Di Balik Kekuatan Al Quran

quran-tadabur-dalam

Al-Qur’an… Sebuah kata yang sangat populer di dunia sejak ia diturunkan 14.5 abad silam sampai hari ini. Kalau kita tanya sama mbah “Google”, maka ia akan menjawab : Ada sekitar 68.5 juta kata Al-Qur’an tercantum di dalamnya…. Subhanallah… Sebaliknya, jika kita tanya umat Islam yang mencapai 1.6 milyar terkait hakikat Al-Qur’an, pasti jawaban mereka akan beragam… Jika kita fokuskan lagi pertanyaannya terkait Al-Qur’an seperti, sudahkan anda lancar membaca Al-Qur’an? Berapa banyak anda membaca Al-Qur’an perhari? Sudahkan anda memahami dan mentadabburkan semua isi Al-Qur’an? Berapa banyak anda menghafal Al-Qur’an? Sudah berapa anda mengamalkan perintah Al-Qur’an dan meninggalkan larangannya? Yakinkah anda Al-Qur’an itu sebagai solusi bagi kehidupan di dunia dan di akhirat?……. baca selengkapnya.

 

Al-qur’an Audio

01.Alfatihah, 02.Al-Baqarah, 03.Al-Imran, 04.An-Nisa’, 05.Al-Maidah, 06.Al-An’am. 07.Al-A’raf. 08.Al-Anfal, 09.At-Taubah, 10.Yunus. 11.Hud. 12.Yusuf. 13.Ar-Ra’d. 14.Ibrahim. 15.Al-Hijr. 16.An-Nahl. 17.Al-Isra’. 18.Al-Kahfi. 19.Maryam. 20.Thaha. 21.Al-Anbiya’. 22.Al-Hajj. 23.Al-Mu’min. 24.An-Nur. 25.Al-Furqan. 26.Asy-syu’ara. 27.An-Naml. 28.Al-Qashash. 29.Al-Ankabut. 30.Ar-Rum. 31.Lukman. 32.As-Sajada. 33.Al-Ahzab. 34.Saba’. 35.Fathir. 36.Ya-Siin. 37.Ash-Shaafaat. 38.Shaad. 39.Az-Zumar. 40.Ghafir. 41.Fusshilat. 42.Asyura. 43.Az-Zukhruf. 44.Ad-Dukhan. 45.Al-Jaatsiyah. 46.Al-Ahqaaf. 47.Muhammad. 48.Al-Fath. 49.Al-Hujuraat. 50.Qaaf. 51.Adz-Dzaariyaat. 52.Ath-Thuur. 53.An-Najm. 54.Al-Qamar. 55.Ar-Rahman. 56.Al-Waaqi’ah. 57.Al-Hadid. 58.Al-Mujaadalah. 59.Al-Hasyr. 60.Al-Mumtahana. 61.Ash-Shaf. 62.Al-Jum’ah. 63.Al-Munaafiqun. 64.At-Taghabuun. 65.Ath-Thalaq. 66.At-Tariim. 67.Al-Mulk. 68.Al-Qalam. 69.Al-Haaqqah. 70.Al-Ma’aarij. 71.Nuh. 72.Al-Jin. 73.Al-Muzammil. 74.Al-Mudatstsir. 75.Al-Qiyaamah. 76.Al-Insan. 77.Al-Murasalaat. 78.An-Naba’. 79.An-Nazi’aat. 80.Abasa. 81.At-Takwiir. 82.Al-Infithar. 83.Al-Muthafifiin. 84.Al-Insyiqaq. 85.Al-Buruj. 86.Ath-Thaariq. 87.Al-A’la. 88.Al-Ghasyiyah. 89.Al-Fajr. 90.Al-Balad. 91.Asy-Syams. 92.Al-Lail. 93.Adh-Dhuha. 84.Asy-Syarh. 95.Ath-Thiin. 96.Al-Alaq. 97.Al-Qadr. 98.Al-Bayyinah. 99.Al-Zalzalah. 100.Al-Adiyaat. 101.Al-Qaari’ah. 102.At-Takaatsur. 103.Al-Ashr. 104.Al-Humazah. 105.Al-Fil. 106.Al-Quraisy. 107.Al-Maa’uun. 108.Al-Kautsar. 109.Al-Kaafirun. 110.An-Nashr. 111.Al-Masad. 112.Al-Ikhlash. 113.Al-Falaq. 114.An-Nas

By arifuddinali Posted in Artikel

Perbedaan NU dan Muhammadiyah

20170602-NUMuhammadiyahNU dan Muhammadiyah adalah organisasi Islam di Indonesia yang memiliki pengikut cukup banyak. Tidak hanya pengikut, pengaruh kedua organisasi tersebut pada negara ini juga cukup besar. Pengaruh itu mencakup hampir semua aspek seperti ekonomi, politik, sosial budaya, agama dan sebagainya. NU adalah singkatan dari Nahdlatul ‘Ulama yang berarti kebangkitan ‘ulama atau kebangkitan cendekiawan Islam. Organisasi ini berdiri pada tanggal 31 Januari 1926 yang diprakarsai oleh KH Hasyim Asy’ari. Sedangkan Muhammadiyah diambil dari nama nabi Muhammad yang berarti orang-orang yang menjadi pengikut Nabi Muhammad SAW. Muhammadiyah berdiri pada tanggal 18 November 1912 atas prakarsa KH. Ahmad Dahlan.

Secara historis, kedua pendiri organisasi Islam tersebut—KH Ahmad Dahlan dan KH Hasyim Asy’ari—sama-sama mendalami ilmu agama di Arab Saudi. Sepulang dari Arab Saudi, keduanya bersepakat akan memberikan kontribusi bagi agama, nusa dan bangsa dengan cara melandasi putra putri bangsa Indonesia dengan pendidikian dan juga agama. Keduanya memakai cara yang berbeda dalam hal syiar sebab masing-masing berasal dari area dengan tradisi yang berbeda. KH Ahmad Dahlan berasal dari daerah perkotaan dan memilih cara syiar dengan pendidikan perkotaan sedangkan KH Hasyim Asy’ari yang berasal dari Jombang memilih metode pendidikan pesantren sebagai cara dakwahnya.

Di masa mudanya, persamaan amaliyah ubudiyah KH Hasyim Asy’ari dan KH Ahmad Dahlan dapat di baca di kitab Fiqih Muhammadiyah yang memiliki 3 jilid yang diterbitkan oleh Muhammadiyah Bagian Taman Pustaka Jogjakarta tepatnya pada tahun 1343-an H. Persamaan tersebut meliputi: sholat tarawih yang dijalankan 20 rokaat oleh keduanya. Publik menyampaikan bahwa KH Ahmad Dahlan adalah Imam sholat tarawih dengan jumlah rokaat yang sama tepatnya di Masjid Syuhada DIY. KH. Ahmad Dahlan juga melakukan talqin mayit di kuburan, ziarah, serta mengadakan acara tahlil dan juga yasinan seperti yang dilakukan oleh warga Nahdliyin. Perbedaan mencolok antara NU dan Muhammadiy adalah pada qunut sholat Subuh. NU memakai Qunut sedangkan Muhammadiyah tidak. Di masanya, KH Ahmad Dahlan selaku pendiri Muhammadiyah juga memakai qunut untuk sholat subuh. Kedua pendiri organisasi ini juga melakukan diba’an atau pembacaan sholawat untuk memuliakan nabi Muhammad SAW. Pada saat hari raya, kalimat takbir pada takbiran di ulang sebanyak tiga kali oleh keduanya. Kalimat qad qamat as-Shalat pada saat iqomah di ulang sebanyak dua kali dan diiringi dengan berdirinya para makmum dan imam sholat jamaah. Persamaan terakhir adalah itsbat hilal yang dua-duanya memakai rukyah.

Setelah adanya dominasi politik oleh salah satu organisasi dimana organisasi yang lain tidak memegang kendali sama sekali tepatnya pada tahun 1999, perbedaan yang mencolok antar keduanya semakin tampak ke permukaan. Pada dasarnya, perbedaan antar keduanya mencakup hal-hal sebagai berikut:

Nahdlatul ‘Ulama Muhammadiyah
Tahun Berdiri 31 Januari 1926 18 November 1912
Pemprakarsa KH Hasyim Asy’ari KH. Ahmad Dahlan
Tarawih 20 rakaat 8 rakaat
Tradisi pengamalan Mengamalkan tahlil, yasin, manaqib, barzanji, ziarah kubur, dsb. Tidak mengamalkan tahlil, manaqib, barzanji, ziarah kubur dsb.
Qunut Solat Subuh Membaca qunut sholat subuh Tidak membaca qunut saat sholat subuh
diba’ Gemar membaca sholawat(diba’an) Tidak mengadakan majlis diba’
Khutbah sholat ied 2 (dua) kali 1 (satu) kali
Pengucapan kalimat takbir dalam takbiran 3 (tiga) kali 2 (dua) kali
Pengucapan kalimat iqamah 2 (dua) kali 1 (satu) kali
Itsbat Itsbat memakai rukyah Itsbat memakai hilal
Aspirasi atau orientasi politik Berafiliasi dengan partai politik Tidak berafiliasi dengan partai politik
Perspektif pendidikan Mengenyam banyak pendidikan pesantren yang salafi Mengenyam banyak pendidikan formal dengan pertimbangan rasio yang lebih dominan
Metode ijtihad Bahtsul masail Majlis Tarjih Muhammadiyah

Perbedaan NU dan Muhammadiyah dalam hal tradisi ibadah

Dalam hal ibadah, bisa kita lihat perbedaan yang kentara antara NU dan Muhammadiyah. Pertama, pada bulan Ramadlan, warga Nahdliyin tarawih dengan jumlah rakaat sebanyak dua puluh dengan tiga rakaat witir. Sedangkan warga muhammadiyah jumlah rakaatnya adalah delapan dengan tiga rakaat witir. Kedua, bagi warga NU malam jum’at adalah malam yang sakral. Pada malam ini masjid diramaikan dengan bacaan maulid nabi, tahlil, yasin, manaqib syaikh abdul Qadir al-Jaelani, barzanji dan sebagainya sedangkan tidak demikian yang dilakukan warga Muhammadiyah. Ketiga, khutbah sholat Ied dilakukan sebanyak dua kali oleh warga NU sedangkan warga Muhammadiyah khutbah sebanyak sekali. Keempat, kalimat “allahu akbar” dalam takbiran hari raya diucapkan sebanyak tiga kali untuk warga NU sedangkan warga Muhammadiyah melafaldkannya sebanyak dua kali, kalimat qad qamat as-sholat dalam iqomat dibaca sebanyak dua kali untuk warga nahdliyin dan sekali untuk warga Muhammadiyah. Yang terakhir adalah itsbat penentuan jatuhnya hari raya, NU memakai dasar rukyah sedangkan Muhammadiyah memakai hilal sebagai dasarnya.

Perbedaan NU dan Muhammadiyah dalam hal aspirasi atau orientasi politik

Partai politik yang senada dengan Muhammadiyah tidak berarti didirikan oleh Muhammadiyah. Warga Muhammadiyah memahami bahwa Muhammadiyah secara historis bukan partai politik, tetapi organisasi sosial, agama, propaganda dan pendidikan. Di lain sisi, warga Nahdliyin familiar dengan karakter NU yang bergumul dengan partai. Sulit dibedakan apakah partai yang seirama dengan NU didirikan oleh kyai tertentu atau tidak.

Perbedaan NU dan Muhammadiyah dalam hal perspektif Pendidikan

Warga nahdliyin banyak menghabiskan waktu untuk belajar di pesantren yang salafi, mengolah sisi emosional dan “sendiko dawuh” pada ucapan kyai atau ulama tanpa banyak pertimbanganga logika, alhasil kurang rasional dan lebih simbolik. Di lain sisi, warga Muhammadiyah yang banyak mengenyam pendidikan formal terkesan lebih rasional dan objektif. Mereka memilih partai yang mereka pikir benar. Jika dalam perjalanan partai yang dipercaya tersebut tidak sesuai dengan rasio mereka, maka warga Muhammadiyah akan meninggalkan partai tersebut.

Perbedaan NU dan Muhammadiyah dalam Metode Ijtihad

NU memakai metode Bahtsul Masail untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi warga nahdliyin. Metode ini menekankan pendekatan cultural untuk menjaga nilai yang dahulu yang sudah baik dan mengambil nilai baru yang lebih baik dari masa mendatang. Pendekatan ini menerima pendekatan “cultural and local wisdom” dengan cara mengubah isi dari cultural dan local wisdom tersebut dengan nilai –nilai al-Qur’an dan as-Sunnah. Di lain sisi, Majlis tarjih Muhammadiyah yang disebut “Tajdid” menekankan pendekatan murni kepada al-Qur’an dan as-Sunnah. Tujuannya adalah untuk menemukan dan memurnikan kembali ajaran al-Qur’an dan as-Sunnah dari serangan TBC (takhayul, bid’ah, churafat). Ini sesuai dengan jargon yang di usung warga Muhammadiyah yang berbunyi “back to Qur’an and Hadits”

Referensi:

  1. Perbedaan Metode Ijtihad Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah dalam Corak Fiqih Indonesia oleh Isa Ansori.pdf
  2. id.wikipedia.org/wiki/Muhammadiyah
  3. id.wikipedia.org/wiki/Nahdlatul_’Ulama

Benang Kusut Khilafah

20170529-Tangan BErdoa

SETELAH Nabi Muhammad SAW wafat pada tahun 632 M, berdirilah Khilafah Rasyidah yang diperintah oleh empat khalifah yaitu Abu Bakar ash-Shiddiq, Umar bin Khattab, Usman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib. Keempat khalifah ini dikenal sebagai khulaur rasyidin. Ciri penting sistem pemerintahan khilafah rasyidah adalah keempat khalifah tersebut dipilih secara demokratis tetapi masa jabatan khalifah tidak dibatasi. Khalifah Abu Bakar, misalnya, hanya menjabat sekitar tiga tahun (632-634), sementara Khalifah Umar bin Khattab menjabat selama sepuluh tahun (634-644).

Khilafah Rasyidah berakhir pada tahun 661 dan muncullah Daulah Umayyah di Damaskus (Syria) yang didirikan oleh Mu’awiyah bin Abi Sufyan. Walaupun kepala negaranya memakai gelar khalifah, tetapi jelas Daulah Umayyah di Damaskus (juga Daulah Abbasiyah di Baghdad dan Daulah Umayyah di Cordova/Andalusia) sudah identik dengan sistem kerajaan (monarki). Kekuasaan politik sudah diwariskan secara turun temurun dan secara eksklusif hanya ada di tangan dinasti (bani) yang berkuasa atau memerintah. Orang-orang di luar dinastinya tidak memiliki akses politik untuk meraih jabatan dan kekuasaan khalifah.

Sangat Berbeda

Dari fakta sejarah di atas dapat diketahui bahwa sistem pemerintahan Khilafah Rasyidah sangat berbeda dengan sistem pemerintahan kekhalifahan Bani Umayyah dan Bani Abbasiyah. Sistem pemerintahan Khilafah Rasyidah dilaksanakan dengan sistem demokrasi di mana syura (permusyawaratan) dalam memilih khalifah sangat dijunjung tinggi. Sedang sistem pemerintahan Kekhalifahan Umayyah dan Abbasiyah sudah meninggalkan sistem demokrasi dan jabatan/kekuasaan khalifah sudah diwariskan secara turun temurun di kalangan dinastinya sendiri. Juga, masa jabatan khalifah tidak dibatasi.

Daulah Umayyah di Damaskus bubar pada tahun 750, Daulah Abbasiyah di Baghdad berakhir pada tahun 1258 dan Daulah Umayyah di Cordova/Spanyol runtuh pada tahun 1031. Runtuhnya Daulah Muslim ini menandai berakhirnya Khilafah di Dunia Islam. Baik sebelum maupun sesudah runtuhnya Daulah Abbasiyah di Baghdad sudah berdiri negara-negara dinasti seperti Dinasti Buwaihi dan Dinasti Fathimiyah. Fakta politik dan sejarah ini menjelaskan bahwa sistem khilafah sudah tidak efektif lagi dan sudah ditinggalkan oleh dinastidinasti muslim sendiri. Khilafah tampak sudah menjadi benang kusut. Dinasti Fathimiyah (beraliran Syi’ah), misalnya, tidak mengakui kekhalifahan Abbasiyah (beraliran Sunni) yang berpusat di Baghdad.

Dalam perkembangan selanjutnya, para penguasa wilayah yang sebelumnya menjadi bagian dari Khilafah Islamiyah mendeklarasikan diri sebagai negara bangsa. Mesir, Suriah dan Irak, misalnya, menjadi negara bangsa dalam bentuk republik yang dipimpin oleh presiden. Arab Saudi menjadi negara kerajaan yang dipimpin oleh raja. Pada masa akhir Kesultanan Turki Usmani, benang kusut khilafah pernah mau ditegakkan kembali dengan mengusung Sultan Abdul Madjid II sebagai khalifah, tapi akhirnya gagal. Mustafa Kemal Ataturk (dikenal sebagai bapak pendiri Turki modern) segera mentransformasi Turki Usmani menjadi republik sekuler.

Sidang BPUPKI

Dalam sidang-sidang Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI), tidak ada tokoh Nasionalis Muslim yang mengusulkan konsep khilafah. Kelompok Nasionalis Muslim (antara lain diwakili oleh Ki Bagus Hadikusumo, KHA Wahid Hasyim dan Haji Agus Salim) menyepakati pendirian Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagai negara bangsa. Fakta politik dan sejarah ini menjelaskan bahwa sistem khilafah dalam pandangan kelompok Nasionalis Muslim tidak sesuai dan tidak tepat diterapkan di Indonesia yang pluralistik. Terdiri dari banyak agama, etnis, golongan, tradisi dan budaya.

Masalah negara dan sistem pemerintahannya adalah ranah duniawi dan ijtihadi. Alquran tidak memerintahkan kepada umat Islam untuk mendirikan khilafah. Sebagai wilayah duniawi dan ijtihadi, negara dan sistem pemerintahannya dapat dikelola dan dioperasikan sesuai dengan kondisi sosial politik, kebudayaan dan keagamaan setempat. Keputusan kelompok Nasionalis Muslim dan semua founding fathers yang mendirikan Indonesia sebagai negara bangsa dengan menjunjung tinggi nasionalisme, sistem demokrasi dan berdasar Pancasila sudah tepat, harus dirawat dan dipertahankan.

(Prof Dr Faisal Ismail MA. Pakar sejarah Islam, Guru Besar UIN Sunan Kalijaga dan Program Magister Studi Islam UII Yogyakarta. Artikel ini dimuat Surat Kabar Harian Kedaulatan Rakyat, Senin 29 Mei 2017)

Sumber

Khilafah di Tanah Indonesia, Sebuah Tujuan?

20170529-khilafah

Sebelum menyatakan setuju, atau tidak setuju, lebih baik kita bersama-sama mengerti terlebih dahulu apa arti Khilafah yang sebenar-benarnya. Terlebih saat marak disuarakan, atas sebuah gerakan bertajuk Khilafah Islamiyah di Indonesia sendiri.

Khilafah (bahasa Arab: خلافة)  sendiri bermakna sebuah tatanan kepemimpinan umum bagi seluruh muslim di seluruh dunia dengan menggunakan hukum syariat Islam, dan juga bertanggung jawab atas penyebaran dakwah ke seluruh penjuru dunia. Pemimpin dari sebuah tatanan Khilafah disebut dengan sebutan Khalifah, Imam, atau Amirul Mukminin (Pemimpin bagi orang Mukmin).

Tidak banyak yang menyadari, bahwa pada tanggal 3 Maret 2017 yang lalu adalah 93 tahun berakhirnya sistem Khilafah terakhir di muka bumi, yakni Kekhalifahan Ustmaniyyah (Ottoman) melalui pengaruh dari Mustafa Kemal Atartuk di Turki. Sebuah Kekaisaran besar yang sarat dengan historis pergerakan dan kemajuan Islam pada masa itu yang terkenal dengan Sulaiman Agung dan terlebih penaklukan Konstantinopel oleh Sultan Mehmed II atau lebih dikenal dengan nama Muhammad El Fatih ( Muhammad Sang Penakluk). Dan mulai pada masa itu, Konstantinopel pun berganti nama menjadi Istanbol (Islam Keseluruhan) atau saat ini dikenal dengan nama Istanbul, Ibu Kota Turki.

Wilayah Kekhalifahan Utsmanniyah tidak hanya meliputi Turki saja, melainkan Eropa Timur, Barat, Asia dan beberapa wilayah di Afrika. Bahkan jejak-jejak masjid yang ada di berbagai negara yang bertetangga dengan Turki di Eropa Timur seperti Bulgaria pun terlihat dengan jelas. Satu Masjid era Utsmaniyah di kota tua Plovdiv, Bulgaria menjadi bagian dari sejarah penting: kebesaran Islam, kerajaan asli Eropa Timur dan kekuatan besar bangsa Romawi pada masa itu.

Khalifah adalah Raja dari segala Raja. Tidak hanya berlaku pada satu daerah saja, namun juga berlaku diseluruh dunia. Tak terlepas, tanpa terkecuali, pada masa itu adalah Nusantara, sebelum ada dan dikenal nama Indonesia sendiri. Banyak dari para penyebar agama Islam di Indonesia pun masuk melalui jalur perdagangan dan tak lepas dari perintah dakwah yang diturunkan langsung dari Khalifah yang menjabat pada waktu itu. Bahkan para Wali Songo periode pertama dimana di dalamnya termasuk Maulana Malik Ibrahim dan juga Syech Subakir yang namanya tercatat dalam Babad Tanah Jawa sebagai penumbal tanah Jawa dengan Aji Rajah Kalacakra nya di Gunung Tidar.

Mereka adalah utusan dari Sultan Muhammad I dari Kekhalifahan Utsmanniyah, Istanbul.

Tercatat sebuah periode yang cukup signifikan, dimulai pada tahun 1299 sampai dengan 1924. Sejarah pun mencatat, bahwa tumbangnya Kekhilafahan Islam terakhir di muka bumi pada saat itu adalah hasil dari beberapa kali diangkatnya Khalifah yang kurang memahami syariah Islam.

Dan pada puncaknya, Perjanjian Curzon yang diprakarsai oleh Inggris pada 21 November 1923 pun jadi pemicu tumbangnya Kekhilafahan Utsmaniyyah. Delapan bulan kemudian, Kemal Pasha (Mustafa Kamal Atarturk) mengakhiri Kekhalifahan Islam terakhir sejak masa Rasulullah SAW.

Sejak saat itu, sistem pemerintahan sekular pun menjadi pilihan Turki: memisahkan agama dengan sistem pemerintahan.

Cukup dengan sejarah panjang, lantas bagaimana dengan Indonesia? Mengapa akhir-akhir ini banyak sekali gerakan yang mempropagandakan sistem Khilafah Islamiyah? Gencar menyuarakan nuansa ‘kebangkitan Islam’ di Tanah Air dengan tak jarang mengkritisi dan menolak demokrasi dan bahkan dasar negara NKRI yakni Pancasila? Pemahaman umat pun seperti terpecah disini. Yang setuju, didasari oleh sebuah hadist shahih tentang Daulah Islamiah yang bangkit pada satu masa dan atas nama solidaritas terhadap kaum muslimin di seluruh dunia. Terkesan baik adanya sepertinya kan?

Namun tidak semudah atau semurni gagasannya.

Terlebih di bumi Indonesia sendiri. Pancasila dengan Bhinekka Tunggal Ika yang berarti berbeda-beda tetapi tetap satu jua yang diambil dari Bahasa Sansekerta adalah satu rumusan yang bertujuan merekatkan. Para Founding Fathers Indonesia yang duduk bersama.

Bagaimana terbayang peliknya situasi saat BPUPKI berusaha merumuskan Pancasila. Mereka yang rela menghilangkan tujuh buah kata dari sila pertama ” Ketuhanan Yang Maha Esa” sebagai satu bentuk konsekuensi utuh bernegara dan mengutamakan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi atau golongan. Bahkan agama sekalipun.

Tanpa terkecuali. Dan dari rumusan tersebut, lahirlah Pancasila yang sampai dengan saat ini masih menjadi satu kekuatan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Dan Indonesia pun bukan tanpa sejarah, dimana upaya untuk mengIslamkan Indonesia pun selalu hadir dalam gerakan separatis pada waktu itu. Ingat Kartosoewirjo dan Kahhar Mudzakar? Sebagian menyebut mereka sebagai pemberontak. Makar terhadap Negara.

Namun sebagian kecil banyak yang menganggap mereka sebagai pahlawan. Mereka seperti lupa akan sejarah saat Pasukan Siliwangi yang terkatung-katung harus berhadapan sendiri dengan Gerombolan Kartosoewirjo saat perjalanan kembali ke Jawa Barat.

Memahami gerakan Khilafah Islamiyah di Indonesia? Sebuah tamparan keras yang sedikit lucu, sebenarnya. Dimana para penggiat Khilafah Islamiyah di Indonesia pada saat ini merasa anti dengan sistem demokrasi (Pancasila) namun selama ini mereka pun ikut menggunakan kebebasan di dalam demokrasi sebagai satu kendaraan untuk menyebarkan pola pandang tersebut. Dan semakin rumit dimana satu golongan yang mendorong Kekhilafahan harus berhadapan dengan masuknya faham yang lain dari Saudi, dan juga Islam yang lebih dahulu telah berasimilasi dan hidup bersama sama melebur dengan kultur masyarakat Indonesia pada umumnya yang sarat dengan budaya.

Kompleks dan menggelikan sebetulnya. Tanpa senyum di wajah tentunya.

Islam, masuk ke Bumi Nusantara bukan melulu seperti yang diajarkan oleh sejarah. Hanya melalui perdagangan saja. Tujuan utama adalah dakwah memang benar adanya. Merekalah yang pertama masuk ke Indonesia. Sinkretisme, peleburan terhadap kultur dan budaya setempat menjadi satu strategi dakwah yang secara cepat populer, dimana aliran Kapitayan, Buddha dan Hindu pada saat itu masih mendominasi.

Bukan tanpa cacat atau peperangan. Namun strategi ‘halus’ lebih diutamakan, terutama di Tanah Jawa. Wali yang ada di seluruh penjuru Nusantara bukan hanya Walisongo. Namun nama Wali Songo lah yang menjadi tonggak, dimana Masjid Agung Demak menjadi satu prasastinya. Orang Jawa pun menerima Islam secara perlahan-lahan. Dengan tidak meninggalkan budaya yang tanpa sudi diketahui oleh mereka yang tak mengerti, sejatinya sudah Islami sejak dulu tanpa ajaran Islamnya sendiri.

Brahma, Abraham, Ibrahim.

Namun jangan salah. Bahkan di awal mula penyebaran Islam yang dianggap ‘melebur’ dengan kearifan lokal, sejarah tentang eksekusi Syech Lemah Abang atau lebih dikenal dengan Syech Siti Jenar karena dianggap ‘menyimpang’ atau lebih dalamnya dikhawatirkan dapat mempengaruhi umat yang saat itu masih labil pun menjadi catatan sejarah. Saat itu ajaran Syech Siti Jenar Manunggaling Kawulo Gusti dianggap dapat menyesatkan masyarakat.

Ia adalah seorang Sufi. Makrifat, yang tentu saja sulit untuk dimengerti bagi mereka yang masih belajar syariat. Islam (Jawa) yang dianggap banyak Bid’ah nya, ternyata pun masih menganggap ada yang lebih Bid’ah.

Kemudian satu ‘pemahaman’ yang masuk dari Saudi. Mereka menyebut dirinya sebagai Salafi, namun masyarakat secara umum lebih mengenal dengan nama Wahabbism, mengambil nama dari pencetusnya pada saat itu, Muhammad Ibn Abdul Wahhab. Bagi para pengikutnya, gerakan ini disebut sebagai satu gerakan ‘pemurnian akidah’ Islam.

Tak jarang, benturan pun terjadi dengan mereka yang juga mengatas namakan Islam namun telah lebih dahulu lebur dengan adat istiadat di Nusantara. Bagaimana cara ‘memurnikan akidah’ yang sayangnya dibawa oleh mayoritas salafi di Indonesia dengan cara yang tak elok. Sedikit dari mereka yang mampu berdialog dengan baik sementara yang umumnya terjadi notabene adalah sebuah terjemahan dari culture shock.

Bukan pemurnian akidah yang ingin dilakukan apabila mengunggulkan budaya Arab yang bahkan tidak perlu dipaksakan disini. Atau bahkan gemar mengkafirkan dan menyalahkan yang lain, demi ‘tujuan baik’. Tujuan baik dari mana? Dari perjanjian Ibn Saud dengan Ibn Wahhab pada saat itu? Saudi Arabia sendiri, bukanlah contoh Khilafah yang baik. Ia tak lebih dari sebuah Kerajaan Monarki yang memang bernuansa Islam. Namun bukan berarti wajah Islam tercermin di sana, terlebih apabila saat ini kita mengikuti politik Luar Negeri mereka.

Lebih menarik lagi apabila kita bisa membaca lebih dalam tentang Memoirs of Mr. Hempher. Sebuah memoar yang berisi pengakuan yang ditulis oleh seorang agen mata mata Inggris yang menyusup ke Turki pada awal 1700 an dan di dalam pengakuannya, turut ‘membidani’ Wahabbisme sebagai salah satu upaya untuk memecah belah Islam.

Mau bicara lebih jauh lagi tentang peran Inggris dalam upaya separatisme Islam, kita malah justru bisa belajar dari film yang diangkat dari kisah nyata seorang bernama T.E Lawrence atau film yang lebih dikenal dengan judul Lawrence Of Arabia.  Mark Curtis, seorang penulis dan bukunya Secret Affair – British Collision with Radical Islam menyebutkan secara gamblang dan rinci bagaimana perjalanan Kerajaan Inggris dalam menyokong gerakan Muhammad Ibn Wahhab dan Ibn Saud dan bahkan menyokong mereka untuk memantapkan jalan di Timur Tengah.

Hal tersebut terinspirasi dari laporan T.E Lawrence ( Lawrence of Arabia) yang bertajuk “The Reconstruction of Arabia” – tentang betapa pentingnya Inggris untuk segera menentukan sikap dan menyokong pemimpin dari Negara Arab yang akan membantu mereka melawan Kekaisaran Ottoman.

Bicara perpecahan dalam sejarah, kita dapat berkaca pada Perang Padri di Indonesia 1803-1838 .

Perang Saudara yang terjadi pada saat itu dipicu oleh gerakan pemurnian akidah dari para Padri terhadap kaum Adat. Bahkan sejarah mencatat, satu pahlawan Indonesia, Muhammad Shahab atau lebih dikenal dengan Tuanku Imam Bonjol. Beliau adalah seorang Ulama yang diangkat menjadi pimpinan perang dari kaum Padri. Namun Beliau juga menyesalkan tindakan Kaum Padri, dalam kekejaman dalam upaya ‘menegakkan syariah pada masa itu.

Adopun hukum Kitabullah banyak lah malampau dek ulah kito juo. Baa dek kalian? (Adapun banyak hukum Kitabullah yang sudah terlangkahi oleh kita. Bagaimana pikiran kalian?

Hal yang tertuang didalam catatan bernama Memoire Tuanku Imam Bonjol menjadi catatan penting akan pergerakan pemurnian akidah. Pada akhirnya, saudara sendiri jua yang diperangi.

Indonesia, pasca pemilihan Presiden yang lalu dan yang terakhir adalah pemilihan Gubernur DKI menjadi satu penanda. Di balik ancaman tumbuhnya bibit terorisme yang sedang menunggu kebangkitan, mereka yang sejatinya tak peduli dengan Islam namun memilih ‘menunggangi’ kaum Muslim di Indonesia demi jalur mengambil alih (kembali) kepemimpinan terlihat semakin terang benderang.

Bukan kebangkitan ummat Islam lah yang terlihat. Karena sejatinya kehadiran seorang muslim secara otomatis membawa kedamaian, dan pada saat ini, yang terlihat malah justru sebaliknya.

Umat, memilih untuk dibenturkan atas dasar solidaritas komunal. Memilih angka 7 juta jiwa sebagai ‘pertanda’ kebangkitan mereka. Namun tak sadar, bahwa ada lebih dari 300 juta jiwa di Indonesia ini yang menjadi saudara mereka yang 7 juta jiwa ini. Bagaimana mungkin hal ini merepresentasikan kebangkitan Islam di Indonesia?

Isu yang digoreng seperti tak berkesudahan. Seringkali, dimana-mana jargon “Jasmerah” atau Jangan Lupakan Sejarah bergaung kencang, namun bahkan melalui format yang sedikit lain, hal yang sebetulnya gamblang terlihat terang benderang pun tidak bisa dicermati dengan baik. Isyu tentang kebangkitan PKI? Sepertinya kita sudah lupa, atau akibat dari doktrin yang cukup lama dijejalkan siapakah yang mempopulerkan gerakan melawan PKI sendiri?

Dengan membenturkan rakyat dengan rakyat sendiri.

Bicara tentang strategi, apakah kita semua sudah lupa tentang sejarah bagaimana selama ini demokrasi tidak berjalan sebaik baiknya dan siapa sebetulnya ahli strategi yang bahkan bisa dengan cerdas dan tegas melalui kepanjangan tangan membungkam Indonesia pada saat itu? Sudah lupa?

Atau bicara tentang kekacauan yang diciptakan pada saat ini seperti refleksi akan strategi: datang, pecah konsentrasi massa dengan mengadu domba mereka, rangkul massa saat kekuatan sudah terbelah, dan ambil alih.

Kesimpulan pendek yang bisa diambil dari berbagai peristiwa di Tanah Air masih mengerucut di sana. Baik dari kerusuhan Ambon- Poso, kekacauan pemerintahan otopilot yang membenarkan ketidakadilan mayoritas dan minoritas. Korupsi berjamaah yang terus menerus masih saja dilakukan. Benturan dalam tanda kutip pemilihan Presiden dan yang terakhir Kepala Daerah. Dimana Daerah Khusus Ibukota adalah lahan strategis yang wajib dipertahankan. Apapun caranya, bagaimana pun cara melakukannya.

Saat seseorang gencar dan mengatakan Khilafah di Indonesia wajib diperjuangkan, tanpa sadar, justru kekuatan ini lah yang sedang ‘dipergunakan’ untuk peperangan yang sebetulnya. Dan peperangan itu bukanlah sebuah peperangan ideologi, pada akhirnya. Berkacalah pada satu sejarah panjang bagaimana Islam dimanfaatkan justru demi satu tujuan perpecahan.

Tahun 2019 nanti. Itu target awalnya. Baru awalnya, dan apabila kita tidak sama-sama berusaha untuk mencegah segala upaya memecah dan pengaburan sejarah, ini hanya awal dari satu rencana besar yang lebih tak menyenangkan lagi.

Dan Khilafah, hanyalah satu ‘kendaraan’ untuk menuju ke sana. Entah kita sudi untuk sadar atau tidak untuk giringan yang sebenarnya.

Sudah saatnya silent majority mendobrak tabu yang selama ini menjadi barrier bagi kebanyakan. Jangan takut dikatakan tidak beragama, apabila negara anda dan saudara saudara anda baik satu agama ataupun tidak menjadi taruhannya. Negara Kesatuan Republik Indonesia yang sejatinya wajib dijaga bersama-sama. Terlebih, apabila justru agama lah yang sejatinya dimanfaatkan oleh mereka yang sejatinya tak peduli dengan pasal halal atau haram sekalipun. Asal tujuan tercapai.

Kebodohan Adalah Musuh Utamaku

– Penerbit Toha Putra , Semarang.

Sumber : kompasiana

Siapa Saja Insan yang Bisa Menyebrangi Jembatan Shiratal Mustaqim?

20170513-Siapa yang Mampu Melewati Shiratal Mustaqim - 178Gambaran tentang jembatan Shiratal Mustaqim

عن النواس بن سمعان عن رسول الله صلى الله عليه وسلَّم قال ضَرَبَ اللهُ تعلى مَثَلاً صِرَاطاً مُسْتَقِيْمًا ، وَعَلَى جَنْبَتِي الصِّرَاطِ سُوْرَانِ ، فِيْهِمَا أَبْوَابٌ مُفَتَّحَةٌ ، وَعَلَى الأبْوَابِ سُتُوْرٌ مُرْخَاةٌ ، وَعَلَى بَابِ الصِّرَطِ دَاعٍ يَقُوْلُ: يَا أَيُّهَا النَّاسُ! ادْخُلُوا الصِّرَاطَ جَمِيْعًا وَلاَ تَتَعوَّجُوا ، وَدَاعٍ يَدْعُو مِنْ فَوْقِ الصِّرَاطِ ، فَإِذَا أَرَادَالإِنْسَانُ أَنْ يَفْتَحَ شَيْئًا مِنْ تِلْكَ الأبْوابِ قَالَ: وَحْيَك لاَ تَفْتَحْهُ ، فَإِنَّكَ إِنْ تَفْتَحْهُ تَلِجْهُ ، فَالصِّرَاطُ الإسْلاَمَ ، وَاسُّوْرَانِ حَدُوْدُ اللهِ تَعَلَى ، والأبْوابُ المفتَّحَةُ محارِمُ الله تعَالى ، وذَلِكَ الدَّاعِي عَلَى رَأْسِ الصِّرَاطِ كِتَابُ اللهِ ، وَالدَّاعِي مِنْ فَوْق وَاعِظُ اللهِ فِي قَلْبِ كُلِّ مُسْلِمٍ

Terjemahan:
Daripada Nawwas Bin Sam’aan daripada Rasulullah (sallallahualaihi wasalam) sabdanya: “Allah membuat perumpamaan tentang Shiratal Mustaqim bahwa pada dua sisinya (kiri dan kanan) ada dua pagar, dan pada kedua-dua pagar tersebut terdapat banyak pintu yang sedang terbuka, dan pada tiap-tiap pintu itu pula ada tabir yang menutupinya, dan di atas pintu masuk ke jalan yang lurus itu ada penyeru yang memanggil: Hai sekalian manusia, masuklah kamu semua ke dalam “Jalan Yang Lurus” ini dan janganlah menyimpang (melencong)!, dan ada pula penyeru yang berada daripada atas jalan itu yang jika manusia ingin membuka sedikit tabir penutup pintu itu, lalu ia berkata: Celaka engkau, janganlah engkau buka tabir itu!

Sebab jika engkau membukanya niscaya engkau akan terjerumus ke dalamnya. Jalan yang lurus itu adalah Islam dan dua pagar itu ialah batasan-batasan Allah (Hududullah), pintu-pintu yang terbuka itu larangan-larangan Allah dan penyeru yang memanggil dari pintu masuk ke jalan itu ialah Kitabullah (Al-Quran), dan penyeru yang berada di atas jalan itu pula ialah peringatan daripada Allah yang terdapat pada hati setiap muslim”. [Hadis Hasan Sahih Riwayat Imam Ahmad]

Mukaddimah:

Shiratal Mustaqim adalah titian atau jembatan yang mesti dilalui oleh setiap insan di alam akhirat nanti. Titian inilah yang menghubungi antara Mauqif (Padang Mahsyar) dengan Jannah (Syurga) dan di bawah titian terdapat Naar (Neraka). Keadaan orang yang meniti di atasnya dan kecepatannya tidak sama, ada yang seperti kerdipan mata, ada yang seperti kilat, ada yang seperti angin dan sebagainya. Dan ada pula yang terjatuh di tengah jalan dan langsung masuk neraka.

Keadaan manusia di atas Shiratal Mustaqim di alam sana akan sama betul dengan keadaan manusia ketika mereka berada di atas Shiratul Mustaqim di dunia ini. Kalau ketika di dunia ini perjalanan mereka tetap di atas jalan yang lurus dan tidak melencong ke kiri dan ke kanan, maka di akhirat nanti nasib mereka juga akan demikian, berjalan tegap di atasnya dan akhirnya sampai dengan selamat ke syurga yang dituju. Tetapi jika sebaliknya, maka mereka pasti akan tergelincir dan seterusnya masuk ke dalam neraka, Wal ‘Iyadzu Billah.

Dan untuk memudahkan kita memahami makna sebenarnya Shiratal Mustaqim itu, maka Rasulullah (sallallahu alaihi wasalam) telah membuat suatu perumpamaan atau tamsilan yang cukup cantik dan bagus sekali untuk kita jadikan sebagai bahan renungan kita semua. Semoga dengan mengambil i’tibar ataupun pengajaran daripadanya kita akan termasuk didalam golongan yang berjaya melintasi Shiratal Mustaqim di akhirat nanti, amin ya Rabbal ‘Aalamin.

Ringkasan tamsilan di atas ialah….

Shiratal Mustaqim ialah jalan lurus yang di kiri kanannya ada pagar, pada pagar terdapat banyak pintu yang terbuka, pintu-pintu tersebut hanya ditutup dengan tabir tipis, dan pada pangkal jalan yang lurus itu terdapat penyeru, dan di atas jalan juga ada penyeru. Jalan yang lurus itu adalah Islam, dan dua pagar adalah batasan-batasan ALLAH dan pintu-pintu yang terbuka itu adalah perkra-perkara yang diharamkan oleh ALLAH, dan penyeru di pangkal jalan adalah Al-Quran, dan penyeru di atas jalan pula adalah peringatan ALLAH yang ada pada setiap hati orang Islam.

Di Kiri Dan Kanannya Ada Pagar

Berdasarkan hadis di atas Rasulullah (sallallahu alaihi wasalam) menjelaskan bahwa dua pagar yang dimaksudkan pada kiri dan kanan jalan yang lurus itu ialah batasan-batasan Allah (Hududdallah). Umat Islam wajib menjaga batasan-batasan Allah dan mereka dilarang melampaui batasan-batasantersebut. Dan ini berbeda dengan orang kafir. Bagi mereka tidakada pantang larang, bagi mereka sama saja antara halal dan haram. Itulah sebabnya maka Rasulullah (sallallahu alaihi wasalam) bersabda:

“Dunia adalah penjara bagi orang-orang yang beriman dan syurga bagi orang-orang yang kafir” [HR Muslim]

Pada Pagar Terdapat Banyak Pintu Yang Terbuka Yang Hanya Ditutup Dengan Tabir Tipis

Nabi (sallallahu alaihi wasalam) menjelaskan dalam hadis bahwa pintu-pintu yang terbuka itu adalah perkara-perkara yang diharamkan Allah. Nabi (sallallahu alaihi wasalam) tidak mengatakan bahwa pintu itu tertutup. Ini menggambarkan betapa mudahnya manusia terjerumus ke dalam kancah maksiat. Kesempatan untuk melakukannya terbuka luas bagi orang yang mengingininya. Pintu itu juga digambarkan hanya ditutup dengan tabir yang tipis. Ini seolah-olah ingin menyatakan bahwa manusia tidak perlu bersusah-payah untuk membolehkan mereka terlibat dengan dosa dan maksiat. Kecuali orang yang mendapat perlindungan Allah SWT.

Penyeru Pada Pangkal Jalan Yang Lurus Itu Adalah Kitabullah.

Berdasarkan hadis di atas bahwa yang dimaksudkan dengan penyeru itu ialah Kitabullah, dia menyeru: Hai sekalian manusia,masuklah kamu semua ke dalam Jalan Yang Lurus, dan janganlah kamu melencong (menyeleweng).

Tujuan Al-Quran diturunkan oleh Allah SWT adalah sebagai pedoman bagi umat manusia, khususnya bagi orang-orang yangbertaqwa. Al-Quran menyeru kita agar menTauhidkan Allah dan mengikuti ajaran yang dibawa oleh Rasulullah (sallallahu alaihi wasalam). Jika kita turuti kehendak seruan tersebut, berarti kita telah berada dalam Islam yang sebenarnya dan itulah JalanYang Lurus.

Allah SWT berfirman:

“Inilah JalanKu yang lurus, maka ikutilah dia, dan jangan kamu ikuti jalan-jalan (yang lain), karena (jalan-jalan itu) mencerai-beraikan kamu daripada jalanNya”. (Al-An’aam :153)

Penyeru Atas Jalan Itu Adalah Peringatan Allah Yang Ada Dalam Hati Setiap Muslim.

Gerak-geri dan tingkah laku manusia sangat berkaitan rapat dengan hatinya. Akhlak adalah cermin hati. Jika hatinya baik maka biasanya akan baik pula akhlaknya. Demikian jugalah sebaliknya. Jadi dalam hati kecil setiap muslim yang berimansenantiasa ada perasaan bencikan maksiat atau dosa.

Oleh sebab itu setiap manusia yang ingin menyingkap tabir pintu maksiat dalam kehidupannya sehari-hari, niscaya hati nurani yang beriman kepada Allah akan segera berseru: Celaka engkau! Jangan engkau buka tabir itu, sebab jika engkau buka juga nanti engkau akan terjerumus ke dalamnya.

Mungkin inilah sebabnya mengapa “Zikrul Qalb” iaitu zikir hati adalah lebih afdhal daripada “Zikrul Lisan” yaitu zikir lidah. Hati yang senantiasa ingat akan hukum-hakam Allah, dan hati yang senantiasa yakin bahwa Allahmelihat apa saja yang dia lakukan, akan dapat menasehati dan memberi peringatan kepada anggotanya yang akan melakukan maksiat. Ini berbeda kalau zikirnya hanya terbatas pada zikir lisan saja tanpa diikuti oleh zikir hati.

Kesimpulan:

  1. Setiap muslim/muslimat memohon kepada Allah minima 17 kali dalam sehari agar mereka ditunjukkan ke Jalan Yang Lurus, “Ihdinash Shirathal Mustaqiim”. Ini menandakan bahwa Jalan Yang Lurus itu adalah sesuatu yang paling mustahak bagi umat manusia.
  2. Para Mufassiriin (Pakar Tafsir) berbeda pendapat tentang makna Shirathal Mustaqiim. Ada yang menafsirkannya dengan Islam, Al-Quran, Ahlus Sunnah Wal Jamaa’ah. Kesemua tafsiran itu adalah benar karena saling melengkapi.
  3. Rasulullah (sallallahu alaihi wasalam) menggambarkan dalam hadis di atas bahwa Jalan Yang Lurus itu adalah ISLAM. Dua pagar di kiri dan kanannya adalah batasan-batasan Allah. Pintu-pintu yang terbuka pada pagar adalah perkara yang diharamkan oleh Allah. Yang memanggil di permukaan jalan adalah Al-Quran, sedangkan yang memanggil dari atas jalan pula adalah suara hati muslim yang beriman kepada Allah.
  4. Jadi Shirathal Mustaqiim yang ada di atas muka bumi bukanlah titian atau jembatan yang terbentang, tetapi ia adalah ISLAM yang kandungan utamanya ialah himpunan suruhan dan larangan Allah sebagaimana yang termaktub dalam Al-Quran dan Sunnah Rasulullah (sallallahu alaihi wasalam).
  5. Keadaan manusia ketika melalui Shirathal Mustaqiim di akhirat nanti adalah sama betul dengan keadaan mereka ketika meniti Shirathal Mustaqim di dunia ini. Semakin kuat dan kokoh pegangan mereka dengan Islam, maka akan semakin lancarlah perjalanan mereka di sana nanti. Al-Jazaa Min Jinsil ‘Amal (Balasan sesuai dengan jenis amal).

Semoga bermanfaat……

Bacaan Wirid dan Dzikir setelah Sholat Fardhu/Sunah Lengkap

20170410-wirid dan dzikir setelah sholat fardhu

Dalam lafadz dzikir dan wirid setelah sholat, baik itu sholat wajib maupun shalat sunnah, bacaannya bermacam-macam. Seperti membaca Istighfar, membaca surat Al-Fatihah, Membaca Ayat Kursi, membaca takbir, tahlil dan masih banyak lagi.

Untuk lebih jelasnya, silakan langsung saja simak dan pelajari wirid dan dzikir sesudah sholat   dalam bahasa arab, tulisan latin dan artinya berikut ini :

Lafadz wirid dan dzikir sesudah sholat lengkap
Ilustrasi : Wirid dan Dzikir setelah/sesudah Shalat

(3x) أَسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ اَلَّذِي لآ إِلَهَ إِلَّا هُوَ اْلحَيُّ اْلقَيُّوْمُ وَأَتُوْبُ إِلَيْهِ

ASTAGHFIRULLOHAL_’ADZHIIM(A) AL-LADZII LAA ILAAHA ILLAA HUWAL KHAYYUL QOYYUUMU WA ATUUBU ILAIH(I). (Dibaca 3x)

  لاَ إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ اْلمُلْكُ وَلَهُ اْلحَمْدُ يُحْيِي وَيُمِيْتُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ

LA_ ILAHA ILLALLOHU WA’HDAHULA_ SYARIIKALAH(U), LAHULMULKU WALAHUL’HAMDU YU’HYII WAYUMIITU WAHUWA ‘ALA_KULLI SYAI’IN(g)QODIIR(u). (Dibaca 3x)

اَللَّهُمَّ أَنْتَ السَّلاَمُ وَمِنْكَ السَّلاَمُ وَإِلَيْكَ يَعُوْدُ السَّلاَمُ، فَحَيِّنَا رَبَّنَا بِالسَّلاَمُ وَأَدْخِلْنَا اْلجَنَّةَ دَارَ السَّلاَمِ تَبَارَكْتَ رَبَّنَا وَتَعَالَيْتَ يَا ذَاالْجَلاَلِ وَاْلإِكْرَامِ

ALLOHUMMA AN(g)TASSALA_MU WA MIN(g)KASSALA_MU WA ILAIKA YA’UWDUSSALA_M(u), FAKHAYYINA_ ROBBANA_ BI_SSALA_MU WA ADKHILNALJANNATA DA_ROSSALA_MI TABA_ROKTA ROBBANA_ WA TA’A_LAITA YA_DZA_LJALA_LI WAL IKRO_M(i)

أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ

A’UUDZU BI_LLAHIMINASY-SYAITHO_NIRROJIIM(i)

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

BISMILLAHIRRO’HMANIRRO’HIIM(i)

الْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ اْلعَالَمِيْنَ. الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ. مَالِكِ يَوْمِ الدِّيْنِ. إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُ. اهْدِنَا الصِّرَاطَ اْلمُسْتَقِيْمَ. صِرَاطَ الَّذِيْنَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ اْلمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلاَ الضَآلِّيْنَ. آمِيْنَ

AL’HAMDULILLAHIROBBIL’AaLAMIiN(i) – ARRO’HMANIRRO’HIM(i) – MALIKI YAWMIDDIiN(i) – IYYAKA NA’BUDU WA IYYAKA NASTA’IiN(u) – IHDINASH-SHIRO_THOLMUSTAQIiM(a) – SHIRO_THOLLADZIiNA AN’AMTA ‘ALAIHIM GHOIRILMAGH-DHUuBI ‘ALAIHIM WALA_DHO_LLIiN(a) – AaMIiN(a).

وَإِلهُكُمْ إِلهٌ وَاحِدٌ لآ إِلهَ إِلَّا هُوَالرَّحْمنُ الرَّحِيْمُ. اَللهُ لآاِلهَ اِلاَّ هُوَاْلحَيُّ اْلقَيُّوْمُ ج لاَتَأْخُذُه سِنَةٌ وَلاَنَوْمٌ ط لَهُ مَافِى السَّموَاتِ وَمَافِى اْلاَرْضِ قلى مَنْ ذَالَّذِيْ يَشْفَعُ عِنْدَه اِلاَّبِاِذْنِه ط يَعْلَمُ مَابَيْنَ اَيْدِيْهِمْ وَمَاخَلْفَهُمْ ج وَلاَيُحِيْطُوْنَ بِشَيْئٍ مِنْ عِلْمِه اِلاَّبِمَاشَآءَ ج وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّموَاتِ وَاْلاَرْضَ جوَلاَيَؤدُهُ حِفْظُهُمَا وَهُوَالْعَلِيُّ الْعَظِيْمُ 

WA ILAAHUKUM ILAAHUW WAA HIDU LAA ILAAHA ILLAA HUWAR ROHMAANUR ROHIIMU. ALLAAHU LAA ILAAHA ILLAA  HUWAL HAYYULQOYYUuM(u). LAA TA’KHUDZUHUU SINATUW WA LAA NAUUM. LAHUU MAA FISSAMAAWAATI WA MAA FIL ARDHI. MAN DZAL LADZII YASFA’U ‘INDAHUU ILLAA BI IDZNIHI. YA’LAMU MAA BAINA AIDIIHIM WA MAA KHALFAHUM. WA LAA YUHITHUUNA BI SYAI-IN MIN ‘ILMIHII ILLAA BI MAASYAA-A. WASI’A KURSIYYUHUSSAMAAWAATI WAL ARDHA. WA LAA YA-UDHUU HIFZHUHUMAA WAHUWAL ‘ALIYYUL AZHIIM

إِلَهَنَا رَبَّنَا أَنْتَ مَوْلاَنَا سُبْحَانَ اللهِ
سُبْحَانَ اللهِ

ILAHANA_ ROBBANA_ AN(g)TAMAULA_NA_ SUB’HANALLOH(i)
SUB’HANALLOH (Dibaca 33x)

سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ دَائِمًا أَبَدًا اَلْحَمْدُ ِللهِ 
 اَلْحَمْدُ ِللهِ

SUB’HA_NALLOHI WABI’HAMDIHI DA ‘IMAN ABADAN AL’HAMDULILLAH(i)
AL’HAMDULILLAH (Dibaca 33x)

اْلحَمْدُ ِللهِ عَلىَ كُلِّ حَالٍ وَفِي كُلِّ حَالٍ وَبِنِعْمَةِ يَا كَرِيْمُ
اللهُ أَكْبَرُ

AL’HAMDULILLAHI ‘ALA KULLI’HA_LINN WAFIiKULLI’HALIN WABINI’MATI YA_KARIiM(u)
ALLOHU AKBAR (Dibaca 33x)

اللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا وَاْلحَمْدُ ِللهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلاً، لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ اْلمُلْكُ وَلَهُ اْلحَمْدُ يُحْيِي وَيُمِيْتُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ. وَلاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ اْلعَلِيِّ اْلعَظِيْمِ

ALLOHU AKBAR(u) KABIiRON WAL’HAMDULILLAHI KATSIiRON WASUB’HA_NALLOHI BUKROTAN WA ASHIiLAN, LA_ILAHA ILLALLOHU WA’HDAHULA_SYARIiKALAH(u), LAHULMULKU WALAHUL’HAMDU YU’HYIi WAYUMIiTU WAHUWA ‘ALA_KULLI SYAi IN(g)QODIiR(u). WALA_’HAWLA WALA_QUWWATA ILLA_BI_LLAHIL ‘ALIYYIL’ADZHIiM(i).

أَسْتَغْفِرُ اللهَ اْلعَظِيْمَ (ثلاث مرات)، إِنَّ اللهَ غَفُوْرٌ رَحِيْمٌ

ASTAGHFIRULLOHAL_’ADZHIIM(A) (Dibaca 3x), INNALLOHA GHOFUURURO’HIIM(u)

أَفْضَلُ الذِّكْرِ فَاعْلَمْ أَنَّهُ

AFDHOLUDZ-DZIKRI FA_’LAM ANNAHU…

لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ

LA ILAHA ILLALLOH(u) (Dibaca 33x)

لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، كَلِمَةُ حَقٍّ عَلَيْهَا نَحْيَا وَعَلَيْهَا نَمُوْتُ وَبِهَا نُبْعَثُ إِنْ شَآءَ اللهُ مِنَ اْلآمِنِيْنَ

LA ILAHA ILLALLOHU MU’HAMMADUROSUULULLOHI SOLLALLOHU ‘ALAIHI WA SALLAM(a), KALIMATU’HAQQIN ‘ALAIHA_ NA’HYA_ WA ‘ALAIHA_ NAMUUTU WA BIHA_ NUB’A-TSU IN(g)SYA_ ‘ALLOHU MINAL AMINIIN(a).

Kemudian dilanjutkan dengan bacaan doa setelah sholat.

Perlu diketahui, setiap daerah mungkin berbeda-beda untuk bacaan wirid dan dzikirnya ketika selesai sholat. Bacaan diatas merupakan dzikir dan wirid yang singkat dan umum.

Bacaan Doa Setelah Sholat Wajib Lengkap Arab, Latin dan Artinya

20170410-doa setelah sholat lengkap

Pada dasarnya, bacaan doa setelah selesai sholat merupakan Kumpulan Doa-doa Islami Bahasa Arab yang digabungkan atau dibaca sesudah sholat. Misalnya, membaca doa memohon dijauhkan dari kejahatan, kemudian disusul/dilanjutkan dengan doa selamat dunia akhirat dan seterusnya.

Untuk lebih jelasnya, berikut langsung saja kami sajikan lafadz bacaan doa setelah sholat dalam bahasa arab, tulisan latin dan artinya lengkap yang secara umum diamalkan oleh masyarakat kita.

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ. اَلْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ. حَمْدًا يُوَافِىْ نِعَمَهُ وَيُكَافِئُ مَزِيْدَهُ. يَارَبَّنَالَكَ الْحَمْدُ وَلَكَ الشُّكْرُ كَمَا يَنْبَغِىْ لِجَلاَلِ وَجْهِكَ وَعَظِيْمِ سُلْطَانِكَ

BISMILLAAHIRRAHMAANIRRAHIIM. ALHAMDU LILLAAHI RABBIL ‘AALAMIIN. HAMDAY YU-WAAFII NI’AMAHUU WA YUKAAFI’U MAZIIDAH. YAA RABBANAA LAKALHAMDU WA LAKASY SYUKRU KA-MAA YAMBAGHIILIJALAALIWAJHIKA WA ‘AZHIIMISUL-THAANIK.

Artinya :
Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang. Segala puji bagi Allah Tuhan Semesta Alam. Pujian yang sebanding dengan nikmat-nikmatNya dan menjamin tambahannya. Wahai Tuhan kami, bagi-Mu-lah segala puji, dan bagi-Mu-lah segalah syukur, sebagaimana layak bagi keluhuran zat-Mu dan keagungan kekuasaan-Mu.

اَللهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ. صَلاَةً تُنْجِيْنَابِهَا مِنْ جَمِيْعِ اْلاَهْوَالِ وَاْلآفَاتِ. وَتَقْضِىْ لَنَابِهَا جَمِيْعَ الْحَاجَاتِ.وَتُطَهِّرُنَا بِهَا مِنْ جَمِيْعِ السَّيِّئَاتِ. وَتَرْفَعُنَابِهَا عِنْدَكَ اَعْلَى الدَّرَجَاتِ. وَتُبَلِّغُنَا بِهَا اَقْصَى الْغَيَاتِ مِنْ جَمِيْعِ الْخَيْرَاتِ فِى الْحَيَاةِ وَبَعْدَ الْمَمَاتِ اِنَّهُ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ وَيَاقَاضِىَ الْحَاجَاتِ.

ALLAAHUMMA SHALLIWASALLIM ‘ALAA SAYYIDINAA MUHAMMADIW WA ‘ALAA AALI SAYYIDINAA MUHAMMAD. SHALA ATAN TUN AJIHNAA BÍHAA MINJAMII’IL AHWAALI WAL AAFAAT. WA TAQDHII LANAA BIHAA JAMII’AL HAAJAAT. WA TUTHAHHIRUNAA BIHAA MIN JAMII’IS SAYYI’AAT. W ATARFA ‘ UN A A BIHAA ‘INDAKA ‘ A’LADDARAJAAT. WA TUBALLIGHUNAA BIHAA AQSHAL GHAAYAATI MIN JAMII’IL KHAIRAATIFIL HAYAATIWA BA’DAL MAMAAT. INNAHU SAMII’UN QARIIBUM MUJIIBUD DA’AWAAT WAYAA QAADHIYAL HAAJAAT.

Artinya :

Wahai Allah, limpahkanlah rahmat dan kesejahteraan kepada penghulu kami, Nabi Muhammad dan keluarganya, yaitu rahmat yang dapat menyelamatkan kami dari segala ketakutan dan penyakit, yang dapat memenuhi segala kebutuhan kami, yang dapat mensucikan diri kami dari segala keburukan, yang dapat mengangkat derajat kami ke derajat tertinggi di sisi-Mu, dan dapat menyampaikan kami kepada tujuan maksimal dari segala kebaikan, baik semasa hidup maupun sesudah mati. Sesunggunya Dia (Allah) Maha Mendengar, Maha Dekat, lagi Maha Memperkenankan segala doa dan permohonan. Wahai Dzat yang Maha Memenuhi segala kebutuhan Hamba-Nya.

اَللهُمَّ اِنَّا نَسْئَلُكَ سَلاَمَةً فِى الدِّيْنِ وَالدُّنْيَا وَاْلآخِرَةِ وَعَافِيَةً فِى الْجَسَدِ وَصِحَّةً فِى الْبَدَنِ وَزِيَادَةً فِى الْعِلْمِ وَبَرَكَةً فِى الرِّزْقِ وَتَوْبَةً قَبْلَ الْمَوْتِ وَرَحْمَةً عِنْدَ الْمَوْتِ وَمَغْفِرَةً بَعْدَ الْمَوْتِ. اَللهُمَّ هَوِّنْ عَلَيْنَا فِىْ سَكَرَاتِ الْمَوْتِ وَالنَّجَاةَ مِنَ النَّارِ وَالْعَفْوَ عِنْدَ الْحِسَابِ.

ALLAAHUMMA INNAA NAS’ALUKA SALAAMATAN FTDDIINI WADDUN-YAA WAL AAKHIRAH. WA ‘AAFIYA-TAN FIL JASADI WA SHIHHATAN FIL BADANI WA ZIYAADATAN FIL ‘ILMI WA BARAKATAN FIRRIZQI WA TAUB ATAN QABLAL MAUT WA RAHM ATAN ‘INDALMAUT WA MAGHFIRATAN BA’D AL MAUT. ALLAAHUMMA HAWWIN ‘ALAINAA FII SAKARAATIL MAUT WAN NAJAATA MINAN NAARI WAL ‘AFWA ‘INDAL HISAAB.

Artinya :
Wahai Allah! Sesungguhnya kami memohon kepadaMu, kesejahteraan dalam agama, dunia dan akhirat, keafiatan jasad, kesehatan badan, tambahan ilmu, keberkahan rezeki, taubat sebelum datang maut, rahmat pada saat datang maut, dan ampunan setelah datang maut. Wahai Allah! Permudahkanlah kami dalam menghadapi sakaratul maut, (Berilah kami) keselamatan dari api neraka, dan ampunan pada saat dilaksanakan hisab.

اَللهُمَّ اِنَّا نَعُوْذُبِكَ مِنَ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ وَالْبُخْلِ وَالْهَرَمِ وَعَذَابِ الْقَبْرِ

ALLAAHUMMA INNAA NA’UUDZU BIKA MINAL ‘AJZI WAL KASALI WAL BUKHLI WAL HARAMI WA ‘ADZAABIL QABRI.

Artinya :
Wahai Allah! Sesungguhnya kami berlindung kepadaMu dari sifat lemah, malas, kikir, pikun dan dari azab kubur

اَللهُمَّ اِنَّا نَعُوْذُبِكَ مِنْ عِلْمٍ لاَيَنْفَعُ وَمِنْ قَلْبٍ لاَيَخْشَعُ وَمِنْ نَفْسٍ لاَتَشْبَعُ وَمِنْ دَعْوَةٍ لاَيُسْتَجَابُ لَهَا.

ALLAAHUMMAINNAA NA’UUDZU BIKA MIN ‘ILMIN LAA YANFA’ W AMIN QALBIN LAA YAKHSYA’ W AMIN NAFSIN LAA TASYBA’ WAMIN DA’WATIN LAA YUSTAJAABU LAHAA.

Artinya :
Wahai Allah! Sesungguhnya kami berlindung kepadaMu dari ilmu yang tidak bermanfaat, dari hati yang tidak khusyu’, dari jiwa yang tidak kenal puas, dan dari doa yanag tak terkabul.

رَبَّنَااغْفِرْلَنَا ذُنُوْبَنَا وَلِوَالِدِيْنَا وَلِمَشَايِخِنَا وَلِمُعَلِّمِيْنَا وَلِمَنْ لَهُ حَقٌّ عَلَيْنَا وَلِمَنْ اَحَبَّ وَاَحْسَنَ اِلَيْنَا وَلِكَافَّةِ الْمُسْلِمِيْنَ اَجْمَعِيْنَ

RABBANAGH FIRLANAA DZUNUUBANAA WA LIWAA-LIDIINAA WALIMASYAAYIKHINAA WA LIMU’ALLI-MIENAA WA LIMAN LAHUU H AQQUN’ ALAIN AA WA LIM AN AHABBA WA AHSANA ILAINAA WA LIKAAFFATIL MUS LIMUN A AJMA’IIN.

Artinya :
Wahai Tuhan Kami, ampunilah dosa-dosa kami, dosa-dosa orang tua kami, para sesepuh kami, para guru kami, orang-orang yang mempunyai hak atas kami, orang-orang yang cinta dan berbuat baik kepada kami, dan seluruh umat islam

رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا اِنَّكَ اَنْتَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ وَتُبْ عَلَيْنَا اِنَّكَ اَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ

RABBANAA TAQABBAL MINNAA INNAKA ANTAS SAMII’UL ‘ALIIM, WA TUB ‘ALAINAA INNAKA ANTAT TA WWA ABUR RAHIIM.

Artinya :
Wahai Tuhan kami, perkenankanlah (permohonan) dari kami, sesungguhnya Engkau Maha Mendengar Lagi Maha Mengetahui. Dan terimalah taubat kami, sesungguhnya Engkau Maha Menerima Taubat lagi Maha Penyayang.

رَبَّنَا أَتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

RABBANAA AATINAA FIDDUNNYAA HASANAH, WA FIL AAKHIRATI HASANAH, WAQINAA ‘ADZAA BAN NAAR.

Artinya :
Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan hidup di dunia dan kebaikan hidup di akhirat, dan jagalah kami dari siksa api neraka.

وَصَلَّى اللهُ عَلى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ وَالْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

WASHALLALLAAHU ‘ALAA SAYYIDINAA MUHAMMA-DIN WA’ALAA AALIHIWA SHAHBIHIIWA SALLAM, WAL HAMDU LILLAAHIRABBIL ‘AALAMIIN.

Artinya :
Semoga Allah memberikan rahmat dan kesejahteraan kepada penghulu kami, Nabi Muhammad, keluarga dan sahabatnya dan segala puji bagi Allah, Tuhan Semesta Alam

Video Bacaan Doa Setelah Sholat

Itulah doa sesudah selesai sholat fardhu atau sunnah bahasa arab lengkap. Anda dapat menambahkan lagi doa-doa lainnya, misalnya Bacaan Doa Khusnul Khotimah atau doa-doa yang lainnya. Semoga bermanfaat.

OPINI: Apa Arti Kafir?

20170402-Masdar_F_Mas_udiKafir adalah istilah keagamaan (Islam) dalam bahasa Arab, yang secara harfiah berarti “(orang) yang menutup diri”. Bentuk noun-nya adalah “kufur” yang berarti “penyangkalan atau pengingkaran”. Secara istilah (terminologis), “Kafir”  berarti “orang yang menutup atau  menyangkal atau mengingkari “Kebenaran” (dengan K besar yang berarti Tuhan), sekaligus menutupi atau mengingkari bukti-bukti tentang adanya Kebenaran Tuhan.

Inilah karena dalam keyakinan umat beragama, semua agama,  tidak ada kebenaran yang lebih mutlak, absolut dan tidak terbantahkan selain “Tuhan” itu sendiri. Bagi umat beragama, Tuhan diyakini bukan hanya sebagai Kebenaran, tapi sekaligus sumber dan rujukan dari semua “kebenaran”.  Karena itu lazim dikatakan bahwa penyangkal Kebenaran (dengan K besar yang berarti Tuhan), disebut si Kafir, si Penyangkal.

Dalam perkembangan sejarahnya,  istilah “Kafir” dapat dibedakan menjadi dua tingkatan: kafir mutlak/ absolut dan kafir nisbi/ relatif. Kafir absolut adalah orang yang sama sekali tidak percaya pada adanya “Tuhan” sebagai Pencipta segala yang ada, sekaligus sebagai yang maha mengatur jagat raya  dan seisinya. Bagi mereka, alam dan jagat seisinya, termasuk dirinya sendiri, menjadi ada bukan karena (diciptakan) Tuhan, melainkan meng”ada” dengan dirinya sendiri, atau mengada secara alami. Dalam istilah filsafat, orang yang seperti ini dikenal dengan sebutan “atheist”, orang yang menyangkal adanya Tuhan.

Di samping Kafir absolut (atheis) ada yang disebut  “Kafir Relatif/ Nisbi”. Yakni orang yang percaya kepada Tuhan sebagai Pencipta alam semesta, tapi dengan konsep “ketuhanan dan keagamaan” yang berbeda antara yang dianut oleh satu agama dengan kelompok agama yang lain. Tuhan, sebagaimana dikonsepsikan dan diyakini umat agama A, bisa  berbeda dengan Tuhan yang diyakini oleh umat penganut agama B, C, D dan seterusnya. Bahkan boleh jadi dalam satu rumpun umat agama yang sama, katakanlah agama A, bisa muncul konsep yang lebih detail perihal Tuhan yang berbeda-beda.

Karena itu bisa dikatakan bahwa dilihat dari konsep ketuhanan yang diimani umat lain semua orang adalah kafir.  Kekafiran seperti ini terkait dengan keyakinan pada satu doktrin ketuhanan tertentu yang diajarkan oleh agama tertentu. Atribut ke-kafir-an yang bersifat nisbi ini tertuju atau terlabelkan bukan pada orang yang sama sekali tidak percaya adanya Tuhan alias Atheis, melainkan terhadap orang atau komunitas yang tidak percaya kepada Tuhan yang dikonsepsikan dan diimani oleh penganut agama atau keyakinan yang berbeda.

Sebagaimana kita ketahui, semua agama bertumpu pada doktrin keimanan primer terhadap Tuhan. Bukan agama kalau tidak mendoktrinkan keimanan adanya Tuhan. Meskipun demikian harus diakui  bahwa konsep Tuhan yang dirumuskan dan diyakini oleh masing-masing agama bisa berbeda antara yang satu dengan yang lain. Bahkan umat satu agama dengan mazhab atau aliran yang berbeda pun bisa memiliki konsep atau citra Tuhan yang berbeda pula.

Kenapa begitu? Sederhana saja jawabannya. Karena meskipun semua agama percaya pada Tuhan, dan mendoktrinkan umatnya untuk berserah diri kepada-Nya, tidak ada satu pun di antara mereka yang pernah bertemu, melihat sendiri secara kasat mata,  dan berkomunikasi langsung dengan “Sosok” yang diklaim sebgai Tuhan itu. Toh mereka tetap percaya; itulah yang disebut  “iman”; suatu “keberanian” luar biasa untuk mempercayai sekaligus mempertaruhkan “hidup” pada “Sosok” yang sama sekali belum dan tidak pernah dilihat dan disaksikan dengan mata kepala sendiri.

Maka bisa dimengerti, jika dikatakan  bahwa iman adalah “hidayah” atau “bimbingan” Tuhan  kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya. Jika saja iman kepada Tuhan sepenuhnya merupakan hasil pencarian manusia dengan akal-budi atau nalarnya, niscaya hanya para filsuf sajalah yang bisa menjadi manusia beriman. Nyatanya tidak. Bahkan tidak sedikit filosof yang secara aktif mendakwahkan kekufuran atau penyangkalan kepada Tuhan, alias atheis. Iman adalah “anugerah” bimbingan dan uluran tangan Tuhan kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya. Pemikir atau filosof ulung pun, jika tidak karena hidayah-Nya, niscaya akan tetap dalam penyangkalan (kekafiran) terhadap-Nya.

Memang sebagian orang, yang jumlahnya cukup banyak, besar kemungkinan menjadi beriman lebih karena  keturunan, karena pengaruh lingkungan keluarga atau masyarakat sekitarnya. Itulah modal awal yang sangat berharga. Tapi tanpa refleksi yang lebih mendalam terhadap “keimanan” yang terberikan lewat lingkungan primernya, keimanan seperti itu akan mudah tergerus oleh pengaruh sekitar yang menafikannya. Keimanan seperti itu akan mudah goyang bahkan runtuh oleh ujian-ujian kehidupan sesaat.

Di sinilah letak urgensi dari  aktivitas ritual berjamaah bersama komunitas seiman yang lazim dilakukan dalam tempat-tempat ibadah (masjid, gereja, vihara dsb) di bawah bimbingan para imam (tokoh-tokoh agama) lokal masing-masing. Khutbah para imam di sini memegang peranan penting untuk memelihara dan meneguhkan keimanan komunitas iman masing-masing. Tidak mudah dihindarkan karena adanya khutbah-khutbah pemupukan keimanan dalam bingkai fanatisme yang acapkali menyangkal atau merendahkan konsep keimanan pihak lain.

Di sinilah perlunya forum para pemimpin umat beragama sebagai kepala-kepala ‘suku’, untuk memupuk toleransi antar komunitas beriman/ beragama, minimal untuk menghindari konflik sesama; syukur-syukur bisa mendorong kerja sama bagi kemajuan sebangsa. Bagi bangsa Indonesia yang luar biasa plural, baik dalam keyakinan maupun etnik dan orientasi politiknya, dialog antar iman ini sangatlah dibutuhkan.

Kebinekaan bangsa Indonesia adalah kodrat, yang jika kita bisa rawat dan syukuri  akan menjadi anugerah yang sangat indah. Sebaliknya jika gagal merawatnya, bahkan kita ingkari dan kufuri, maka seketika kebinekaan itu akan berbalik menjadi musibah dan kutukan yang menghancurkan segalanya. Semua itu tergantung kita sendiri, terutama para pemimpin agama, untuk membuktikan bahwa agama itu rahmat, bukan laknat!

Sumber: news.liputan6

By arifuddinali Posted in Artikel Dengan kaitkata

Inilah Zaman yang Paling Ditakuti Nabi Muhammad SAW

20170225-kiamatUntuk renungan bersama mengenai keadaan akhir zaman dan petanda kiamat
 
Orang Yang Tak Sedarkan Diri
Daripada Abu Hurairah r.a. Bahawasanya Rasulullah SAW bersabda “Jika ada seseorang berkata, ramai orang telah rosak, maka orang yang berkata itu sendiri yang paling rosak di antara mereka” (HR Muslim)
 
Ahli Ibadat Yang Jahil Dan Ulama Yang Fasik
Daripada Anas r.a. Beliau berkata, bersabda Rasulullah SAW “Akan ada pada akhir zaman ahli ibadat yang jahil dan ulama yang fasik ” (HR Ibnu Ady)
[Orang jahil yang rajin beribadat dan ada pula orang alim yang fasik
Menjual Agama Kerana Dunia
Daripada Abu Hurairah r.a. Beliau berkata, Rasulullah SAW bersabda “Akan keluar pada akhir zaman orang-orang yang mencari keuntungan dunia dengan menjual agama. Mereka berpakaian di hadapan orang lain dengan pakaian yang dibuat daripada kulit kambing (berpura-pura zuhud dari dunia) untuk mendapat simpati orang ramai, dan perkataan mereka lebih manis daripada gula. Padahal hati mereka adalah hati serigala. Allah SWT berfirman kepada mereka “Apakah kamu tertipu dengan kelembutanKu? Ataukah kamu terlalu berani berbohong kepadaKu? Demi kebesaranKu, Aku bersumpah akan menurunkan suatu fitnah yang akan terjadi di kalangan mereka sendiri, sehingga orang yang alim (cendekiawan) pun akan menjadi bingung” (HR Tirmizi)
 
Pendusta dan Pengkhianat
Daripada Abu Hurairah r.a. Beliau berkata, Rasulullah SAW bersabda “Akan datang kepada manusia tahun-tahun yang penuh dengan tipuan. Pada waktu itu si pendusta dikatakan benar dan orang yang benar dikatakan dusta. Pengkhianat akan disuruh memegang amanah dan orang yang amanah dikatakan pengkhianat. Dan yang berkesempatan berbicara (cuba membetulkan) hanyalah golongan “Ruwaibidhah”. Sahabat bertanya “Apakah Ruwaibidhah itu wahai Rasulullah?” Nabi SAW menjawab “Orang kerdil, hina, dan tidak mengetahui bagaimana hendak mengurus orang yang ramai” (HR Ibnu Majah)
 
Kefasikan Berleluasa
Daripada Abu Hurairah r.a, bahawasanya Rasulullah SAW bersabda “Bersegeralah kamu beramal sebelum menemui fitnah (ujian berat) seumpama malam yang sangat gelap. Seseorang yang masih beriman pada waktu pagi, kemudian pada waktu petang dia sudah menjadi kafir, atau seseorang yang masih beriman pada waktu petang, kemudian pada keesokan harinya dia sudah menjadi kafir. Dia telah menjual agamanya dengan sedikit harta benda dunia” (HR Muslim)
Penindasan Terhadap Umat Islam
Daripada Tsauban r.a. Beliau berkata, Rasulullah SAW bersabda “Hampir tiba suatu zaman di mana bangsa-bangsa dari seluruh dunia akan datang mengerumuni kamu bagaikan orang-orang yang kelaparan mengerumuni bekas hidangan mereka” Maka salah seorang sahabat bertanya “Apakah kerana kami sedikit pada hari itu?” Nabi SAW menjawab “Bahkan kamu pada hari itu terlalu ramai, tetapi kamu umpama buih pada masa banjir, dan Allah akan mencabut rasa gentar terhadap kamu daripada hati musuh-musuh kamu, dan Allah akan melemparkan ke dalam hati kamu penyakit ‘wahan’. Seorang sahabat bertanya “Apakah ‘wahan’ itu, wahai Rasulullah?” Rasulullah menjawab “Cinta dunia dan takut mati” (HR Abu Daud)
 
Namanya Saja Islam
Daripada Ali bin Abi Thalib r.a. Beliau berkata, telah bersabda Rasulullah SAW “Telah hampir tiba suatu zaman, di mana tidak ada lagi dari Islam kecuali hanya namanya, dan tidak ada lagi dari Al-Quran kecuali hanya tulisannya. Masjid-masjid mereka indah, tetapi kosong daripada hidayah. Ulama mereka adalah sejahat-jahat makhluk yang ada di bawah langit. Daripada merekalah keluar fitnah, dan kepada mereka jua fitnah itu akan kembali ” (HR Al-Baihaqi)
Budaya Barat Ikutan Umat Islam Kini
Daripada Abu Sa’id Al-Khudri r.a. Beliau berkata, bahawasanya Rasulullah SAW bersabda “Kamu akan mengikut jejak langkah umat-umat sebelum kamu, sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta, sehingga jikalau mereka masuk ke lubang biawak sekalipun kamu akan mengikut mereka” Sahabat bertanya “Ya Rasulullah! Apakah Yahudi dan Nasrani yang Tuan maksudkan?” Nabi SAW menjawab “Siapa lagi?” (HR Muslim)
Ulama Tidak Dipedulikan
Daripada Sahl bin Saad as-Sa ‘idi r.a. Beliau berkata, Rasulullah SAW bersabda “Ya Allah! Janganlah Engkau menemukan aku dan mudah-mudahan kamu juga tidak bertemu dengan suatu zaman di mana para ulama sudah tidak diikuti lagi, dan orang yang penyantun sudah tidak dihiraukan lagi. Hati mereka seperti hati orang Ajam, lidah mereka seperti lidah orang Arab” (HR Ahmad)
Ulama Agama Semakin Berkurang
Daripada Abdullah bin Amr bin ‘Ash r.a. Beliau berkata, aku mendengar Rasulullah SAW bersabda “Bahawasanya Allah SWT tidak akan mencabut (menghilangkan) ilmu dengan sekali gus daripada manusia. Tetapi Allah SWT menghilangkan ilmu agama dengan mematikan para ulama. Apabila telah ditiadakan para ulama, orang banyak akan memilih orang-orang jahil sebagai pemimpinnya. Apabila pemimpin yang jahil itu ditanyakan, mereka akan berfatwa tanpa ilmu pengetahuan. Mereka sesat dan menyesatkan orang lain” (HR Muslim)
Golongan Anti Hadis
Daripada Miqdam bin Ma’dikariba r.a. Beliau berkata, bahawasanya Rasulullah SAW bersabda “Hampir tiba suatu zaman di mana seorang lelaki yang sedang duduk bersandar di atas kursi kemegahannya, lalu disampaikan kepadanya sebuah hadis dari hadisku maka dia berkata “Pegangan kami dan kamu hanyalah kitab Allah sahaja. Apa yang dihalalkan oleh Al-Quran kami halalkan. Dan apa yang ia haramkan kami haramkan” (Kemudian Nabi SAW melanjutkan sabdanya) “Padahal apa yang diharamkan Rasulullah SAW itu samalah hukumnya dengan apa yang diharamkan Allah SWT” (HR Abu Daud dan Ibnu Majah)
Berbangga-dangga Dengan Masjid
Dari Anas bin Malik r.a. Bahawasanya Rasulullah SAW bersabda “Tidak terjadi hari Kiamat sehingga umatku bermegah-megah dengan bangunan masjid” (HR Abu Daud)
 
Tak Ada Imam Untuk Sholat Berjemaah
Daripada Salamah binti al-Hurr r.a. Beliau berkata, aku mendengar Rasulullah SAW bersabda “Akan datang suatu zaman, pada waktu itu orang banyak berdiri tegak beberapa lama, kerana mereka tidak mendapatkan orang yang dapat mengimami mereka solat” (HR Ibnu Majah)
Penyakit Umat Islam Masa Kini
Daripada Abu Hurairah r.a. Katanya, aku mendengar Rasulullah SAW bersabda “Umatku akan ditimpa penyakit -penyakit yang pernah menimpa umat-umat terdahulu” Sahabat bertanya “Apakah penyakit-penyakit umat-umat terdahulu itu?” Nabi SAW menjawab “Penyakit-penyakit itu adalah, 1.Terlalu sombong, 2.Terlalu mewah, 3.Mengumpulkan harta sebanyak mungkin, 4.Tipu menipu dalam merebut harta benda dunia, 5.Saling memarahi, 6.Dengki-mendengki sehingga menjadi zalim menzalimi” (HR Hakim)
Perangkap Riba
Daripada Abu Hurairah r.a. Beliau berkata, Rasulullah SAW bersabda “Akan tiba suatu zaman, tidak ada seorang pun kecuali dia terlibat dalam memakan harta riba. Kalau dia tidak memakannya secara langsung, dia akan terkena debunya” (HR Ibnu Majah)
 
Manusia Tak Peduli Mengenai Sumber Pendapatannya
Daripada Abu Hurairah r.a. Beliau berkata, bersabda Rasulullah saw, “Akan datang suatu zaman seseorang tidak mempedulikan daripada mana dia mendapatkan harta, apakah dari sumber yang halal atau pun haram” (Riwayat Muslim)
Banyaknya Sumber Galian
Daripada Ibnu Omar r.a. Beliau berkata “Pada suatu masa dibawa ke hadapan Rasulullah SAW sepotong emas. Dan emas itu adalah emas zakat yang pertama sekali dikutip. Emas itu telah dibawa oleh Bani Sulaim dari lombong (galian) mereka. Maka sahabat berkata “Wahai Rasulullah! Emas ini adalah hasil galian kita” Lalu Nabi SAW menjawab “Nanti kamu akan dapati banyak galian-galian, dan yang akan menguruskannya adalah orang-orang yang jahat ” (HR Baihaqi)
Khamar
Daripada Abu Malik Al-Asy’ari r.a. Katanya Rasulullah SAW bersabda “Sesungguhnya akan ada sebahagian dari umatku yang meminum khamar dan mereka menamakannya dengan nama yang lain. Sambil diiringi dengan alunan muzik dan suara biduanita. Allah SWT akan menenggelamkan mereka ke dalam bumi dan Allah SWT akan mengubah mereka menjadi kera atau babi” (HR Ibnu Majah)
 
Banyaknya Perzinaan
Dari Anas r.a. Beliau berkata “Aku akan menceritakan kepada kamu sebuah Hadis yang tidak ada orang lain yang akan menceritakannya setelah aku. Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda “Di antara tanda kiamat ialah sedikit ilmu, banyak kejahilan, banyak perzinaan, banyak kaum perempuan dan sedikit kaum lelaki, sehingga nanti seorang lelaki akan mengurus lima puluh orang perempuan” (HR Bukhari Muslim)
Berpakaian Tetapi Telanjang
Daripada Abu Hurairah r.a. Beliau berkata, Rasulullah SAW bersabda ”Ada dua golongan yang akan menjadi penghuni Neraka, keduanya belum pernah aku melihat mereka. Pertama, golongan (penguasa) yang mempunyai cambuk bagaikan ekor sapi yang digunakan untuk memukul orang. Kedua, perempuan yang berpakaian tetapi telanjang, lenggang-lenggok sewaktu berjalan, mengayun-ayunkan bahu. Kepala mereka bagaikan bonggol (belakang unta). Kedua golongan ini tidak akan masuk syurga, malah tidak akan dapat mencium bau harumnya. Sesungguhnya keharuman syurga itu akan terhidu dari jarak perjalanan yang sangat jauh (HR Muslim)
Perilaku Manusia Masa Kini
Dari Aisyah r.a. Dia berkata “Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda “Tidak akan terjadi hari kiamat sehingga seorang anak menjadi sebab kemarahan (bagi ibu bapanya), hujan akan menjadi panas, akan bertambah banyak orang yang tercela dan akan berkurang orang yang baik, anak-anak menjadi berani melawan orang tua, dan orang yang jahat berani melawan orang-orang baik” (HR Thabrani)
 
Anak Menjadi Tuan Kepada Ibunya
Daripada Umar bin al-Khattab r.a. (dalam sebuah hadis yang panjang), …kemudian Jibrail bertanya kepada Rasulullah SAW ” Maka khabarkan kepadaku tentang hari kiamat?” Lalu Nabi SAW menjawab, “Orang yang ditanya tidak lebih mengetahui daripada orang yang bertanya” Maka Jibrail berkata “Kalau begitu cuba khabarkan kepadaku tanda-tandanya” maka Nabi SAW menjawab “Bahawa hamba akan melahirkan tuannya dan engkau melihat orang berjalan tanpa kasut dan orang yang bertelanjang lagi miskin yang hanya menggembala kambing itu berlumba-lumba untuk membuat binaan” (Riwayat Muslim)
 
Peperangan Demi Peperangan
Daripada Abu Hurairah r.a, katanya Rasulullah SAW bersabda “Hari kiamat tidak akan terjadi sehingga harta benda melimpah ruah dan timbul banyak fitnah dan sering terjadi “al-Harj”. Sahabat bertanya “Apakah al-Harj itu wahai Rasulullah?” Nabi SAW menjawab “Peperangan, peperangan, peperangan” Beliau mengucapkannya tiga kali. (HR Ibnu Majah)
 
Perang Di Sekitar Sungai Furat (Iraq) Kerana Berebut Kekayaan
Daripada Abu Hurairah r.a, bahawasanya Rasulullah SAW bersabda “Tidak terjadi hari kiamat sehingga Sungai Furat (Sungai Euphrates, Iraq) menjadi surut airnya sehingga kelihatan sebuah gunung dari emas. Banyak orang yang terbunuh kerana merebutnya. Maka terbunuhlah sembilan puluh sembilan daripada seratus orang yang berperang. Dan masing-masing yang terlibat berkata “Mudah-mudahan akulah orang yang selamat itu” Di dalam riwayat lain disebutkan “Sudah dekat suatu masa di mana Sungai Furat akan menjadi surut airnya lalu kelihatan perbendaharaan dari emas, maka siapa sahaja yang hadir di situ janganlah dia mengambil sesuatu pun dari harta tersebut” (HR Bukhari Muslim)
[Terdapat sebahagian pihak yang menyatakan bahawa perkataan emas di dalam Hadis ini sebenarnya petroleum ]
 
Waktu Terasa Pendek
Daripada Anas bin Malik r.a. Beliau berkata, Rasulullah SAW bersabda “Tidak akan terjadi kiamat sehingga waktu terasa pendek, maka setahun dirasakan seperti sebulan, sebulan dirasakan seperti seminggu, seminggu dirasakan seperti sehari, sehari dirasakan seperti satu jam dan satu jam dirasakan seperti satu kilatan api” (HR Tirmizi)
 
Hilangnya Sifat Amanah
Daripada Huzaifah bin Al-Yaman r.a. Katanya, …”Kemudian jadilah orang ramai berjual beli, maka hampir sahaja tiada seorang pun yang suka menunaikan amanah, sehingga dikatakan orang bahawasanya di kalangan Bani Fulan (di kampung yang tertentu) itu ada seorang yang sangat baik memegang amanah, sangat terpercaya dan orang ramai mengatakan “Alangkah tekunnya dia dalam bekerja, alangkah indahnya pekerjaannya, alangkah cerdik otaknya. Padahal di dalam hatinya sudah tiada lagi keimanan sekali pun hanya seberat timbangan biji sawi.” (HR Bukhari & Muslim)
Islam Akan Pudar Secara Perlahan-lahan
Daripada Huzaifah bin al-Yaman r.a. Beliau berkata, Rasulullah SAW bersabda “Islam akan lenyap seperti hilangnya corak pada pakaian, sehingga orang tidak mengerti apakah yang dimaksudkan dengan puasa, apakah yang dimaksudkan dengan solat, apakah yang dimaksudkan dengan nusuk (ibadah), dan apakah yang dimaksudkan dengan sedekah. Al-Quran akan hilang semuanya pada suatu malam sahaja, maka tidak ada yang tertinggal di permukaan bumi ini darinya walaupun hanya satu ayat. Sesungguhnya yang ada hanya beberapa kelompok manusia, di antaranya orang tua, lelaki dan perempuan. Mereka hanya dapat berkata, Kami sempat menemui nenek moyang kami mengucapkan kalimat LAILAHAILLALLAH, lalu kami pun mengucapkannya juga” (HR Ibnu Majah)
Bilakah Akan Terjadi Kehancuran?
Daripada Abu Hurairah r.a. Beliau berkata “Pada suatu hari ketika Nabi SAW sedang berada dalam suatu majlis dan berbicara dengan orang yang hadir, tiba-tiba datang seorang A’rabi (Arab Badwi) lalu dia bertanya kepada Rasulullah SAW “Bilakah akan terjadi hari Kiamat?” Nabi SAW terus saja berbicara. Sebahagian yang hadir berkata “Beliau (Nabi SAW) mendengar apa yang ditanyakan, tetapi pertanyaan itu tidak disenanginya” Sementara yang lain berkata “Sesungguhnya beliau tidak mendengar pertanyaan itu” Sehingga apabila Nabi SAW selesai berbicara, beliau bersabda “Di mana orang yang bertanyakan mengenai hari Kiamat tadi?” Lalu Arab Badwi itu menyahut “Ya! Saya wahai Rasulullah” Maka Nabi SAW bersabda “Apabila amanah telah disia-siakan maka tunggulah hari Kiamat” Arab Badwi itu bertanya pula, “Apa yang dimaksudkan dengan mensia-siakan amanah itu?” Nabi SAW menjawab “Apabila urusan diserahkan kepada yang bukan ahlinya, maka tunggulah kedatangan hari Kiamat” (HR Bukhari)
Kebinasaan Umat Islam
Daripada Ummul Mukminin , Zainab binti Jahsy (isteri Rasulullah SAW), beliau berkata,”(Pada suatu hari) Rasulullah SAW masuk ke dalam rumahnya dengan keadaan cemas sambil bersabda, LAILAHAILLALLAH, celaka (binasa) bagi bangsa Arab dari kejahatan (malapetaka) yang sudah hampir menimpa mereka. Pada hari ini telah terbuka dari dinding Yakjud dan Makjud seperti ini”, dan Baginda menemukan ujung jari dan ujung jari yang sebelahnya (jari telunjuk) yang dengan itu mengisyaratkan seperti bulatan. Saya (Zainab binti Jahsy) lalu bertanya “Ya Rasulullah! Apakah kami akan binasa sedangkan di kalangan kami masih ada orang-orang yang soleh?” Lalu Nabi SAW bersabda “Ya, jikalau kejahatan sudah terlalu banyak” (Riwayat Bukhari & Muslim)
Puncak Kebinasaan Seseorang
Dari Abu Hurairah r.a. Beliau berkata, Rasulullah SAW bersabda “Akan datang suatu zaman di mana orang yang beriman tidak akan dapat menyelamatkan imannya, kecuali apabila dia lari membawanya dari puncak bukit ke puncak bukit yang lain, dan dari suatu gua ke gua yang lain. Maka apabila zaman itu telah tiba, segala sumber pendapatan tidak dapat diperoleh kecuali dengan melaksanakan sesuatu yang menyebabkan kemurkaan Allah SWT. Apabila ini telah terjadi, maka kebinasaan seseorang adalah disebabkan memenuhi kehendak isteri dan anak-anaknya. Kalau dia tidak mempunyai isteri dan anak, maka kebinasaannya disebabkan memenuhi kehendak kedua ibu bapanya. Dan jikalau ibu bapanya sudah tidak ada lagi, maka kebinasaannya disebabkan mengikuti kehendak keluarganya atau disebabkan mengikuti kehendak jiran tetangganya” Sahabat bertanya “Wahai Rasulullah SAW, apakah maksud perkataan engkau itu?” Nabi SAW menjawab “Mereka akan menghinanya dengan kesempitan hidupnya. Maka ketika itu sesungguhnya dia telah menceburkan dirinya ke jurang-jurang kebinasaan yang akan menghancurkan dirinya” (HR Baihaqi)
Perselisihan yang Banyak
Daripada Abi Nijih ‘Irbadh bin Sariyah r.a. Beliau berkata “Telah menasihati kami Rasulullah SAW akan satu nasihat yang menggetarkan hati kami dan menitiskan air kami ketika mendengarnya, lalu kami berkata, Ya Rasulullah! Seolah-olah ini adalah nasihat yang terakhir sekali maka berikanlah pesanan kepada kami” Lalu baginda pun bersabda “Aku berwasiat akan kamu supaya sentiasa bertakwa kepada Allah dan mendengar serta taat (kepada pemimpin) sekali pun yang memimpin kamu itu hanya seorang hamba. Sesungguhnya sesiapa yang panjang umurnya daripada kamu pasti dia akan melihat perselisihan yang banyak. Maka hendaklah kamu berpegang teguh dengan sunnahku dan sunnah para khulafa Ar Rasyidin Al Mahdiyin (Khalifah-khalifah yang mengetahui kebenaran dan mendapat pimpinan ke jalan yang benar) dan gigitlah sunah-sunah itu dengan gigi geraham dan jauhilah perkara-perkara yang baru (bid’ah) yang diada-adakan, kerana sesungguhnya tiap-tiap bid’ah itu adalah sesat” (Riwayat Abu Daud dan Tirmizi)
Golongan yang Selamat
Daripada ‘Auf bin Malik r.a. Beliau berkata, Rasulullah SAW bersabda “Umat Yahudi telah berpecah-belah menjadi tujuh puluh satu golongan, maka hanya satu golongan sahaja yang masuk syurga dan yang tujuh puluh akan masuk neraka. Umat Nasrani telah berpecah belah menjadi tujuh puluh dua golongan, maka tujuh puluh satu golongan masuk neraka dan hanya satu golongan sahaja yang masuk syurga. Demi Tuhan yang diriku di dalam kekuasaanNya, umatku akan berpecah belah menjadi tujuh puluh tiga golongan, hanya satu golongan sahaja yang masuk syurga dan tujuh puluh dua akan masuk neraka. Sahabat bertanya “Golongan mana yang selamat?” Nabi SAW menjawab “Mereka adalah jemaah” (HR Ibnu Majah)
Orang Asing
Daripada Abu Hurairah r.a. Beliau berkata, Bersabda Rasulullah SAW “Islam mula berkembang dalam keadaan asing. Dan ia akan kembali asing pula. Maka beruntunglah orang-orang yang asing” (HR Muslim)
 
Kepayahan Orang yang Beriman
Daripada Anas r.a. Berkata Rasulullah SAW bersabda ”Akan datang pada manusia suatu zaman di mana orang yang berpegang teguh di antara mereka kepada agamanya laksana orang yang memegang bara api. (HR Tarmizi)
 
Kesusahan Itu Lebih Baik Daripada Kesenangan
Daripada Ali bin Abi Thalib r.a “Bahawasanya kami sedang duduk bersama Rasulullah SAW di dalam masjid. Tiba-tiba datang Mus’ab bin Umair r.a. Dan tidak ada di badannya kecuali hanya selembar selendang yang bertampal dengan kulit. Tatkala Rasulullah SAW melihat kepadanya. Baginda menangis dan menitiskan air mata kerana mengenangkan kemewahan Mus’ab ketika berada di Mekah dahulu (kerana sangat dimanjakan oleh ibunya), dan kerana memandang nasib Mus’ab sekarang (ketika berada di Madinah sebagai seorang Muhajirin yang meninggalkan segala harta benda dan kekayaan di Mekah). Kemudian Nabi Muhammad SAW bersabda “Bagaimanakah keadaan kamu pada suatu hari nanti, pergi pada waktu pagi dengan satu pakaian, dan pergi pada waktu petang dengan pakaian yang lain pula. Dan apabila diberikan satu hidangan, diletakkan pula satu hidangan yang lain. Dan kamu menutupi (menghiasi) rumah kamu sebagaimana kamu memasang kelambu Kaabah?” Maka jawab sahabat “Wahai Rasulullah, tentunya keadaan kami pada waktu itu lebih baik daripada keadaan kami pada hari ini. Kami akan memberikan perhatian sepenuhnya kepada masalah ibadat sahaja dan tidak bersusah payah lagi untuk mencari rezeki” Lalu Nabi SAW bersabda “Tidak! Keadaan kamu hari ini adalah lebih baik daripada keadaan kamu pada hari itu” (HR Tirmizi)
Golongan yang Sentiasa Menang
Daripada Mughirah bin Syu’bah r.a. Beliau berkata, Rasulullah SAW bersabda “Sentiasa di kalangan umatku ada golongan yang sentiasa menang (dalam perjuangan mereka), sehingga sampailah pada suatu waktu yang dikehendaki Allah SWT. Mereka senantiasa menang. (HR Bukhari)

Hukum Islam Adalah The Living Law

By Yusril Ihza Mahendra

Hukum Islam adalah the living law atau hukum yang hidup dalam masyarakat, bukan ius constitutum dan bukan pula ius constituendum. Hukum positif adalah hukum yang diformulasikan oleh institusi negara dan tegas kapan dinyatakan berlaku dan kapan tidak berlaku lagi. The living law tidak diformulasikan oleh negara, tetapi hukum itu hidup dalam alam pikiran dan kesadaran hukum masyarakat. Ia berpengaruh dalam kehidupan masyarakat dan kadang2 daya pengaruhnya bahkan mengalahkan hukum positif yg diformulasikan oleh negara. Hukum yang hidup itu bersifat dinamis sejalan dengan perkembangan masyarakat. Salah satu instrumen yang membuatnya tetap dinamis adalah antara lain melalui fatwa yang dikeluarkan oleh mufti atau institusi lain yang dianggap mempunyai otoritas dlm masyarakat. Fatwa umumnya dikeluarkan untuk menjawab kebutuhan hukum masyarakat yang merasa ada ketidakjelasan terhadap sesuatu yg ada dan berkembang dalam dilihat dari sudut hukum Islam, supaya ada kepastian hukum.

Lalu, apakah dan bagaimanakah sebaiknya negara bersikap terhadap hukum yang hidup itu? Jika negara itu bersifat demokratis, maka akan memformulasikan hukum dengan mengangkat kesadaran hukum masyarakat menjadi hukum positif sesuai kebutuhan hukum masyarakat. Namun seandainya itu tidak atau belum dilakukan, maka negara harus menghormati hukum yang hidup yang antara lain tercermin dalam fatwa2 yang otoritatif tsb dan memfasilitasinya agar hukum yang hidup itu dapat terlaksana dengan baik dalam kehidupan masyarakat. Saya berpendapat inilah yang harusnya menjadi sikap negara di negara kita ini yg berdasarkan Pancasila. Negara tdk bersifat sekular dan indeferent terhadap hukum agama, melainkan menghormati dan memberikan tempat yang selayaknya dalam kehidupan masuarakat. Jika hukum yang hidup itu berkaitan langsung dengan tata peribadatan (khassah) maka negara tidak dapat mengintervensinya, melainkan menghormatinya dan memfasilitasi pelaksanaannya dengan memperhatikan kemajemukan masyarakat.

Terhadap fatwa melarang orang Islam untuk menggunakan atribut yang dianggap sebagai “atribut natal” dan menghimbau kepada pengusaha non Muslim agar tidak memaksakan mengenakan atribut natal tsb, saya menganggap hal itu adalah wajar dan sesuai dengan fungsi Majelis Ulama yang antara lain berkewajiban untuk mengeluarkan fatwa terhadap sesuatu yang meragukan dan diperlukan adanya kepastian hukum dilihat dari sudut hukum Islam sebagai the living law.

Menyikapi fatwa yang demikian itu, adalah bijak jika negara yg berdasarkan Pancasila ini menghimbau agar setiap orang menghormati fatwa tsb dan mengajak pengusaha non Muslim secara persuasif agar menghormati fatwa Majelis Ulama tsb demi menghargai keyakinan keagamaan orang yg beragama Islam.

Bahwa menjelang Hari Natal tiap toko, supermarket dan shopping mall telah cukup banyak memasang ornamen natal termasuk memutar kaset lagu2 natal, menurut hemat saya hal itu sudah lebih daripada cukup untuk menyemarakkan Natal bagu umat Kristen. Umat Islam tdk pernah mempersoalkan hal itu. Jadi kalau mewajibkan pekerja toko menggunakan atribut natal, padahal mereka bukan beragama Kristen, saya menganggap hal itu sebagai sesuatu yg berlebihan. Kita harus menghormati keyakinan agama masing2 dan tidak perlu membuat hal2 yang dapat membuat sesuatu yang kurang enak di hati penganut agama yang lain.

Karena itu, saya berpendapat bahwa fatwa MUI itu adalah sewajarnya, patut dihormati oleh semua pihak dan tdk perlu pula ditafsirkan secara berlebihan sehingga menimbulkan ketidakenakan pula kepada pihak2 di luar umat Islam.

Demikian pandangan saya. Salam.

By arifuddinali Posted in Hukum Dengan kaitkata

Biografi Ringkas Habib Muhammad Rizieq bin Husein bin Muhammad Shihab Lc

INDONESIA-ISLAMIC-LEADERsetelah menelusri,mempelajari dan mencari situs situs yang memuat silsilah dari Habib Muhammad Rizieq bin Husein Shihab,baik melalui forum dan blog dan menanyakan langsung ke kerabat dekat beliau dan hasilnya pun nihil. maka saya mengambil kesimpulan dengan berkeyakinan dan kepercayaan yang saya anut,maka benar Habib Muhammad Rizieq bin Husein Shihab adalah benar keturunan dari Rasulullah SAW,dan beliau pun pernah mengeluarkan pernyataan tentang silsilah dan keturunan rasulullah SAW, inilah perkataannya :

“garis keturunan bukan untuk tujuan pamer. Jika itu adalah tujuan, maka harus merupakan kesombongan, dan itu adalah dosa,”

saya tahu tentang prilaku dan sifat beliau yang tidak sombong, murah senyum dan penuh kasih sayang, maka benar jika beliau tidak mengumbar silsilah / sanad nya ke khayalak ramai.

Keturunan Macan Betawi dan pejuang kemerdekaan
Ahad 19 Agustus 2007, Front Pembela Islam (FPI) menyelenggarakan milad ke-9 di markasnya, Jati petamburan, Jakarta Pusat. Acara ini dihadiri sekitar lima sampai enam ribu anggotanya, termasuk wakil FPI dari 25 provinsi.

Di sepanjang Jl Jati petamburan III (sekitar 300 meter) digelar permadani untuk para jamaah. Sedang di sebagian ruas Jl Jati pemburan Raya, depan RS Pelni, hanya dapat dilewati kendaraan satu jalur karena sebagian di padati massa yang mengenakan busana putih dan peci putih.

Acara itu dimulai shalat Subuh berjamaah. Diteruskan dzikir, tahlil dan ceramah maulid Nabi Muhammad SAW yang berlangsung hingga pukul 09.30 pagi. Diakhiri dengan pawai keliling Jakarta. Ketua Umum FPI Habib Muhammad Rizieq Husein Shihab, ketika melepas pawai, meminta agar mereka tertib dan sopan.

Bersama Habib Umar BIn HafidzhMelihat begitu patuhnya para anggota FPI kepada ketua umumnya, saya teringat pada pemimpin Pandu Arab Indonesia, Habib Husein Shihab, ayah Habib Muhammad Rizieq Shihab. Pada awal 1950-an, Habib Husein Shihab telah menghimpun para pemuda Arab untuk mengabdi pada bangsa melalui bidang kepanduan. Dia lebih dikenal dengan sebutan hopman — kata Belanda untuk pemimpin kepanduan.


Seperti juga Habib Muhammad Rizieq Shihab, ayahnya itu juga sangat cekatan dalam memimpin dan memberikan pengarahan kepada para pemuda yang tergabung dalam Pandu Arab Indonesia. Saya, yang juga menjadi anggota pandu ini lebih setengah abad lalu, membandingkan penampilan sang ayah dengan putranya yang kini memimpin ratusan ribu massa FPI — menurut Habib Muhammad Rizieq Shihab anggota FPI di Indinesia sekitar lima juta orang.

Sangat jauh berbeda dengan penampilan sang ayah yang sering memakai jas dan dasi, putranya ini selalu mengenakan jubah dan sorban. ”Ayah saya memang modern dan orangnya sangat berbaur,” kata Habib Muhammad Rizieq Shihab, kelahiran Agustus 1965. Wajah Rizieq hampir sama dengan wajah almarhum ayahnya.

Sekalipun cara berpakaian dan berpikirnya modern,Habib Husein Shihab sangat dekat dengan ulama Betawi terkemuka, Habib Ali Alhabsyi dari Kwitang, Jakarta Pusat. Pada acara-acara seperti Maulid Nabi, Isra Miraj dan menerima tamu asing, Habib Ali selalu meminta Habib Husein Shihab yang fasih berbahasa Belanda menjadi MC. Acara-acara Pandu Arab yang dilakukan tiap Sabtu sore berlangsung di halaman Madrasah Unwanul Falah di Kwitang. Madrasah yang dibangun oleh Habib Ali pada 1911 ini telah melahirkan sejumlah ulama Betawi.

Habib Rizieq mengaku ketika ayahnya meninggal dunia tahun 1966, dia baru berusia 11 bulan. ”Jadi saya mengenalnya hanya dari foto,” katanya.

Sang ayah yang lahir tahun 1920-an, sebelum meninggal di Polonia, Jatinegara, berkata kepada seorang anggota keluarganya, ”Tanyakan kepada putra saya ini, kalau sudah besar mau menjadi ulama atau jagoan. Kalau mau jadi ulama, didik agamanya dengan baik. Kalau mau jadi jagoan, berikan dia golok.”

Sejak itu, Habib Muhammad Rizieq Shihab dipindahkan ke Jati petamburan dan terakhir lulus Riyadh University (kini King Saud University) Arab Saudi. Kini dia tengah menyelesaikan tesis pada University Malaya, Kuala Lumpur, untuk lulus S2 bidang Syariat.

Menurut sejumlah teman almarhum Habib Husein Shihab yang kini rata-rata berusia diatas 80 tahun, pemimpin Pandu Arab ini pernah bekerja di Rode Kruis (kini Palang Merah Indonesia) pada masa kembalinya Belanda setelah proklamasi kemerdekaan.

Habib Husein, yang ketika itu masih berusia 20 tahunan, bekerja di bagian logistik. Di sini dia punya hubungan dengan para pejuang kemerdekaan. Dia banyak memberikan makanan dan pakaian untuk para pejuang yang ketika itu bergerilya di Jakarta dan sekitarnya.

Rupanya pihak NICA (tentara Belanda) mengendus tingkah lakunya itu, karena ada kawannya sendiri yang tega mengkhianatinya dan melaporkannya pada NICA. Tanpa ampun lagi, Husein Shihab pun ditangkap. Kedua tangannya diikat dan ia diseret dengan kendaraan jip.

Di penjara dia divonis hukuman mati oleh Belanda. Tapi, berkat bantuan Allah,Habib Husein Shihab berhasil kabur dari penjara dan melompat ke Kali Malang. Dia selamat, meskipun bagian pantatnya tertembak. Dia sadar setelah sebelumnya mendapat pertolongan dari KH Nur Ali, pejuang Bekasi yang sangat ditakuti NICA.

Suatu hari, Habib Muhammad Rizieq Shihab memperlihatkan foto ayahnya dengan istri Bung Karno, Fatmawati, dalam suatu upacara pada awal kemerdekaan. Dia menyatakan bangga, ayahnya punya semangat nasionalisme yang tinggi dan ikut membakar para pemuda Arab melawan Belanda melalui Pandu Arab Indonesia.

Ayah Habib Husein Shihab, Habib Muhammad Shihab, dahulu pernah memiliki ratusan delman dan memiliki istal kuda di depan RS Pelni. Delman yang bertrayek Tanah Abang ke Kebayoran Lama ini pernah diganggu oleh preman yang mengaku anak buah si Pitung, jagoan Betawi yang dibenci Belanda.

Seperti dituturkan Habib Muhammad Rizieq, kakeknya itu langsung menemui Pitung yang merasa tidak senang namanya dicatut. Rupanya pertemuan itu malah membuat dua tokoh Betawi tersebut menjadi akrab. Akhirnya, Habib Muhammad dikawinkan dengan ponakan Pitung dari Koebon Nanas, Kebayoran Lama. Dari perkawinan ini lahirlah Habib Husein Shihab, ayah dari Habib Muhammad Rizieq Shihab.

Habib Muhammad Rizieq bin Husein Shihab Lc

Lahir di Jakarta pada tanggal 24 Agustus 1965,ayah beliau Habib Husein bin muhammad Shihab dan ibu beliau Syarifah Sidah alatas,ayahnya meninggal semenjak beliau masih berumur 11 bulan,dan semenjak itulah Habib Muhammad Rizieq Shihab tidak dididik di pesantren. Namun sejak berusia empat tahun, Beliau sudah rajin mengaji di masjid-masjid. Ibunya yang sekaligus berperan sebagai bapak dan bekerja sebagai penjahit pakaian serta perias pengantin, sangat memperhatikan pendidikan Habib Muhammad Rizieq Shihab dan satu anaknya yang lain.

Setelah lulus SD, Habib Muhammad Rizieq Shihab masuk ke SMP Pejompongan, Jakarta Pusat. Ternyata jarak sekolah dengan rumahnya di Petamburan, juga di Jakarta Pusat, terlalu jauh. Beliau pun kemudian dipindahkan ke sekolah yang lebih dekat dengan tempat tinggalnya, SMP Kristen Bethel Petamburan. Lulus SMA, Habib Rizieq meneruskan studinya di King Saudi University, Arab Saudi, yang diselesaikan dalam waktu empat tahun dengan predikat cum-laude. Habib Muhammad Rizieq Shihab pernah kuliah untuk mengambil S2 di Malaysia, tetapi hanya setahun.

Habib Muhammad Rizieq Shihab mendeklarasikan berdirinya Front Pembela Islam (FPI) tanggal 17 Agustus 1998. FPI mulai dikenal sejak terjadi Peristiwa Ketapang, Jakarta, 22 November 1998, sekitar 200 anggota massa FPI bentrok dengan ratusan preman. Bentrokan bernuansa suku, agama, ras, antargolongan ini mengakibatkan beberapa rumah warga dan rumah ibadah terbakar serta menewaskan sejumlah orang.dan disini lah saya baru mengenal beliau.

Nasabnya hingga ke Rasulullah  S A W

Nasab Habib Muhammad Rizieq Syihab bin Husein bin Muhammad bin Husein bin Abdullah bin Husein bin Muhammad bin Syeikh bin Muhammad bin Ali bin Muhammad bin Ahmad Syihabuddin Al-Asghar bin Abdurrahman Al-Qadhi bin Ahmad Syihabuddin Al-Akbar bin Abdurrahman bin Syeikh Ali bin Abu Bakar As-Sakran bin Abdurrahman As-Segaf …bin Muhammad Maulad Daawilah bin Ali bin Alwi Ibnul Faqih bin Muhammad Al-Faqihil Muqaddam bin Ali Walidil Faqih bin Muhammad Shahib Murbath bin Ali Khala’ Qasam bin Alwi bin Muhammad bin Alwi Ubaidillah bin Ahmad Al-Muhajir bin Isa An-Naqib bin Muhammad Djamaluddin bin Ali Al-Uraidhi bin Ja’far As-Shadiq bin Muhammad Al-Baqir bin Ali Zainal Abidin bin Husein As-Sibth bin Ali bin Abi Thalib wa Fathimah Az-Zahra binta Rasulullah Muhammad SAW

Nasab Istrinya

Nasab Istri Habib Rizieq Syihab adalah Syarifah Fadhlun Yahya binti Faadhil bin Hasan bin Utsman bin Abdullah bin Aqil bin Umar bin Aqil bin Syeikh bin Abdurrahman bin Aqil bin Ahmad bin Yahya bin Hasan bin Ali bin Alwi bin Muhammad Maulad Daawilah bin Ali bin Alwi Ibnul Faqih bin Muhammad Al-Faqihil Muqaddam bin Ali Walidil Faqih bin Muhammad Shahib Murbath bin Ali Khala’ Qasam bin Alwi bin Muhammad bin Alwi Ubaidillah bin Ahmad Al-Muhajir bin Isa An-Naqib bin Muhammad Djamaluddin bin Ali Al-Uraidhi bin Ja’far As-Shadiq bin Muhammad Al-Baqir bin Ali Zainal Abidin bin Husein As-Sibth bin Ali bin Abi Thalib wa Fathimah Az-Zahra binta Rasulullah Muhammad SAW

Biodata

Nama  :   Habib Muhammad Rizieq Syihab

Lahir   :   Jakarta, 24 Agustus 1965

Ayah   :   Habib Husein Syihab (almarhum)

Ibu      :   Syarifah Sidah Alatas

Istri     :   Fadlun Yahya

Anak  :

Rufaidah Syihab

Humaira Syihab

Zulfa Syihab

Najwa Syihab

Muntaz Syihab

Fairuz Syihab

Zahra Syihab

Pendidikan :

SDN 1 Petamburan, Jakarta (1975)

SMP 40 Pejompongan, Jakarta

SMP Kristen Bethel Petamburan, Jakarta (1979)

SMAN 4, Gambir, Jakarta

SMA Islamic Village, Tangerang (1982)

Jurusan Studi Agama Islam (Fikih dan Ushul) King Saud University (S1), Riyadh, Arab Saudi (1990)

Studi Islam, Universitas Antar-Bangsa (S2), Malaysia.

Beliau sudah lulus dan mendapatkan Gelar MA dari jurusan tersebut, dan sekarang Beliau sedang mengejar Gelar Doktor (S3) di Universitas yang sama di Malaysia, doakan saja mudah-mudahan Beliau dimudahkan untuk hal ini, Beliau hanya ingin agar musuh-musuh Islam pada umumnya dan musuh FPI pada khususnya tidak memandang sebelah mata seorang Habib Rizieq yang ternyata juga tidak tertinggal masalah pendidikannya.. Bukan sekadar Ustadz kampung yang mengandalkan Nasab dan ilmu kalamnya.. Dengan demikian mereka musuh-musuh Islam akan lebih memperhitungkan seorang Habib Rizieq dengan FPI nya di kemudian hari ..

Karir :

Kepsek Madrasah Aliyah Jamiat Kheir, Jakarta

Dewan Syariat BPRS At-Taqwa, Tangerang

Pimpinan/pembina sejumlah majelis ta’lim Jabotabek

Ketua Umum Front Pembela Islam (FPI)

Alamat Rumah : Jalan Petamburan III/83, Tanahabang, Jakarta Pusat 10260

(basaudan.wordpress 11 Feb 2011)