub: menyusun kitab-kitab ilmu, membangun sekolah-sekolah, prasarana jihad dan sebagainya.

Contoh bid’ah mubah: menikmati berbagai jenis makanan dan lainnya. Sedangkan contoh bid’ah haram dan makruh sudah jelas.

Al-Hafizh Ibnu Hajar al-‘Asqalani Menyetujui Pembagian Bid’ah Menjadi Lima:

وقد تنقسم إلى الأحكام الخمسة

Bid’ah terkadang terbagi ke dalam hukum yang lima (wajib, mandub, haram, makruh dan mubah).

Jika Tidak Dilakukan Nabi, Maka Haram. Benarkah?

Yang selalu dijadikan dalil mendukung argumen ini adalah kaedah:

الترك يقتضي التحريم

“Perkara yang ditinggalkan/tidak dilakukan Rasulullah Saw, berarti mengandung makna haram”.

Tidak ada satu pun kitab Ushul Fiqh maupun kitab Fiqh memuat kaedah seperti ini. Kaedah ini hanya buatan sebagian orang saja.

Untuk menguji kekuatan kaedah ini, mari kita lihat beberapa contoh dari hadits-hadits yang menyebutkan bahwa Rasulullah Saw tidak melakukan suatu perbuatan, namun tidak selamanya karena perbuatan itu haram, tapi karena beberapa sebab:

Pertama, karena kebiasaan. Contoh:

عَنْ خَالِدِ بْنِ ا لوَلِيدِ قَالَ أُتِيَ النَّبِيُّ صَلَّى اللََُّّ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِضَ بٍ مَشْوِ ي فَأهَْوَى إِلَيْهِ لِيَأْكُلَ فَقِيلَ لَهُ إِنَّهُ ضَبٌّ فَأمَْسَكَ يَدَهُ فَقَالَ خَال أَحَرَامٌ هُوَ قَالَ لَا وَلَكِنَّهُ لَا يَكُونُ بِأرَْضِ قَوْمِي فَأجَِدُنِي أَعَافُهُ فَأكََلَ خَالِدٌ وَرَسُولُ اللََِّّ صَلَّى اللََُّّ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَنْظُرُ

Dari Khalid bin al-Walid, ia berkata, “Rasulullah Saw diberi Dhab (biawak Arab) yang dipanggang untuk dimakan. Lalu dikatakan kepada Rasulullah Saw, “Ini adalah Dhab”. Rasulullah Saw menahan tangannya.

Khalid bertanya, “Apakah Dhab haram?”.

Rasulullah Saw menjawab, “Tidak, tapi karena Dhab tidak ada di negeri kaumku. Maka aku merasa tidak suka”. Khalid memakan Dhab itu, sedangkan Rasulullah Saw melihatnya”. (HR. al-Bukhari dan Muslim).

Apakah karena Rasulullah Saw tidak memakannya maka Dhab menjadi haram!? Dhab tidak haram. Rasulullah Saw tidak memakannya karena makan Dhab bukan kebiasaan di negeri tempat tinggal Rasulullah Saw.

Kedua, khawatir akan memberatkan ummatnya. Contoh:

عَنْ عَائِشَة أَنَّ رَسُولَ اللََِّّ صَلَّى اللََُّّ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَّى فِي الْمَسْجِدِ ذَاتَ لَيْلَةٍ فَصَلَّى بِصَلَاتِهِ نَاسٌ ثمَُّ صَلَّى مِنْ الْقَابِلَةِ فَكَثرَُ النَّاس ثُمَّ اجْتَمَعُوا مِنْ اللَّيْلَةِ الثاَّلِثَةِ أَوْ الرَّابِع ةِ فَلَمْ يَخْرُ إِلَيْهِمْ رَسُولُ اللََِّّ صَلَّى اللََُّّ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمَّا أصَْبَحَ قَالَ قَدْ رَأَيْتُ الَّذِ ي صَنَعْتمُْ فَلَمْ يَمْنَعْنِي مِنْ الْخُرُو إِلَيْكُمْ إِلَّا أنَ ي خَشِيتُ أَنْ تُعْرَضَ عَلَيْكُمْ قَالَ وَذَلِكَ فِي رَمَضَانَ

Dari Aisyah, sesungguhnya Rasulullah Saw shalat di Masjid pada suatu malam, lalu orang banyak ikut shalat bersama beliau. Pada malam berikutnya orang banyak mengikuti beliau. Kemudian mereka berkumpul pada malam ketiga atau malam keempat, Rasulullah Saw tidak keluar rumah. Pada waktu paginya, Rasulullah Saw berkata, “Aku telah melihat apa yang kalian lakukan. Tidak ada yang mencegahku untuk keluar rumah menemui kalian, hanya saja aku khawatir ia diwajibkan bagi kalian”. Itu terjadi di bulan Ramadhan. (HR. al-Bukhari dan Muslim).

Rasulullah Swt tidak ke masjid setiap malam, apakah perbuatan ke masjid setiap malam itu haram?! Tentu saja tidak haram.

Mengapa Rasulullah Saw tidak melakukannya?!

Bukan karena perbuatan itu haram, tapi karena khawatir memberatkan ummat Islam.

Contoh lain:

لَوْلَا أَنْ أَشُقَّ عَلَى أُمَّتِي أَوْ عَلَى النَّاسِ لَأَمَرْتُهُمْ بِال سوَاكِ مَاَ كُ ل صَلَاةٍ

“Kalaulah tidak memberatkan bagi ummatku, atau bagi manusia, pastilah aku perintahkan mereka untuk bersiwak setiap kali shalat”. (HR. al-Bukhari).

Ketiga, tidak terlintas di fikiran Rasulullah Saw. Contoh:

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللََّّ أَنَّ امْرَأَةً قَالَتْ يَا رَسُولَ اللََِّّ أَلَا أَجْعَلُ لَكَ شَيْئًا تَقْعُدُ عَلَيْهِ فَإِنَّ لِي غُلَامًا نَجَّارًا قَالَ إِنْ شِئ تِ فَعَمِلَتْ الْمِنْبَرَ

Dari Jabir bin Abdillah, ada seorang perempuan berkata, “Wahai Rasulullah, sudikah aku buatkan untuk engkau sesuatu? engkau duduk di atasnya. Sesungguhnya aku mempunyai seorang hamba sahaya tukang kayu”.

Rasulullah Saw menjawab, “Jika engkau mau”.

Perempuan itu membuatkan mimbar. (HR. al-Bukhari dan Muslim).

Rasulullah Saw tidak membuat mimbar, bukan berarti mimbar itu haram. Tapi karena tidak terlintas untuk membuat mimbar, sampai perempuan itu menawarkan mimbar. Lalu apakah karena Rasulullah Saw tidak membuatnya, maka mimbar menjadi haram?! Tentu saja tidak.

قَالَ عَبْدُ اللََّّ صَلَّى النَّبِيُّ صَلَّى اللََُّّ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِبْرَاهِيمُ لَا أَدْرِي زَادَ أَوْ نَقَصَ فَلَمَّا سَلَّمَ قِيلَ لَهُ يَا رَسُولَ اللََِّّ أَحَدَثَ فِي الصَّلَاةِ شَيْءٌ قَالَ وَمَا ذَاكَ قَالُوا صَلَّيْتَ كَذَا وَكَذَا فَثَن ى رِجْلَيْهِ وَاسْتَقْبَلَ الْقِبْلَةَ وَسَجَدَ سَجْدَتَيْنِ ثُمَّ سَلَّمَ فَلَمَّا أَقْبَلَ عَلَيْنَا بِوَجْهِهِ قَالَ إِن هُ لَوْ حَدَثَ فِي الصَّلَاةِ شَيْءٌ لَنَبَّأتْكُُمْ بِهِ وَلَكِنْ إِنَّمَا أنََا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ أنَْسَى كَمَا تنَْسَوْنَ فَإِذ ا نَسِيتُ فَذَ كرُونِي

Abdullah bin Mas’ud berkata, “Rasulullah Saw melaksanakan shalat. Ibrahim berkata, ‘Saya tidak mengetahui apakah rakaat berlebih atau kurang. Ketika shalat telah selesai. Dikatakan kepada Rasulullah, “Apakah telah terjadi sesuatu dalam shalat?”.

Rasulullah Saw kembali bertanya, “Apakah itu?”.

Mereka menjawab, “Engkau telah melakukan anu dan anu”.

Kemudian Rasulullah Saw menekuk kedua kakinya dan kembali menghadap kiblat, beliau sujud dua kali. Kemudian salam. Ketika Rasulullah Saw menghadapkan wajahnya kepada kami, ia berkata, “Jika terjadi sesuatu dalam shalat, pastilah aku beritahukan kepada kamu. Tapi aku hanyalah manusia biasa, sama seperti kamu. Aku juga lupa, sama seperti kamu. Jika aku terlupa, maka ingatkanlah aku”. (HR. al-Bukhari dan Muslim).

Rasulullah Saw tidak melakukan, bukan karena haram. Tapi karena beliau lupa.

Kelima, karena khawatir orang Arab tidak dapat menerima perbuatan Rasulullah Saw. Contoh:

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللََُّّ عَنْهَا أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللََّّ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَهَا يَا عَائِشَةُ لَوْلَا أَنَّ قَوْمَكِ حَدِيثُ عَهْدٍ بِجَاهِلِيَّةٍ لَأَمَرْتُ بِالْبَيْت فَهُدِمَ فَأدَْخَلْتُ فِيهِ مَا أُخْرِ مِنْهُ وَألَْزَقْتُهُ بِالْأرَْضِ وَجَعَلْتُ لَهُ بَابَيْنِ بَابًا شَرْقِيًّا وَبَاب ا غَرْب يًّا فَبَلَغْتُ بِهِ أَسَاسَ إِبْرَاهِيم

Dari Aisyah, sesungguhnya Rasulullah Saw berkata kepada Aisyah, “Wahai Aisyah, kalaulah bukan karena kaummu baru saja meninggalkan masa jahiliyah, pastilah aku perintahkan merenofasi Ka’bah. Aku akan masukkan ke dalamnya apa yang telah dikeluarkan darinya. Aku akan menempelkannya ke tanah. Aku buat dua pintu, satu di timur dan satu di barat, dengan itu aku sampaikan dasar Ibrahim”. (HR. al-Bukhari).

Rasululllah Saw tidak melakukan renofasi itu, bukan berarti haram. Tapi karena tidak ingin orang-orang Arab berbalik arah, tidak dapat menerima perbuatan Rasulullah Saw, karena mereka baru saja masuk Islam, hati mereka masih terikat dengan masa jahiliyah.

Keenam, karena termasuk dalam makna ayat yang bersifat umum,

وَافْعَلُوا الْخَيْرَ لَعَلَّكُمْ تعُْلِحُونَ

“Dan perbuatlah kebajikan, supaya kamu mendapat kemenangan”. (Qs. al-Hajj [22]: 77).

Rasulullah Saw tidak melakukannya, bukan berarti haram. Tapi masuk dalam kategori kebaikan yang bersifat umum. Jika perbuatan itu sesuai Sunnah, maka bid’ah hasanah. Jika bertentangan dengan Sunnah, maka bid’ah dhalalah.

“Jika Tidak Dilakukan Rasulullah Saw, Maka Haram”. Adakah Kaedah Ini?

Inilah yang dijadikan kaedah membuat orang mengharamkan yang tidak haram. Membid’ahkan yang tidak bid’ah.

Adakah kaedah seperti ini dalam Ilmu Ushul Fiqh?

Pertama, kaedah haram ada tiga:

a. Nahy (larangan/kalimat langsung), contoh: [وَلَا تَقْرَبُوا ال زنَا ] “Dan janganlah kamu mendekati zina”. (Qs. al-Isra’ [17]: 32).

b. Nafy (larangan/kalimat tidak langsung), contoh: [وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا ] “dan janganlah menggunjingkan satu sama lain”. (Qs. al-Hujurat [49]: 12).

c. Wa’id (ancaman keras), contoh: [وَمَنْ غَشَّنَا فَلَيْسَ مِنَّا ] “Siapa yang menipu kami, maka bukanlah bagian dari golongan kami”. (HR. Muslim).

Sedangkan at-Tark (perbuatan yang ditinggalkan/tidak dilakukan Rasulullah Saw), tidak satu pun ahli Ushul Fiqh menggolongkannya ke dalam kaedah haram.

Kedua, yang diperintahkan Rasulullah Saw, lakukanlah. Yang dilarang Rasulullah Saw, tinggalkanlah. Ini berdasarkan ayat, [ وَمَا آتَاَكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْه فَانْتَهُوا ]

“Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah”. (Qs. al-Hasyr [59]: 7).

Tidak ada kaedah tambahan, “Yang ditinggalkan Rasulullah Saw, maka haram”.

Ketiga, “Yang aku perintahkan, laksanakanlah. Yang aku larang, tinggalkanlah”.

Ini berdasarkan hadits riwayat Ibnu Majah, [ مَا أَمَرْتُكُمْ بِهِ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَيْتكُُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا ].

Tidak ada kalimat tambahan, “Yang tidak aku lakukan, haramkanlah!”.

Keempat, ulama Ushul Fiqh mendefinisikan Sunnah adalah:

السنة عند الأصوليين ما صدر عن النبي صلى الله عليه وسلم غير القرآن من قول أو فعل أو تقرير ، مما يصلح أن يكون دليلاً على حكم شرعي .

Sunnah menurut para ahli Ushul Fiqh adalah: ucapan, perbuatan dan ketetapan yang berasal dari Rasulullah Saw, layak dijadikan sebagai dalil hukum syar’i.

Hanya ada tiga: Qaul (Ucapan), fi’l (Perbuatan) dan Taqrir (Ketetapan).

Tidak ada disebutkan at-Tark (perkara yang ditinggalkan/tidak dilakukan Rasulullah Saw). Maka at-Tark tidak termasuk dalil penetapan hukum syar’i.

Kelima, at-Tark (perkara yang ditinggalkan/tidak dilakukan Rasulullah Saw) tidak selamanya mengandung makna larangan, tapi mengandung multi makna.

Dalam kaedah Ushul Fiqh dinyatakan: [أن ما دخله الإحتمال سقط به الاستدلال ]

Jika dalil itu mengandung ihtimal (banyak kemungkinan/ketidakpastian), maka tidak layak dijadikan sebagai dalil.

Keenam, at-Tark (perkara yang ditinggalkan/tidak dilakukan Rasulullah Saw), itu adalah asal. Hukum asalnya tidak ada suatu perbuatan pun. Sedangkan perbuatan itu datang belakangan. Maka at-Tark tidak dapat disebut bisa menetapkan hukum haram. Karena banyak sekali perkara mandub (anjuran) dan perkara mubah (boleh) yang tidak pernah dilakukan Rasulullah Saw. Jika dikatakan bahwa semua yang tidak dilakukan Rasulullah Saw itu mengandung hukum haram, maka terhentilah kehidupan kaum muslimin.

Jalan keluarnya, Rasulullah Saw bersabda,

ما أحل الله في كتابه فهو حلال وما حرم فهو حرام وما سكت عنه فهو ععو فاقبلوا من الله عافيته فان الله لم يكن ينسى شيئا ثم تلا هذه الآية وما كان ربك نسيا

“Apa yang dihalalkan Allah dalam kitab-Nya, maka itu halal. Apa yang Ia haramkan, maka itu haram. Apa yang didiamkan (tidak disebutkan), maka itu adalah kebaikan Allah. Maka terimalah kebaikan-Nya. Sesungguhnya Allah tidak pernah lupa terhadap sesuatu”. Kemudian Rasulullah Saw membacakan ayat, “dan tidaklah Tuhanmu lupa.”. (Qs. Maryam [19]: 64).69

Komentar al-Hafizh Ibnu Hajar al-‘Asqalani terhadap hadits ini,

أخرجه البزار وقال سنده صالح وصححه الحاكم

Disebutkan oleh Imam al-Bazzar dalam kitabnya, ia berkata, “Sanadnya shalih”. Dinyatakan shahih oleh Imam al-Hakim

Ini menunjukkan bahwa yang tidak disebutkan Allah Swt dan tidak dilakukan Rasulullah Saw bukan berarti mengandung makna haram, tapi mengandung makna boleh, hingga ada dalil lain yang mengharamkannya. Dengan demikian, maka batallah kaedah:

الترك يقتضي التحريم

“at-Tark: perkara yang ditinggalkan/tidak dilakukan Rasulullah Saw, berarti mengandung makna haram”.

Baca dan fikirkan baik-baik!

Oleh sebab itu banyak sekali perbuatan-perbuatan yang tidak dilakukan Rasulullah Saw, tapi dilakukan shahabat, dan Rasulullah Saw tidak melarangnya, bahkan memujinya.

Berikut contoh-contohnya:

Rasulullah Saw Membenarkan Perbuatan Shahabat,

Padahal Rasulullah Saw Tidak Pernah Melakukannya.

Ada beberapa perbuatan yang tidak pernah dilakukan Rasulullah Saw, tidak pernah beliau ucapkan dan tidak pernah beliau ajarkan. Tapi dilakukan oleh shahabat, Rasulullah Saw membenarkannya. Diantaranya adalah:

Shalat Dua Rakaat Setelah Wudhu’.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللََُّّ عَنْه أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللََُّّ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لِبِلَالٍ عِنْدَ صَلَاةِ الْعَجْرِ يَا بِلَالُ حَدِ ثْنِي بِأرَْجَى عَمَلٍ عَمِلْتَهُ فِيالْإِ سْلَامِ فَإِن ي سَمِعْتُ دَفَّ نَعْلَيْكَ بَيْنَ يَدَيَّ فِي الْجَنَّةِ قَالَ مَا عَمِلْتُ عَمَلًا أرَْجَى عِنْدِي أَن ي لَمْ أَتطََهَّرْ طَهُورًا فِي سَاعَةِ لَيْلٍ أَوْ نَهَارٍإِلَّا صَلَّيْتُ بِذَلِكَ الطُّهُورِ مَا كُتِبَ لِي أَنْ أصَُلِ يَ

Dari Abu Hurairah, sesungguhnya Rasulullah Saw berkata kepada Bilal pada shalat Shubuh, “Wahai Bilal, ceritakanlah kepadaku tentang amal yang paling engkau harapkan yang telah engkau amalkan dalam Islam? Karena aku mendengar suara gesekan sandalmu di depanku di dalam surga”.

Bilal menjawab, “Aku tidak pernah melakukan amal yang paling aku harapkan, hanya saja aku tidak pernah bersuci (wudhu’) dalam satu saat di waktu malam atau siang, melainkan aku shalat dengan itu (shalat sunnat Wudhu’), shalat yang telah ditetapkan bagiku”. (HR. al-Bukhari).

Apakah Rasulullah Saw pernah melaksanakan shalat sunnat setelah wudhu’? tentu tidak pernah, karena tidak ada hadits menyebut Rasulullah Saw pernah melakukan, mengucapkan atau mengajarkan shalat sunnat dua rakaat setelah wudhu’. Jika demikian maka shalat sunnat setelah. wudhu’ itu bid’ah, karena Rasulullah Saw tidak pernah melakukannya. Ini menunjukkan bahwa shalat sunnat dua rakaat setelah wudhu’ itu bid’ah hasanah.

Jika ada yang mengatakan bahwa ini sunnah taqririyyah, memang benar. Tapi ia menjadi sunnah taqririyyah setelah Rasulullah Saw membenarkannya. Sebelum Rasulullah Saw membenarkannya, ia tetaplah bid’ah, amal yang dibuat-buat oleh Bilal. Mengapa Bilal tidak merasa berat melakukannya? Mengapa Bilal tidak mengkonsultasikannya kepada Rasulullah Saw sebelum melakukanya? Andai Rasulullah Saw tidak bertanya kepada Bilal, tentulah Bilal melakukannya seumur hidupnya tanpa mengetahui apa pendapat Rasulullah Saw tentang shalat dua rakaat setelah wudhu’ itu. Maka jelaslah bahwa shalat setelah wudhu’ itu bid’ah hasanah sebelum diakui Rasulullah Saw. Setelah mendapatkan pengakuan Rasulullah Saw, maka ia berubah menjadi sunnah taqririyyah. Fahamilah dengan baik!

Kesimpulan:

Yang menjadi standar bukanlah perbuatan itu pernah dilakukan Rasulullah Saw atau tidak pernah dilakukan Rasulullah Saw. Tapi yang dijadikan sebagai dasar adalah bahwa perbuatan itu tidak bertentangan dengan dasar-dasar syariat Islam. Jika bertentangan, maka bid’ah dhalalah. Jika sesuai dengan Sunnah, maka bid’ah hasanah.

Ijtihad Shahabat Setelah Rasulullah Saw Wafat.

Ijtihad Abu Bakar: Pengumpulan al-Qur’an Dalam Satu Mush-haf.

عَنْ عُبَيْدِ بْنِ السَّبَّاقِ أَنَّ زَيْدَ بْنَ ثاَبِتٍ رَضِيَ اللََُّّ عَنْهُ قَالَ أرَْسَلَ إِلَيَّ أبَُو بَكْرٍ مَقْتَلَ أَهْلِ الْيَمَامَةِ فَإِذَا عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ عِنْدَهُ قَالَ أَبُو بَكْرٍ رَضِيَ اللََُّّ عَنْهُ إِنَّ عُمَرَ أَتاَنِي فَقَالَ إِنَّ الْقَتْلَ قَدْ اسْتحََرَّ يَوْمَ الْيَمَامَةِ بِقُرَّاءِ الْقُرْآنِ وَإِن ي أَخْشَى أَنْ يَسْتَحِرَّ الْقَتْلُ بِالْق رَّاءِ بِالْمَوَاطِنِ فَيَذْهَبَ كَثِيرٌ مِنْ الْقُرْآنِ وَإِن ي أرََى أَنْ تَأْمُرَ بِجَمْاِ الْقُرْآنِ قُلْتُ لِعُمَرَ كَيْفَ ت عْعَلُ شَيْئًا لَمْ يَعْعَلْهُ رَسُولُ اللََِّّ صَلَّى اللََُّّ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ عُمَرُ هَذَا وَاللََِّّ خَيْرٌ فَلَمْ يَزَلْ عُمَرُ يُرَاجِعُنِي حَتَّى شَرَحَ اللََُّّ صَدْرِي لِذَلِكَ وَرَ أَيْتُ فِي ذَلِكَ الَّذِي رَأَى عُمَرُ قَالَ زَيْدٌ قَالَ أَب و بَكْرٍ إِنَّكَ رَجُلٌ شَابٌّ عَاقِلٌ لَا نَتَّهِمُكَ وَقَدْ كُنْتَ تكَْتُبُ الْوَحْيَ لِرَسُولِ اللََِّّ صَلَّى اللََُّّ عَ لَيْهِ وَسَلَّمَ فَتتََبَّاْ الْقُرْآنَ فَاجْمَعْهُ فَوَاللََِّّ لَوْ كَلَّعُونِي نَقْلَ جَبَلٍ مِنْ الْجِبَالِ مَا كَانَ أثَْقَلَ عَ لَيَّ مِمَّا أَمَرَنِي بِهِ مِنْ جَمْاِ الْقُرْآنِ قُلْتُ كَيْفَ تعَْعَلُونَ شَيْئًا لَمْ يَعْعَلْهُ رَسُولُ اللََِّّ صَلَّى اللََُّّ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ هُوَ وَاللََِّّ خَيْرٌ فَلَمْ يَزَلْ أَبُو بَكْرٍ يُرَاجِعُنِي حَتَّى شَرَحَ اللََُّّ صَدْرِي لِلَّذِي شَرَحَ لَهُ صَدْرَ أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ رَضِي اللََُّّ عَنْهُمَا فَتَتبََّعْتُ الْقُرْآنَ أَجْمَعُهُ مِنْ الْعُسُبِ وَاللِ خَافِ وَصُدُورِ ال رجَالِ حَتَّى وَجَدْتُ آخِرَ سُورَةِ التوَّْبَةِ مَاَ أَبِي خُزَيْمَةَ الْأَنْصَارِ ي لَمْ أَجِدْهَا مَاَ أَحَ دٍ غَيْرِه } لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ أَنْعُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتمُّْ { حَتَّى خَاتِمَةِ بَرَاءَةَ فَكَانَتْ الصُّحُفُ عِنْدَ أَبِي بَكْرٍ حَتَّى تَوَفَّاهُ اللََُّّ ثُمَّ عِنْدَ عُمَرَ حَيَاتَهُ ث مَّ عِنْدَ حَعْصَةَ بِنْتِ عُمَرَ رَضِيَ اللََُّّ عَنْه

Dari ‘Ubaid bin as-Sabbaq, sesunggunya Zaid bin Tsabit berkata, “Abu Bakar mengirim korban perang Yamamah (memerangi nabi palsu Musailamah al-Kadzdzab) kepada saya. Umar bin al-Khaththab ada bersamanya.

Abu Bakar berkata, “Sesungguhnya Umar datang kepada saya, ia berkata, ‘Sesungguhnya pembunuhan pada perang Yamamah telah menghabiskan para penghafal al-Qur’an. Aku khwatir pembunuhan juga menghabiskan para penghafal al-Qur’an di negeri-negeri lain sehingga kebanyak al-Qur’an akan hilang. Menurut pendapatku, engkau perintahkan pengumpulan al-Qur’an”.

Saya katakan kepada Umar, “Bagaimana mungkin engkau melakukan sesuatu yang tidak dilakukan Rasulullah Saw?’.

Umar menjawab, “Demi Allah ini perbuatan baik”. Umar terus membahas itu kepada saya hingga Allah melapangkan dada saya untuk melakukan itu, akhirnya saya melihat apa yang dilihat Umar”.

Zaid berkata, “Abu Bakar berkata, ‘Engkau (wahai Zaid) seorang pemuda yang cerdas, kami tidak menuduhmu tidak benar. Engkau pernah menjadi penulis wahyu untuk Rasulullah Saw. Engkau mengikuti al-Qur’an. Maka kumpulkanlah al-Qur’an”.

Zaid berkata, “Demi Allah, andai mereka membebankan kepadaku untuk memindahkan bukit, tidak ada yang lebih berat bagiku daripada apa yang ia perintahkan kepadaku untuk mengumpulkan al-Qur’an (dalam satu mush-haf)”.

Saya (Zaid bin Tsabit) katakan, “Bagaimana mungkin kalian melakukan sesuatu yang tidak dilakukan Rasulullah Saw?”.

Abu Bakar berkata, “Demi Allah ini perbuatan baik”. Abu Bakar terus membicarakan itu kepadaku hingga Allah melapangkan dadaku sebagaimana Allah melapangkan dada Abu Bakar dan Umar. Maka aku pun mengikuti dan mengumpulkan al-Qur’an dari pelepah kurma, batu yang tipis dan dada para penghafal al-Qur’an, hingga aku dapatkan akhir surat at-Taubah bersama Abu Khuzaimah al-Anshari, aku tidak mendapatkannya bersama seorangpun selain dia. Ayat: ( ْ مُّ تِنَع ا َ م ِهْيَلَع ٌ زي ِ زَع ْ مُك ِ سُعْنَأ ْ ن ِ م ٌلوُس َ ر ْ مُكَءا َ ج ْ دَقَل ) hingga akhir surat Bara’ah (at-Taubah). Lembaran-lembaran al-Qur’an bersama Abu Bakar hingga Allah mewafatkannya. Kemudian bersama Umar selama hidupnya. Kemudian bersama Hafshah puteri Umar. (HR. al-Bukhari).

Lihatlah bagaimana kekhawatiran Zaid bin Tsabit melakukan perbuatan yang tidak dilakukan Rasulullah Saw, yaitu membukukan al-Qur’an, karena Rasulullah Saw tidak pernah melakukan dan memerintahkannya. Namun ketika Abu Bakar mampu meyakinkan Zaid bin Tsabit bahwa perbuatan itu baik dengan ucapannya, ( هُوَ وَاللََِّّ خَيْرٌ ) “Demi Allah, perbuatan ini baik”. Zaid bin Tsabit pun dapat menerima.

Bid’ah Hasanah Umar: Shalat Tarawih Berjamaah.

قول عمر رضي الله عنه لما جما الناس في قيام رمضان على إمام واحد في المسجد وخر ورآهم يصلون كذلك فقال نعمت البدعة هذه وروى عنه أنه قال إن كانت هذه بدعة فنعمت البدعة وروى عن أبي بن كعب قال له إن هذا لم يكن فقال عمر قد علمت ولكنه حسن

Ucapan Umar ketika orang banyak berkumpul melaksanakan Qiyam Ramadhan dengan satu imam di masjid. Umar keluar melihat mereka melaksanakan shalat, Umar berkata, “Sebaik-baik bid’ah adalah ini”.

Diriwayatkan dari Umar bahwa ia berkata, “Jika ini adalah bid’ah, maka inilah sebaik-baik bid’ah”.

Diriwayatkan dari Ubai bin Ka’ab bahwa Ubai bin Ka’ab berkata kepada Umar, “Sesungguhnya shalat Qiyam Ramadhan (Tarawih) berjamaah ini tidak pernah dilakukan sebelumnya”.

Umar menjawab, “Saya telah mengetahuinya, tapi ini baik”72.

Ubai bin Ka’ab amat khawatir melakukan perbuatan yang tidak pernah dilakukan dan diajarkan Rasulullah Saw. Namun ketika Umar dapat meyakinkan Ubai dengan ucapannya, ( قد

علمت ولكنه حسن ) “Saya mengetahuinya, tapi perbuatan ini baik”. Akhirnya Ubai dapat menerima dan ia menjadi imam shalat Tarawih berjamaah di Madina. Umar sendiri memuji, ( ةعدب هذه تناك نإ

فنعمت البدعة ) “Jika ini perbuatan bid’ah, maka ini adalah sebaik-baik bid’ah”.

Doa Qunut Shubuh Buatan Umar.

عَنْ سَعِيدِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أبَْزَى عَنْ أَبِيهِ قَالَ : صَلَّيْتُ خَلْفَ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِىَ اللََّّ عَنْهُ صَلاَةَ الصُّبْحِ ، فَسَمِعْتهُُ يَقُولُ بَعْدَ الْقِرَاءَةِ قَبْلَ الرُّكُوعِ :

Dari Sa’id bin Abdirrahman bin Abza, dari Bapaknya, ia berkata, “Saya shalat Shubuh di belakang Umar bin Khatthab, saya mendengar ia berkata setelah membaca ayat sebelum ruku’:

اللَّهُمَّ إِيَّاكَ نَعْبُدُ ، وَلَكَ نُصَلِ ى وَنَسْجُدُ ، وَإِلَيْكَ نَسْعَى وَنَحْعِدُ ، نَرْجُو رَحْمَتَكَ وَنَخْشَ ى عَذَابَكَ ، إِنَّ عَذَابَكَ بِالْكَافِرِينَ مُلْحَقٌ اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْتعَِينُكَ وَنَسْتغَْعِرُكَ ، وَنُثْنِى عَلَيْكَ الْخَيْرَ وَلاَ نَكْعُرُكَ ، وَنُيْمِنُ بِكَ وَنَخْضَاُ لَكَ ، وَنَخْلَاُ مَنْ يَكْعُرُكَ.

“Ya Allah, kepada-Mu kami menyembah. Untuk-Mu kami shalat dan sujud. Kepada-Mu kami berusaha dan beramal. Kami mengharap rahmat-Mu dan takut akan azab-Mu. Sesungguhnya azab-Mu terhadap orang-orang kafir pasti terbukti menyertai mereka.

Ya Allah, sesungguhnya kami memohon pertolongan kepada-Mu dan memohon ampunan-Mu. Kami memuji-Mu atas semua kebaikan dan tidak kufur kepada-Mu. Kami beriman kepada-Mu dan tunduk kepada-Mu. Kami berlepas diri dari orang yang kufur kepada-Mu”

(Hadits ini disebutkan Imam Ibnu Abi Syaibah dalam al-Mushannaf, Imam Abdurazzaq dalam al-Mushannaf, Imam al-Baihaqi dalam as-Sunan al-Kubra dan kitab Ma’rifat as-Sunan wa al-Atsar dan Imam ath-Thahawi dalam Tahdzib al-Atsar).

Talbiyah Buatan Umar.

عَنْ عَبْدِ اللََِّّ بْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللََُّّ عَنْهُمَا أَنَّ تلَْبِيَةَ رَسُ ولِ اللََِّّ صَلَّى اللََُّّ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ لَبَّيْكَ لَبَّيْكَ لَا شَرِيكَ لَكَ لَبَّيْكَ إِنَّ الْحَمْدَ وَالن عْمَةَ لَكَ وَالْمُلْكَ لَا شَرِيكَ لَكَ قَالَ وَكَانَ عَبْدُ اللََِّّ بْنُ عُمَرَ رَضِيَ اللََُّّ عَنْهُمَا يَزِيدُ ف يهَا لَبَّيْكَ لَبَّيْكَ وَسَعْدَيْكَ وَالْخَيْرُ بِيَدَيْكَ لَبَّيْكَ وَالرَّغْبَاءُ إِلَيْكَ وَالْعَمَل

Dari Abdullah bin Umar, sesungguhnya Talbiyah Rasulullah Saw adalah:

Aku sambut panggilan-Mu ya Allah. Panggilan-Mu. Tiada sekutu bagi-Mu. Sesungguhnya segala puji, nikmat dan kekuasaan milik-Mu. Tiada sekutu bagi-Mu.

Abdullah bin Umar menambahkan:

لَبَّيْكَ لَبَّيْكَ وَسَعْدَيْكَ وَالْخَيْرُ بِيَدَيْكَ لَبَّيْكَ وَالرَّغْبَاءُ إِلَيْكَ وَالْعَمَل

Aku sambut panggilan-Mu, aku sambut panggilan-Mu. Kebaikan di tangan-Mu. Aku sambut panggilan-Mu. Berharap kepada-Mu, juga amal. (HR. al-Bukhari dan Muslim).

Bid’ah Hasanah Utsman: Azan Pertama Shalat Jum’at.

أذان الجمعة الأول زاده عثمان لحاجة الناس إليه وأقره واستمر عمل المسلمين عليه

Sesungguhnya adzan pertama hari Jum’at ditambah oleh Khalifah Utsman bin ‘Affan karena hajat manusia terhadap adzan tersebut. Kemudian kaum muslimin terus mengamalkannya.

Jawaban Iqamat Buatan Utsman.

عَنْ قَتَادَةَ ؛ أَنَّ عُثْمَانَ كَانَ إذَا سَمِاَ الْمُيَذِ نَ يُيَذِ نُ ي قُولُ كَمَا يَقُولُ فِي التشََّهُّدِ وَالتكَّْبِيرِ كُلِ هِ ، فَإذَا قَالَ : حَيَّ عَلَى الصَّلاَةِ ، قَالَ : مَا شَاءَ اللََُّّ ، وَلاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِالَِلَِّّ ، وَإذَا قَالَ : قَدْ قَامَتِ الصَّلاَةُ ، قَالَ : مَرْحَبًا بِالْقَائِلِينَ عَدْ لاً وَصدقا ، وَبِالصَّلاَةِ مَرْحَبًا وَأَهْلاً ، ثُمَّ يَنْهَضُ إلَى الصَّلاَةِ.

Dari Qatadah, sesungguhnya apabila Utsman mendengar mu’adzin mengumandangkan adzan, ia mengucapkan seperti ucapan pada Tasyahhud dan Takbir secara keseluruhan. Ketika mu’adzin mengucapkan: ( حَيَّ عَلَى الصَّلاَة ).

Utsman menjawab: ( مَا شَاءَ اللََُّّ ، وَلاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِالَِلَّّ ).

Ketika mu’adzin mengucapkan: ( ُةَلاَّصلا ِ ت َ ماَق ْ دَق ).

Utsman menjawab: ( مَرْحَبًا بِالْقَائِلِينَ عَدْلاً وَصدقا ، وَبِالصَّلاَةِ مَرْحَبًا وَأَهْلا ).

Kemudian Utsman bangun untuk melaksanakan shalat.

(HR. Imam Ibnu Abi Syaibah dalam al-Mushannaf dan Imam ath-Thabrani dalam al-Mu’jam al-Kabir).

Itu Bukan Bid’ah, Tapi Sunnah Khulafa’ Rasyidin!

Jika ada yang mengatakan bahwa semua perbuatan di atas adalah Sunnah Khulafa’ Rasyidin, karena Rasulullah Saw bersabda,

فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَعَاءِ الرَّاشِدِينَ

“Hendaklah kalian mengikuti Sunnahku dan Sunnah Khulafa’ Rasyidin”. (HR. Abu Daud, at-Tirmidzi dan Ibnu Majah).

Memang benar, tapi jangan lupa, semua itu tetaplah amalan berdasarkan ijtihad Khulafa’ Rasyidin, karena wahyu tidak turun kepada mereka. Andai mereka menerima wahyu yang absolut tidak terbantahkan, tentulah Zaid bin Tsabit tidak ragu mengikuti ajakan Abu Bakar untuk membukukan al-Qur’an. Tentulah pula Ubai bin Ka’ab tidak ragu mengikuti ajakan Umar untuk menjadi imam Tarawih di Madinah. Maka perbuatan-perbuatan itu tetap masuk kategori bid’ah, tapi bid’ah hasanah.

Andai tidak setuju menggunakan kata Bid’ah, walau pun Umar mengucapkannya, pilihlah salah satu dari istilah yang dibuat oleh para ulama:

Istilah Untuk Perkara Baru Yang Tidak Dilakukan Rasulullah Saw, Tapi Baik Menurut Syariat Islam.

Imam Syafi’i

~ Bid’ah Huda

~ Bid’ah Mahmudah

~ Bid’ah Ghair Madzmumah

Imam ‘Izzuddin bin Abdissalam

~ Bid’ah Wajib

~ Bid’ah Mandub

~ Bid’ah Mubah

Imam an-Nawawi

~ Bid’ah Hasanah

al-Hafizh Ibnu Hajar al-‘Asqalani

~ Bid’ah Hasanah

DR.Abdul Ilah bin Husain al-‘Arfaj

~ Sunnah Hasanah

Kalau alergi dengan istilah Bid’ah Hasanah, saya pilih kata Bid’ah Mahmudah, mengikuti istilah Imam Syafi’i -rahimahullah- untuk menyebut suatu perbuatan yang tidak dilakukan Rasulullah Saw, tapi perbuatan itu baik menurut syariat Islam dan dilakukan oleh orang-orang shaleh setelah Rasulullah Saw:

Standar Penetapan Bid’ah Dhalalah.

Jika tidak diberi batasan, semua orang akan membuat-buat ibadah dan menyatakannya sebagai bid’ah hasanah, maka perlu menetapkan standar, jika tidak maka dikhawatirkan ummat akan terjerumus ke dalam perbuatan bid’ah. Suatu perkara dapat disebut Bid’ah Dhalalah jika termasuk dalam beberapa poin berikut:

Pertama, keyakinan batil yang berkaitan dengan dasar-dasar agama Islam. Misalnya menyerupakan Allah dengan makhluk. Mengatakan Allah duduk bersemayam di atas ‘Arsy seperti manusia duduk di atas kursi. Atau menyatakan bersatu dengan tuhan, seperti keyakinan Pantheisme, atau Manunggaling Kawula Gusti. Atau menyembah Allah Swt, namun menghadapkan diri beribadah kepada selain Allah Swt. Atau mengatakan al-Qur’an tidak lengkap. Mengingkari takdir. Mengkafirkan sesama muslim. Mencaci maki shahabat nabi. Menyatakan selain nabi itu ma’shum. Pernyataan bahwa agama Islam tidak relevan dengan zaman. Dan semua keyakinan yang dibuat-buat yang menyebabkan orang meyakininya disebut sebagai kafir.

Kedua, merubah bentuk ibadah yang telah disyariatkan, seperti menambah atau mengurangi. Misalnya menambah rakaat shalat wajib. Mengurangi takaran zakat Fitrah. Mengurangi jumlah sujud dalam shalat. Mengganti surat al-Fatihah dengan surat lain. Merubah lafaz azan. Membuat sujud sebelum ruku’.

Ketiga, merubah waktu ibadah, seperti shalat Shubuh jam sembilan pagi. Atau puasa setengah hari. Atau merubah tempat ibadah, seperti thawaf di bukit keramat. Thawaf di kuburan dan sebagainya.

Keempat, meyakini ada suatu keutamaan pada suatu ibadah yang dilakukan dengan cara khusus, tanpa ada dalil syar’i. Misalnya, berpuasa dengan menjemur diri di panas akan mendatangkan keutamaan ini dan ini. Berpuasa selama empat puluh hari akan mendapat ini dan ini. Atau shalat dengan pakaian tertentu akan mendapatkan keutamaan tertentu. Atau diam pada hari senin akan mendapatkan keutamaan khusus.

Kelima, menyatakan keutamaan khusus pada waktu tertentu, atau tempat tertentu, atau orang tertentu, atau zikir tertentu, atau surat tertentu, tanpa ada dalil syar’i. Seperti menyatakan ada keutamaan pada malam 12 Rabi’ul-Awal. Atau keutamaan zikir yang dibuat oleh orang tertentu.

Keenam, membuat ibadah khusus, dengan cara tertentu, dengan jumlah tertentu, dengan keutamaan tertentu. Misalnya, shalat 100 rakaat, pada malam maulid nabi, akan mendapatkan anu dan anu.

Ketujuh, berkumpul melakukan suatu ibadah, pada waktu tertentu dan tempat tertentu dengan keyakinan ada balasan tertentu terhadap perbuatan tersebut. Adapun berkumpul di masjid pada malam Maulid Nabi Muhammad Saw, dengan mendengarkan bacaan al-Qur’an dan ceramah agama seputar sejarah Nabi Muhammad Saw. Atau pada malam tahun baru Hijrah sebagai muhasabah diri, sangat dianjurkan untuk memanfaatkan momen tertentu dalam membahas masalah tertentu.

Kedelapan, membuat batasan tertentu dalam takaran, jarak, jumlah bilangan, waktu, yang telah ditetapkan syariat Islam. Seperti berat nishab zakat, jarak Qashar shalat, jumlah bilangan kafarat, jumlah batu melontar jumrah, jumlah putaran thawaf dan sa’i.

Kesembilan, semua perkara yang dibuat-buat, tanpa ada dalil dari syariat Islam, apakah dalil itu nash (teks), atau pemahaman terhadap nash, atau secara terperinci dalam dalil, atau dalilnya global bersifat umum, maka itu adalah bid’ah dhalalah. Jika terangkum dalam dalil, apakah dalil itu nash (teks), atau pemahaman terhadap nash, atau secara terperinci dalam dalil, atau dalilnya global bersifat umum, maka itu adalah Sunnah Hasanah. Ketika terjadi ikhtilaf antara dalil-dalil, maka dalil yang bersifat nash lebih didahulukan daripada dalil yang bersifat ijmaly (global). Dalil khusus lebih didahulukan daripada dalil yang bersifat umum. Dalil yang disebutkan secara nash lebih didahulukan daripada dalil pemahaman terhadap nash. Dengan demikian maka pintu ijtihad tetap terbuka bagi para ulama108.

Andai Imam Syafi’i Tidak Membagi Bid’ah.

Imam Ibnu Taimiah merutinkan membaca al-Fatihah dari setelah shalat Shubuh hingga terbit matahari, padahal Rasulullah Saw tidak pernah mengajarkan dan melakukannya. Syekh Abdul Aziz bin Baz mengajarkan ramuan tangkal sihir, padahal Rasulullah Saw tidak membuat dan mengajarkannya. Syekh Ibnu ‘Utsaimin mengajarkan shalat sunnat Tahyatal-masjid di tanah lapang tempat shalat ‘Ied, padahal Rasulullah Saw tidak pernah melakukan dan mengajarkannya. Para imam masjid di Saudi Arabia membaca doa khatam al-Qur’an dalam shalat Tarawih di akhir Ramadhan, padahal Rasulullah Saw tidak pernah mengajarkannya, apalagi melakukannya. Andai Anda masih juga berpegang pada kaedah, “Setiap yang tidak dilakukan Rasulullah Saw, maka haram”. Maka Ibnu Taimiah, Syekh Ibnu Baz, Syekh Ibnu Utsaimin dan para imam Saudi Arabia, semuanya telah melakukan perbuatan haram. (*)

Sumpah Pocong Dalam Islam

Dalam kehidupan bermasyarakat, terkadang manusia menemui masalah dan mengalami persengketaan dengan sesama anggota masyarakat. Biasanya persengketaan tersebut diselesaikan dengan cara musyawarah maupun dengan membawanya keranah hokum

Namun, terkadang masalah atau persengketaan tersebut tidak bisa diselesaikan dengan jalan yang semestinya sehingga seringkali beberapa pihak melakukan suatu sumpah yang dikenal dengan istilah sumpah pocong. Lalu apakah sebenarnya sumpah pocong itu dan bagaimana hukumnya dalam pandangan agama islam? Untuk mengetahui perihal sumpah pocong tersebut ada baiknya kita simak uraian berikut ini.

Definisi Sumpah Pocong

Kita sering mendengar istilah sumpah pocong dan beberapa kalangan masyarakat juga sering mempraktekkan ritual ini. Sesuai namanya, sumpah pocong merujuk pada sumpah yang dimbil dari seseorang dengan mengenakan kain kafan seperti pocong atau jenazah yang akan dimakamkan. Sumpah pocong biasanya diambil jika seseorang meyakini suatu kebenaran namun orang lain atau pihak lain tidak meyakini kebenaran tersebut atau tidak memiliki bukti misalnya jika seseorang dituduhkan melakukan sesuatu yang menyimpang atau berbuat kesalahan sementara ia tidak mau mengaku.

Seseorang yang mengambil sumpah pocong biasanya disaksikan oleh anggota masyarakat lain dan mempertaruhkan sesuatu jika sumpah yang diambilnya tidak sesuai dengan kebenaran, atau dengan kata lain jika orang tersebut mengambil sumpah palsu maka ia dan keluarganya akan mendapatkan celaka atau mengalami suatu musibah yang sesuai dengan sumpah yang diucapkannya

Sebenarnya sumpah ini tergolong sebagai suatu kebiasaan atau adat dalam masyarakat dan terkadang masayarakat juga mempraktekkannya dengan cara lain dan pelakunya tidak dibalut dengan kain kafan melainkan hanya duduk dengan memakai kerudung kafan

Hukum Sumpah Pocong

Banyak orang yang bertanya-tanya apakah sebenarnya hokum sunpah pocong yang sering dipraktekkan masyarakat, karena praktek sumpah pocong ini kerap dilakukan oleh sebagian umat islam. Sebenarnya praktek sumpah pocong tidak dikenal dalam islam dan bersumpah dengan nama selain Allah adalah dilarang bahkan bersumpah atas nama ka’bah yang merupakan baitullahpun  tidak diperkenankan dalam islam menurut hadits Rasulullah SAW

Entah siapa yang membawa kebiasaan sumpah pocong tersebut dalam masyarakat yang sebagian besarnya adalah umat muslim, intinya islam tidak mengenal adanya sumpah pocong karena dalam sejarah Rasul SAW dan sahabatnya tidak pernah melakukan hal tersebut 

Bahkan sumpah pocong dalam islam dianggap sebagai suatu bentuk kemusyrikan dimana bersumpah pada selain Allah SWT adalah suatu perbuatan syirik yang tidak diampuni Allah SWT, sebagaimana disebutkan dalam dalil berikut

إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ ۚ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدِ افْتَرَىٰ إِثْمًا عَظِيمًا

Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar. (QS An Nisa : 48)

Dalil Terkait Sumpah Pocong

Sumpah pocong memang sering dilakukan oleh umat islam namun hal tersebut tidaklah membuat sumpah pocong diperbolehkan, namun beberapa kalangan ada yang memperbolehkan asalkan sumpah diambil bukan dengan nama selain Allah dan tidak diisyaratkan sebagai suatu syariat dan ada juga yang berpendapat bahwa sumpah pocong diambil untuk menguatkan sumpah yang diambil oleh seseorang. Dalil dilarangnya mengambil sumpah dengan nama selain Allah disebutkan berikut ini

Suatu ketika orang-orang Yahudi mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Sesungguhnya kalian telah berbuat syirik, kalian mengatakan, ‘Atas kehendak Allah dan kehendakku’ dan kalian mengatakan, ‘Demi Ka’bah’…” (HR. Nasa`i dari Qutailah)

Sumpah Dalam Islam

Mengambil sumpah dalam islam sebenarnya boleh saja asalkan sesuai dengan syariat yang berlaku. Sumpah dalam islam harus diambil dari dalam hati dan diatasnamakan Allah SWT dan mengambil sumpah selain nama Allah adalah suatu dosa besar sebagaimana disebutkan dalam dalil “Barangsiapa bersumpah dengan selain Allah maka ia telah kufur atau syirik. ” (HR Tirmidzi dari Umar ibnu Khattab).

Adapun sumpah pocong yang dikenal dalam masyarakat bisa digolongkan sebagai suatu  muhabalah atau perbuatan melaknat orang lain atau meminta Allah SWT untuk menjatuhkan laknat pada pihak atau mereka yang berdusta.

Sebagaimana disebutkan dalam firman Allah surat Ali Imran ayat 59-61 berikut ini

إِنَّ مَثَلَ عِيسَى عِنْدَ اللَّهِ كَمَثَلِ آدَمَ خَلَقَهُ مِنْ تُرَابٍ ثُمَّ قَالَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ (٥٩)الْحَقُّ مِنْ رَبِّكَ فَلا تَكُنْ مِنَ الْمُمْتَرِينَ (٦٠)فَمَنْ حَاجَّكَ فِيهِ مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَكَ مِنَ الْعِلْمِ فَقُلْ تَعَالَوْا نَدْعُ أَبْنَاءَنَا وَأَبْنَاءَكُمْ وَنِسَاءَنَا وَنِسَاءَكُمْ وَأَنْفُسَنَا وَأَنْفُسَكُمْ ثُمَّ نَبْتَهِلْ فَنَجْعَلْ لَعْنَةَ اللَّهِ عَلَى الْكَاذِبِينَ

“Sesungguhnya misal (penciptaan) Isa di sisi Allah, adalah seperti (penciptaan) Adam. Allah menciptakan Adam dari tanah, kemudian Allah berfirman kepadanya: “Jadilah” (seorang manusia), Maka jadilah Dia. (apa yang telah Kami ceritakan itu), Itulah yang benar, yang datang dari Tuhanmu, karena itu janganlah kamu termasuk orang-orang yang ragu-ragu. Siapa yang membantahmu tentang kisah Isa sesudah datang ilmu (yang meyakinkan kamu), Maka Katakanlah (kepadanya): “Marilah kita memanggil anak-anak kami dan anak-anak kamu, isteri-isteri kami dan isteri-isteri kamu, diri kami dan diri kamu; kemudian marilah kita bermubahalah kepada Allah dan kita minta supaya la’nat Allah ditimpakan kepada orang-orang yang dusta.” (QS. Al Imran : 59 – 61)

 

Melanggar Sumpah

Sumpah yang diambil atas nama Allah SWT harus dilakukan oleh mereka yang mengambil sumpah. Jika seseorang wajib mengambil sumpah untuk menghindari keburukan dirinya maupun umat muslim lainnya, ia harus melakukan dan tidak boleh melanggar sumpah tersebut. Adapun jika seseorang melanggar sumpah ada konsukuensi yang didapat seperti yang tercantum dalam ayat berikut ini

لَا يُؤَاخِذُكُمُ اللَّهُ بِاللَّغْوِ فِي أَيْمَانِكُمْ وَلَٰكِنْ يُؤَاخِذُكُمْ بِمَا عَقَّدْتُمُ الْأَيْمَانَ ۖ فَكَفَّارَتُهُ إِطْعَامُ عَشَرَةِ مَسَاكِينَ مِنْ أَوْسَطِ مَا تُطْعِمُونَ أَهْلِيكُمْ أَوْ كِسْوَتُهُمْ أَوْ تَحْرِيرُ رَقَبَةٍ ۖ فَمَنْ لَمْ يَجِدْ فَصِيَامُ ثَلَاثَةِ أَيَّامٍ ۚ ذَٰلِكَ كَفَّارَةُ أَيْمَانِكُمْ إِذَا حَلَفْتُمْ ۚ وَاحْفَظُوا أَيْمَانَكُمْ ۚ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

“Allah tidak menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpahmu yang tidak dimaksud (untuk bersumpah), tetapi Dia menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpah yang kamu sengaja, maka kaffarat (melanggar) sumpah itu, ialah memberi makan sepuluh orang miskin, yaitu dari makanan yang biasa kamu berikan kepada keluargamu, atau memberi pakaian kepada mereka atau memerdekakan seorang budak. Barang siapa tidak sanggup melakukan yang demikian, maka kaffaratnya puasa selama tiga hari. Yang demikian itu adalah kaffarat sumpah-sumpahmu bila kamu bersumpah (dan kamu langgar). Dan jagalah sumpahmu. Demikianlah Allah menerangkan kepadamu hukum-hukum-Nya agar kamu bersyukur (kepada-Nya)”. (Qs Al Maidah : 89)

Demikian penjelasan dan uraian mengenai sumpah pocong dalam islam yang bisa diketahui. Wallahu A’lam Bisshawab.

Bersalaman Setelah Shalat

BERSALAMAN SETELAH SHALAT.

Hadits Pertama:

عَنْ الْبَرَاءِ بْنِ عَازِبٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللََِّّ صَلَّى اللََُّّ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا مِنْ مُسْلِمَيْنِ يَلْتَقِيَانِ فَيَتصََافَحَانِ إِلَّا غُعِرَ لَهُمَا قَبْلَ أَنْ يَعْترَِقَا

Dari al-Barra’ bin ‘Azib, ia berkata, “Rasulullah Saw bersabda, ‘Dua orang muslim yang bertemu, lalu bersalaman, maka Allah mengampuni mereka berdua sebelum mereka berpisah. (HR. Abu Daud, Ibnu Majah dan at-Tirmidzi).

Hadits Kedua dan Ketiga:

391 باب المصافحة – – 440

748 / 967 (صحيح الإسناد موقوف ا)ً عن أنس بن مالك قال: لما جاء أهل اليمن، قال النبي صلى الله عليه وسلم : قد أقبل أهل

اليمن، وهم أرق قلوبا منكم“. فهم أول من جاء بالمصافحة.

749 / 968 (صحيح الإسناد موقوفا)عن البراء بن عازب قال: “من تمام التحية أن تصافح أخاك“.

391- Bab: Bersalaman.

967/748 (sanadnya shahih, hadits Mauquf). Dari Anas bin Malik, ia berkata, “Ketika orang-orangYaman datang, Rasulullah Saw berkata, ‘Orang Yaman telah datang, mereka adalah orang-orang yang lebih lembut hatinya daripada kalian. Mereka adalah orang pertama yang bersalaman”.

968/749 (sanadnya shahih, hadits Mauquf). Dari al-Barra’ bin ‘Azib, ia berkata, “Diantara kesempurnaan penghormatan adalah engkau bersalaman dengan saudaramu.

Disebutkan Imam al-Bukhari dalam Adab al-Mufrad. Dinyatakan Syekh al-Albani sebagai hadit shahih dalam Shahih Adab al-Mufrad.

Hadit Keempat:

عَنْ قَتَادَةَ قَالَ قُلْتُ لِأنََسٍ أكََانَتْ الْمُصَافَحَةُ فِي أَصْحَابِ النَّبِ ي صَلَّى اللََُّّ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ نَعَمْ

Dari Qatadah, ia berkata, “Saya bertanya kepada Anas bin Malik, ‘Apakah para shahabat nabi Muhammad Saw bersalaman?”. Anas bin Malik menjawab, “Ya”. (HR. al-Bukhari).

Keempat hadits di atas jelas menyatakan bahwa bersalaman adalah perbuatan yang baik, bahkan dianjurkan Rasulullah Saw. Hadits-hadits diatas tidak menyebutkan waktu bersalaman, mengandung makna umum, apakah ketika datang dari perjalanan atau pun ketika kembali dari suatu perjalanan. Sebelum shalat atau pun setelah shalat. Tidak boleh mengkhususkan sesuatu tanpa ada dalil yang mengkhususkan. Maka hadits-hadits ini bersifat umum, mengandung makna boleh bersalaman kapan saja. Jika ada yang melarang bersalaman setelah shalat. Tidak ada hadits yang melarang. Yang ada justru hadits menyebutkan Rasulullah Saw bersalaman setelah shalat:

عَنْ الْحَكَمِ قَالَ سَمِع تُ أَبَا جُحَيْعَةَ قَالَ خَرَ رَسُولُ اللََِّّ صَلَّى اللََُّّ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالْهَاجِرَةِ إِلَى الْبَطْحَاءِ فَتوََضَّ أ ثُمَّ صَلَّى الظُّهْرَ

رَكْعَتَيْنِ وَالْعَصْرَ رَكْعَتَيْنِ وَبَيْنَ يَدَيْهِ عَنَزَةٌ قَالَ شُعْبَةُ وَزَادَ فِيهِ عَوْنٌ عَنْ أَبِيهِ أبَِي جُحَيْعَةَ قَال

162

كَانَ يَمُرُّ مِنْ وَرَائِهَا الْمَرْأَةُ وَقَامَ النَّاسُ فَجَعَلُاوا يَأْخُاذُونَ يَدَيْاهِ فَيَمْسَاحُونَ بِهَاا وُجُاوهَهُمْ قَاالَ فَأخََاذْتُ بِيَادِهِ فَوَضَاعْتُهَا عَلَاى

وَجْهِي فَإِذَا هِيَ أَبْرَدُ مِنْ الثَّلْجِ وَأَطْيَبُ رَائِحَةً مِنْ الْمِسْكِ

Dari al-Hakam, ia berkata, “Saya mendengar Abu Juhaifah berkata, ‘Rasulullah Saw keluar pada saat panas terik ke al-Bath-ha’ (antara Mekah dan Mina). Lalu Rasulullah Saw berwudhu’, kemudian shalat Zhuhur dua rakaat dan shalat ‘Ashar dua rakaat, di hadapannya ada tongkat pendek”. ‘Aun menambahkan, dari Abu Juhfah Bapaknya, ia berkata, ‘Perempuan lewat di belakang tongkat pendek itu’.

Lalu orang banyak pun berdiri, mereka menarik kedua tangan Rasulullah Saw, lalu mereka mengusapkannya ke wajah mereka. Lalu saya pun menarik tangan Rasulullah Saw, lalu saya letakkan di wajah saya, lebih sejuk daripada salju dan lebi wangi daripada semerbak kasturi”. (HR. al-Bukhari).

Andai bersalaman setelah shalat itu dilarang, tentulah Rasulullah Saw melarang mereka.

Pendapat Ulama.

Pendapat Syekh Abdul Aziz bin Baz:

56 حكم المصافحة بعد الصلاة المعروضة

س: بعض المصلين وبعد أداء تحية المسجد يلتعت ويصافح من على يمينه ومن على شماله، فما حكم ذلك؟ وهل هي سنة؟

جزاكم الله خيرا.

: بسم الله والحمد لله . . السنة أن يصافح من عن يمينه وعن شماله إذا فرغ من صلاته، فقد كان النبي صلى الله عليه

وسلم إذا التقى بصحابته صافحهم، وكان الصحابة رضوان الله عليهم إذا التقوا تصافحوا، فإذا جاء المصلي إلى المسجد

ووصل إلى الصف فليسلم قبل الصلاة، ثم بعد الصلاة يصافح من على يمينه وشماله إذا كان لم يصافحهم قبل الصلاة لما

في ذلك من التأسي بالنبي

56- Hukum Bersalaman Setelah Shalat Wajib.

Pertanyaan: ada sebagian orang yang shalat, setelah menunaikan shalat Tahyatal-masjid, ia menoleh ke kanan lalu bersalaman kepada orang yang ada di sebelah kanannya, ia menoleh ke kiri dan bersalaman dengan orang yang berada di sebelah kirinya, apa hukumnya? Semoga Allah memberikan balasan kebaikan kepada Anda.

Jawaban: Bismillah, walhamdulillah. Sunnah hukumnya bersalaman dengan orang yang berada di sebelah kanan dan kiri setelah selesai shalat. Rasulullah Saw ketika bertemu dengan para shahabatnya, ia bersalaman dengan mereka. Ketika para shahabat bertemu, mereka juga bersalaman. Apabila orang yang shalat datang ke masjid, ia sampai di dalam shaf, maka hendaklah ia mengucapkan salam sebelum shalat. Setelah shalat, ia bersalaman dengan orang yang berada di sebelah kanan dan kirinya jika ia belum bersalaman dengan mereka sebelum shalat karena itu mengikuti perbuatan Rasulullah Saw235.

Pendapat Imam an-Nawawi:

ان صافح من كان معه قبل الصلاة فمباحة كما ذكرنا وان صافح من لم يكن معه قبل الصلاة عند اللقاء فسنة بالاجماع

للاحاديث الصحيحة في ذلك

235 Syekh Ibnu Baz, Majmu Fatawa Ibn Baz, Juz.XXX, hal.68.

163

Jika ia sudah bersalaman sebelum shalat, )kemudian ia ulang lagi setelah shalat(, maka itu mubah (boleh), sebagaimana yang telah kami sebutkan.

Jika ia bersalaman dengan seseorang setelah shalat, orang tersebut belum bersalaman dengannya saat bertemu sebelum shalat, maka bersalaman itu sunnah menurut ijma’ berdasarkan hadits-hadits shahih tentang itu.

وأصل المصافحة سنة وكونهم حافظوا عليها في بعض الأحوال لا يخر ذلك عن أصل السنة

Asal bersalaman itu sunnah. Bahwa ada orang-orang yang bersalaman pada waktu-waktu tertentu (misalnya setelah selesai shalat), maka itu tidak mengeluarkannya dari asal Sunnah236.

Pendapat Imam ath-Thahawi:

المصافحة فهي سنة عقب الصلاة كلها وعند كل لقي

Bersalaman itu sunnah dilakukan setelah selesai semua shalat dan di setiap pertemuan237.

236 Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani, Fath al-Bari Syarh Shahih al-Bukhari, juz.XI (Beirut: Dar al-Ma’rifah, 1379H), hal.55.

237 Imam Ahmad bin Muhammad bin Ismail ath-Thahawi, Hasyiyah ‘ala Maraqi al-Falah Syarh Nur al-Idhah, (Mesir: al-Mathba’ah al-Kubra al-Amiriyyah, 1318H), hal.345.

— AS —

Misteri Tanggal 26 Hoax

Tanya:

Saya menemukan tulisan semacam ini. Mohon pencerahannya.

Tanggal 26 . – ,,Legenda urban bencana tanggal 26 merupakan suatu topik misteri di mana tanggal 26 memiliki arti penting …

Gempa Nepal 26 april 2015 apakah ini suatu kebetulan? Kalau gempa yang berikut ini terjadi pada tanggal 26 Dec 1861 gempa bumi di Egion, Yunani

26 Mar 1872 gempa bumi di Owens Valley, USA

26 Aug 1896 gempa bumi di Skeid, Land, Islandia

26 Nov 1902 gempa bumi di Bohemia, sekarang Czech Republic

26 Nov 1930 gempa bumi di Izu

26 Sep 1932 gempa bumi di Ierissos, Yunani

26 Nov 1943 gempa di Tosya Ladik, Turki

26 Dec 1949 gempa bumi di Imaichi, Jepun

26 Mei 1957 gempa di Bolu Abant, Turki

26 Mar 1963, gempa bumi di Wakasa Bay, Jepang

26 Jul 1967 gempa bumi di Pulumur, Turki

26 Sep 1970 gempa bumi di Bahia Solano, Colombia

26 Jul 1971 gempa bumi di Solomon Island

26 Apr 1972 gempa bumi di Ezine, Turki

26 Mei 1975 gempa bumi di N. Atlantic

26 Mar 1977 gempa bumi di Palu, Turki

26 Dec 1979 gempa bumi di Carlisle, Inggris

26 Apr 1981 gempa bumi di Westmorland, USA

26 Mei 1983 gempa bumi di Nihonkai, Chubu, Jepang

26 Jan 1985 gempa bumi di Mendoza, Argentina

26 Jan 1986 gempa bumi di Tres Pinos, USA

26 Apr 1992 gempa bumi di Cape Mendocino, California, USA

26 Okt 1997 gempa bumi di Italia

26 dec 2004 tsunami ace

Adakah kita sadari tanggal tersebut , fakta /kebetulan ?

Aceh

Tsunami

26-12-2004,

Jogja

Gempa

26-05-2006

Tasik, Jawa Barat

Gempa

26-06-2010

Gunung Merapi

Meletus

26-10-2010 …

Pertanyaan : melihat data tersebut diatas dan data statistik bahwa Gunung Merapi punya gawe rata rata setiap empat atau lima tahun periodically , Apakah bila sudah masuk waktunya dan sudah menunjukkan tanda tanda batuk , kita boleh mempercayai tgl 26 harus extra waspada ngungsi duluan.

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Sesungguhnya kalender masehi yang berlaku, murni buatan manusia. Kalender itu dibuat atas kesepakatan umat sejagad. Karena itulah, islam tidak pernah mengajarkan agar manusia mengembalikan kejadian pada kalender atau perhitungan hari. Allah yang berkuasa mengatur semua kejadian alam semesta. Dan kekuasaan Allah bersifat mutlak. Tanpa bergantung pada aturan hamba.

Allah mengingatkan,

بَدِيعُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَإِذَا قَضَى أَمْرًا فَإِنَّمَا يَقُولُ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ

Allah Pencipta langit dan bumi, dan bila Dia berkehendak (untuk menciptakan) sesuatu, maka (cukuplah) Dia hanya mengatakan kepadanya: “Jadilah!” Lalu jadilah ia.” (QS. al-Baqarah: 117).

Mengembalikan kejadian di alam ini kepada perhitungan atau kalender, bisa jadi tidak berbeda dengan mengembalikan kehendak Allah pada aturan manusia. Dan itu tidak mungkin pernah terjadi.

Dari sini anda bisa memahami bagaimana kelancangan yang dilakukan paranormal. Mereka berusaha meramalkan kejadian masa depan dengan perhitungan yang mereka buat. Seolah mereka hendak mengembalikan kehendak Allah kepada aturan dan sistem pitungan yang mereka buat.

Ada Banyak Sistem Kalender

Lebih dari itu, di tempat kita, ada beberapa sistem kalender. Ada kalender masehi, ada kalender qamariyah, ada kalender Temporeki, kalender saka, kalender imlek, kalender jawa, dst. Sebagian orang mencatat, di dunia ini ada 11 sistem kalender.

Mengingat sistemnya berbeda, tentu saja keteraturannya berbeda. Jika tanggal 26 April bertepatan dengan 7 Rajab, belum tentu tanggal 26 di bulan yang lain pada sistem kalender masehi, akan bertepatan dengan tanggal 7 di bulan yang lain pada kalender hijriyah. artinya, angka 26 tidak harus sinkron dengan angka 7.

Lalu, mau sistem kalender yang manakan yang akan kita jadikan acuan?

Apakah hanya kalender masehi? Padahal murni inni buatan manusia.

Apakah Tiyaroh?

Apakah keyakinan semacam ini termasuk tiyaroh?.

Ketika anda meyakini bahwa ada tanggal atau hari atau bulan tertentu yang itu menjadi sebab sial, maka itu termasuk keyakinan tiyaroh. Karena anda meyakini sesuatu menjadi sebab sial bagi yang lain, padahal sejatinya sama sekali tidak ada hubungannya.

Dan ketika keyakinan tiyaroh ini menyebabkan anda harus mengubah agenda, berarti anda terjebak dalam dosa kesyirikan. Dari Abdullah bin Amr Radhiyallahu ‘anhuma, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ رَدَّتْهُ الطِّيَرَةُ مِنْ حَاجَةٍ فَقَدْ أَشْرَكَ

Siapa yang mengurungkan keinginannya karena keyakinan tiyaroh, berarti dia telah berbuat syirik. (HR. Ahmad 7242 dan dan dihasankan Syuaib al-Arnauth)

Dari Ibnu Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu,Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda,

الطِّيَرَةُ شِرْكٌ الطِّيَرَةُ شِرْكٌ

Tiyaroh itu syirik… Tiyaroh itu syirik… (HR. Ahmad 3759, Abu Daud 3912, Ibnu Majah 3667 dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth)

Karena itu, ketika anda meyakini tanggal 26 menjadi tanggal bencana, tanggal sial, kemudian ini menjadi pertimbangan anda untuk menggagalkan rencana anda, maka anda terjebak dalam tiyaroh.

Kembalikan kepada Allah

Dialah yang Maha Kuasa. Dia menetapkan apapun sesuai Yang Dia kehendaki. Karena itu, untuk menutup celah terjadinya kesyirikan, atau keyakinan yang lebih parah, islam mengajarkan agar kita mengembalikan setiap kejadian kepada Allah.

Dan jika itu bentuknya musibah, kita perlu ingat bahwa itu semua disebabkan dosa dan maksiat yang diperbuat manusia.

Ada satu ayat yang sering didengungkan ketika terjadi musibah. Itulah firman Allah di surat Ar-Rum:

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

“Telah nampak kerusakan di daratan dan di lautan, disebabkan perbuatan tangan-tangan manusia. Agar Allah merasakan sebagian dari perbuatan yang mereka lakukan, supaya mereka kembali.” (QS. Ar-Rum: 41).

Ada satu hal yang telah menjadi mindset hampir semua orang terkait ayat ini, tafsir ‘perbuatan tangan-tangan manusia’ dipahami hanya terbatas pada sikap manusia yang tidak ramah terhadap lingkungan. Mereka menyimpulkan bahwa banjir, gempa bumi, tanah longsor, atau bencana apapun bentuknya, disebabkan sikap manusia yang tidak disiplin dalam mengelola lingkungan.

Di saat banjir mulai melanda, rame-rame orang menyalahkan buang sampah sembarangan, infrastruktur yang kurang diperhatikan pemerintah, eksploitasi alam yang tidak terkontrol, dst…

Namun, kita perlu sadar, ternyata sebab utama bencana alam, tidak hanya dalam bentuk lahiriyah sebagaimana anggapan di atas. Ada sebab terpenting yang ternyata belum dipahami kebanyakan orang. Sebab itu adalah maksiat.

Perbuatan maksiat dan kedurhakaan kepada Sang Pencipta, merupakan sebab terbesar Allah mendatangkan bencana alam. Dosa dan maksiat adalah sebab terbesar Allah mendatangkan banjir. Itulah tafsir yang dipahami oleh para sahabat ulama masa silam terhadap surat Ar-Rum di atas.

Berikut diantara tafsir mereka,

At-Thabari menyebutkan ketarangan dari Al-Hasan Al-Bashri ketika menafsirkan ayat ini,

أفسدهم الله بذنوبهم، في بحر الأرض وبرها بأعمالهم الخبيثة

“Allah menghancurkan mereka disebabkan dosa mereka, berupa kerusakan di daratan maupun dilautan, disebabkan perbuatan buruk mereka..” (Tafsir At-Thabari, 20/108).

As-Suyuthi menyebutkan keterangan dari Abu Bakr bin Ayyasy, ketika beliau ditanya tentang ayat ini, beliau berkomentar,

إِن الله بعث مُحَمَّدًا إِلَى أهل الأَرْض وهم فِي فَسَاد فأصلحهم الله بمحمدا صلى الله عَلَيْهِ وَسلم فَمن دَعَا إِلَى خلاف مَا جَاءَ بِهِ مُحَمَّد صلى الله عَلَيْهِ وَسلم فَهُوَ من المفسدين فِي الأَرْض

“Sesungguhnya Allah mengutus Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam ke penduduk bumi ketika mereka dalam kondisi rusak (masa jahiliyah). Kemudian Allah memperbaiki mereka dengan mengutus Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Siapa yang mengajak kepada perbuatan yang bertentangan dengan apa yang dibawa oleh Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, berarti dia termasuk orang yang berbuat kerusakan di muka bumi.” (Ad-Dur Al-Mantsur, 3/477).

Dikisahkan oleh Shofiyah radhiyallahu ‘anha, tentang gempa yang terjadi di zaman Umar radhiyallahu ‘anhu,

“Pernah terjadi gempa bumi di Madinah pada masa Umar radhiyallahu ‘anhu, sehingga beberapa pagar roboh, lalu Umar berkhotbah:

أيها الناس ، ما هذا ؟ ما أسرع ما أحدثتم . لئن عادت لا تجدوني فيها

Wahai sekalian manusia, apa yang terjadi? Betapa cepatnya maksiat yang kalian lakukan. Jika terjadi gempa bumi lagi, kalian tidak akan menemuiku lagi di Madinah.” (HR. Baihaqi dalam Sunan-nya (3/342), Ibnu Abi Syaibah dalam al-Mushonnaf (2/473) dengan sanad yang shahih).

Gempa itu belum pernah terjadi di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Umar khawatir, dia juga tertimpa sebab maksiat yang dilakukan manusia. Beliau mengancam, jika terjadi gempa yang kedua, beliau akan keluar madinah.

Setelah memahami hal ini, dan dengan adanya musibah, selayaknya kita berusaha untuk semakin dekat dengan Allah. Memohon ampunan kepada-Nya seraya berharap agar Dia segera melepaskan kaum muslimin dari musibah ini.

قُلْ هُوَ الْقَادِرُ عَلَى أَنْ يَبْعَثَ عَلَيْكُمْ عَذَاباً مِنْ فَوْقِكُمْ أَوْ مِنْ تَحْتِ أَرْجُلِكُمْ أَوْ يَلْبِسَكُمْ شِيَعاً وَيُذِيقَ بَعْضَكُمْ بَأْسَ بَعْضٍ انْظُرْ كَيْفَ نُصَرِّفُ الْآياتِ لَعَلَّهُمْ يَفْقَهُونَ * وَكَذَّبَ بِهِ قَوْمُكَ وَهُوَ الْحَقُّ قُلْ لَسْتُ عَلَيْكُمْ بِوَكِيلٍ * لِكُلِّ نَبَأٍ مُسْتَقَرٌّ وَسَوْفَ تَعْلَمُونَ

Katakanlah: “Dialah yang berkuasa untuk mengirimkan azab kepadamu, dari atas kamu atau dari bawah kakimu atau Dia mencampurkan kamu dalam golongan-golongan (yang saling bertentangan) dan merasakan kepada sebahagian kamu keganasan sebahagian yang lain. Perhatikanlah, betapa Kami mendatangkan tanda-tanda kebesaran Kami silih berganti agar mereka memahami(nya)”. Dan kaummu mendustakannya (azab) padahal azab itu benar adanya. Katakanlah: “Aku ini bukanlah orang yang diserahi mengurus urusanmu”. Untuk setiap berita (yang dibawa oleh rasul-rasul) ada (waktu) terjadinya dan kelak kamu akan mengetahui.” (QS. Al-An’am: 65 – 67)

Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Ingat Kembali Fatwa Ulama Buya Hamka soal Ucapan Natal….!

Haji Abdul Malik Karim Amrullah alias Buya Hamka lebih memilih mengundurkan diri dari jabatan Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) ketimbang mencabut “Fatwa haramnya mengucapkan selamat Natal dan ikut merayakannya.”

“Sayalah yang bertanggungjawab atas beredarnya fatwa tersebut. Jadi sayalah yang mesti berhenti,” kata Hamka pada Harian Pelita,” kata Buya Hamka saat berkhutbah di Masjid Al-Azhar semasa hidupnya.

Buya Hamka mengingatkan kaum Muslimin, bahwa kafir hukumnya jika mereka mengikuti perayaan natal bersama.

Fatwa haram Buya Hamka tentang ucapan Natal dan merayakannya, membuat Presiden Soeharto meminta beliau agar mencabut fatwa itu, dengan dalih kemajemukan Bangsa Indonesia, demi menjaga kerukunan Umat beragama. Lantas apa yang dilakukan Buya Hamka..? Apakah beliau mencabut fatwa MUI? Tidak! Beliau memilih mengundurkan diri menjadi Ketua MUI ketimbang mencabut Fatwa haram mengucapkan Natal dan ikut merayakannya.

Sementara itu Kristolog Insan LS Mokoginta, juga menuturkan, bahwa tanggal 25 Desember sebenarnya bukanlah hari kelahiran Yesus. Ini merupakan taktik teologis orang-orang Kristen pada masa lalu agar agama Kristen diterima oleh orang-orang Romawi Kuno yang selalu memperingati hari kelahiran Dewa Matahari pada tanggal 25 Desember.

Beliau melanjutkan, sebenarnya kelahiran Yesus adalah tanggal 1 Januari, makanya dinamakan Tahun Masehi, mesiah atau Al Masih. Karena jarak yang tidak terpaut jauh antara 25 Desember dengan 1 Januari, maka ucapan itupun disandingkan. Karenanya, bagi umat Islam sangat fatal jika ikut-ikutan mengucapkan kedua hari raya itu.

Saat ini fatwa Ulama Besar Buya Hamka mulai dilupakan. Termasuk pejabat, dan sebagian tokoh aktivis Islam. Sebagian dari mereka malah menghalalkan ucapan Natal atas nama toleransi beragama. Bahkan menuduh umat Islam yang tidak mengucapkan selamat Natal sebagai kelompok yang intoleran.

Ustadz Insan LS Mokoginta memberikan tips kepada umat Islam yang bersentuhan dengan Umat Kristiani apabila harus mengucapkan sesuatu ketika momentum itu hadir, baik lewat sms ataupun secara lisan. Ungkap beliau, kita jangan mau mengucapkan “Selamat Hari Natal”, tapi ucapkanlah “..Semoga Allah Memberimu Hidayah pada hari ini!…”

Menurut Kristolog asal kelahiran Manado ini, bahwa do’a tersebut akan menjadi senjata bagi kita Umat Islam. Karena mendo’akan orang diluar Islam agar mendapat hidayah diperbolehkan asal masih hidup. Seperti yang pernah Rasul lakukan ketika mendo’akan agar Islam diperkuat oleh kekuatan Umar atau Abu Jahal.

Dihadapan penguasa, Hamka bicara tegas menolak upaya-upaya Kristenisasi. Ia juga tegas melarang umat Islam mengikuti perayaan “Natal Bersama” yang menggunakan kedok toleransi.

Buya Soal Kristenisasi:

Suatu hari menjelang Hari Raya Idul Fitri tahun 1969, dua orang perwira Angkatan Darat datang menemui Buya Hamka. Keduanya membawa pesan dari Presiden Soeharto, agar Hamka bersedia memberikan khutbah Ied di Masjid Baiturrahim, komplek Istana Negara, Jakarta.

Hamka terkejut, karena disamping permintaan tersebut mendadak, ia heran mengapa istana memilihnya menjadi khatib, padahal pada waktu itu ia dikenal sebagai ulama yang dalam setiap ceramahnya selalu tegas mengkritik upaya-upaya Kristenisasi. Maklum, pada masa-masa awal Orde Baru, gurita Kristenisasi mulai membangun jejaringnya. Baik di tingkat elit kekuasaan, maupun aksi-aksi dilapangan.

Atas saran dan dukungan umat Islam, Buya Hamka akhirnya bersedia memenuhi permintaan Istana. Umat ketika itu berharap, ulama asli Minangkabau ini bisa menyampaikan pesan-pesan dakwah kepada para pejabat, terutama dalam menyikapi maraknya Kristenisasi. Inilah kali pertama Hamka, seorang mantan anggota Partai Masyumi, berkhutbah di Istana.

Dari atas mimbar, ulama yang juga sastrawan ini menguraikan tentang bagaimana toleransi dalam pandangan Islam. Islam sangat menghargai agama lain, dan tak akan pernah mengganggu akidah agama lain. Dhadapan Presiden Soeharto dan para pejabat Orde Baru, Buya Hamka menegaskan secara lantang, “Tapi kalau ada usaha orang supaya kita berlapang dada, jangan fanatik, lalu tukarlah kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa itu dengan tuhan yang maha tiga, atau berlapang dadalah dengan mengatakan bahwa Nabi kita adalah nabi palsu dan perampok di padang pasir, atau kepercayaan kita kepada empat kitab suci; Taurat, Zabur, dan Injil dan Al-Qur’an, lalu disuruh berlapang dada dengan mendustakan Al-Qur’an, maaf, seribu kali maaf, dalam hal ini kita tidak ada toleransi!” tegasnya.

Buya Hamka juga menyampaikan bahaya Kristenisasi ia sampaikan di mimbar-mimbar dakwah dan media massa. Melalui Majalah Panji Masyarakat, Buya Hamka membahas bahaya Kristenisasi, modernisasi dan sekularisasi. Dalam rubrik “Dari Hati ke Hati” yang dikelolanya, Buya Hamka juga menjelaskan soal prinsip toleransi dalam Islam.

Dalam setiap kesempatan khutbah, Buya Hamka yang prihatin dengan gurita kristenisasi yang sedang menggeliat ketika itu, bersuara lantang di hadapan umat agar mewaspadai sepak terjang kelompok Kristen yang berusaha memurtadkan kaum Muslimin.

“Modernisasi bukan berarti westernisasi, dan bukan pula Kristenisasi,” demikian ketegasan yang sering diulang-ulang oleh Hamka ketika ditanya para wartawan. Dalam setiap khutbah di Masjid Al-Azhar, Jakarta, Hamka juga menegaskan bahwa misi zending Kristen yang sedang bergeliat pada masa itu telah dirasuki dendam Perang Salib untuk menghabisi umat Islam.

Ketegasan Buya Hamka terhadap bahaya Kristenisasi kembali ia sampaikan di hadapan penguasa Orde Baru, ketika Buya menjabat sebagai Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI). Dalam rapat dengan Presiden Soeharto pada 1975, Buya Hamka menerangkan di hadapan Presiden tentang fakta-fakta Kristenisasi yang bergeliat setiap hari di masyarakat, dengan berbagai bujukan dan iming-iming materi yang menggiurkan.

Hamka juga menyampaikan keprihatinannya tentang berdirinya Rumah Sakit Baptis di Bukittinggi, sebagai upaya terang-terangan dalam mengkristenkan masyarakat minang lewat cara pengobatan. Kepada Presiden Soeharto, Hamka mengusulkan agar rumah sakit itu dibeli dan diambil alih pemerintah agar bisa dikelola dengan semestinya. Soeharto setuju dengan usulan tersebut, bahkan dengan terang-terangan menyatakan tidak sukanya pada Kristenisasi tersebut.

“Natal adalah kepercayaan orang Kristen yang memperingati hari lahir anak Tuhan. Itu adalah akidah mereka. Kalau ada orang Islam yang turut menghadirinya, berarti dia melakukan perbuatan yang tergolong musyrik,” terang Hamka. “Ingat dan katakan pada kawan yang tak hadir di sini, itulah akidah kita!” tegasnya di hadapan massa kaum Muslimin.

Keteguhannya dalam memegang fatwa haramnya natal bersama inilah yang kemudian membuatnya mengundurkan diri dari Ketua Majelis Ulama Indonesia. Tak berapa lama setelah fatwa itu dikeluarkan (dikeluarkan pada 1 Jumaidil Awal 1401 atau 7 Maret 1981), kemudian pada 24 Juli 1981, Buya Hamka wafat menghadap Allah SWT. (des/dbs)

Sumber: Panjimas.com – 25 Desember 2017

Alasan Terlarangnya Mengucapkan Selamat Natal bagi Muslim

Merry Christmas”, atau yang artinya Selamat Hari Natal, biasanya momen ini disandingkan dengan ucapan Selamat Tahun Baru.

Sebagian orang menganggap ucapan semacam itu tidaklah bermasalah, apalagi yang yang berpendapat demikian adalah mereka orang-orang kafir. Namun hal ini menjadi masalah yang besar, ketika seorang muslim mengucapakan ucapan selamat terhadap perayaan orang-orang kafir.

Dan ada juga sebagian di antara kaum muslimin, berpendapat nyeleneh sebagaimana pendapatnya orang-orang kafir. Dengan alasan toleransi dalam beragama!? Toleransi beragama bukanlah seperti kesabaran yang tidak ada batasnya. Namun toleransi beragama dijunjung tinggi oleh syari’at, asal di dalamnya tidak terdapat penyelisihan syari’at. Bentuk toleransi bisa juga bentuknya adalah membiarkan saja mereka berhari raya tanpa turut serta dalam acara mereka, termasuk tidak perlu ada ucapan selamat.

Islam mengajarkan kemuliaan dan akhlak-akhlak terpuji. Tidak hanya perlakuan baik terhadap sesama muslim, namun juga kepada orang kafir. Bahkan seorang muslim dianjurkan berbuat baik kepada orang-orang kafir, selama orang-orang kafir tidak memerangi kaum muslimin.

Allah Ta’ala berfirman,

لا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُم مِّن دِيَارِكُمْ أَن تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ

Allah tiada melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.” (QS. Al Mumtahanah: 8)

Namun hal ini dimanfaatkan oleh sebagian orang untuk menggeneralisir sikap baik yang harus dilakukan oleh seorang muslim kepada orang-orang kafir. Sebagian orang menganggap bahwa mengucapkan ucapan selamat hari natal adalah suatu bentuk perbuatan baik kepada orang-orang nashrani. Namun patut dibedakan antara berbuat baik (ihsan) kepada orang kafir dengan bersikap loyal (wala) kepada orang kafir.

Alasan Terlarangnya Ucapan Selamat Natal

1- Bukanlah perayaan kaum muslimin

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menjelaskan bahwa perayaan bagi kaum muslimin hanya ada 2, yaitu hari ‘Idul fitri dan hari ‘Idul Adha.

Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata : “Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam datang ke Madinah, penduduk Madinah memiliki dua hari raya untuk bersenang-senang dan bermain-main di masa jahiliyah. Maka beliau berkata : Aku datang kepada kalian dan kalian mempunyai dua hari raya di masa Jahiliyah yang kalian isi dengan bermain-main. Allah telah mengganti keduanya dengan yang lebih baik bagi kalian, yaitu hari raya kurban (‘Idul Adha) dan hari raya ‘Idul Fitri” (HR. Ahmad, shahih).

Sebagai muslim yang ta’at, cukuplah petunjuk Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- menjadi sebaik-baik petunjuk.

2- Menyetujui kekufuran orang-orang yang merayakan natal

Ketika ketika mengucapkan selamat atas sesuatu, pada hakekatnya kita memberikan suatu ucapan penghargaan. Misalnya ucapan selamat kepada teman yang telah lulus dari kuliahnya saat di wisuda.

Nah,begitu juga dengan seorang yang muslim mengucapkan selamat natal kepada seorang nashrani. Seakan-akan orang yang mengucapkannya, menyematkan kalimat setuju akan kekufuran mereka. Karena mereka menganggap bahwa hari natal adalah hari kelahiran tuhan mereka, yaitu Nabi ‘Isa ‘alaihish shalatu wa sallam. Dan mereka menganggap bahwa Nabi ‘Isa adalah tuhan mereka. Bukankah hal ini adalah kekufuran yang sangat jelas dan nyata?

Padahal Allah Ta’ala telah berfirman,

لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ

Bagimu agamamu, bagiku agamaku.” (QS. Al-Kafirun: 6).

3- Merupakan sikap loyal (wala) yang keliru

Loyal (wala) tidaklah sama dengan berbuat baik (ihsan). Wala memiliki arti loyal, menolong, atau memuliakan orang kita cintai, sehingga apabila kita wala terhadap seseorang, akan tumbuh rasa cinta kepada orang tersebut. Oleh karena itu, para kekasih Allah juga disebut dengan wali-wali Allah.

Ketika kita mengucapkan selamat natal, hal itu dapat menumbuhkan rasa cinta kita perlahan-lahan kepada mereka. Mungkin sebagian kita mengingkari, yang diucapkan hanya sekedar di lisan saja. Padahal seorang muslim diperintahkan untuk mengingkari sesembahan-sesembahan oarang kafir.

Allah Ta’ala berfirman,

قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ إِذْ قَالُوا لِقَوْمِهِمْ إِنَّا بُرَاء مِنكُمْ وَمِمَّا تَعْبُدُونَ مِن دُونِ اللَّهِ كَفَرْنَا بِكُمْ وَبَدَا بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةُ وَالْبَغْضَاء أَبَداً حَتَّى تُؤْمِنُوا بِاللَّهِ وَحْدَهُ

Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka: “Sesungguhnya kami berlepas diri daripada kamu dari daripada apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran) mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja.” (Qs. Al Mumtahanah: 4)

4- Nabi melarang mendahului ucapan salam

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ تَبْدَءُوا الْيَهُودَ وَلاَ النَّصَارَى بِالسَّلاَمِ

Janganlah kalian mendahului Yahudi dan Nashara dalam salam (ucapan selamat).” (HR. Muslim no. 2167). Ucapan selamat natal termasuk di dalam larangan hadits ini.

5- Menyerupai orang kafir

Tidak samar lagi, bahwa sebagian kaum muslimin turut berpartisipasi dalam perayaan natal. Lihat saja ketika di pasar-pasar, di jalan-jalan, dan pusat perbelanjaan. Sebagian dari kaum muslimin ada yang berpakaian dengan pakaian khas perayaan natal. Padahal Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melarang kaum muslimin untuk menyerupai kaum kafir.

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud)

Pembicaraan Kelahiran Isa dalam Al Qur’an

Bacalah kutipan ayat di bawah ini. Allah Ta’ala berfirman,

فَحَمَلَتْهُ فَانْتَبَذَتْ بِهِ مَكَانًا قَصِيًّا (22) فَأَجَاءَهَا الْمَخَاضُ إِلَى جِذْعِ النَّخْلَةِ قَالَتْ يَا لَيْتَنِي مِتُّ قَبْلَ هَذَا وَكُنْتُ نَسْيًا مَنْسِيًّا (23) فَنَادَاهَا مِنْ تَحْتِهَا أَلَّا تَحْزَنِي قَدْ جَعَلَ رَبُّكِ تَحْتَكِ سَرِيًّا (24) وَهُزِّي إِلَيْكِ بِجِذْعِ النَّخْلَةِ تُسَاقِطْ عَلَيْكِ رُطَبًا جَنِيًّا (25)

Maka Maryam mengandungnya, lalu ia mengasingkan diri dengan kandungannya itu ke tempat yang jauh. Maka rasa sakit akan melahirkan anak memaksa ia (bersandar) pada pangkal pohon kurma, dia berkata: ‘Aduhai, alangkah baiknya aku mati sebelum ini, dan aku menjadi barang yang tidak berarti, lagi dilupakan.’ Maka Jibril menyerunya dari tempat yang rendah: “Janganlah kamu bersedih hati, sesungguhnya Tuhanmu telah menjadikan anak sungai di bawahmu. Dan goyanglah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya pohon itu akan menggugurkan buah kurma yang masak kepadamu.” (QS. Maryam: 22-25)

Kutipan ayat di atas menunjukkan bahwa Maryam mengandung Nabi ‘Isa ‘alahis salam pada saat kurma sedang berbuah. Dan musim saat kurma berbuah adalah musim panas. Jadi selama ini natal yang diidetikkan dengan musim dingin (winter), adalah suatu hal yang keliru.

Penutup

Ketahuilah wahai kaum muslimin, perkara yang remeh bisa menjadi perkara yang besar jika kita tidak mengetahuinya. Mengucapkan selamat pada suatu perayaan yang bukan berasal dari Islam saja terlarang (semisal ucapan selamat ulang tahun), bagaimana lagi mengucapkan selamat kepada perayaan orang kafir? Tentu lebih-lebih lagi terlarangnya.

Meskipun ucapan selamat hanyalah sebuah ucapan yang ringan, namun menjadi masalah yang berat dalam hal aqidah. Terlebih lagi, jika ada di antara kaum muslimin yang membantu perayaan natal. Misalnya dengan membantu menyebarkan ucapan selamat hari natal, boleh jadi berupa spanduk, baliho, atau yang lebih parah lagi memakai pakaian khas acara natal (santa klaus, pent.)

Allah Ta’ala telah berfirman,

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ

Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran.” (QS. Al-Maidah: 2).

Wallahu waliyyut taufiq.

Penulis: Wiwit Hardi Priyanto

Editor: Muhammad Abduh Tuasikal

Artikel Muslim.Or.Id

Baca selengkapnya https://muslim.or.id/11051-alasan-terlarangnya-mengucapkan-selamat-natal-bagi-muslim.html

Kuasa Allah Lewat Pemuda Kahfi

Keteguhan orang-orang mukmin sudah diuji Allah SWT,

Gua Ashabul Kahfi di Amman Yordania

Keteguhan orang-orang mukmin sudah diuji Allah SWT, bahkan sebelum zaman Rasulullah SAW. Kisah-kisah mereka tersebar dalam Alquran untuk dijadikan pelajaran bagi orang-orang yang mau berpikir.

Salah satu kisahnya adalah penghuni gua atau Ashabul Kahfi. Cerita tentang para pemuda yang berjuang untuk mempertahankan akidah dari raja yang zalim. Bersama anjingnya yang setia, Raqim, para pemuda itu berlindung di dalam gua sambil berdoa.

“Wahai Tuhan kami, berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan (kami) ini.”

Pengarang tafsir al-Muntakhab yang terdiri dari sekelompok ulama dan pakar Mesir berupaya mengungkap tempat dan waktu peristiwa Ashabul Kahfi terjadi lewat isyarat Alquran. Berdasarkan penelitiannya, para ulama mengatakan, mereka adalah sekelompok pemuda yang beriman kepada Allah yang tengah mengalami penindasan agama sehingga mengasingkan diri ke dalam sebuah gua tersembunyi.

Sejarah mencatat adanya beberapa masa penindasan agama di kawasan timur yang terjadi dalam kurun waktu berbeda. Dari beberapa peristiwa penindasan agama itu, hanya ada dua masa yang mereka anggap penting.

Salah satunya pun diduga berkaitan dengan kisah penghuni gua. Peristiwa pertama terjadi pada masa kekuasaan raja-raja Saluqi yang diperintah Raja Antiogos IV (176-84 SM).

Saat penaklukan Suriah, dia mewajibkan seluruh penganut Yahudi di Palestina yang sudah tinggal di Suriah sejak 198 SM untuk meninggalkan agamanya. Antiogos yang fanatik dengan kebudayaan Yunani kuno memerintahkan mereka untuk menyembah dewa-dewa Yunani.

Dia pun meletakkan patung Zeus di tempat peribadatan kaum Yahudi. Para ulama pun menduga pemuda-pemuda Ashabul Kahfi adalah penganut Yahudi yang bertempat tinggal di Palestina yang tepatnya berada di Yarussalem.

Peristiwa kedua terjadi pada masa Imperium Romawi berkuasa. Pada zaman Kaisar Hadrianus (117-138 M), kaisar memperlakukan orang-orang Yahudi sama dengan apa yang pernah dilakukan Antiogos.

Para pembesar Yahudi pun mengeluarkan ultimatum akan berontak bersama rakyatnya untuk melawan kekaisaran Romawi. Mereka pun memukul mundur garnisun Romawi di perbatasan dan berhasil merebut Yerussalem. Selama tiga tahun mereka berhasil mempertahankan kekuasaannya.

Terakhir, Hadrianus bergerak bersama pasukannya untuk menumpas pemberontak. Mereka membunuh semua orang Yahudi. Kaum Yahudi yang masih hidup dijual sebagai budak. Dari penuturan sejarah tersebut, para ulama menyimpulkan bahwa kemungkinan lain adalah pemuda Ashabul Kahfi merupakan pemuda Yahudi yang bersembunyi dari Kaisar Hadrianus.

Shekh Mohammad Mutawalli Sya’rawi dalam Untaian Kisah-Kisah Qurani dalam Surat Al-Kahfi menjelaskan, kisah Ashabul Kahfi memiliki mutiara hikmah yang tak lekang hingga akhir zaman. Allah SWT dapat menjadikan gua yang notabene tempat sempit di mana seseorang tidak bisa berlama-lama tinggal di dalamnya sebagai tempat tidur para pemuda beriman, bahkan hingga ratusan tahun.

Allah menginginkan agar manusia menyadari, gua sempit menurut pemikirannya bisa menjadi lapang berdasarkan kuasa-Nya. Anugerah Tuhan membuat tempat sesempit itu terasa luas dan lapang sehingga mereka bisa leluasa di dalamnya.

“Kenyataan ini mengingatkan kita bahwa setiap orang yang lari menyelamatkan agamanya ke suatu tempat di luar wilayahnya betapa pun sempitnya tempat itu akan terasa luas dan lapang berkat rahmat Tuhan. Jika dia di tempat itu kesulitan rezeki, Allah akan membuka pintu-pintu rezeki baginya sehingga dia merasakan dirinya sebagai orang terkaya,” tulis Shekh Sya’rawi.

Lebih lanjut, sang shekh menjelaskan bahwa tidur yang dialami para penghuni gua merupakan fenomena kekuasaan Allah SWT. Untuk ukuran manusia normal, tidur akan dialami setengah hari hingga sehari. Itulah pertanyaan yang mereka katakan saat pertama kali dibangunkan Allah SWT kepada sesama mereka.

“Demikianlah Kami bangunkan mereka agar di antara mereka saling bertanya. Salah seorang di antara mereka berkata, ‘Sudah berapa lamakah kamu tinggal disini?’ Mereka menjawab, ‘Kita berada di sini sehari atau setengah hari’.” (QS al-Kahfi:19).

Shekh Sya’rawi menjelaskan, Allah SWT sudah menahan pengaruh waktu terhadap para penghuni gua. Mereka pun berada di luar dimensi waktu sehingga tidak merasakan lamanya waktu yang telah berlalu selama mereka tidur. Padahal, Alquran mengungkapkan bahwa mereka sudah tidur selama 300 tahun ditambah sembilan tahun lagi.

Lazimnya, manusia yang sedang tidur tidak mengetahui sudah berapa lama dia sudah tertidur. Dia baru akan tahu saat terbangun setelah melihat ukuran waktu dari cahaya matahari, gelapnya malam, atau arah jarum jam. Para penghuni gua pun seharusnya mengetahui waktu tersebut saat terbangun. Normalnya mereka bisa melihat dari fisik yang sudah renta, rambut putih karena beruban, dan fisik yang sudah lemah.

Hanya, Allah SWT meniadakan standar waktu bagi fisik mereka. Para pemuda itu pun tak merasa ada perubahan saat terbangun dan melihat wajah temannya. Mereka pun meyakini bahwa lamanya tidur hanya berlalu beberapa saat. Mereka baru mengetahui bahwa tidur mereka sudah begitu lama saat menyambangi pasar dengan membawa koin perak. “… Maka suruhlah salah seorang di antara kamu pergi ke kota dengan membawa uang perakmu ini dan hendaklah dia lihat manakah makanan yang lebih baik, maka hendaklah dia membawa makanan itu untukmu..” Wallahu a’lam.

Sumber : Dialog Jumat Republika

Kisah An-Nadhar Ibnul Harits dan Tiga Pertanyaan

Kisah An-Nadhar ini diabadikan Allah dalam Al-Quran.

Dia termasuk salah seorang yang menentang dakwah Islam pada awal kemunculannya dan yang mengahalangi para pengikutnya. Namanya dikenal sebagai an-Nadhar Ibnul Harits, salah seorang tokoh golongan kaum kaya Quraisy yang memegang kekuasaan di Kota Makkah. Dia memanfaatkan kekayaan dan kedudukannya untuk menindas para pengikut Nabi Muhammad.

Sepulangnya dari Persia untuk belajar kepada beberapa juru dongeng di kerajaan, di antaranya Rustam dan Isfandiar, an-Nadhar merasa terancam atas kehadiran Rasulullah. Di Makkah, dia melihat Rasulullah yang telah mengaku diutus Tuhan itu membacakan ayat-ayat Alquran yang menarik hati sebagian warga. Jika Rasulullah berdakwah di suatu majelis menceritakan berita tentang orang terdahulu, an-Nadhar akan berkata, “Demi Allah, siapakah juru kisah yang paling bagus? Aku atau Muhammad?”

An-Nadhar dan kaum Quraisy lainnya kaget mengetahui dakwah Rasulullah yang semakin menyebar. Beberapa kabilah Arab sudah menjauhi berhalanya setelah didatangi Muhammad. Mereka kemudian menawarkan kedudukan dan harta berlimpah dengan syarat Rasulullah harus berdakwah dengan menghina tuhan-tuhan mereka dan mencerai-beraikan kesatuan kaum Quraisy. Tapi, Rasulullah menolaknya.

Sadar akan kegagalan tersebut, pemuka Quraisy kembali berkumpul mencari jalan lain untuk menghentikan dakwah Nabi Muhammad. An-Nadhar berkata di hadapan para kaum Quraisy, seperti yang dikisahkan dalam sirah Ibnu Hisyam.

“Hai kaum Quraisy, demi Allah kalian benar-benar ditimpa suatu persoalan yang belum dapat kalian pecahkan. Dahulu, Muhammad hidup di tengah-tengah kalian sebagai seorang anak yang paling kalian senangi, yang paling berkata jujur, dan yang paling dipercaya. Tatkala kalian melihat tanda-tanda kedewasaan di antara kedua pipinya dan membawa agama baru kepada kalian, lalu kalian berkata, dia tukang sihir. Demi Allah, dia bukan tukang sihir. Aku pernah melihat para tukang sihir, tiupan-tiupan mereka, dan buhul-buhulnya,” ujar an-Nadhar.

Dia melanjutkan pidatonya dengan kebencian yang jelas akan agama baru itu. “Kalian juga berkata, dia adalah dukun. Demi Allah, dia bukan dukun. Aku pernah melihat para dukun dan perilakunya. Serta, kami juga mendengar jampi-jampinya,” katanya. “Kalian juga mengatakan, dia adalah seorang penyair. Demi Allah, dia bukan seorag penyair. Kami telah melihat syair dan mendengar seluruh jenisnya, baik yang bermetrum hajaj maupun rujaz,” tuturnya.

“Kalian mengatakan bahwa dia itu orang gila. Demi Allah, dia bukan orang gila. Kita pernah melihat orang gila, perilakunya, racauannya, dan ketidakwarasannya. Hai Kaum Quraisy, renungkanlah persoalanmu. Demi Allah, kalian benar-benar mengalami persoalan yang besar,” tandas an-Nadhar.

Setelah berkata demikian, kaum Quraisy mengutus an-Nadhar bersama Uqbah Bin Abi Mu’ith supaya menemui para pendeta Yahudi di Madinah. Tujuannya, untuk mendapatkan informasi dari para pendeta Yahudi mengenai sejarah nabi dan kaum terdahulu untuk mengonfirmasi kebenaran yang disampaikan oleh Muhammad sekaligus untuk mengetahui pendapat mereka terhadap Muhammad. Berangkatlah an-Nadhar dan Uqbah ke Madinah dengan bergegas karena ingin segera mendapatkan informasi dari para pendeta atau penjelasan tentang apa yang dibawa oleh Muhammad.

Setelah tiba di perkampungan Yahudi, keduanya menjelaskan keberadaan Muhammad kepada para pendeta. Mereka menerangkan ciri-cirinya, menginformasikan sebagian perkataannya, serta menggambarkan kehidupannya. Para pendeta Yahudi pun berkata.

“Tanyakanlah kepadanya tentang tiga hal. Jika dia dapat menjawabnya, berarti dia seorang nabi yang diutus. Jika tidak menjawab, berarti dia hanya seorang yang mengada-ada dan mereka-reka sesuatu untuk akalmu,” kata para rabi Yahudi itu.

Pertanyaan pertama mengenai apa yang dialami oleh sekelompok pemuda yang pergi pada zaman dahulu dan memiliki kisah yang menakjubkan. Lalu, kaum Quraisy Makkah juga diminta untuk menanyakan kepada Muhammad tentang seseorang yang telah berkeliling dunia hingga mencapai belahan timur dan barat. “Serta, tanyakanlah padanya tentang ruh. Apakah ruh itu?”

Para pendeta Yahudi pun mengingatkan kepada kedua bangsawan Quraisy itu, “Jika dia mampu menjawab ketiga pertanyaan itu, ikutilah dia. Sebab, dia adalah seorang Nabi. Jika tidak, berarti orang itu hanya mengada-ada dan tindaklah dia sesuai dengan apa yang terpikir olehmu,” kata mereka. An-Nadhar dan Uqbah pun pulang.

An-Nadhar lalu memanggil para pemuka Quraisy dan menceritakan apa yang dikatakan oleh para pendeta Yahudi. Kemudian, an-Nadhar dan para pemuka Quraisy pun pergi menemui Rasulullah dan menanyakan ketiga pertanyaan tersebut. Tapi, Rasulullah hanya menjawab. “Aku akan menjawab pertanyaan kalian besok,” tuturnya.

Ternyata, sampai hari ke-15 Allah tak kunjung menurunkan wahyu dan Jibril tidak menemui Nabi untuk memberi jawaban atas tiga pertanyaan yang diajukan pemuka Quraisy. Atas ketidakmampuan Nabi memberi jawaban itu, petinggi Quraisy pun merasa menang.

“Muhammad berjanji esok hari. Sekarang, kita berada di pagi hari kelima belas. Namun, dia tidak kunjung menjawab pertanyaan yang diajukan kepadanya,” teriak mereka.

Rasulullah pun risau. Akhirnya, datanglah Jibril membawa jawaban yang ditunggu-tunggu itu, yaitu surah al-Kahfi. Surah ini, di antaranya, menegur Rasulullah karena kesedihannya dalam menghadapi Kaum Quraisy, berita tentang sekelompok pemuda yang dikenal dengan para pemuda gua (ashabul kahfi), tentang seorang laki-laki bernama Zulqarnayn yang berkeliling dunia, dan tentang ruh.

Rasulullah pun bertanya kepada Jibril mengenai lambatnya jawaban yang datang. “Hai Jibril, engkau tidak kunjung menemuiku sehingga aku nyaris berburuk sangka,” tuturnya. Jibril pun menjawab dalam surah Maryam ayat 64: “Dan tidaklah kami turun kecuali dengan perintah Tuhanmu kepunyaan-Nyalah apa-apa yang ada di hadapan kita, apa-apa yang ada di belakang kita, dan apa-apa yang di antara keduanya, dan tidaklah Tuhanmu lupa.”

Namun, setelah mendengarkan jawaban Nabi Muhammad, para pemuka Quraisy tetap mengingkarinya. Mereka juga tidak menjalankan pesan pendeta Yahudi untuk mengikuti ajaran baru itu bila Rasulullah mampu menjawab tiga pertanyaan tersebut. Turunnya surah al-Kahfi untuk memberi tiga jawaban itu juga diikuti turunnya ayat ke-23 yang merupakan teguran kepada Nabi. “Dan jangan sekali-kali kami mengatakan terhadap sesuatu, sesungguhnya aku akan mengerjakan itu esok pagi, kecuali dengan menyebut Insya Allah.”

Pemuka Quraisy kehabisan akal untuk mematahkan argumen mengenai kenabian Muhammad. Tiga pertanyaan penting mengenai kaum terdahulu dari para pendeta Yahudi berhasil dijawab Rasulullah dengan benar, walau terlambat 14 hari. Karena itu, tiada jalan lain untuk menghentikan aktivitas dakwah Rasulullah, selain dengan kekerasan.

Para pemuka Quraisy pun memikirkan rencana jahat lain untuk menghancurkan Rasulullah. Mereka berkumpul di Darun Nadwah untuk bermusyawarah. An-Nadhar membuka forum dengan mengatakan: ”Persoalan orang ini telah kalian rasakan. Demi Allah , kita tidak aman dari serangannya melalui para pengikutnya. Karena itu, satukanlah pandangan dalam menghadapinya.”

Pemuka Quraisy kemudian memilih seorang dari setiap kabilah, yaitu pemuda yang kuat, gagah, dan cakap. Kemudian masing-masing pemuda, diberi sebilah pedang. Mereka diinstruksikan untuk menyerang Rasulullah. Namun, rencana itu gagal. Rasulullah dapat menyelinap menghindari para pemuda yang mengepung rumahnya, lalu beliau berhijrah ke Yatsrib, kota kaum Anshar.

Kegagalan tersebut dijawab Kaum Quraisy kembali dengan rencana jahat lainnya. Mereka tidak hanya mengusir Nabi dari kampung halamannya serta menyiksa penduduknya dan para pengikutnya. Mereka bahkan menyiapkan pasukan yang kuat untuk menghancurkan Rasulullah dan para pengikutnya. Tiga panji Kaum Quraisy dibawa oleh tiga orang dari Bani Abdud Dar, yaitu An-Nadhar, Aziz Ibnu Umair, dan Thalhah Ibnu Abi Thalhah.

Meletuslah perang Badar. Dalam perang pertama antara kaum Muslim dan kaum Quraisy Makkah itu, kekalahan menimpa orang-orang Makkah. An Nadhar berhasil pun ditawan oleh Al-Miqdad Ibnul Aswad. Rasulullah berkomentar mengenai nasib an-Nadhar. ”Dia pernah mengatakan tentang kitab Allah dengan ungkapan yang sama-sama telah kita ketahui,” kata Nabi.

Kisah An-Nadhar ini diabadaikan Allah dalam Al-Quran. Setidaknya 10 ayat yang berkaitan dengan An-Nadhar diturunkan. Di antaranya adalah surah Al-Furqaan ayat 5. ”Dan mereka  berkata dongengan-dongenangan orang-orang dahulu, dimintanya supaya dituliskan, maka dibacakanlah dongeng itu kepadanya setiap pagi dan petang.”

Penolakan an-Nadhar terhadap ajaran Islam juga diungkap dalam surah An-Anfaal ayat 31-32. ”Dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat kami, mereka berkata, sesungguhnya kami telah mendengat ayat-ayat seperti ini. Kalau kamu menghendaki, niscaya kami dapat membacakan yang seoerti ini. Ini tidak lain hanyalah dongengan-dongengan orang-orang purbakala. Dan ingatlah ketika mereka berkata, ya Allah, jika betul Alquran ini, dialah yang benar dari sisi engkau, maka hujanilah kami dengan batu dari langit dan datangkanlah kepada kami azab yang pedih.” Dalam perang Badar itulah doa an-Nadhar akan turunnya azab itu terjawab. Dia mati terbunuh.

Sumber : Mozaik Republika